NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2-Cewek Menyedihkan

"Aku itu jelek, dekil, item, dan bau. Kamu engak jijik nolong orang kaya aku?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Lula saat Arhan yang sedang benar-benar serius menyiapkan obat untuknya.

Arhan menghentikan aktivitasnya. Keningnya berkerut mendapatkan pertanyaan aneh dari kakak kelasnya itu. "Apa nolong orang itu harus dilihat dari cantiknya? Bersihnya? Warna kulitnya? Wanginya? Bukannya kakak pernah belajar agama ya? Masa iya adek kelasnya lebih tau tentang pelajaran tolong menolong dibandingkan kakak kelasnya."

Jlebb...

Ucapan Arhan barusan berhasil membuat tubuh Lula menjadi kaku seketika. Ia terdiam karena tertampar akan ucapan Arhan barusan. Ya, Arhan benar, untuk menolong seseorang kita tidak harus melihat bagaimana rupa dan paras orang tersebut, tapi dari seberapa menderitanya seseorang tersebut hingga perlu pertolongan.

"Kenapa kakak diam? Benar kan apa yang aku bilang?" Tanya Arhan. Cowok berusia 16 tahun itu mengangkat tangannya yang sedang memegang kapas obat merah, bersiap untuk mengobati luka Lula tadi. "Wajahnya silahkan diangkat."

Lula seketika tersadar dengan kekakuan tubuhnya. Matanya berkedip beberapa kali melihat tangan Arhan yang sudah didepan wajahnya.

"Sorry, ini pasti bakal sedikit sakit." Pinta Arhan lembut. Tangan besarnya kemudian mulai menempelkan kapas yang sudah diberi obat merah itu pada luka Lula.

"Sshhh..." Desis Lula yang merasa sedikit perih dengan sentuhan kapas itu. Ia menutup matanya menahan rasa itu.

"Maaf ya." Arhan mentap-tap kapasnya dengan sangat pelan untuk mengurangi rasa sakit karna melihat ekspresi Lula yang kesakitan. "Kalo luka itu harus cepet diobati, jangan dibiarin, bisa infeksi."

Perlahan Lula membuka matanya. Ia dapat melihat dengan jelas wajah Arhan, adik kelas yang tahun ini baru masuk sebagai siswa baru. Mata Lula tidak berkedip melihat wajah tampan cowok dihadapannya. Bagaimana tidak? Wajah yang begitu atletis dengan rahang tegas dan hidung mancung, tidak lupa Arhan juga memiliki mata yang begitu tajam, alis tebal dan bibir pink alami yang begitu menggoda, jangan lupakan gigi gingsul nya yang semakin menyempurnakan wajahnya itu. Meski usia Arhan masih menginjak 16 tahun, namun wajah dan tubuh cowok itu seperti umur 20 keatas. Tidak lupa dengan wangi tubuh Arhan yang begitu maskulin.

Lula menghirup wangi itu perlahan. Wangi tubuh pria itu begitu sangat menenangkan pikirannya. Ia tersenyum tipis mengamati Arhan yang masih fokus pada lukanya. Lula juga membayangkan wanita mana yang akan beruntung mendapatkan cinta Arhan ini. Lula yakin, wanita yang akan dicintai oleh Arhan adalah yang paling beruntung di seluruh dunia.

"Kak, denger ucapan aku enggak?" Tanya Arhan saat beberapa menit lalu tidak menjawab ucapannya.

Lula langsung tersadar dengan wajah sedikit gelisah. "Eh... Emm .. iya iya, aku denger kok, lain kali bakal di obatin, kalo inget tapi." Jawab Lula dengan sedikit nyengir.

"Ya harus inget lah, kan udah aku ingetin." Tukas Arhan dengan sedikit kesal. Selesai mengobati luka Lula, Arhan langsung membereskan kotak P3K tersebut.

Lula lagi dan lagi memperhatikan aktivitas Arhan didepannya. "Kamu gak punya pacar?" Tanya Lula tiba-tiba.

Arhan tetap membereskan kotak P3K tersebut kemudian menggelengkan kepalanya. "Masih kecil, belom boleh pacaran." Titah Arhan sembari berjalan menuju lemari kayu untuk menaruh kotak P3K tersebut. "Kenapa nanya gitu? Kakak suka sama aku?"

"Hah?" Lula dibuat kaget dengan pertanyaan Arhan, ia hampir tersedak ludahnya sendiri. "Enggak kok, cuman tanya aja, penasaran cowok sebaik kamu punya pacar enggak, takut ada yang cemburu nanti."

"Mangkanya aku gak mau pacaran karna gak mau ribet kaya gini. Dari awal aku nolong kakak sampe ngobatin lukanya, aku belom tau loh siapa nama kakak." Arhan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lula.

Tak lama Lula menerimanya dengan sedikit gemetar. "Lula Khansa, panggil aja Lula."

Arhan mengangguk cepat. "Oke, kak Lula ya, aku bakal ingat-ingat nama ini. Punya nomer telepon?." Tanya Arhan kemudian melepaskan jabatan itu, merongoh sakunya untuk mengambil handphone merek apel kroak itu. Ia kemudian menyodorkan ponselnya pada Lula. "Tulis disini."

Lula bergeming sembari melihat ponsel milik Arhan yang begitu bagus. Ia tidak berniat mengambil ponsel dari tangan Arhan.

"Kenapa diem aja sih kak Lula, baru pertama kali ini loh aku minta nomer sama perempuan, harusnya aku dapet kan?."

"T-tapi, aku bukannya enggak mau kasih nomer ponsel. A-akuu..." Lula menundukkan kepalanya, kemudian mengangkatnya lagi, memberi senyuman tipis pada Arhan. "Aku gak punya ponsel Arhan."

Arhan membelakkan matanya seolah tak percaya. Ia tidak menyangka di zaman yang secanggih ini ada seseorang yang masih tidak memiliki ponsel. "Kak Lula bercanda? Terus kalau ada pemberitahuan tentang sekolah bagaimana?"

Lula menggelengkan kepalanya. "Bisa sekolah disekolahkan elite seperti ini saja aku bersyukur, bisa makan sehari dua kali saja aku bersyukur, lebih baik uangnya aku tabung untuk biaya kelulusan nanti daripada membeli ponsel. Kalau untuk informasi sekolah, biasanya aku liat di mading sekolah kok."

Arhan tertegun dengan ucapan kakak kelas didepannya. Ia kembali memasukkan ponselnya di sakunya. Entah kenapa mendengar cerita Lula, Arhan merasa bersimpati, seperti ada getaran yang tidak bisa ia ungkapkan.

Arhan memperhatikan kakak kelas didepannya ini dengan iba. Rambut kusut sebahu yang dikuncir satu seadanya, wajah yang kusam tanpa polesan, bibir pucat, warna baju yang sudah sangat lusuh dan kusut, serta kulit yang sedikit gelap. Ia tidak merasa jijik sama sekali, ia hanya membayangkan jika sebenarnya cewek didepannya ini cantik jika dirawat, hanya saja keadaan dan ekonomi yang tidak mendukung.

"Pulang sekolah aku mau ajak kakak boleh?" Tanya Arhan dengan tulus.

Lula menggeleng pelan. "Maaf Arhan, aku pulang ini harus kerja sampai malam, kapan-kapan saja ya."

Arhan kembali membelakkan matanya seolah tak percaya. "Kerja? Bahkan usia kakak belum cukup umur untuk kerja?"

Lula sedikit tertawa pilu. "Arhan, aku itu yatim piatu, kalo enggak kerja aku enggak akan bisa makan." Sambung Lula kemudian. "Kenapa? Kehidupan aku menyedihkan banget ya?"

Arhan sangat tidak percaya jika kehidupan cewek ini sangat mengenaskan. Ia berpikir kenapa orang-orang tidak ada yang mempunyai hati sampai harus terus membuli cewek itu tanpa tau keadaan yang sebenarnya. "Kakak kerja dimana?"

"Toko bunga grasea, enggak jauh kok dari sini, nanti mampir ya hehe, aku kasih bunga deh satu tangkai karna udah mau menolong cewek yang menyedihkan ini."

Arhan mengangguk. "Aku bakal mampir kesana kak, mau liat kakak kerja."

"Loh kok jadi mau liat aku? Aku kira karna mau liat bunganya bagus atau enggak." Titah Lula dengan wajah bingung.

Arhan tertawa, menampakkan gigi gingsul nya. "Hahaha.... Maksut aku liat bunganya juga soalnya kan yang jualin kakak."

Lula mengangguk. "Aku tunggu ya kedatangan kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!