Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Politik
Kang Guru Harjo menatapnya lama.
"Perumpamaanmu semakin bagus."
"Terima kasih, Guru."Kang Guru Harjo menatapnya lama.
"Perumpamaanmu semakin bagus."
"Terima kasih, Guru."
"Itu tetap bukan pujian." Tapi ada sedikit senyum di sudut bibir sang guru. "Ingat pelajaran ini baik-baik. Bukan hanya untuk hafalan. Tapi untuk hidupmu."
Arjo mengangkat alis. "Maksud Guru?"
"Dalam politik, tidak ada sekutu sejati. Yang ada hanya kepentingan." Kang Guru Harjo mengetuk meja dengan jari telunjuknya. "Orang yang hari ini membantumu bisa jadi orang yang besok menusukmu dari belakang. Perjanjian yang tampak menguntungkan bisa jadi jerat yang mencekikmu perlahan-lahan."
‘Seperti aku yang setuju jadi bayangan bupati,’ pikir Arjo dalam hati. ‘Kukira akan hidup enak. Ternyata hampir mati setiap hari.’
"Jangan pernah terlalu percaya pada siapapun." Kang Guru Harjo melanjutkan. "Termasuk orang yang mengaku temanmu. Termasuk orang yang sudah menolongmu berkali-kali. Selalu tanya: apa kepentingannya? Apa yang dia harapkan darimu sebagai balasan?"
Arjo menelan ludah.
Tiba-tiba ia teringat Bupati Soedarsono. Orang yang mengangkatnya dari kandang kuda, memberinya pendidikan, pakaian bagus, kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Apa kepentingan Gusti Bupati sebenarnya? Kenapa aku yang hanya tukang kuda dipilih menjadi bayangannya?
Hanya karena wajahku mirip dengannya?
Atau ada alasan lain?
"Guru."
"Hm?"
"Kenapa…," Arjo berhenti, menimbang kata-katanya. "Kenapa wajahku mirip dengan Ndoro Gusti Bupati?"
Kang Guru Harjo terdiam.
"Itu," sang guru berdeham, "bukan pertanyaan yang bisa kujawab."
"Tidak bisa, atau tidak mau?"
Mata Kang Guru Harjo bertemu dengan mata Arjo. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak bisa Arjo baca. Rahasia? Kasihan?
"Fokus pada pelajaranmu." Suara sang guru kembali dingin dan tegas. "Pertanyaan seperti itu hanya akan mengganggumu. Yang penting sekarang adalah tugasmu, menjadi bayangan yang sempurna. Sisanya tidak perlu kau pikirkan."
Arjo ingin mendesak dan bertanya lebih jauh. Tapi ada sesuatu dalam nada suara Kang Guru Harjo yang membuatnya tahu: pembicaraan ini sudah ditutup.
"Nggih, Guru." Ia menundukkan kepala, menelan semua pertanyaannya.
"Lanjutkan menghafalkan." Kang Guru Harjo menunjuk tumpukan foto. "Besok setelah subuh, ujian.”
Arjo membalik foto berikutnya. Gubernur Jenderal entah yang keberapa. Wajah tua, janggut lebat, seragam penuh medali, membosankan seperti yang lain.
Tapi matanya, dalam foto hitam putih, mata para pejabat Eropa ini tampak aneh. Pupil mereka terlihat sangat terang, hampir putih, kontras tajam dengan bagian gelap di sekelilingnya. Seperti mata kucing yang tertangkap cahaya.
Efek fotografi, Arjo tahu itu. Mata biru atau hijau memang akan tampak seperti itu dalam foto hitam putih—terlalu terang dan mengerikan bagi yang tak biasa dengan orang-orang Eropa.
Tapi tetap saja ada sesuatu yang mengganggunya. Mata terang. Mata yang tidak biasa. Mata yang …
Bayangan mata indah gadis tadi siang tiba-tiba menyeruak. Wajah tertutup kain hitam. Hanya mata yang terlihat.
Tajam, berbahaya, tapi juga... cantik. Iris cokelat dengan percikan emas, seperti permukaan sungai disorot matahari senja.
‘Di mana aku pernah melihat gambaran mata itu? Unik.’
Otaknya berputar, mencari-cari dalam timbunan ingatan lima tahun terakhir—pelajaran, latihan, dan sesekali tugas menyamar sebagai bupati.
Lalu…
"Guru."
Kang Guru Harjo mengangkat wajah, meletakkan buku yang sedang ia baca. "Apa?"
"Berkas Residen baru. Yang menggantikan Residen Oude. Boleh saya pinjam?"
Alis sang guru terangkat. "Untuk apa?"
"Mempelajari lagi." Arjo berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Tadi sore, sebelum berangkat, Nyi Seger berkata saya harus bersiap untuk pesta di kediaman Residen minggu depan. Ndoro Gusti Bupati akan hadir, dan saya mungkin harus menggantikannya."
Kang Guru Harjo tidak langsung menjawab, matanya menyipit, memandang Arjo dengan tatapan menyelidik.
"Bukankah kau sudah mempelajari berkas itu beberapa hari lalu?"
"Sudah, tapi—"
"Dan kalau tidak salah ingat," Kang Guru Harjo melanjutkan dengan nada yang membuat Arjo sedikit canggung, "waktu itu kau sangat antusias mempelajarinya, terutama bagian tentang … anak-anak gadisnya."
Arjo menghela napas palan. ‘Duh Gusti. Guru ini ingat semuanya. Sudah tua tapi ingatannya tajam sekali.’
"Saya hanya ingin menghafalkan dengan lebih baik, Guru." Arjo berdeham, berusaha terdengar serius. "Residen baru ini akan sering bertemu dengan Ndoro Gusti Bupati. Kata Ndoro sendiri, hubungan dengan Residen baru harus dijaga baik-baik. Jadi saya harus benar-benar hafal; wajah, nama, latar belakang."
Kang Guru Harjo masih menatapnya curiga.
"Lagipula," Arjo menambahkan, "saya belum terbiasa dengan wajah-wajah orang Eropa. Kalau tidak diamati dengan baik, mereka terlihat sangat mirip satu sama lain. Akan berbahaya kalau saya nanti salah memanggil nama."
Ada keheningan panjang. Lalu Kang Guru Harjo menghela napas lelah.
"Tunggu sebentar."
Sang guru bangkit, berjalan ke sudut pendopo tempat peti-peti kayu berisi dokumen tersusun rapi. Ia membuka salah satu peti, mengeluarkan beberapa dokumen, lalu kembali dengan sebuah map tebal.
"Ini." Map itu mendarat di meja dengan bunyi plak pelan. "Berkas Residen van der Linden dan beberapa pejabat baru lainnya yang baru datang dari Batavia. Jangan sampai hilang. Jangan sampai rusak. Kembalikan besok pagi."
"Terima kasih, Guru."
Arjo meraih map itu, berusaha tidak terlihat terlalu bersemangat.
Kang Guru Harjo kembali ke bukunya, tapi Arjo bisa merasakan lirikan curiga yang sesekali dilemparkan ke arahnya.
Ia membuka map dengan hati-hati. Halaman pertama—profil resmi. Foto van der Linden dalam seragam residen: pria berusia lima puluhan, rambut pirang keabu-abuan, kumis tebal, rahang tegas.
Dalam keterangan, mata berwarna amber: cokelat terang dengan bintik emas.
Lahir di Amsterdam. Karir di Kementerian Jajahan. Pernah bertugas di Sumatra sebelum dipindahkan ke Jawa. Menikah dengan Cornelia van der Linden-de Groot. Dua anak dari pernikahan resmi.
Halaman kedua—istri. Nyonya Cornelia. Perempuan Belanda totok dengan wajah keras dan bibir tipis.
Dengan keterangan; mata biru dan rambut pirang. Gaun hitam bermotif renda, kalung mutiara di leher. Mata dingin.
Halaman ketiga—anak pertama dari pernikahan resmi. Pemuda dua puluhan dengan wajah arogan khas totok.
Halaman keempat—anak kedua. Gadis belasan tahun, pirang, mata biru, gaun putih berenda. Cantik dalam gaya Eropa yang membosankan.
Arjo membalik halaman lagi, dan berhenti. Di bagian belakang map, terselip beberapa lembar kertas yang tampak lebih kusut dari yang lain. Catatan tambahan. Informasi tidak resmi.
Anak tidak sah dari hubungan dengan perempuan pribumi.
Arjo membaca dengan cepat.
Ibu: Sariyem, mantan nyai. Status: tidak diketahui
Anak: Agnes van der Linden. Di bagian bawah halaman, terselip sebuah foto.
Arjo menariknya keluar. Dan jantungnya berhenti berdetak.
Gadis dalam foto itu tidak bergaya seperti noni-noni Eropa. Tidak ada gaun renda atau kalung mutiara. Ia mengenakan kebaya sederhana, mungkin dipaksa untuk foto resmi, dengan rambut gelap yang disanggul asal-asalan. Wajahnya tidak tersenyum. Bibirnya terkatup rapat, dagu terangkat sedikit, menantang.
Tapi yang membuat Arjo tidak bisa bernapas adalah matanya.
Bentuknya unik—agak runcing di ujung, seperti mata kucing. Bukan mata bulat khas Eropa, bukan juga mata Jawa yang lembut. Perpaduan keduanya yang menghasilkan sesuatu yang... liar. Tajam. Galak.
Dalam foto hitam putih, keterangan: warna mata amber: Cokelat terang dengan bintik keemasan. Kulit putih. Rambut gelap sedikit kecokelatan.
"Itu tetap bukan pujian." Tapi ada sedikit senyum di sudut bibir sang guru. "Ingat pelajaran ini baik-baik. Bukan hanya untuk hafalan. Tapi untuk hidupmu."
Arjo mengangkat alis. "Maksud Guru?"
"Dalam politik, tidak ada sekutu sejati. Yang ada hanya kepentingan." Kang Guru Harjo mengetuk meja dengan jari telunjuknya. "Orang yang hari ini membantumu bisa jadi orang yang besok menusukmu dari belakang. Perjanjian yang tampak menguntungkan bisa jadi jerat yang mencekikmu perlahan-lahan."
‘Seperti aku yang setuju jadi bayangan bupati,’ pikir Arjo dalam hati. ‘Kukira akan hidup enak. Ternyata hampir mati setiap hari.’
"Jangan pernah terlalu percaya pada siapapun." Kang Guru Harjo melanjutkan. "Termasuk orang yang mengaku temanmu. Termasuk orang yang sudah menolongmu berkali-kali. Selalu tanya: apa kepentingannya? Apa yang dia harapkan darimu sebagai balasan?"
Arjo menelan ludah.
Tiba-tiba ia teringat Bupati Soedarsono. Orang yang mengangkatnya dari kandang kuda, memberinya pendidikan, pakaian bagus, kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Apa kepentingan Gusti Bupati sebenarnya? Kenapa aku yang hanya tukang kuda dipilih menjadi bayangannya?
Hanya karena wajahku mirip dengannya?
Atau ada alasan lain?
"Guru."
"Hm?"
"Kenapa…," Arjo berhenti, menimbang kata-katanya. "Kenapa wajahku mirip dengan Ndoro Gusti Bupati?"
Kang Guru Harjo terdiam.
"Itu," sang guru berdeham, "bukan pertanyaan yang bisa kujawab."
"Tidak bisa, atau tidak mau?"
Mata Kang Guru Harjo bertemu dengan mata Arjo. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak bisa Arjo baca. Rahasia? Kasihan?
"Fokus pada pelajaranmu." Suara sang guru kembali dingin dan tegas. "Pertanyaan seperti itu hanya akan mengganggumu. Yang penting sekarang adalah tugasmu, menjadi bayangan yang sempurna. Sisanya tidak perlu kau pikirkan."
Arjo ingin mendesak dan bertanya lebih jauh. Tapi ada sesuatu dalam nada suara Kang Guru Harjo yang membuatnya tahu: pembicaraan ini sudah ditutup.
"Nggih, Guru." Ia menundukkan kepala, menelan semua pertanyaannya.
"Lanjutkan menghafalkan." Kang Guru Harjo menunjuk tumpukan foto. "Besok setelah subuh, ujian.”
Arjo membalik foto berikutnya. Gubernur Jenderal entah yang keberapa. Wajah tua, janggut lebat, seragam penuh medali, membosankan seperti yang lain.
Tapi matanya, dalam foto hitam putih, mata para pejabat Eropa ini tampak aneh. Pupil mereka terlihat sangat terang, hampir putih, kontras tajam dengan bagian gelap di sekelilingnya. Seperti mata kucing yang tertangkap cahaya.
Efek fotografi, Arjo tahu itu. Mata biru atau hijau memang akan tampak seperti itu dalam foto hitam putih—terlalu terang dan mengerikan bagi yang tak biasa dengan orang-orang Eropa.
Tapi tetap saja ada sesuatu yang mengganggunya. Mata terang. Mata yang tidak biasa. Mata yang …
Bayangan mata indah gadis tadi siang tiba-tiba menyeruak. Wajah tertutup kain hitam. Hanya mata yang terlihat.
Tajam, berbahaya, tapi juga... cantik. Iris cokelat dengan percikan emas, seperti permukaan sungai disorot matahari senja.
‘Di mana aku pernah melihat gambaran mata itu? Unik.’
Otaknya berputar, mencari-cari dalam timbunan ingatan lima tahun terakhir—pelajaran, latihan, dan sesekali tugas menyamar sebagai bupati.
Lalu…
"Guru."
Kang Guru Harjo mengangkat wajah, meletakkan buku yang sedang ia baca. "Apa?"
"Berkas Residen baru. Yang menggantikan Residen Oude. Boleh saya pinjam?"
Alis sang guru terangkat. "Untuk apa?"
"Mempelajari lagi." Arjo berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Tadi sore, sebelum berangkat, Nyi Seger berkata saya harus bersiap untuk pesta di kediaman Residen minggu depan. Ndoro Gusti Bupati akan hadir, dan saya mungkin harus menggantikannya."
Kang Guru Harjo tidak langsung menjawab, matanya menyipit, memandang Arjo dengan tatapan menyelidik.
"Bukankah kau sudah mempelajari berkas itu beberapa hari lalu?"
"Sudah, tapi—"
"Dan kalau tidak salah ingat," Kang Guru Harjo melanjutkan dengan nada yang membuat Arjo sedikit canggung, "waktu itu kau sangat antusias mempelajarinya, terutama bagian tentang … anak-anak gadisnya."
Arjo menghela napas palan. ‘Duh Gusti. Guru ini ingat semuanya. Sudah tua tapi ingatannya tajam sekali.’
"Saya hanya ingin menghafalkan dengan lebih baik, Guru." Arjo berdeham, berusaha terdengar serius. "Residen baru ini akan sering bertemu dengan Ndoro Gusti Bupati. Kata Ndoro sendiri, hubungan dengan Residen baru harus dijaga baik-baik. Jadi saya harus benar-benar hafal; wajah, nama, latar belakang."
Kang Guru Harjo masih menatapnya curiga.
"Lagipula," Arjo menambahkan, "saya belum terbiasa dengan wajah-wajah orang Eropa. Kalau tidak diamati dengan baik, mereka terlihat sangat mirip satu sama lain. Akan berbahaya kalau saya nanti salah memanggil nama."
Ada keheningan panjang. Lalu Kang Guru Harjo menghela napas lelah.
"Tunggu sebentar."
Sang guru bangkit, berjalan ke sudut pendopo tempat peti-peti kayu berisi dokumen tersusun rapi. Ia membuka salah satu peti, mengeluarkan beberapa dokumen, lalu kembali dengan sebuah map tebal.
"Ini." Map itu mendarat di meja dengan bunyi plak pelan. "Berkas Residen van Linden dan beberapa pejabat baru lainnya yang baru datang dari Batavia. Jangan sampai hilang. Jangan sampai rusak. Kembalikan besok pagi."
"Terima kasih, Guru."
Arjo meraih map itu, berusaha tidak terlihat terlalu bersemangat.
Kang Guru Harjo kembali ke bukunya, tapi Arjo bisa merasakan lirikan curiga yang sesekali dilemparkan ke arahnya.
Ia membuka map dengan hati-hati. Halaman pertama—profil resmi. Foto van Linden dalam seragam residen: pria berusia lima puluhan, rambut pirang keabu-abuan, kumis tebal, rahang tegas.
Dalam keterangan, mata berwarna amber: cokelat terang dengan bintik emas.
Lahir di Amsterdam. Karir di Kementerian Jajahan. Pernah bertugas di Sumatra sebelum dipindahkan ke Jawa. Menikah dengan Cornelia van Linden-de Groot. Dua anak dari pernikahan resmi.
Halaman kedua—istri. Nyonya Cornelia. Perempuan Belanda totok dengan wajah keras dan bibir tipis.
Dengan keterangan; mata biru dan rambut pirang. Gaun hitam bermotif renda, kalung mutiara di leher. Mata dingin.
Halaman ketiga—anak pertama dari pernikahan resmi. Pemuda dua puluhan dengan wajah arogan khas totok.
Halaman keempat—anak kedua. Gadis belasan tahun, pirang, mata biru, gaun putih berenda. Cantik dalam gaya Eropa yang membosankan.
Arjo membalik halaman lagi, dan berhenti. Di bagian belakang map, terselip beberapa lembar kertas yang tampak lebih kusut dari yang lain. Catatan tambahan. Informasi tidak resmi.
Anak tidak sah dari hubungan dengan perempuan pribumi.
Arjo membaca dengan cepat.
Ibu: Sariyem, mantan nyai. Status: tidak diketahui
Anak: Agnes van Linden. Di bagian bawah halaman, terselip sebuah foto.
Arjo menariknya keluar. Dan jantungnya berhenti berdetak.
Gadis dalam foto itu tidak bergaya seperti noni-noni Eropa. Tidak ada gaun renda atau kalung mutiara. Ia mengenakan kebaya sederhana, mungkin dipaksa untuk foto resmi, dengan rambut gelap yang disanggul asal-asalan. Wajahnya tidak tersenyum. Bibirnya terkatup rapat, dagu terangkat sedikit, menantang.
Tapi yang membuat Arjo tidak bisa bernapas adalah matanya.
Bentuknya unik—agak runcing di ujung, seperti mata kucing. Bukan mata bulat khas Eropa, bukan juga mata Jawa yang lembut. Perpaduan keduanya yang menghasilkan sesuatu yang... liar. Tajam. Galak.
Dalam foto hitam putih, keterangan: warna mata amber: Cokelat terang dengan bintik keemasan. Kulit putih. Rambut gelap sedikit kecokelatan.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo