Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 7
“Kamu benar-benar gila,” desis Issie sambil berusaha menarik lengan Rowena untuk menghentikannya. Rowena langsung menarik tangannya sendiri.
“Kamu baru sadar sekarang?” Rowena tertawa.
“Bagaimana kalau mereka punya penjaga bersenjata?” omel Issie sambil mencari dukungan dari yang lain.
Rowena mengajak beberapa teman kerjanya mengunjungi Paragon. Issie tampak sangat paranoid, sementara dua lainnya justru kegirangan dan menyuruhnya bersantai. Mereka mulai saling melempar cerita horor tentang Paragon.
“Katanya, semua pasiennya itu pembunuh berantai,” ujar Calico dengan penuh semangat.
“Dan konon, pas bulan purnama kita bisa dengar lolongan serigala,” timpal Bertha sambil tersenyum lebar. Mereka semua refleks menatap langit, melihat bulan putih yang bulat sempurna.
“Sudah purnama, ya?” tanya Issie dengan nada dibuat ceria, meski jelas terlihat ketakutan.
Belum sempat ada yang menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari balik pepohonan.
Zzzsttt… Zszttts… Zzzssttt.
Awalnya pelan, seperti bisikan. Lalu meninggi, semakin jelas.
Bulu kuduk Rowena meremang ketika lolongan itu pecah sempurna. Tidak berhenti. Suaranya menyerupai serigala, tetapi juga terdengar seperti manusia. Seperti orang gila yang melolong ke bulan.
AAAAAUUUUUUUUUURHHHHHHHHHFFFF.
Issie langsung berlari.
“Sialan!” teriak Calico.
“Gila, serem,” komentar Bertha. Namun mereka justru saling pandang dengan senyum lebar. Mereka masuk ke rimbunan semak dan pepohonan selebar satu setengah meter. Sangat lebat, ranting-ranting tersangkut di legging Rowena, meninggalkan garis-garis pucat di kain hitamnya.
Begitu keluar di sisi lain, suasana langsung hening.
Rowena menyapu jarinya di jeruji pagar. Paragon Ravensland Asylum tampak sangat tua, bergaya arsitektur Victoria, mengingatkannya pada gedung-gedung dalam film Harry Potter. Bagi Rowena, tempat itu terasa kuno dan megah, lebih mirip museum daripada rumah sakit jiwa.
Ini bukan rumah sakit, gumamnya dalam hati.
Rowena pernah mengunjungi rumah sakit jiwa sebelumnya, dan ini jelas berbeda. Tempat ini lebih mirip penjara dengan pintu yang selalu terkunci. Orang-orang di dalamnya jelas tidak punya rencana rehabilitasi, bahkan mungkin tidak pernah pulang di akhir pekan.
Bau besi di tangannya mengingatkannya pada aroma darah. Ia refleks menarik tangan, memperhatikan duri-duri tajam di atas pagar.
Cuma ini pengamanannya? Terlalu mudah. Hanya kawat berduri. Mana pagar listrik, CCTV, anjing penjaga? Ini terlalu gampang, pikirnya.
Mereka mulai memanjat. Tidak ada yang bicara, entah karena takut, terpukau, atau keduanya. Rowena justru menikmati keheningan itu. Degup jantungnya terasa semakin manis.
Paru-parunya panas, tangannya gemetar, kaki mulai lelah, tetapi tekadnya tidak luntur.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya turun di sisi lain dan menginjak tanah Paragon.
Lolongan itu terdengar lagi, lebih keras. Seolah berasal dari bawah tanah.
Rowena mencari jendela basement, tetapi tidak menemukannya. Semua jendela bangunan itu, dari lantai dasar hingga atas, tertutup pelat logam.
Kecuali satu.
Ada cahaya samar dari sana, tanpa pergerakan.
“Ini kelihatan seperti jebakan,” gumam Issie, lehernya maju seperti kura-kura.
“Benar-benar terlalu gampang, enggak sih?” sahut Calico.
“Menurutku, bagian tersulit itu menyusup ke dalam gedungnya, bukan memanjat pagar,” kata Rowena.
“Menurutku, yang paling sulit justru keluar lagi,” timpal Calico.
Mereka langsung terdiam, baru menyadari kemungkinan terburuknya.
“Ayo,” ujar Rowena sambil melangkah lebih dulu. “Masa iya mereka langsung mengunci kita kalau ketangkap?”
“Enggak. Yang melolong tadi yang bakal bunuh kita,” gerutu Issie.
Mereka menghabiskan hampir setengah jam berkeliling bangunan itu sampai kelelahan.
Tidak ada pintu masuk.
Tidak ada pintu keluar.
Bahkan Rowena mulai ragu apakah memang ada jalan masuk.
Akhirnya mereka memutuskan berpencar. Rowena berdiri sendirian di depan sebuah pintu kecil dengan lampu merah yang berkedip-kedip.
Seharusnya ia merasa bangga karena menemukannya. Namun begitu berdiri di sana, ia sadar betapa bodoh dan nekatnya semua ini.
Apa ia benar-benar berpikir bisa menghadapi Darcel atau menemukan informasi tentang pria itu di tempat seperti ini?
Sesaat ia ingin mencari yang lain dan berkata bahwa mereka sebaiknya pulang saja.
Ia memang aneh.
Rowena terus meyakinkan dirinya bahwa kedatangannya ke sini hanya karena rasa penasaran, bukan karena obsesinya pada dokter terapis itu. Padahal jelas, ia tidak mungkin tersesat sejauh ini jika tidak berharap menemukan sesuatu tentang Dr. Darcel.
Sial.
Saat menatap pintu kusam yang tak tembus pandang itu, Rowena sadar bahwa ia sudah berdiri di tepi jurang. Semua ini hanya bisa dijelaskan oleh satu hal. Ketertarikannya pada Darcel semakin dalam, dan rasa penasarannya pada Rumah Sakit Jiwa Paragon yang legendaris itu sudah tidak tertahankan.
Ini salah.
Sangat salah.
Ketika ia sibuk menyalahkan diri sendiri, tiba-tiba terdengar bunyi bip dari balik pintu, seperti pengait yang terbuka dari dalam. Pintu itu berderit pelan dan mulai terbuka.
Rowena terpaku.
Dan pria itu muncul.
Orang yang membuatnya kehilangan akal sehat.
Dr. Darcel.
Ia terkejut.
Mata ungunya bergerak cepat ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihat. Lalu ia mengulurkan tangan, mencengkeram lengan Rowena, dan menyeretnya masuk ke dalam gedung dengan kasar.
Pintu menutup keras di belakang mereka.
Darcel berdiri tepat di hadapannya, menatapnya lekat.
Apakah ia akan memarahinya?
Dan sialnya, Rowena justru merapatkan pahanya, menahan diri agar tidak terlihat betapa bersemangatnya ia.