Masalah ekonomi membuat sepasang suami istri terpaksa harus tinggal di salah satu rumah orang tua mereka setelah menikah. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua sang istri, Namira.
Namira memiliki adik perempuan yang masih remaja dan tengah mabuk asmara. Suatu hari, Dava suami Namira merasa tertarik dengan pesona adik iparnya.
Bagaimana kisah mereka?
Jangan lupa follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Berlalu
Tiga tahun berlalu.
Hidup Namira mulai membaik, ia di kelilingi oleh orang-orang baik di sekitarnya. Majikannya yang minta untuk ia menyebut wanita itu dengan sebutan ama, selalu memberi dukungan setiap hari. Namira tidak segan berbagi cerita pada wanita yang bisa ia percaya, sebab ia akan merasa lebih baik setelah itu.
Usai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya kepada ibunya, ibunya sangat terpukul dan bahkan tidak percaya jika putri bungsunya setega itu. Beliau sempat drop selama seminggu, dan itu yang paling Namira khawatirkan jika menceritakan apa yang terjadi pada sang ibu. Lama kelamaan, bu Ita mulai bisa menerima kenyataan.
Bu Ita sempat ingin bertemu dengan Sera, tapi Namira pun tidak tahu keberadaannya. Sampai tiga tahun ini, mereka belum juga bertemu kembali dengan gadis yang entah dimana sekarang.
Bu Ita selalu kelihatan baik-baik saja setiap harinya, tapi beliau menyimpan kesedihan yang mendalam. Yang tidak pernah di tunjukan pada Namira. Di lubuk hatinya yang paling dalam, beliau ingin sekali bertemu dengan Sera. Bagaimanapun Sera putrinya juga. Dan beliau tidak pernah membeda-bedakannya.
Setiap orang mempunyai salah. Seburuk apapun seorang anak, ibu adalah lautan pemaaf. Yang terpenting, Namira sudah jauh lebih bahagia sekarang.
"Kamu masih benci sama Sera, nak?" tanya bu Ita saat mereka tengah masak bersama di dapur, ada saudara tuan rumah yang akan datang sore ini.
Namira menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia tatap wajah sang ibu lekat-lekat. Namira menggelengkan kepalanya kemudian.
"Aku enggak benci, bu. Aku cuma kecewa. Kenapa Sera bisa setega itu sama kakaknya. Padahal aku rela kerja demi biaya sekolahnya dia juga," jawab Namira.
Bu Ita menghela napas. Beliau yakin jika Namira tidak akan pernah membenci Sera. Mungkin ini hanya perihal waktu.
"Kalau begitu, gimana kalau kita cari Sera sama-sama. Ibu kangen banget sama Sera. Ibu yakin, Sera juga pasti sangat menyesal atas perbuatannya. Selama tiga tahun ini, kita gak pernah tahu kabar Sera."
Namira memikirkan usul ibunya. Ia pun pernah berpikir yang sama. Akan tetapi kejadian hari itu selalu bisa membuat perasaan kecewa lebih besar di banding keinginan untuk mengikhlaskannya.
Namira mengangguk setuju. "Iya, bu."
***
Keesokan paginya. Namira dan bu Ita pulang ke rumah lamanya. Sejak tiga tahun terakhir selama tinggal di rumah majikan Namira yang menganggap mereka keluarga, hanya beberapa kali saja mereka pulang ke rumah tersebut. Masih bisa terhitung jari.
Setiap kali mereka pulang ke rumah itu, mereka selalu bertanya pada tetangga terdekat apa Sera pernah pulang atau tidak. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang pernah melihat Sera pulang. Itu artinya Sera memang tidak pernah pulang ke rumah.
Pencarian mereka berakhir pada makam suami bu Ita, ayah Namira dan Sera. Berharap ada tanda-tanda tentang keberadaan Sera. Siapa tahu Sera pernah datang ke makam tersebut. Namira bertanya pada penjaga TPU untuk memastikan apa ada seseorang yang pernah datang ke makam ayahnya atau tidak. Petugas TPU mengatakan tidak pernah ada yang datang kecuali Namira sendiri dan ibunya.
Saat mereka hendak pulang, di parkiran mereka bertemu dengan mama Sofia.
"Namira," ujar wanita itu dengan binar di wajahnya.
Mama Sofia lekas memeluk Namira untuk melepas rindu setelah tiga tahun terakhir tidak pernah lagi bertemu.
_Bersambung_