Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - Identitas yang Dicuri
**BOOOM!**
Ledakan mengguncang seluruh halaman rumah.
Pecahan kaca beterbangan.
Asap hitam menutup pandangan.
"Ayah!"
Alea berteriak histeris sambil berusaha berdiri.
Telinganya berdenging. Napasnya memburu. Dunia di sekelilingnya terasa berputar.
"Raka!"
Ia mencari ke segala arah.
Di balik kepulan asap, sebuah tangan menggenggam lengannya.
"Aku di sini."
Suara Raka terdengar serak.
Wajahnya dipenuhi debu, dan pelipisnya mengeluarkan darah tipis akibat terkena serpihan kaca.
Alea langsung memeluknya erat.
Syukurlah.
Ia masih hidup.
---
"Pak Pram!"
Adrian berlari menuju beranda rumah.
Pram terjatuh akibat gelombang ledakan, tetapi masih sadar.
"Aku... tidak apa-apa."
Sebaliknya, Darma terluka cukup parah di bahu kirinya.
Namun ia tetap memaksakan diri berdiri.
"Leonard mana?"
Semua menoleh.
Halaman yang tadi dipenuhi anak buah Leonard kini kosong.
Empat mobil hitam telah menghilang.
Mereka memanfaatkan ledakan untuk melarikan diri.
"Sial!" Adrian menghantam kap mobil.
"Dia lolos lagi."
---
Di tengah halaman yang porak-poranda, Alea menemukan beberapa lembar kertas yang tadi terlempar dari amplop.
Sebagian sudah terbakar di pinggirnya.
Ia memungut satu per satu.
"Raka..."
"Lihat ini."
Raka menerima lembaran itu.
Salah satunya adalah salinan akta kelahiran.
Benar seperti yang sempat terlihat sebelumnya.
Di bagian bawah terdapat cap merah besar.
**DOKUMEN PALSU**
Namun ada tulisan tangan kecil di sisi belakang.
> **Cari Register Nomor 47. Arsip Lama Pengadilan Negeri Batavia.**
Adrian ikut membaca.
"Ini petunjuk."
"Bukan bagian dari dokumen asli."
"Berarti seseorang sengaja menyelipkannya."
Raka mengangguk.
"Orang yang memberikan amplop ini..."
"...ingin kita menemukan identitas asliku."
---
Malam itu mereka berkumpul di rumah persembunyian milik Kirana.
Rumah sederhana di pinggir Danau Lido.
Jauh dari keramaian.
Melati membersihkan luka di pelipis Raka dengan tangan yang gemetar.
Sudah puluhan tahun ia membayangkan momen ini.
Merawat putranya lagi.
Meski hanya mengobati luka kecil.
"Masih sakit?" tanyanya pelan.
Raka tersenyum tipis.
"Tidak seberapa."
Namun yang sebenarnya terasa sakit bukan lukanya.
Melainkan kenyataan bahwa selama lebih dari dua puluh tahun ia kehilangan ibunya.
Melati berhenti sejenak.
"Maaf..."
"Karena Mama tidak pernah ada saat kamu tumbuh."
Raka menatap perempuan itu.
Dulu ia membenci takdir yang merenggut ibunya.
Kini ia tahu...
Ibunya tidak pernah meninggalkannya dengan sukarela.
Raka menggenggam tangan Melati.
"Kita sama-sama korban."
Kalimat sederhana itu membuat Melati menangis untuk pertama kalinya tanpa berusaha menyembunyikannya.
---
Di ruang tengah, Darma mulai membuka pembicaraan.
"Ada satu hal yang selama ini kusimpan."
Semua menoleh.
"Leonard memang berbahaya."
"Tapi dia bukan orang yang paling berkuasa."
Raka langsung menegakkan badan.
"Lalu siapa?"
Darma menghela napas panjang.
"Dua puluh lima tahun lalu..."
"...kami berlima mendirikan Garuda Capital."
"Tujuannya untuk membantu perusahaan-perusahaan kecil mendapatkan modal."
"Tapi kemudian..."
"Leonard mengubah semuanya."
"Ia memakai perusahaan itu untuk mencuci uang."
Pram melanjutkan cerita.
"Ayah kandungmu menolak."
"Begitu juga aku."
"Melati."
"Darma."
"Kami berempat mencoba menghentikannya."
"Lalu?"
"Leonard menghilang."
"Kami mengira semuanya selesai."
"Ternyata..."
"...ada seseorang yang diam-diam mengambil alih seluruh jaringan itu."
---
"Siapa orang itu?"
tanya Alea.
Darma menggeleng.
"Tidak ada yang pernah melihat wajahnya."
"Semua hanya mengenalnya dengan satu nama."
"Apa?"
Darma menatap Raka.
"'Direktur Bayangan.'"
Ruangan kembali hening.
Nama itu belum pernah mereka dengar.
Namun dari raut wajah Darma, jelas bahwa sosok tersebut jauh lebih berbahaya daripada Leonard.
---
Tiba-tiba Kirana yang sedang membuka isi buku harian Melati memanggil mereka.
"Ibu..."
"Lihat ini."
Di sela-sela sampul belakang buku harian terdapat sebuah foto kecil yang hampir terlewat.
Foto itu memperlihatkan lima pendiri Garuda Capital saat masih muda.
Namun di pojok kanan belakang...
Terlihat seseorang sedang berdiri membelakangi kamera.
Wajahnya tidak terlihat.
Hanya cincin yang dikenakannya di tangan kanan.
Sebuah cincin bermotif burung garuda.
Melati langsung memucat.
"Aku ingat cincin itu."
"Milik siapa?" tanya Raka.
Melati menelan ludah.
"Orang yang memakainya..."
"...sering datang ke rumah kita."
"Dia bahkan pernah menggendongmu waktu kecil."
Raka mengernyit.
"Siapa namanya?"
Melati belum sempat menjawab.
Ponsel Kirana tiba-tiba bergetar.
Ia membaca pesan yang baru masuk.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
"Kita terlambat..."
"Ada apa?" tanya Alea cemas.
Kirana menunjukkan layar ponselnya.
Sebuah foto baru saja dikirim oleh pengirim anonim.
Foto itu memperlihatkan ruang arsip tua yang terbakar habis.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat.
**Register Nomor 47 sudah kami musnahkan. Sekarang, giliran kalian.**
**Bersambung...**