Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari penobatan
Penobatan yang sama juga berlangsung di Kerajaan XX. Rakyat begitu antusias menyambut hadirnya kembali Putri Mahkota yang telah hilang selama 26 tahun. Layar-layar LCD dengan ukuran lebar terpampang di beberapa titik di seluruh penjuru negeri, disediakan bagi para warga yang tak bisa menyaksikan penobatan secara langsung di dalam istana.
Bahkan hidangan yang sama mewahnya juga tersedia di tempat-tempat tersebut, disediakan bagi siapa saja rakyat yang menyaksikan penobatan Putri Maha Raya.
“Tuanku Permaisuri Maharani memasuki istana…!” seru seorang pembawa berita.
Pintu terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang tak lagi muda, tampak memasuki ruangan istana tersebut.
“Tuan Putri Maharaya memasuki istana…!” seru pembawa berita itu lagi. Dan selanjutnya tampak Maharaya memasuki ruangan, diikuti beberapa gadis remaja berseragam di belakangnya. Putri Maharaya tampak sangat cantik dengan riasan yang anggun, dan gaun yang sangat indah memukau.
Putri Maharaya digiring untuk duduk di samping Benyamin Jordan, yang sudah lebih dahulu ada di sana. Benyamin menyambut kedatangan adiknya dengan senyum yang sangat menawan.
Acara penobatan yang memang sudah dirancang sejak tibanya Maharaja di negeri itu, berjalan dengan sangat lancar. Tampaknya Raja Abdullah memang tidak ingin lagi mengulur waktu. Dia ingin seluruh negeri mengenal dan mendukung putrinya.
“Pada hari ini, saya… Raja Abdullah Jordan, dengan restu dari seluruh negeri, memperkenalkan dan menobatkan Putri Maharaya Abdullah Jordan, sebagai Putri Mahkota kerajaan ini!” ucap Raja Abdullah lantang.
“Putri Maharaya adalah Putri Mahkota terpilih, oleh mendiang Raja Agung. Dan barang siapa yang akan melakukan kudeta, maka kerajaan akan bertindak dengan sangat tegas, untuk memberikan hukuman yang sangat setimpal!” tegas Raja Abdullah lagi.
“Hormat pada Putri Mahkota…!”
“Hormat pada Putri Mahkota…!”
“Hormat pada Putri Mahkota…!”
Seluruh yang hadir memberikan salam dengan sangat takzim. Bahkan hal yang sama juga terjadi di depan layar lebar, yang tersebar di beberapa titik di setiap belahan negeri.
“Wah, lihat Putri Mahkota sangat cantik…!” seru seorang warga yang ikut serta dalam kerumunan nonton bareng.
“Benar… beliau sangat cantik, dan sangat mirip dengan Putri Permaisuri Maharani!” sahut warga yang lain.
Decak dan ucapan serta ujaran pujian kekaguman terus bergema. Seolah tak ada habisnya kata untuk mengungkapkan dan menggambarkan kekaguman mereka. Mereka yang dulu juga ikut berduka saat munculnya kabar penculikan 26 tahun yang lalu. Mereka yang benar-benar adalah rakyat yang taat dan setia atas pemerintahan Raja Abdullah. Dan mereka yang tak pernah tergiur oleh adanya tawaran pemberontakan.
***
Sementara itu, di balik hingar-bingar meriahnya pesta penobatan, ada sekelompok orang yang tengah menahan geram. Mereka adalah kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Malik, saudara sepupu dari Raja Abdullah.
Rencana pemberontakan yang mereka lakukan gagal total. Dihadang oleh pasukan rahasia milik Benyamin Jordan. Dan bahkan pemberontak yang nekat, yang tak mau menyerahkan diri, sudah berhasil ditumpas habis.
Plak… bugh… dash…
Pukulan dan tamparan bertubi-tubi terdengar, membuat miris telinga.
“Ampun Yang Mulia… ampuni kesalahan hamba…!” rintih seorang pria dengan menahan kesakitan.
“Dasar kau bodoh, otak udang! Apa yang sebenarnya kau simpan dalam otakmu?” umpat Pangeran Malik.
“Ampun Yang Mulia, hamba mengaku salah!” rintih orang itu lagi.
“Sudah aku bilang, tugasmu adalah mendekati Maharaya, kenapa malah tergoda dengan gadis murahan itu?” bentak Pangeran Malik lagi.
“Hamba mengaku salah Yang Mulia!!” seru seorang laki-laki yang tak lain adalah Riswan.
“Percuma kau mengaku salah, semua rencananya sudah gagal. Seharusnya kita bisa menjebak Maharaya, atau setidaknya kau bisa menyusup ke istana!” bentak Pangeran Malik.
Ya… ternyata Riswan adalah kaki tangan Pangeran Malik, yang memang sudah lama mengintai keberadaan Maharaya. Riswan ditugaskan untuk menjerat putri dari Pak Hamid. Sayangnya, ternyata Riswan bukanlah orang yang tepat. Riswan bahkan berpikir antara Raya ataupun Mira, sama saja. Yang penting sama-sama putri dari Pak Hamid.
Dan sekarang kedok Riswan sudah terbongkar oleh anak buah Benyamin, setelah penyerangan yang mereka lakukan pada malam hari, setelah Raya makan malam bersama dengan Arga dan ibunya. Dan tentu saja dia tak lagi bisa melanjutkan misi dari Pangeran Malik.
“Lempar dia ke kandang buaya!!” titah Pangeran Malik pada anak buahnya, karena merasa bahwa Riswan tak lagi berguna.
“Ampun Yang Mulia… saya bersalah, ampuni saya…!” Riswan berteriak melolong dan memohon…
Pikirnya, wajah penuh lebam dan tubuh babak belur akibat pukulan dari antek-antek Pangeran Malik sudah cukup sebagai hukuman, tetapi ternyata kenyataan tidak seindah khayalan.