Amanda Groban tak dapat menahan amarahnya saat mengetahui fakta mengerikan di balik kecelakaan yang dialami oleh Emily, saudara kembarnya. Bahwa ternyata, dalang kecelakaan tersebut ialah suami Emily sendiri, bernama Glen.
Emily yang dinyatakan koma sengaja disembunyikan oleh Amanda di klinik milik temannya. Selagi menyembunyikan Emily, Amanda akan membalas kejahatan Glen dan kekasih gelapnya. Demi mencapai tujuan itu, Amanda menyamar menjadi Emily yang culun dan penakut.
Akankah Amanda berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Yang Kamu Lakukan, Shara?
Shara tertawa puas setelah melihat Amanda terkulai lemas dan tak bergerak lagi. Melihat banyaknya cairan merah yang memenuhi selimut, ia meyakini bahwa Amanda benar-benar telah tiada. Wanita itu lantas menjatuhkan diri ke lantai dengan pisau yang masih di genggamnya.
"Aku berhasil menyingkirkan wanita sialan ini," ucapnya sambil menatap pisau berlumur darah di genggamannya. "Glen, kamu akan menyesal karena sudah melakukan semua ini kepadaku."
Di dalam kamar dengan pencahayaan temaram itu, Shara tertawa, menjerit dan menangis di saat yang bersamaan.
Suara berisik yang terdengar sampai ke ruang baca itu berhasil mengalihkan perhatian Glen. Dia yang masih memainkan ponsel dalam posisi berbaring di sofa itu langsung bangkit.
"Bukankah itu suara Shara?" gumamnya dengan kerutan tipis di dahi. "Kenapa dia menjerit seperti itu?"
Dibelenggu rasa penasaran, Glen segera beranjak. Mempercepat langkah menapaki tangga menuju lantai atas. Namun, setibanya di kamar, kekasih gelapnya itu tak terlihat di sana. Yang ada hanyalah kamar berantakan dengan pecahan kaca di mana-mana. Bantal dan seprai teronggok begitu saja di lantai. Glen bahkan berpikir bahwa sang pemilik kamar pasti sudah gila sampai membuat kamarnya seberantakan ini.
Namun, saat itu juga Glen tersadar bahwa suara jeritan Shara tidak berasal dari kamar itu, melainkan dari kamar lain.
Laki-laki itu langsung mengambil langkah seribu menuju kamar paling ujung di lantai dua rumah itu. Glen dapat melihat pintu kamar yang ditempati Amanda terbuka setengah. Dan dari sini suara Shara terdengar semakin jelas.
"Amanda!"
Pandangan Glen berkeliling di kamar dengan pencahayaan temaram itu. Dia langsung menuju sudut kamar untuk menyalakan lampu. Pemandangan mengerikan pun menyambut, membuat jantung Glen seperti dipaksa untuk berhenti.
Shara tampak terduduk di lantai dengan pisau berlumur darah di genggamannya. Sementara di tempat tidur Amanda sudah tak bergerak dalam balutan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Shara?"
Jiwa Glen dipenuhi amarah. Dia bergerak maju, membuang pisau di genggaman Shara dan mencengkram lengan wanita itu kuat-kuat. Shara harus menahan sakit dan hanya dapat meringis saja. Tetapi, ia kemudian tertawa melihat sorot mata Glen yang tajam menghujam.
"Aku sudah menyingkirkan wanita itu. Kamu lihat, dia sudah mati sekarang," bisik Shara menyeringai.
"Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu harus membunuhnya?" teriak Glen, lantas mendorong Shara hingga tubuhnya tersungkur ke lantai.
Suara gaduh itu pun mengundang perhatian seisi rumah. Para pelayan dan penjaga pos depan berbondong-bondong menuju sumber suara. Semua terkejut dan ketakutan melihat kejadian mengerikan itu.
"Ya ampun, apa yang terjadi?" ucap salah satu di antaranya dengan suara bergetar.
Namun, tak ada sedikit pun penyesalan terlihat di wajah Shara. Dia malah bersikap seperti tidak sedang melakukan dosa besar dengan menghilangkan nyawa orang lain. Perlahan wanita itu bangkit dan berusaha mendekati Glen. Memukul dada laki-laki pengkhianat itu dengan membabi buta.
"Karena dia kamu ingin melenyapkanku, kan? Tapi sebelum itu terjadi, maka aku sudah melenyapkan dia lebih dulu," teriaknya, lalu kembali tertawa. "Ayolah, Sayang! Ucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya kepada wanita penyamar itu!"
Glen benar-benar merasa ingin membunuh Shara saat itu juga. Pandangannya beralih kepada Amanda yang sudah tidak bergerak lagi di tempat tidurnya. Rasa bersalah yang teramat besar menggelayuti diri. Ia telah kehilangan sebelum memiliki wanita yang berhasil merebut hatinya itu.
Amanda tewas?
Sejenak, Glen melirik penuh ragu ke arah beberapa pelayan yang saling memeluk ketakutan di ambang pintu. Kemudian kembali terfokus kepada Amanda. Gemetar luar biasa menghantam tubuh Glen tatkala menyibak selimut berlumur darah itu.
"Amanda?" lirihnya. Rasanya tak sanggup jika harus kehilangan. Dadanya terasa penuh sesak dan amarah. Ia berjanji kepada dirinya sendiri akan membalas Shara. Namun, saat melihat wajah yang sudah tak bernyawa itu, sepasang mata Glen membeliak. Tubuhnya semakin gemetar.
Sementara tawa sinis yang sejak tadi terdengar dari bibir Shara perlahan menghilang. Mendadak seluruh tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Cairan bening pun menggenangi sepasang bola matanya.
"I-ibu?" lirih wanita itu.
...*****...