"Seiman, aku ingin seperti Mama yang cium tangan Papa di sepertiga malam sambil pakai mukena ... belajar ngaji selepas Isya dan berdiri berdampingan di Jabal Rahmah." - Zavia
Menjadi pasangan seorang Azkayra Zavia Qirany adalah impian seorang Renaga Anderson. Namun di sisi lain, sepasang mata yang selalu menatapnya penuh cinta justru menjadikan Renaga sebagai cita-cita, Giska Anamary.
Mampukah mereka merajut benang kusut itu? Hati mana yang harus berkorban? Dongeng siapa yang akan menjadi kenyataan? Giska yang terang-terangan atau Zavia yang mencintai dalam diam.
Follow ig : Desh_puspita
Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama konten penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 - Munafik
"Kekasihmu?"
Benar saja, panggilan dari Renaga berakibat fatal hingga membuat Gavi berpikir bahwa Renaga adalah kekasihnya. Zavia tidak menjawab dengan lisannya, tapi anggukan kepalanya sudah menjelaskan bahwa dia mengakui Renaga di hadapan pria itu.
"Cinta segi tiga?"
Pertanyaan Gavi mulai ke ranah pribadi, Zavia mulai sedikit merasa terganggu dan merasa Gavi terlalu ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Mata Zavia mendelik menatapnya, dia sedikit tidak suka dengan pertanyaan dari Gavi, sungguh.
"Tanya saja, kemarin temanmu itu sampai pingsan ... apa namanya kalau bukan cinta segi tiga."
"Pingsan?"
"Hm, kamu tidak tahu? Dia pingsan tidak lama kamu pergi, menyedihkan sekali ... kalian saling menyakiti," ungkap Gavi dan membuat Zavia sejenak merenung, Fabian sama sekali tidak memberitahu masalah ini padanya.
Belum sempat dia bertanya lagi pada Gavi, ponsel Zavia berdering dan memperlihatkan nama Giska di sana. Tidak biasanya dia menghubungi pagi-pagi begini, Giska sangat paham dengan jadwal Zavia yang sungguh padat itu.
"Sekarang? Kenapa dadakan?"
"Datang saja, Zavia ... aku tunggu."
Suara datar Giska sejenak menimbulkan tanya. Apa mungkin wanita itu marah pada Zavia yang dijemput Renaga tadi malam. Akan tetapi, selama perjalanan semalam Giska baik-baik saja, mereka juga sempat pamit dan hubungan keduanya tetap hangat.
"Kenapa?"
"Saya harus pergi."
"Lagi? Belum juga satu jam kamu di sini, Zav ... mau kemana lagi?" tanya Gavi khawatir lantaran melihat wajah pucat Zavia sembari bergegas keluar.
"Ada urusan, kalau ada Mama tolong katakan Saya di luar, Dok."
Naluri Gavi mengatakan ingin ikut, tapi mana mungkin dia meninggalkan kewajibannya hanya demi ikut campur urusan Zavia. Wanita cantik yang dia kenal sebagai putri seseorang yang dihormati di rumah sakit ini.
Zavia bergegas mendatangi tempat yang Giska tentukan, sebuah taman bermain yang kerap menjadi tempat mereka bertiga lari pagi setiap hari minggu beberapa tahun terakhir.
Selang beberapa lama, Zavia tiba dan dia melihat wanita cantik dengan rambut sebahu yang tampak menunggunya di sana. Wajah yang sama sekali tidak bersahabat, mata tajam dan juga tangan terkepal menunjukkan betapa marahnya dia pagi ini, tapi untuk apa.
"Giska, aku kelama_"
Belum sempat Zavia menuntaskan kalimatnya, telapak tangan Giska mendarat sempurna di wajah Zavia. Bukan tamparan sayang seperti biasa, tapi sungguh terasa panas dan pedas hingga Zavia diam beberapa saat.
Sakit di wajahnya mungkin bisa Zavia terima, tapi Giska yang melakukan hal itu membuat mata Zavia mengembun. Bagaimana kini Giska yang menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan, terlihat jelas amarah tengah menyala di kedua bola matanya.
"Giska?"
"Munafik!! Kenapa kamu tidak benar-benar mundur, Zavia!!" teriak Giska meluapkan amarahnya.
Apa yang dia ketahui tentang Renaga dan Zavia membuat seorang Giska benar-benar patah. Dia mengetahui Renaga memang menyukai Zavia sejak lama, akan tetapi Zavia sendiri yang menghindari dan seakan memberikan kesempatan untuknya. Kini, mengetahui fakta jika Zavia menerima Renaga, dia murka dan ingin membuat wanita di hadapannya ini tersadar sebentar saja.
"Kita memang sama-sama menyukainya ... aku tahu itu!! Tapi, bukankah sejak awal kamu sudah mengalah? Kenapa kamu menjilat ludah sendiri, Via?" tanya Giska dengan nada angkuhnya, dia membenci semua ini, termasuk dunianya sendiri.
"Kenapa kamu tidak sedikitpun kasihan kepadaku? Sejak kecil kamu yang jadi pemeran utamanya, kak Aga hanya melihatmu tanpa sedikitpun melihatku!! Parahnya lagi, seorang Zavia pura-pura peduli tentang kebahagiaan Giska, tapi pada akhirnya diembat juga."
"Giska ...."
Zavia mendekat, dia mencoba merengkuh Giska. Namun, wanita itu sama sekali tidak peduli dan mendorong Zavia hingga mundur beberapa langkah. Sebenci itu, entah kenapa Giska mendadak seperti ini padanya.
"Jika memang sejak awal kamu tidak pura-pura baik, mungkin aku sudah melupakannya sejak lama ... tapi bodohnya aku, aku tidak bisa berpikir jika diammu juga bermakna menunggu Renaga!!"
Giska menghela napas kasar, dia masih terus menghindar ketika Zavia berusaha meraih jemarinya. Sementara di sisi lain, Zavia di titik putus asa dan dia kembali mengingat kemarahan Renaga Kemarin.
"Aku tidak masalah jika tidak memiliki Renaga, tapi aku hanya membencimu saja, Via ... kamu terlalu munafik, itu saja."
"Ya Tuhan, Giska."
"Tujuh tahun, kamu pasti tertawa melihatku seperti pengemis cintanya selama ini, 'kan? Kamu juga pasti meremehkanku dan mengatakan jika aku hanya sebatas halu ... dan ternyata diam-diam kamu juga bersaing denganku. Aku sakit, Zavia, sumpah."
"Giska demi Tuhan aku tidak sepicik itu, aku sama sekali tidak bermaksud bersaing denganmu," lirih Zavia menggeleng pelan dan merasa tuduhan Giska terlalu menyakitkan untuknya.
"Mulutmu boleh mengatakan hal itu, tapi buktinya hatimu berbeda, Zavia ... di belakangku dan Fabian, kalian justru dekat bahkan merencanakan pernikahan. Aku tidak masalah jika kak Aga tidak memilihku, tapi sekali lagi aku katakan, aku membenci kemunafikanmu selama ini, Zavia."
Giska berlalu pergi usai meluapkan semua kegundahannya sejak semalam. Wanita itu melangkah tanpa melihat ke depan, dia menerobos jalanan dengan diikuti Zavia yang terus memanggil namanya.
"Giska tunggu!"
"Giska tunggu akuuu!!"
Dentuman terdengar keras, klakson kendaraan bersahutan bersamaan dengan jeritan seorang wanita yang histeris melihat kejadian di depan matanya. Seketika, lalu lalang kendaraan berubah padat bahkan sulit untuk bergerak. Mendung pagi ini ternyata sebuah pertanda buruk, ibu kota akan menangis sebentar lagi.
.
.
- To Be Continue -