"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Ranu masih menatap pintu yang baru saja ditutup Cindy, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Rasanya darahnya mendidih menahan jengkel. Bukannya mundur dengan sopan, gadis itu malah makin tertarik begitu tahu dia sudah beristri. Apa dia harus bilang hal yang lebih kasar supaya dia paham?
"Sialan!" umpatnya pelan, lalu kembali duduk di kursi kerjanya dengan kasar. Pikirannya berkecamuk antara marah pada Mama, kesal pada Cindy, dan takut rahasia kecil mereka terbongkar.
Di sebuah apartemen mewah tak jauh dari situ, Cindy duduk di tepi jendela besar sambil memutar-mutar ponselnya. Wajahnya tak lagi sedih seperti tadi, justru ada kilatan tantangan di matanya. Ia menekan nomor ayahnya.
"Halo, Pa?"
"Assalamualaikum, Nak. Gimana? Sudah ketemu Ranu? Bagaimana perasaanmu bertemu dia?" suara Pak Bayu terdengar antusias di seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Sudah ketemu, Pa. Ranu... persis seperti yang Tante Anggun ceritakan. Tegas, dingin, dan berwibawa," jawab Cindy pelan, ujung bibirnya terangkat.
"Baguslah! Papa sudah bicara sama Papa Deni, katanya mereka sangat berharap kalian bisa cocok. Papa juga sangat senang kalau kamu bisa bersanding dengannya. Bisnis keluarga kita juga makin kuat nantinya," kata Pak Bayu riang.
"Iya Pa. Cindy setuju. Cindy juga... sangat suka sama Mas Ranu. Cindy nggak akan mundur," ucapnya mantap.
"Bagus, Nak. Kalau butuh bantuan Papa, bilang saja. Papa akan pastikan semuanya berjalan lancar."
"Terima kasih, Pa. Nanti kita bicara lagi ya."
Telepon pun ditutup. Cindy meletakkan ponselnya, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Sebenarnya dia belum cinta mati pada Ranu. Tapi saat Ranu menolaknya begitu tegas, memberi alasan sudah menikah—padahal tak ada satu pun yang memberitahu hal itu—harga dirinya terasa tertampar keras. Penolakan itu yang justru membuatnya makin penasaran, makin ingin memenangkan hati lelaki itu, apa pun caranya.
Sementara itu di kantor, Ranu mencoba memusatkan perhatian pada tumpukan berkas di depannya. Namun matanya terus melirik ke arah meja Galuh. Ia tahu wanita itu tak berhenti menatapnya diam-diam. Galuh mendengar semuanya. Tentang perjodohan, tentang Cindy yang cantik dan kaya, tentang orang tua Ranu yang sekuat tenaga ingin mempertemukan mereka.
Galuh menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung baju. Pikirannya melayang jauh. Jika orang tua Ranu sendiri sudah mengatur hal seperti ini, apakah hubungan mereka yang tak jelas ini akan berakhir begitu saja? Apakah dia dan Arkan hanya akan menjadi bagian kecil yang dilupakan saat Ranu akhirnya memilih orang yang pantas berdiri di sampingnya?
"Kau melihat apa saja hah?"
Suara Ranu yang tiba-tiba terdengar datar dan tajam membuat Galuh tersentak kaget. Wajahnya memerah seketika.
"Ma... maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu," jawabnya terbata-bata, buru-buru memalingkan wajah kembali ke layar komputernya.
"Kerjakan tugasmu. Jangan melamunkan hal yang bukan urusanmu," ucap Ranu dingin, meski sebenarnya dia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.
"Iya, Pak. Maaf sekali lagi."
Suasana kembali hening, kaku dan berat.
Sore harinya mereka pulang beriringan. Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara. Ranu menyetir dengan wajah kaku, sedangkan Galuh menatap ke luar jendela mencoba menahan air mata yang hampir tumpah.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Arkan sudah berlari menyambut dengan selembar kertas di tangannya.
"Papa! Papa lihat nih gambar Arkan!" serunya riang sambil memeluk kaki Ranu.
Galuh segera berlutut, menarik pelan tangan anaknya.
"Arkan, jangan ganggu Papa. Papa pasti lelah sekali habis bekerja," tegurnya lembut.
Namun Ranu justru berlutut, mengangkat tubuh mungil Arkan ke dalam gendongannya.
"Enggak apa-apa. Papa enggak lelah. Coba Papa lihat gambarnya apa?"
"Ini Papa, ini Mama, sama Arkan! Kita pergi ke taman naik perahu!" Arkan menunjuk gambar coretan berwarna-warni itu dengan bangga.
"Wah bagus sekali! Besok kalau ada waktu, kita pergi beneran ya," ucap Ranu pelan, senyum tipis terukir di bibirnya yang biasanya kaku.
Galuh hanya bisa menghela napas panjang melihat pemandangan itu. Di satu sisi hatinya menghangat, di sisi lain rasanya semakin sakit jika nanti semua ini harus berakhir.
Malam pun semakin larut. Galuh masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia merasa sedikit pegal seharian bekerja. Saat hendak menginjakkan kaki keluar dari bilik pancuran, kakinya terpeleset karena lantai yang basah.
"Aduh..." rintihnya tertahan, tubuhnya terjatuh ke lantai dingin. Pundaknya terbentur dinding, dan rasa sakit menjalar di pergelangan kakinya.
Arkan yang sedang mengambil mainan di kamar mendengar suara itu. Ia berlari kecil menghampiri pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
"Mama? Mama kenapa?"
"Tidak apa-apa, Nak. Mama cuma terpeleset sedikit," jawab Galuh mencoba bangkit, tapi rasa sakit di kakinya membuatnya kembali jatuh. Ia menutup tubuhnya dengan tangan, menyadari dirinya belum memakai pakaian sama sekali.
Melihat ibunya merintih, Arkan jadi takut. Ia langsung berlari keluar kamar memanggil Ranu yang sedang duduk di ruang tengah.
"Papa! Papa cepat! Mama jatuh! Mama sakit!"
Ranu yang sedang minum air langsung meletakkan gelasnya kasar. Tanpa berpikir dua kali ia berlari menuju kamar Galuh.
"Di mana Mama?" tanyanya cepat.
"Di dalam... Mama jatuh di kamar mandi. Arkan takut, Pa..." Arkan menarik tangan Ranu dengan mata berkaca-kaca.
Ranu langsung menepuk pintu pelan.
"Galuh? Kau baik-baik saja?"
"Jangan masuk... Tolong jangan masuk..." suara Galuh terdengar gemetar malu dan panik.
"Galuh! Kau terluka! kamu baik-baik aja?!" seru Ranu tak sabar.
"A-aku... Nggak bisa gerakin tubuhku..." isaknya pelan.
"Apa?"
Ranu tertegun sebentar, berpikir keras. "Aku... Aku masuk ya?"
"Haahh?" Galuh kaget. "A-aku... Nggak pake apapun..."
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up