Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi-lagi soal anak!
"Arsen, nanti Mama mau bicara sama kamu," kata Bu Ratna dingin, sesaat setelah Arsen melangkah melewati pintu depan dengan tas kerja di tangannya.
Nada suara ibunya yang datar tanpa basa-basi langsung membuat pundak Arsen yang sudah lelah menjadi semakin tegang. Pasti ini berkaitan dengan istrinya lagi.
Arsen hanya mengangguk pelan, sebelum bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Akhirnya, setelah mandi dan berganti pakaian santai, Arsen melangkah menuju kamar orang tuanya. Pintu kaca menuju balkon terbuka lebar, membiarkan angin malam yang sejuk masuk ke dalam ruangan.
Arsen melangkah keluar, mendapati ibunya sedang duduk bersandar pada di kursi, menatap kosong ke arah lampu-lampu taman di bawah.
"Ma," sapa Arsen lembut, memecah keheningan malam. Ia berjalan mendekat dan duduk berhadapan dengan ibunya.
"Ada apa? Tadi kata Mama ada yang mau dibicarakan."
Bu Ratna tidak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang, merapatkan kardigan yang membungkus tubuh paruh bayanya sebelum menoleh menatap putra tunggalnya itu.
"Ini soal Rindu, Arsen," ujar Bu Ratna tanpa tedeng aling-aling.
"Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran istrimu itu. Tadi siang, dia keluyuran sampai sore, pulang-pulang menenteng kantong belanjaan banyak sekali. Di rumah ini, Mama pusing sendirian di dapur mau menyiapkan makan malam untuk papamu, tapi istrimu malah asyik bersenang-senang di luar."
Arsen terdiam sejenak. Ia tahu betul bahwa Rindu pergi hari ini atas izinnya untuk menyegarkan pikiran bersama Nia.
"Ma, Rindu pergi juga atas izin Arsen. Lagipula, belakangan ini Rindu kelihatan lelah, jadi Arsen yang menyuruh dia jalan-jalan."
"Lelah karena apa, Arsen?" potong Bu Ratna cepat, suaranya meninggi.
"Dia kan hanya melakukan pekerjaan rumah yang ringan, toh, masih ada asisten rumah yang membantunya, anak juga belum ada yang harus diurus. Harusnya dia itu sadar diri, waktu luangnya dipakai untuk fokus program hamil, ke dokter, atau urus suami. Bukan malah menghabiskan uangmu untuk belanja kosmetik dan baju yang tidak penting."
Mendengar kalimat ibunya, Arsen mengembuskan napas berat. Rasa bersalah kepada Rindu yang sempat mereda pagi tadi kini kembali bergemuruh di dadanya.
"Ma, tolong jangan bicara begitu," kata Arsen, berusaha menahan emosinya agar tetap terdengar sopan.
"Soal anak, itu bukan salah Rindu. Kami berdua sudah ke dokter, dan dokter bilang tidak ada masalah, ini cuma masalah waktu. Dan soal belanja, uang yang dipakai sudah menjadi kewajiban Arsen, jadi Rindu bebas mengunakannya Ma."
Bu Ratna mendengus, memalingkan wajahnya kembali ke arah taman.
"Kamu itu selalu saja membela dia, Arsen. Mama bicara begini karena Mama sayang sama kamu, Mama ingin menimang cucu dari anak laki-laki Mama satu-satunya. Tapi istrimu itu seperti tidak punya beban. Disindir sedikit saja langsung pasang muka melas, tapi kelakuannya tetap saja santai."
Arsen mengalihkan pandangannya. Ia tahu, sekeras apa pun ia menjelaskan, sudut pandang ibunya tidak akan berubah dalam semalam.
Bu Ratna mendengus. Tatapan matanya menajam, dipenuhi kelabilan emosi dan ambisi yang selama ini ia pendam sendiri.
"Kamu itu selalu saja membela dia, Arsen! Selalu Rindu, Rindu, dan Rindu yang kamu benarkan!" cecar Bu Ratna, bergetar hebat karena amarah yang memuncak.
Arsen hanya bisa terpaku.
"Mama benar-benar menyesal," lanjut Bu Ratna dengan nada suara yang tiba-tiba merendah, namun sarat akan racun yang mematikan.
"Seandainya dulu kamu mendengarkan Mama, seandainya dulu kamu tidak keras kepala untuk menikah dengan Rindu, pasti ceritanya tidak akan semenyedihkan ini, Arsen."
Bu Ratna menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kalimat yang paling egois dari bibirnya.
"Kalau saja kamu menikah dengan wanita pilihan Mama dulu, pasti sekarang Mama sudah menimang cucu yang lucu. Rumah ini tidak akan sepi seperti kuburan begini setiap hari! Mama tidak harus menanggung malu setiap kali ditanya oleh teman-teman arisan Mama!"
Dada Arsen serasa dihantam godam yang sangat besar. Kalimat ibunya barusan bukan lagi sekadar sindiran, melainkan sebuah penolakan telak terhadap keberadaan Rindu sebagai menantu di rumah ini, sekaligus penghinaan terhadap takdir pernikahan yang sudah mereka bangun selama tiga tahun.
"Ma..." Suara Arsen terdengar sangat rendah.
"Cukup, Ma. Jangan pernah katakan hal itu lagi," ucap Arsen tegas, matanya menatap lurus ke dalam manik mata ibunya dengan sorot kecewa yang begitu kentara.
"Rindu adalah istri Arsen. Pilihan Arsen, dan takdir yang sudah Arsen pilih di hadapan Tuhan. Menikah dengan wanita lain tidak akan menjamin hidup Arsen lebih bahagia daripada sekarang."
Arsen mundur satu langkah, menjauh dari ibunya seolah jarak fisik bisa mengurangi rasa perih di hatinya.
"Arsen tidak pernah menyesal menikah dengan Rindu. Dan Arsen mohon... tolong hargai perasaan Arsen sebagai suami, dengan tidak merendahkan istri Arsen lagi di rumah ini."
"Oh, jadi sekarang kamu menyalahkan Mama?!" potong Bu Ratna cepat, suaranya melengking tinggi.
Wajahnya memerah menahan sisa amarah sekaligus rasa tidak percaya mendengarkan putra penurutnya berani berucap tegas seperti itu.
Dia melangkah maju, menunjuk dada Arsen dengan telunjuknya yang bergetar.
"Mama ini ibumu, Arsen! Mama yang melahirkanmu, yang membesarkanmu sampai kamu sukses seperti sekarang! Segala hal yang Mama lakukan, semua ucapan Mama, itu demi kebaikanmu, demi masa depan keluarga kita! Tapi sekarang, karena perempuan itu, kamu berani menentang Mama? Kamu bilang Mama merendahkan dia?!"
Arsen memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang lewat hidung. Kerutan di dahinya mempertegas rasa lelah yang luar biasa, baik lelah karena urusan pekerjaan, maupun lelah karena harus terus berdiri di antara dua wanita yang ia sayangi.
Ketika Arsen membuka matanya kembali, pandangannya melunak, namun tidak ada sedikit pun keraguan di sana.
"Arsen tidak pernah menyalahkan Mama," kata Arsen, suaranya ditekan sedatar dan setenang mungkin agar situasi tidak semakin memanas.
"Arsen tahu Mama sayang sama Arsen. Tapi tolong, Ma, pahami juga posisi Arsen. Arsen ini suaminya Rindu. Tugas Arsen adalah melindungi dia. Setiap kali Mama menyudutkan Rindu soal anak, itu sama saja Mama sedang menyayat hati Arsen sendiri."
Bu Ratna tertegun, telunjuknya perlahan turun. Kalimat Arsen yang diucapkan tanpa nada membentak, namun sarat akan luka itu, justru berhasil memukul mundur egonya sejenak.
"Kami berdua sedang berjuang, Ma. Tolong bantu kami dengan doa dan dukungan, bukan dengan tuntutan yang terus-menerus membuat Rindu merasa bersalah atas takdir yang belum Tuhan gariskan," lanjut Arsen lirih.
Ia menatap ibunya dengan tatapan memohon yang mendalam, berharap sang ibu bisa mengerti dari hati ke hati.
Namun, karena tidak ingin memperpanjang perdebatan malam itu, Arsen menundukkan kepalanya sedikit.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰