NovelToon NovelToon
Halraf Saga: Rahasia Gelap Dan Petualangan Terang

Halraf Saga: Rahasia Gelap Dan Petualangan Terang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah sejarah / Kontras Takdir / Dan perjuangan hegemoni / Epik Petualangan / Barat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fancatra

Berlatar di Nusantara pada abad ke 13 Masehi, terhampar kisah luar biasa seorang budak bernama Hal, yang melawan belenggu perbudakan dengan api semangat yang tak pernah padam. Ketika ia meraih mimpi kebebasannya, dunia di sekitarnya justru dilanda konflik kerajaan yang merajalela. Hal menemukan dirinya terperangkap dalam pusaran kekacauan dan intrik kekuasaan.

Ketika lolos dari kekacauan pun nasibnya tidak beruntung. Pasukan penjarah mongol menghancurkan segala harapan dan membawanya ke dalam dunia yang lebih gelap. Ia di latih oleh mongol untuk menjadi salah satu pejuang dari mereka, dan diberikan nama Halraf

Seiring usia dan pengalaman yang bertambah, Halraf merenungkan arti sejati dari hidup dan perdamaian. Ia memutuskan untuk meninggalkan jejak perang dan kekerasan, dan memulai perjalanan mencari makna di balik konflik yang mengiringi langkahnya. Di tengah medan yang pernah dipenuhi pertempuran, Halraf berusaha menemukan jalan menuju perdamaian yang ia yakini ada di luar sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fancatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinyal Huihui Pao

Halraf dengan penuh semangat pergi menjalankan misi pengintaian terhadap pasukan musuh Kediri. Ia meletakkan dua buah bom asap di sakunya dan membawa pedang yang telah ia kuasai dengan baik selama ini.

Halraf bergerak dengan hati-hati, menyelinap di antara pepohonan dan semak-semak agar tidak terdeteksi oleh pasukan Kediri. Ia berusaha untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang posisi pasukan musuh, kekuatan mereka, serta rencana pertahanan mereka.

Terlihat tempat perkemahan mereka yang di kelilingi beberapa prajurit dari kediri, ada sekitar ratusan prajurit berjaga. Di sekitar, perkemahan ada tiga menara pengintai, satu di depan, dua lainnya di kanan dan kiri perkemahan.

Halraf berada dalam kondisi waspada yang tinggi, selalu siap untuk menghindari ancaman apapun yang mungkin muncul di sepanjang perjalanan pengintaiannya. Ia berusaha memahami pola pergerakan musuh dan mencari peluang untuk mendapatkan informasi berharga.

Ia bersembunyi di semak-semak yang cukup jauh perkemahan musuh, mengamati musuh dan menunggu momen untuk mendekati perkemahan. Namun Halraf merasa mustahil karena matahari yang terik bisa membuatnya lebih mudah terdeteksi oleh para penjaga musuh. Bagaimanapun, ia tidak bisa mundur sekarang. Misinya sangat penting, dan keselamatan pasukan gabungan bergantung pada informasi yang dapat ia kumpulkan.

Untuk mengatasi situasi ini, Halraf mulai mencari tempat-tempat perlindungan alami di sekitar wilayah perkemahan musuh. Ia mencari celah-celah di antara bebatuan besar, semak-semak, dan pohon-pohon yang bisa digunakan untuk menyembunyikan dirinya dari mata penjaga.

Halraf terus memantau pola patroli musuh, mencatat kapan mereka lebih berhati-hati dan kapan mereka cenderung lengah. Ia belajar untuk membaca tanda-tanda alam, seperti angin dan suara alam, yang bisa membantunya memprediksi gerakan pasukan musuh.

Dengan berbagai upaya dan kecermatannya, Halraf berhasil menyelinap masuk ke wilayah perkemahan musuh tanpa terdeteksi. Ia tahu bahwa ini hanya langkah awal, dan tugas sebenarnya baru akan dimulai ketika ia berhasil masuk ke dalam perkemahan tersebut. Ia sembunyi di bebatuan dekat perkemahan.

Namun momen menegangkan muncul saat dua prajurit berjalan mendekatinya. Kedua prajurit itu tidak menyadari Halraf, mereka buang air kecil di bebatuan itu, Halraf yang di bawahnya mendapatkan sedikit cipratan dari kencing mereka. Namun Halraf tetap tenang tak bersuara, prajurit itu fokus mengobrol satu sama lain. Halraf dengan seksama mendengar percakapan antara dua prajurit Kediri itu.

Prajurit Kediri pertama berbicara dengan nada khawatir, "Aku dengar pasukan Mongol bersama Bhre Wijaya akan segera menyerang Kediri. Kabarnya mereka sudah berkumpul di sekitar Sungai Kali Mas."

Prajurit Kediri kedua mengangguk setuju, "Ya, kabar itu juga sampai ke telingaku. Pasukan Mongol terkenal kejam dan tak kenal ampun. Kita harus siap-siap menghadapi mereka."

Halraf mendengarkan percakapan mereka dengan cermat, berusaha mencerna setiap kata yang mereka ucapkan. Ini adalah informasi berharga yang akan dia sampaikan kepada Ike Mese dan Bhre Wijaya nanti.

Prajurit Kediri pertama melanjutkan, "Tapi aku juga mendengar bahwa Bhre Wijaya telah mendapatkan dukungan dari beberapa kerajaan tetangga. Mereka membawa pasukan gabungan yang besar. Kita harus berhati-hati."

Prajurit Kediri kedua menghela nafas berat, "Benar, situasinya semakin sulit. Kita perlu melaporkan ini kepada panglima kita dan mempersiapkan pasukan untuk pertahanan terbaik kita."

Salah satu prajurit Kediri akhirnya selesai membuang air kecil dan meninggalkan tempat mereka setelah berbicara.

“Hei.. tunggu aku!!” ucap prajurit satunya yang masih belum selesai, ia memandang kearah bawah dan terkejut melihat Halraf yang sembunyi, Mata mereka berhadapan. Tak sempat prajurit itu menghunuskan pedangnya, Halraf lebih dulu dengan cepat bergerak mendekatinya, menghunuskan pedang di pinggangnya dan menusuknya tepat di bagian leher, menembus sampai ke otak.

“Apakah aku sudah cukup kejam wahai tuan prajurit?” ucap Halraf menghina prajurit yang sudah mati di pelukannya. “hoek.. bau pesing” ucapnya menggerutu, kemudian Halraf meletakkan tubuh prajurit itu dan melucuti Helm serta zirah prajurit itu.

Setelah kejadian yang di alami oleh Halraf, ia menyimpulkan bahwa pasukan Kediri sedang dalam keadaan siaga, tetapi mereka juga merasa cemas menghadapi ancaman dari pasukan Mongol dan Bhre Wijaya. Informasi ini akan menjadi bagian penting dari rencana serangan pasukan gabungan.

Setelah beberapa jam menjalankan misi pengintaian dengan sukses, Halraf akhirnya kembali ke tempat pasukan gabungan bersembunyi. Ia melaporkan hasil pengintaiannya kepada Ike Mese dan Bhre Wijaya.

Ike Mese menghampiri Halraf dengan ekspresi serius di wajahnya. Dia melihat mata Halraf dengan penuh penghargaan dan mengangguk.

"Halraf," kata Ike Mese, “Informasi apa yang kamu dapatkan”

“Kita tidak bisa menyerang secara diam-diam karena terdapat tiga menara penjaga di sana” ucap Halraf sambil meletakkan zirah dan helm khas prajurit kediri.

Semuanya diam dan saling berpikir sembari memandangi pakaian perang yang di bawa Halraf. Bhre Wijaya bangkit, terlintas ide brilian di pikirannya “ Bagaimana jika kita menggunakan zirah itu” ucapnya sambil menunjuk zirah prajurit kediri.

“Maksud Anda penyamaran. Tuan Bhre Wijaya?” Ucap Halraf mencoba memahami pikiran Bhre Wijaya.

“Benar, aku akan menyamar menggunakan zirah itu dan menggunakan bom asap untuk membuat kepanikan diantara mereka” ucap Bhre Wijaya sambil mendekati zirah itu “ Saat kau melihat sinyal asap dariku, pimpin pasukan untuk maju menyerang” lanjutnya.

“Namun dengan kepanikan tersebut, pasukan bantuan dari musuh akan cepat datang membantu dan kita akan kalah jumlah dengan mereka” Ucap Ike Mese menemukan celah pemikiran Bhre Wijaya.

“Maka dari itu saat kau melihat sinyal dariku, kau juga harus membuat sinyal untuk Shi Bi dan Guo Xing agar segera kemari.

“Namun apakah bisa kita membuat sinyal agar tersampaikan kepada Shi bi dan Guo Xing?” ucap Halraf penuh keraguan.

“Kita bisa menggunakan Huihui pao” ucap Ike Mese memberi pencerahan.

“Huihui pao?” ucap Halraf dan Bhre wijaya bersamaan.

“Huihui pao adalah alat yang bisa melontarkan proyektil besar ke benteng musuh, namun peran alat ini juga bisa memberi sinyal di udara” ucap Ike Mese menjelaskan.

Kemudian Ike Mese memerintahkan pasukannya untuk merakit alat itu. Halraf, Bhre Wijaya dan pasukannya bertugas mencari kayu sedangkan pasukan Mongol bergotong royong membangun huihui pao di lahan yang cukup terbuka.

Pasukan Bhre Wijaya memulai dengan memilih kayu yang paling kuat dan tahan lama untuk menjadi tulang punggung dari Huihui Pao. Pohon-pohon besar yang sudah tua dipilih dengan teliti dan ditebang dengan hati-hati. Setelah itu pasukan Mongol memotong, mengukur, dan menghaluskan kayu-kayu itu dengan keahlian yang luar biasa.

Kemudian, tiang-tiang kayu besar itu ditempatkan di formasi segitiga, dengan satu tiang berfungsi sebagai tiang vertikal, dan dua lagi sebagai lengan huihui pao. Tiang-tiang itu diperkuat dengan tali yang kuat. Semua langkah ini dilakukan dengan hati-hati dan presisi yang membutuhkan waktu berjam-jam.

Saat tiba giliran untuk memasang rantai atau tali yang akan digunakan untuk melemparkan proyektil, Bhre Wijaya sendiri ikut serta dalam tugas ini. Ia memastikan setiap simpul terikat dengan erat, mengecek dan mengukur panjang tali secara teliti.

Beberapa jam kemudian, giliran untuk mengangkat beban yang sangat berat berisi bubuk mesiu. Beban ini adalah salah satu kunci keberhasilan Huihui Pao sebagai pemberi sinyal. Dengan perhitungan matang, beban itu diangkat dan dipasang di bagian belakang lengan huihui pao. Ike Mese, dengan senyuman kepuasan, melihat betapa kuatnya senjata ini nantinya.

Setelah semuanya selesai, saat matahari perlahan tenggelam di cakrawala, Bhre Wijaya dan pasukannya menyelesaikan perakitan Huihui Pao.

Halraf ditugaskan untuk mengoperasikan alat ini, Ike Mese sendiri yang  melatih Halraf dalam cara mengoperasikan Huihui Pao. Di bawah matahari terik, Ike Mese dan Halraf menghabiskan waktu di depan senjata tersebut. Ike Mese dengan sabar menjelaskan setiap langkah, setiap tali, dan setiap pengaturan yang diperlukan untuk memastikan bahwa Huihui Pao dapat beroperasi dengan sempurna.

“Sebelum kamu menarik tuas pemicu untuk melontarkan beban, kamu harus menyalakan sumbu beban ini menggunakan api, kemudian kamu tarik tali pelontarnya”

Halraf mengangguk paham.

“Dan ingat gunakan mesin ini saat kau sinyal dariku” ucap Bhre wijaya.

Malam pun tiba, dan suasana kegelapan mulai menyelimuti pasukan gabungan yang telah bersiap untuk misi besar ke Kediri. Mereka merasa tegang, namun semangat perjuangan masih berkobar di hati mereka.

Bhre Wijaya memakai zirah dan helm milik kediri membawa pedang di pinggang serta membawa beberapa bom asap di sakunya, ia berjalan dengan mantap dan tenang menuju ke arah musuh, Pasukan gabungan Mongol mengamatinya dari kejauhan. Bhre Wijaya terus berjalan tanpa di curigai oleh pasukan kediri, namun salah satu prajurit musuh bertanya kepadanya,

“Hey dari mana saja kau”

Bhre Wijaya memberhentikan langkahnya ia diam dan menundukkan kepalanya, prajurit yang bertanya itu meneriakinya, dan tiba tiba Bhre Wijaya mengeluarkan bom asap di sakunya dan melemparkannya di beberapa tempat, prajurit musuh kemudian berteriak “Musuh..musuh”

Asap menyebar memenuhi wilayah kediri, mereka merasa sesak karena asap itu dan membuatnya panik, Bhre Wijaya maju menahan nafas sambil menghunuskan pedangnya disusul pasukan di belakangnya yang sedari tadi menunggu sinyal dari Bhre Wijaya.

Teriakan perang bergema memenuhi udara ditambah suara huihui pao yang dilancarkan oleh Halraf menambah suasana menjadi lebih kacau menggetarkan langit membuat pasukan musuh ketar ketir.

Namun kepanikan pasukan kediri beralih menjadi semangat karena bantuan dari kediri dengan cepat datang membantu, menambah keunggulan jumlah pasukan mereka. Kini situasi menjadi terbalik, pasukan gabungan menjadi terdesak dan hampir kalah melawan mereka.

Tetapi pasukan gabungan Mongol tetap bertahan melawan pasukan kediri mereka yakin kau pasukan Shi Bi dan Guo Xing pasti akan datang.

1
Monica Lora
ceritanya bagus.. bny pesan nya
deeyaa
jujur ya Thor, aku lebih suka cerita yang menceritakan sebuah perjuangan seperti ini. si tokoh utama gak semerta-merta langsung sukses dan bahagia. semua itu di lewati oleh kerja keras
Alfan
baru pertama kali baca aku udah suka aja sama ini buku, sukses selalu buat author ✌️
Rifky Rifandi
Mohon kritik dan saran untuk karya pertama saya:)
Gobets: bagus bro
total 1 replies
Angela M.
Pengalaman yang luar biasa! 🌟
Alphonse Elric
Penasaran banget sama kelanjutan cerita, semoga cepat diupdate lagi 🤞
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Jangan tanya deh, aku udah addicted banget sama cerita ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!