Faris baru saja menyelesaikan pendidikan S1. Ia direkrut untuk bekerja diperusahaan milik sepupunya dikota.
Karena belum memiliki cukup uang untuk mengontrak Rumah, Faris tinggal bersama Sepupunya Rizal Pangkubowo dan istrinya Vannesa.
Tinggal bersama sepupu dan iparnya membuat Faris merasakan dilema, bagaimana tidak? jika dirumah Faris tergoda dengan kecantikan Vanes sementara dikantor Faris mengetahui perselingkuhan Rizal.
Entah benar atau salah, Faris ingin menyelamatkan Vanes dari rumah tangga toxicnya.
Akankah Faris bisa menyelamatkan Vanes? atau malah Faris terjebak dalam rumah tangga sepupunya selamanya?
Update setiap hari, kalau suka jangan lupa like vote dan komen yaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Siang ini Rizal baru saja selesai bertemu dengan klien penting dan mungkin ini pertemuan terakhir setelah kemarin Ia beberapa kali mengadakan pertemuan hingga mendapatkan titik akhir yang deal untuk kerjasama mereka.
"Pertemuan sudah selesai semua, kita bisa bersenang senang setelah ini. Bukankah sudah lama kita tidak liburan sayang?" ucap Mira yang kini sudah berada didalam mobil bersama Rizal.
"Tidak masalah tapi besok kita harus pulang."
"Besok? Secepat itu?" Mira tampak terkejut karena biasanya mereka akan berlibur selama seminggu.
"Ya, ada banyak pekerjaan yang menunggu kita, aku harap kau bisa mengerti." kata Rizal membuat Mira memanyunkan bibirnya.
Mira kecewa sangat kecewa, Kemarin Ia pikir Rizal sudah kembali menjadi miliknya karena Rizal bersikap romantis padanya namun kini Rizal kembali bersikap acuh.
Rizal dan Mira makan siang lebih dulu sebelum akhirnya mereka kembali ke hotel.
Mira baru saja selesai mandi, Ia masih mengenakan jubah mandi, menghampiri Rizal yang kini tengah duduk sambil memandangi ponselnya.
Mira duduk disamping Rizal, melihat apa yang dilakukan Rizal dengan ponselnya.
"Main game lagi." keluh Mira.
"Jangan mengangguku!" ketus Rizal.
"Apa kau sadar, kau sudah banyak berubah." protes Mira.
"Berubah bagaimana? Aku masih sama, masih menjadi milikmu." kata Rizal dengan mata masih fokus menatap layar ponsel.
"Tapi aku sudah tidak yakin dengan hatimu."
"Jangan mengajak ku berdebat, aku sudah tidak mau mendengar apapun!" sentak Rizal.
Mira benar benar sakit hati dengan ucapan Rizal, Ia akhirnya memilih beranjak dan menjauhi Rizal dari pada pria itu terus mengeluarkan kata kata yang membuatnya semakin sakit hati.
Setelah mengeringkan rambutnya, Mira memilih berbaring dan ikut memainkan ponselnya. Tak berapa lama Rizal menyusul berbaring disampingnya dan mulai menciumi pipinya.
Mira mendengus sebal, baru saja Rizal menyentaknya dan sekarang pria itu sudah merayunya lagi.
"Jangan marah, aku hanya tidak suka diganggu saat bermain game, bukankah kau sudah tahu itu?" tanya Rizal dengan suara berat menadakan jika Rizal ingin apalagi tangan Rizal sudah menjelajahi area sensitif milik Mira.
Mira yang sangat mencintai Rizal, mudah saja terkena rayuan maut pria itu.
Ia pasrah saja saat Rizal mulai memainkan tubuhnya hingga suara ponsel milik Rizal menganggu aktifitas mereka.
Mira berdecak karena Rizal memilih menghentikan permainan yang sudah memanas hanya untuk menerima panggilan telepon.
"Mama? tumben Mama telepon." gumam Rizal segera menerima panggilan dari Tantri.
"Kamu dimana?" tanya Tantri tiba tiba yang entah mengapa membuat degup jantung Rizal berdetak kencang.
"Ada masalah apa Ma?" Rizal balik bertanya, Ia takut jika Mamanya sampai tahu Rizal keluar kota bersama Mira tidak hanya untuk perjalanan bisnis tapi juga liburan. Rizal takut Vanes mengadukan perselingkuhan dirinya karena saat ini suara Mamanya terdengar berbeda.
"Mama kesini buat nganter jamu bulanan biar Vanes cepet hamil tapi Vanes tidak dirumah, kamu juga tidak ada padahal ini kan weekend. Kalian sedang pergi bersama?" tanya Tantri.
Deg, jantung Rizal memburu setelah mendengar jika Vanes tidak dirumah. Tidak biasanya gadis itu pergi dan lagi kemana gadis itu pergi? Pulang kerumah Papanya? Sepertinya tidak mungkin.
"Coba Mama tanya sama Bik Sri." pinta Rizal.
"Udah tapi Bik Sri juga nggak tahu Vanes kemana, Mama pikir pergi sama kamu ya sudah Mama titipin jamunya ke Bik Sri." kata Tantri, "Kalian ini dimana?" tanya Tantri sekali lagi.
"Rizal ada perjalanan bisnis keluar kota Ma dan mungkin Vanes pulang kerumah Papanya." kata Rizal.
"Ohh gitu, kalian baik baik saja kan? Tidak ada masalah kan?" tanya Tantri memastikan.
"Tidak ada Ma, kami baik baik aja."
"Bagus kalau bisa cepetan bikin Si Vanes hamil. jangan siakan kesempatan emas ini Rizal. Vanes itu anak satu satunya dan Papanya kaya raya jika Papa Vanes mati, kamu juga bisa menikmati harta kekayaan itu." kata Tantri.
"Iya Ma, Rizal paham." balas Rizal dan telepon berakhir.
Mendadak pikiran Rizal menjadi gelisah dan kacau. Ia coba untuk menghubungi Bik Sri namun sayang tidak mendapat jawaban.
"Sial!" desis Rizal.
"Ada masalah apa sayang?" Mira tampak memeluk Rizal dari belakang membuat pria itu semakin sumpek.
"Lepas, aku sedang tidak ingin disentuh!"
Mira melepaskan pelukannya, menatap Rizal tak percaya. Baru saja mereka hampir bercinta dan Rizal sudah kembali ke mode acuhnya lagi.
"Ada apa lagi denganmu?"
"Kita pulang sekarang." ajak Rizal.
"Kau gila? Aku tidak mau!" sentak Mira tak tahan lagi.
"Jika tidak mau, tinggalah disini, aku akan pulang sekarang." kata Rizal mulai mengemasi barangnya.
Mau tak mau Mira akhirnya ikut pulang bersama Rizal siang ini juga.
Keduanya sampai pukul 6 petang, Rizal mengantar Mira sampai depan gedung apartemen tanpa ikut masuk.
Dengan raut wajah kecewa dan hampir menangis, Mira keluar berjalan memasuki gedung apartemen miliknya sementara Rizal segera melajukan mobilnya menuju rumah.
"Tu Tuan..." Bik Sri yang baru saja membuka pintu tampak bergetar ketakutan.
"Ada apa dengan wajahmu Bik? Kenapa mendadak pucat?" tanya Rizal santai.
"Tidak apa apa Tuan, saya akan menyiapkan makan malam." kata Bik Sri hendak ke belakang namun suara Rizal menghentikan langkah kaki Bik Sri.
"Kemana Vanes pergi?"
Bik Sri menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak tahu? Aku yakin kau pasti tahu."
"Sa saya benar benar tidak tahu Tuan."
Rizal tersenyum kecut, "Kau bekerja untuk biaya kuliah kedua putrimu, apa yang terjadi jika kau dipecat? Mungkinkah kedua putrimu masih bisa melanjutkan kuliahnya?"
Wajah Bik Sri kembali pucat, "Jangan Tuan, jangan pecat saya." pinta Bik Sri kini berlutut memohon pada Rizal.
"Jika kau masih ingin bekerja, katakan dimana Vanes!"
"Maafkan saya Tuan, saya benar benar tidak tahu." Bik Sri masih mencoba berbohong.
"Jadi kau benar benar ingin dipecat?"
Bik Sri menggelengkan kepalanya, "Non Vanes, Non Vanes ikut pulang ke kampung bersama Den Faris Tuan."
Prangggg... Rizal memecahkan guci yang ada disana. Ia benar benar marah saat ini karena apa yang Ia takutkan sudah terjadi.
Vanes... wanita itu sudah mencintai pria lain dan Faris sepupunya, sudah mengkhianatinya.
"Maafkan saya Non Vanes, maaafkan saya Den Faris." batin Bik Sri karena sudah membongkar hubungan gelap diantara Vanes dan Faris.
Kini Rizal berdiri didepan rumah untuk menunggu kepulangan Faris dan Vanes.
Rizal tak peduli jika mereka tidak pulang malam ini, Rizal akan tetap berdiri dan menunggu hingga akhirnya penantiannya tidak sia sia. 2 jam Ia berdiri, akhirnya Ia melihat mobil Vanes melewati gerbang rumahnya.
Rizal bisa melihat wajah terkejut Vanes dan Faris.
Tangan Rizal sudah mengepal tak sabar ingin menghajar Faris.
Rizal segera melayangkan pukulan saat Faris berjalan mendekatinya, tak peduli dengan teriakan Vanes yang mengema.
"Brengsek, bagaimana bisa kau mengkhianatiku seperti ini. Hah!"
Bersambung....