Andre Winato berutang banyak dan jatuh bangkrut setelah gagal investasi. Istri dan putrinya meninggal secara tragis, dan keluarganya hancur. Bertahun-tahun kemudian, dia berhasil bangkit dan menjadi seorang miliarder.
Suatu hari, saat terbangun dari tidur, tiba-tiba dia menyadari bahwa dirinya kembali ke hari yang membuatnya menyesal seumur hidup! Istri dan putrinya masih hidup! Dia bersumpah untuk menebus semua kesalahannya terhadap istri dan putrinya!
Jgn lupa like vote dan gift ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Jay H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sesudah bisnis itu teratur dengan sistem dan berbagai kebijakan. Setelah semua regulasi mapan malah akan menyebabkan persaingan bisnis besar-besaran. Kemudian, perusahaan-perusahaan besar keluar sebagai pemenang dan menguasai pasar.
Kebetulan sekali, saat ini adalah masa sesudah Negara Areiska mengalami subprime mortgage krisis di tahun 2008. Masalah di dunia properti terbuka secara terang-terangan dan keuangan dunia memasuki masa depresi saham.
Setelah ada Negara Areiska yang menjadi contoh, berbagai masyarakat dalam negeri tidak lagi memiliki kepercayaan tinggi mengenai bisnis properti. Mereka mengira bisnis properti tidak akan bisa naik harga lagi.
Bahkan, ada banyak ahli dan profesor di bidang properti beranggapan harga properti makin lama, makin murah. Kemudian, menyarankan agar masyarakat jangan membeli rumah.
Namun, Andre tahu benar karena di kehidupan yang sebelumnya, cukup dalam waktu tiga sampai empat tahun dan harga properti sekali lagi mengalami kenaikan pesat. Hal itu terus terjadi hingga sepuluh tahun yang akan datang. Kenaikan harga properti menyebabkan turunnya permintaan dan penawaran di Kota Besar dan Kota Sedang karena kontrol dari pemerintah dan naiknya pendapatan populasi masyarakat yang signifikan.
Namun, harga properti di Kota Megapolitan tetap naik setiap tahunnya.
Akibatnya, hal ini langsung mempermalukan para ahli dan profesor yang telah salah memberikan analisis pasar!
Properti adalah bisnis yang harus Andre jalani. Dia sempat melewatkan bisnis ini di kehidupan yang lampau. Kini, kehidupan Andre sebagai miliarder akan dimulai dari bisnis properti!
"Pak Andre, kita sudah berjalan cukup lama. Apa yang sebenarnya Anda lihat?" Irwan menyeka dahinya yang berkeringat.
Kota Surawa di bulan September tetap panas menyengat. Suhu udara mencapai 30 derajat, rasanya pasti membakar wajah mereka yang berada di luar ruangan.
Apalagi sepanjang jalan makin dekat dengan siang hari. Rasanya kepala mereka sudah bisa untuk menggoreng telur.
Andre sekali lagi merobek iklan penjualan properti yang tertempel di papan iklan, lalu menyodorkannya ke tangan Irwan.
"Banyak sabar. Sebelum berbisnis harus mengetahui sainganmu dengan baik, baru bisa menang telak."
"Bosmu, Pak Martin, nggak percaya sama aku. Jadi, aku harus membuatnya percaya agar dia kalah dengan ikhlas."
"Ini adalah harga properti di Kota Surawa selama satu bulan. Kita berjalan dari kawasan selatan hingga ke kawasan timur. Kalau dibandingkan dengan bulan lalu, harga properti di kedua kawasan ini sudah naik satu juta lebih."
"Setelah membeli gedung tua di Jalan Kumar, sekalipun tidak ada relokasi. Waktu dua tahun pasti cukup untuk naik dua kali lipat!"
Andre berjalan sepanjang sore, wajar bukan sebuah perjalanan yang sia-sia. Kehidupan yang lampau, akibat kematian anak dan istrinya menyebabkan Andre hidup dalam rasa bersalah.
Jadi, dia tidak sempat memperhatikan harga properti di Kota Surawa.
Sepanjang perjalanan di siang ini membuat Andre mengetahui harga properti di setiap kawasan Kota Surawa secara garis besar.
Perjalanan mereka makin dekat ke kawasan selatan dan mereka juga makin lama, makin dekat dengan Jalan Kumar.
Seluruh kawasan selatan termasuk area kota tua di Kota Surawa. Penjualan properti di sini memiliki perputaran harga yang buruk. Sementara tempat dengan penjualan harga yang terburuk adalah Jalan Kumar,
Harga properti di kawasan selatan rata-rata 10 juta rupiah per meter persegi. Sementara harga properti di Jalan Kumar yang paling tinggi saja senilai 10 juta rupiah per meter persegi. Namun, faktanya harga delapan juta per meter persegi hanya sekadar harga tanpa ada peminat.
Harga properti yang sebenarnya di Jalan Kumar seharusnya berada di harga 7,5 juta hingga 8,3 juta rupiah per meter persegi.
Menurut wilayah konstruksi di setiap perumahan pada zaman dahulu. Kira-kira setiap rumah di setiap 70 meter persegi total harganya mencapai 44 juta rupiah.
Martin mengeluarkan uang 60 miliar. Sudah cukup untuknya membeli lebih dari 120 rumah.
Mengenai 120 rumah di seluruh Jalan Kumar, paling hanya dua gedung apartemen saja. Skala ini masih jauh di bawah prediksi dalam hati Andre.
Jadi, Andre tidak mungkin mendatangi setiap rumah untuk menawar rumah warga. Hal yang profesional harus diserahkan kepada orang yang profesional juga.
"Bagus sekali. Kita sudah sampai...."
Andre mengajak Irwan berjalan dari Hotel Riverside, lalu berjalan hingga ribuan meter hingga sampai di Jalan Kumar. Setelah itu, mereka berhenti di depan perusahaan agen properti yang bernama perusahaan Properti Trust.
Irwan tertegun untuk sesaat. "Pak Andre, apa Anda bersusah payah keliling ke sana-sini hanya untuk datang ke sebuah agen properti?"
Andre menganggukkan kepala. Dia sangat akrab dengan perusahaan properti ini. Bukan karena skala Properti Trust yang sangat besar. Melainkan karena adik Jessy yang bernama Jenna Irawan bekerja di perusahaan agen properti ini.
Saat kehidupan yang lampau, Andre dan Jessy dimaki habis-habisan oleh Jenna. Sementara Andre tidak berani membantah.
Bahkan, Jenna terus memaki Andre tanpa henti hingga anak dan istrinya meninggal, Jenna hanya kurang menghajar Andre saja.
Karakter Jenna sangat emosional, Andre harus mengakui bahwa adik dari Jessy ini adalah orang dengan ucapan kasar, tetapi hatinya baik. Jenna sering membantu dirinya dan Jessy secara diam-diam.
Andre mau membeli rumah, tetapi dia tidak boleh muncul sendiri. Jadi, wajar bila Andre mencari orang yang bisa dipercaya.
Andre dan Irwan berjalan masuk ke Properti Trust.
Jenna sedang duduk di balik komputer. Dia sedang memeriksa daftar perumahan di daerah sekitar.
Jenna melihat ada orang yang masuk dan ingin menyapa. Namun, dia mendongak dan melihat Andre yang datang. Senyum di wajah Jenna langsung menghilang.
"Andre? Untuk apa kamu ke sini?"
"Nggak ada gunanya kamu datang minta bantuanku. Kalau kamu tahu diri, cepat tanda tangani surat ceraimu!"
"Kakakku benar-benar sial sekali karena harus menikahi preman seperti kamu. Kamu telah mencelakainya selama
enam tahun!"
"Pergi, pergi! Jangan sampai aku melihatmu!"
Tatapan mata Jenna tampak dingin bagaikan sedang mengusir pembawa sial, lalu terus mendorong Andre keluar.
Irwan yang berada di samping tertegun untuk beberapa saat. Dia memang tidak paham, seseorang yang mana Pak Martin bersedia memberi uang investasi 60 miliar, lalu teman dari Pak Bastian. Bahkan, Irwan sendiri sudah mendengar keajaiban tentang Andre hingga Irwan sendiri penasaran dan ingin mengenal Andre.
Mengapa malah dimaki oleh seorang karyawan rendahan dari agen properti?
"Jenna, aku datang bukan untuk masalah Jessy. Aku datang untuk membeli rumah." Andre mundur dua langkah.
Jenna mendongakkan kepalanya, lalu menatap Andre dengan tatapan menghina. "Beli rumah? Orang sepertimu?"
"Perumahan paling murah di kawasan selatan berada di Jalan Kumar dan harganya mencapai 55 juta!"
"Kalau kamu punya 55 juta rupiah, mungkin sudah kalah di pasar saham. Mana ada uang untuk membeli rumah?"
"Jangan bicara omong kosong denganku. Cepat pergi dari sini. Kalau nggak pergi juga, aku akan menghubungi polisi!"