Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Salah Paham
Anjeli mengerjapkan mata ketika malam mulai menyapa. Pandangannya mengeliling, terpaku kala melihat Axel yang acak-acakan di depan laptop dengan wajah seriusnya. Maniknya kembali bergerak, ia tidak menemukan sang kakak di mana pun.
“Pembohong!” gumam Anjeli kesal beranjak duduk dengan susah payah.
Axel yang melihat dari ekor matanya bergegas menghampiri, “Butuh apa?” tanyanya ketus.
Malas menjawab, Anjeli bergerak menurunkan kedua kakinya, meraih infus yang menggantung dan membawanya ke toilet. Terkejut ketika Axel tiba-tiba merebutnya.
“Ngomong dong, jangan diem aja!” ujar Axel.
Anjeli memicingkan mata, “Aku bisa sendiri!” sahutnya kembali merebut infus itu. Satu lengannya masih dibebat perban.
“Ck! Sombong sekali!” gerutunya tetap mengikuti Anjeli. Langkahnya terhenti ketika pintu ditutup kasar oleh gadis itu.
“Ngapain ikut masuk?” pekik Anjeli kesal dari dalam.
“Cuma mastiin kamu nggak bakal jatoh. Lagian kakakmu nggak akan daatang, entah sampai kapan!” cetus Axel membuat gerakan Anjeli terhenti seketika.
Akan tetapi tak berlangsung lama, ia tetap melanjutkan hassratnya untuk buang air, lima belas menit kemudian, Anjeli baru keluar dari toilet.
“Lama amat!” Axel meraih infus dan memapahnya ke ranjang.
Kali ini Anjeli diam saja dan sama sekali tidak mengelak. Jujur saja, tubuhnya memang masih terasa lemas.
“Kenapa Kakak tidak datang? Apa ibu baik-baik saja?” tanya Anjeli menahan tangan Axel yang hendak beranjak meninggalkannya.
“Kakakmu masuk penjara. Nggak tahu kesandung kasus apa!” sahut Axel tidak menyembunyikan apa pun dari gadis itu.
Cengkeraman tangan Anjeli melemas, seperti terhantam beban yang berat. Tidak bisa berpikir apa-apa. Syok, terkejut dan sakit menghantamnya bersamaan. “Bagaimana bisa?” gumamnya dengan bibir bergetar, air matanya mulai menghujani pipi.
“Enggak tahu!” balas Axel cuek lalu kembali duduk di sofa lagi dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Membiarkan isak tangis di kamar itu memenuhi isi ruangan.
\=\=\=000\=\=\=
Luna baru saja tiba di rumah sakit. Ruangan yang ia kunjungi pertama kali adalah ruang rawat Anjeli. Tersentak ketika menyentuh handel pintu, ia mendengar isak tangis di dalam sana.
“Axel, apa yang terjadi?” seru Luna bergegas masuk.
Ia segera mendekati ranjang Anjeli, menyeka air mata gadis itu dengan lembut. “Hei, jangan sedih,” tuturnya membungkuk, mengurai senyum manisnya. “Apa ada yang sakit? Sabar ya, kamu pasti bisa sembuh lagi kok,” tambah wanita itu dengan nada menenangkan.
“Dia nangisin kakaknya!” cetus Axel tanpa memikirkan perasaan Anjeli.
Kilat tajam terlempar dari sudut mata Luna, tepat mengarah pada Axel. Geram karena tidak bisa menjaga perasaan Anjeli.
Luna menarik kursi dan segera duduk di kursi, digenggam satu tangan Anjeli yang terdapat selang infus, “Anjeli ‘kan? Kenalin, aku Luna. Kakak ipar kamu,” tutur wanita itu memperkenalkan diri.
Di tengah isak tangisnya Anjeli membeliak lebar, meneliti wajah Luna dengan saksama. Tatapannya tidak percaya.
“Maaf, mungkin kamu terkejut. Kami juga, karena menikahnya mendadak dan enggak ada pesta besar. Jadi, sekalipun enggak ada Arash, mulai hari ini aku juga kakakmu, jangan pikirkan apa pun selain kesembuhan kamu ya!” sambung Luna tidak memojokkan Arash.
Anjeli menghela napas berat, “Jadi, dia tidak bisa dihubungi selama ini karena kamu?” ucap Anjeli melirik kakak iparnya dengan tajam.
“Heh! Jaga tu mulut! Kakakmu sendiri yang memang berandal, urakan! Bisa-bisanya dinikahkan sama bidadari seperti Luna!” ketus Axel tidak terima Luna disalahkan.
“Ssttt! Axel!” kesal Luna menoleh pada Axel.
“Lalu apa? Di saat aku dan Mama membutuhkannya Kak Arash menghilang bak ditelan bumi. Sama sekali tidak bisa dihubungi! Mungkin kalau aku mati pun dia nggak tahu dan nggak mau tahu karena sedang bersenang-senang bersama istrinya!” seru Anjeli menuangkan kekesalan dalam hatinya.
Axel beranjak dan berdiri di samping Luna. Ia sudah mengacungkan jari telunjuk dengan urat-urat leher yang menonjol. Tapi Luna buru-buru menyergahnya, mencekal tangan Axel dan melempar tatapan intimidasi sembari menggelengkan kepala.
Bersambung~