Aira Nayara seorang putri tunggal dharma Aryasatya iya ditugaskan oleh ayahnya kembali ke tahun 2011 untuk mencari Siluman Bayangan—tanpa pernah tahu bahwa ibunya mati karena siluman yang sama. OPSIL, organisasi rahasia yang dipimpin ayahnya, punya satu aturan mutlak:
Manusia tidak boleh jatuh cinta pada siluman.
Aira berpikir itu mudah…
sampai ia bertemu Aksa Dirgantara, pria pendiam yang misterius, selalu muncul tepat ketika ia butuh pertolongan.
Aksa baik, tapi dingin.
Dekat, tapi selalu menjaga jarak, hanya hal hal tertentu yang membuat mereka dekat.
Aira jatuh cinta pelan-pelan.
Dan Aksa… merasakan hal yang sama, tapi memilih diam.
Karena ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya.
Siluman tidak boleh mencintai manusia.
Dan manusia tidak seharusnya mencintai siluman.
Namun hati tidak pernah tunduk pada aturan.
Ini kisah seseorang yang mencintai… sendirian,
dan seseorang yang mencintai… dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran & Tuan Putri
Pada waktu yang bersamaan, Aira dan Aksa membuka mata mereka perlahan.
Aira bangkit dan menatap sekelilingnya. Sebuah tempat yang begitu indah terbentang di hadapannya.
“Astaga… indah banget. Pemandangannya serasa di surga,” gumam Aira pelan.
“Tuan putri.”
Sebuah suara terdengar tepat di belakangnya.
Aira berbalik. Seketika ia terpaku. Sosok pangeran yang berdiri di hadapannya—wajah itu… adalah Aksa.
Aira tersenyum, matanya berbinar.
“Pangeran… kamu Aksa, kan?” tanyanya ragu.
Pangeran tersenyum lembut.
“Aku pangeranmu, Tuan Putri. Terimalah bunga ini dariku.”
Aira menerima bunga itu dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan.
“Terima kasih, Pangeran.”
“Marilah ikut bersamaku,” ujar pangeran sambil mengulurkan tangan.
Tanpa ragu, Aira menyambut uluran itu. Jari mereka saling menggenggam.
Dalam sekejap, mereka berada di sebuah istana megah yang berdiri di atas awan.
“Ini indah sekali, Pangeran. Aku ingin kita bersama selamanya,” ucap Aira tulus.
Pangeran terdiam sesaat, lalu menatap Aira dengan sorot mata sendu.
“Maafkan aku, Tuan Putri. Kita tidak bisa bersatu dan bersama selamanya.”
Senyum Aira memudar.
“Kenapa, Pangeran? Apa masalahnya?” tanyanya lirih.
“Sulit untuk dijelaskan,” jawab pangeran pelan. “Namun aku berjanji, aku akan selalu ada untuk melindungimu.”
Perlahan, pangeran melepaskan genggaman tangannya.
Hati Aira seketika terasa nyeri saat tangan itu menjauh.
“Pangeran… jangan tinggalkan aku…” teriak Aira.
“Pangeran… jangan tinggalkan aku…”
Aira terisak.
Tiba-tiba cahaya di sekelilingnya memudar. Istana di atas awan runtuh perlahan, langit yang indah berubah menjadi gelap. Genggaman tangan itu menghilang.
“Aira!”
Aira tersentak.
Matanya terbuka lebar. Napasnya terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Pandangannya buram, kepalanya terasa berat. Ia terbaring lemah, tubuhnya masih dingin, keringat membasahi pelipisnya.
“Itu… mimpi?” gumamnya lirih.
Namun perasaan itu terlalu nyata. Hangatnya genggaman tangan, tatapan pangeran—Aksa—semuanya terasa begitu hidup.
Aira menggerakkan jarinya perlahan. Tubuhnya masih lemah, tapi kesadarannya kembali. Ia benar-benar siuman dari pingsannya yang begitu lama.
Di waktu yang sama—
Di tempat berbeda, Aksa terbaring dalam diam. Wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terdengar.
Perlahan… satu jarinya bergerak.
Lalu kelopak matanya bergetar.
Aksa membuka mata.
Napasnya terhenti sesaat, seolah ia baru saja ditarik kembali ke dunia nyata. Pandangannya menatap kosong ke langit-langit, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aira…” bisiknya tanpa sadar.
Entah kebetulan atau takdir, di waktu yang sama dua jiwa kembali pada raga mereka.
Seakan mimpi itu bukan sekadar bunga tidur—
melainkan sebuah ikatan,
dua hati yang terhubung…
dan terbangun bersamaan oleh keajaiban yang sama.
Azura yang berdiri di balik pintu kaca menatap tak percaya saat melihat jari abangnya bergerak, lalu matanya perlahan terbuka.
Wajah Azura seketika berbinar.
“Bu! Ibu! Bang Aksa sadar!” teriaknya penuh bahagia.
Elara yang sejak tadi duduk cemas di kursi segera bangkit. Langkahnya tergesa memasuki ruangan, matanya berkaca-kaca.
“Akhirnya kamu sadar, Nak,” ucap Elara sambil menggenggam tangan Aksa. “Ibu sangat khawatir.”
Aksa menoleh pelan. Suaranya lemah, namun jelas.
“Aksa cuma capek aja, Bu.”
Belum sempat Elara menjawab, sebuah suara lirih terdengar dari sisi lain ruangan.
“Aksa…”
Semua terdiam.
Nama itu terdengar jelas di telinga Aksa, Azura, dan Elara.
Azura menoleh cepat ke arah kanan. Matanya membulat.
“Kak Aira juga sadar, Bu!” serunya tak kalah terkejut.
Dengan tangan gemetar karena bahagia, Azura menarik tirai pembatas di antara dua bilik itu.
Tirai terbuka.
Untuk pertama kalinya setelah kesadaran kembali, mata Aira dan Aksa bertemu.
Tak ada kata.
Tak ada suara.
Hanya tatapan yang berbicara—
seolah mimpi itu belum sepenuhnya berakhir.
Mata mereka saling mengunci.
Dunia seakan menyempit, menyisakan hanya dua pasang mata yang masih dipenuhi sisa mimpi.
Aira (dalam hati):
Kenapa kamu menatapku seperti itu, Aksa?
Tatapanmu sama persis seperti pangeran di mimpiku…
Apa aku masih bermimpi? Atau justru kamu yang benar-benar nyata?
Jantung Aira berdegup tak beraturan. Dadanya sesak, bukan karena sakit—melainkan karena perasaan yang tak mampu ia jelaskan.
Aksa (dalam hati):
Aira…
Kenapa wajahmu muncul di mimpiku… lalu kini ada di hadapanku?
Apa yang barusan kulihat itu hanya bunga tidur, atau panggilan hatiku sendiri?
Tatapan Aksa menghangat, namun ada kesedihan yang tak mampu ia sembunyikan.
Aira (dalam hati):
Di mimpiku, kamu menggenggam tanganku…
Lalu melepaskannya.
Apa di dunia nyata pun kamu akan melakukan hal yang sama?
Tanpa sadar, jari Aira bergerak lemah, seolah ingin memastikan ia benar-benar terjaga.
Aksa (dalam hati):
Aku ingin menyapamu.
Ingin memastikan kamu baik-baik saja.
Tapi kenapa aku takut, Aira?
Takut kalau perasaanku lebih dalam dari yang seharusnya.
Mereka masih saling menatap.
Tak ada satu kata pun terucap, namun dua hati yang baru saja kembali ke dunia nyata itu berdegup dengan ritme yang sama.
Seakan mimpi itu bukan sekadar ilusi—
melainkan janji yang belum sempat diucapkan.
Tak ada satu pun kata terucap di antara Aira dan Aksa.
Tatapan itu terputus ketika pintu ruangan kembali terbuka.
Beberapa anggota geng Aksa masuk hampir bersamaan. Suasana yang semula hening berubah sedikit canggung.
Angga melangkah paling depan. Wajahnya penuh penyesalan. Ia berdiri di samping ranjang Aksa, menunduk.
“Maafin gue, bro,” ucap Angga lirih namun jelas. “Gue nggak tahu kalau masalah hati lo sedalam ini… sampai bikin lo kecelakaan.”
Kalimat itu melayang di udara.
Dan terdengar jelas—
oleh Aira.
Jantung Aira seolah berhenti berdetak sesaat.
Masalah hati?
Matanya kembali menatap Aksa, namun kali ini ada kegamangan yang menyusup di sana.
Jadi Aksa kecelakaan karena masalah hati?
dengan siapa?
Apa ada perempuan lain di hidupnya… selain aku?
Pikirannya berkecamuk. Dadanya terasa sesak, bukan karena tubuhnya yang belum pulih, melainkan oleh rasa cemburu dan takut yang tiba-tiba hadir.
Sementara Aksa terdiam, tatapannya kosong—seakan menyimpan jawaban yang tak mampu ia ucapkan.
Dan tanpa Aira sadari, luka yang lain…
baru saja mulai terbuka.
Gue sekhawatir itu sama lo, Aksa…
pantas aja.
Ternyata sebab di balik kecelakaan lo karena masalah hati.
Pikiran Aira melayang ke mana-mana.
Yang pasti bukan sama gue.
Nggak mungkin.
Karena justru lo yang menjauh dari gue.
Aira tak tahu bahwa yang dimaksud “masalah hati” itu justru dirinya sendiri—
Aksa yang tak sanggup menjauh dari Aira, hingga pikirannya kacau dan kecelakaan itu terjadi.
Namun Aira menafsirkan semuanya berbeda.
Baginya, itu berarti ada perempuan lain di hidup Aksa.
Dadanya terasa perih.
Di tengah kekacauan pikirannya, Rosa yang sejak tadi masih berada di ruangan itu akhirnya mendekat ke arah Aira.
“Hai, Ra… lo udah sadar. Lo baik-baik aja, kan?” tanya Rosa pelan.
Aira menoleh tajam.
“Nggak usah sok baik,” ucapnya dingin. “Lo sama aja jahatnya sama Gina.”
Rosa terdiam sesaat, lalu menghela napas.
“Gue minta maaf, Ra. Gue benar-benar ngaku salah. Gue jahat sama lo selama ini.”
Namun Aira menggeleng pelan, matanya penuh luka yang belum sembuh.
“Jangan muncul di hadapan gue.”
Hati Aira masih terlalu sakit untuk memaafkan. Ia melihat sendiri bagaimana Rosa dan Gina bekerja sama menjatuhkannya. Aira tak ingin tertipu lagi oleh kata maaf.
Padahal, kali ini Rosa tulus.
Bersama Galih, perlahan Rosa mulai belajar menjadi lebih baik. Tapi ia sadar, penyesalan tak selalu bisa langsung diterima.
Rosa pun memilih menjauh.
Meninggalkan Aira dengan perasaan yang masih kusut—
dan luka yang belum sepenuhnya sembuh
Kabar itu sampai pada Rayhan lewat sebuah pesan singkat dari Gina.
Aira masuk rumah sakit.
Tanpa pikir panjang, Rayhan langsung bergegas. Langkahnya tergesa, dadanya dipenuhi kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya hanya tertuju pada satu nama.
Aira.
Sementara itu, di dalam kamar perawatan, Aira terbaring lemah. Tatapannya kosong, pikirannya masih terjebak pada kata masalah hati yang terus berputar di kepalanya.
Perlahan, tangannya bergerak ke arah selang infus.
Aira menatapnya sesaat—
lalu, tanpa ragu, ia menariknya paksa.
“Ah…”
Rasa perih seketika menjalar. Darah merembes, nyeri menusuk kulitnya. Namun Aira hanya meringis sebentar.
Sakit itu tak sebanding dengan nyeri di dadanya.
Lebih sakit hati daripada rasa ini, pikirnya getir.
Ia membuang wajahnya ke arah lain, menahan air mata yang tak kunjung jatuh. Tubuhnya lemah, tapi hatinya jauh lebih remuk.
Dan tanpa Aira tahu, di saat yang sama, Rayhan tengah berlari menuju rumah sakit—
tak sadar bahwa ia akan datang di tengah badai perasaan yang sedang menghantam Aira.
Darah menetes dari tangan Aira, semua mata terpaku—
tapi tak satu pun bergerak.
Siapa yang akan menahannya… sebelum ia pergi?
Aku merekomendasikan karya ini bagi siapa saja yang suka cerita percintaan yang emosional, penuh konflik hati, dan karakter yang realistis. Bagi aku, Cinta Sendirian adalah karya yang layak dibaca dan bisa mendapatkan bintang 5.