NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 Coklat atau Keju

Dean kembali memperhatikan materi yang dosennya terangkan, ia tampak serius jika sedang belajar. Itulah Dean, wanita yang tidak pernah mau di ganggu jika ia sedang belajar.

Bahkan saat dosen itu keluar dari kelasnya Dean masih kembali mengerak-gerakan tangannya di udara sambil memejamkan matanya, membayangkan bahwa ia sedang memasak makanan seperti yang tadi dosennya itu jelaskan.

Dean selalu melakukan itu setelah ia selesai menerima materi yang di berikan dosen. Andai sebelumnya Dean biasa melihat orang memasak atau masuk ke dapur rumahnya, mungkin Dean tidak akan semenderita saat ini, ini bahkan lebih sulit dari pada baru belajar berjalan setelah Dean kecelakaan.

“Ini untukmu.” Max memberikan sekotak kue coklat, membuat Dean membuka matanya lalu menatap laki-laki yang sedang tersenyum lembut padanya, Dean bahkan bisa melihat wajah itu penuh harap padanya.

“Kamu yang membutnya?” Dean menerimanya.

“Tentu saja!” jawab Max bangga sambil menepuk-nepuk kedua tanganya.

Max memang suka memasak, terutama yang berhubungan dengan kue dan roti, itu salah satu sebab mengapa ia tidak menyukai Mimi, dari awal Max tahu bahwa Mimi sangat pandai dalam bidang itu, bahkan saat pertama mengikuti tes masuk kulia di sana, Mimi mendapat nilai tertinggi. Max tidak menerima itu seharusnya dirinya yang mendapat nilai tertinggi di kampus keluarganya sendiri bukan orang lain.

“Dean, aku juga membuatkanmu kue.” Mimi meyodorkan sekotak kue keju.

Sontak hal itu membuat Max, membuang mukanya wanita bernama Mimi selalu datang di saat yang tidak Max inginkan, Mimi selalu menganggu kesenangnya, termasuk menganggu saat Max bersama Dean.

“Wah, kalian benar-benar baik, terimakasih ya.” Dean tersenyum sambil memeluk Mimi, Max melebarkan tanganya menunggu pelukan Dean, tentu saja dia juga menginginkanya.

“Kenapa aku tidak di peluk?” Max protes saat Dean kembali duduk tidak memperdulikan dirinya, bahkan Mimi terkekeh menertawakan tingkah Max.

“Hey Max, aku sudah menikah, dan aku tidak akan memeluk laki-laki lain selain suamiku!” Dean menjelaskan, Max hanya bisa menarik napas dalam tanda kecewa.

Dean selalu bersikap seperti itu, ia selalu mengatakan bahwa dirinya sudah menikah, tapi Max tidak perduli, sekalipun Dean menikah. Max sepertinya sudah jatuh cinta pada Dean sejak pertama kali ia melihat wanita itu masuk dari pintu kelasnya sambil tersenyum lembut dan memperkenalkan diri tanpa ada keraguaan.

Saat wanita itu memasuki kelasnya jantung Max berdetak sangat cepat, bahkan Max tidak bisa berkedip selama sepuluh detik, karena itu Max melontarkan pertanyaan bodohnnya “Apa sudah punya pacar?”

Itu semata hanya karena Max ingin mengenal sosok Dean lebih dekat, sekalipun Dean menjawab bahwa ia sudah menikah, Max tidak akan menyerah begitu saja.

***

Wanita itu melangkah dengan cepat saat melihat sosok yang sangat ia rindukan, seorang laki-laki yang selama ini selalu menuruti semua keinginnanya, karena ia tahu bahwa laki-laki itu sangat mencintainya sama seperti dulu.

Laki-laki itu tampak sibuk menyantap makan siangnya bersama teman-temanya karena saat ini adalah waktu istirahat.

“Her aku ingin bicara, kenapa kamu menghindariku?” Aulia bertanya sambil manatap Hermawan yang sempat terkejut dengan kehadiran Aulia yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.

Hermawan bukan menghindarinya hanya saja ia sudah memilih dan memutuskan, ia tidak ingin terus membuat hatinya bingung, sudah cukup rasanya dirinya mempermainkan hubungan yang dianggapnya suci.

Hermawan tidak ingin menyembunyikan statusnya lagi, ia juga tidak ingin membohongi banyak orang karena status barunya yang ia simpan rapat-rapat, sehingga tidak ada orang yang tahu di kantor itu kecuali keluarga Dean sendiri.

“Aulia, aku, aku sudah menikah dan aku sekarang sedang berusaha membangun rumah tanggaku dengan baik.” Jawab laki-laki itu jujur membuat tiga sabatnya dan Aulia tercengang sesaat kemudian tertawa bersamaa.

“Kamu menikah?” Aulian tertawa sambil terkekeh “Jangan bercanda, kalau memang iya kapan? terus apa buktinya kamu menikah, jarimu juga kosong, ingat pernikahan itu tidak mudah Her.” tambah Aulia.

“Aku tidak bercanda, aku telah menikah hampir lima bulan lalu, dan cincin kawin, aku lupa membelinya, aku akan membelinya secepatnya.” Hermawan menarik napas dalam bagaimana bisa ia melupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pernikahan ‘Bodoh mengapa aku melupakan cincin kawinya, pasti Dean sudah menunggu lama, dasar bodoh!’ laki-laki itu mengutuk dirinya sendiri.

“Sudahlah Her, jangan jadikan itu alasan untuk menghindariku, kamu tidak harus mengarang cerita seperti itu.” Aulia berucap sambil menahan tawanya, tapi di dalam hatinya ia merasakan sakit, andai saja itu benar terjadi nantinya Aulia tidak bisa membayangkan itu semua, ia tidak akan membiarkan Hermawan hidup bersama wanita lain selain dirinya.

Semua orang boleh mengatakan dirinya egois atau munafik tapi Aulia tidak perduli selama ia bisa bersama Hermawan apapun akan ia lakukan.

“Aku serius!” Hermawan kemudian pergi meninggalkan empat orang di hadapanya yang masih menertawakanya, laki-laki itu terus melangkah tanpa memperdulikan Aulia yang memanggilnya sambil berteriak seakan takut Hermawan akan meninggalkanya selamanya

‘Mengapa semua orang tidak percaya kalau aku sudah menikah?’

***

Dean sibuk dengan laptop di pahanya sambil sesekali melihat ke arah televisi yang menyiarkan berita kriminal, tadi ia sudah belajar mengupas dan memotong kentang dari Hermawan, walau hanya sedikit ia sudah bisa melakukannya, Hermawan sangat membantunya, Hermawan sangat sabar mengajari Dean, dan Dean menyukai itu, sangat menyukainya.

“Kamu sedang apa?”

“Hanya sedikit urusan bisnis.” jawab Dean cuek

“Cikh bisnis, kamu seperti pemilik saham saja.” Hermawan mengejek.

Dean menarik napas dalam, kemarin ia sudah menjelaskan walau secara tidak langsung bahwa ia pemilik kantor tempat suaminya itu bekerja, tapi sepertinya Hermawan hanya mengangap itu sebuah candaan.

“Kamu sendiri sedang mengerjakan apa?” Dean bertanya tanpa memperdulikan ejekan suaminya.

“Oh, ini aku membuat konsep untuk perusahaan Om mu, tapi entahlah dia akan menerimanya atau tidak aku ragu.” Dean segera menutup laptopnya ia bergeser mendekati suaminya yang duduk di sampingnya.

“Biar kulihat.” Dean kembali tampak serius memperhatikan layar laptop Hermawan, sesekali ia tersenyum sambil mengelengkan kepalnya pelan. “Ini kamu sebut konsep?” Dean terkekeh.

“Apanya yang lucu?” Hermawan cemberut, ia bersumpah tidak menyukai saat Dean menertawakan kerja kerasnya bersama timnya, merekah sudah berusaha dengan keras merancang konsep-konsep itu, bahkan beberapa kali Hermawan harus pulang lebih malam.

“Sini aku jelaskan, aku yakin Om akan menolak ini mentah-mentah, walaupun Om menerimanya nanti aku akan menolaknya.” Jawan Dean sambil tersenyum, Hermawan menatap Dean dengan penuh tanda tanya.

“Biar aku jelaskan, kamu harus memasukan beberapa unsur yang lebih bermanfaat. Misalnya budaya, jadi pengunjung datang bisa bermain sambil belajar, budaya tidak harus di dalam negeri tapi luar negeri juga boleh, atau kamu bisa mengutamakan kenyamanan. Misalnya, kamu bisa menambahkan beberapa fasiltas yang cukup menarik disini, jangan pikirkan untuk untung dulu, kalau semua nyaman, pasti kamu akan mendapatkan untung besar, terus jangan terlalu menjanjikan sesuatu yang terlalu muluk aku tidak suka.” Jelas Dean.

“Pinjam Flashdisk mu,” Hermawan hanya menuruti, pikiran Hermawan masih sibuk mencernah masukan dari istrinya “Ini ada beberapa konsep yang aku buat kemarin kamu bisa belajar banyak dari sana, semoga beruntung.” Dean menyodorkan Flashdisk.

Dean kembali sibuk memeriksa beberapa e-mail yang masuk ia juga terus mengontrol sejauh ini ia sudah mendapatkan beberapa investor asing, jumlah itu lebih dari cukup untuk pertemuan lusa, selain itu beberapa penanam modal dari dalam negeri juga ikut andil bersamanya “Ini cukup.”

“Dean dari mana kamu belajar semua ini?” Hermawan bertanya sambil menatap Dean yang tersenyum, mata istrinya terlihat sangat fokus pada beberapa tulisan yang ada di layar laptopnya, lalu kemudian menutup laptonya. Ia melihat ke layar televisi menyaksikan berita kriminal tentang penculikan dan pembuhuhan.

“Oh, itu sudah lama.” jawab Dean cuek, lalu menganti saluran televisi mencari tontonan favoritnya yaitu acarah komedi atau kartun kesukaanya, bahkan Dean sekarang sudah tertawa saat ia menemukan acarah komedi yang dianggapnya sangat lucu.

“Aku serius!” Wawan meletakan kedua tanganya menyetuh telingah hingga pipi Dean, membuat wajah Dean mengarah pada Hermawan, tapi mata Dean hanya melihat Hermawan selama satu detik, ia lebih memilih melihat acarah komedinya.

“Lihat aku! Kamu menyimpan banyak rahasia, katakan padaku sekarang semuanya.”

Mata Dean perlahan bergerak menatap mata hitam pekat milik Hermawan, mereka saling bertatapan dan berjarak beberapa centi, Dean merasa ada yang aneh pada dirinya, ia seperti terbang tinggi, bahkan hanya sentuhan kecil di kedua pipihnya bisa membuat jantungnya berdetak sangat cepat.

Dean sangat senang suaminya menyetuh pipinya, tapi Dean ingin lebih dari itu, ia sering melihat di film-film awalnya laki-laki akan menyentuh wajah sang gadis lalu mereka tiba-tiba akan berciuman.

Dean memejamkan matanya, mulutnya mulai mengigit bibir bawahnya sambil tersenyum, sebenarnya ia tidak siap jika Hermawan melakukan itu sekarang, tapi Dean akan mencobah.

“Apa yang kamu pikirkan?” Suara Hermawan membuyarkan khayalannya, baru saja Dean berkhayar akan berciumam dengan suaminya itu, muka Dean memerah seperti tomat, ia malu pada pikiran bodohnya dan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi?

Suaminya terkekeh melihat Dean bertingkah seperti anak kecil. Dean dengan cepat masuk ke kamarnya, kemudian berteriak senang, Hermawan bisa mendengar itu semua kemudian tertawa.

Hampir setengah jam Dean mengurung dirinya di kamar mencobah menguasai dirinya, ia juga mengoreskan beberapa tulisan di buku milik Hermawan yang ia pinjam tanpa sepengetahuan laki-laki itu, Dean menemukan dua kotak makanan saat ia akan mengambil pulpen dalam tasnya.

“Ini.” Dean menyodorkan dua kotak kue.

Hermawan dapat melihat raut muka Dean sudah biasa saja sekarang, tidak ada lagi warnah merah disana.

“Kue? Dari siapa?”

“Kalau yang keju dari Mimi dan yang coklat dari Max.” Dean menjelaskan, sambil membantu Hermawan membukan kotak makana yang berisi kue coklat.

Ada sesuatu yang menganjal dalam hati Hermawan, ia tidak suka saat Dean tiba-tiba menyebut nama Max, ‘Dean pernah bercerita tentang Mimi, tapi Max, siapa dia mengapa ia memberi kue coklat pada istriku?’

***

Dean mengarahkan tanganya untuk mengambil kue coklat tapi segera di hentikan suaminya “Dean istriku, kamu makan kue ini saja ya, Aaaaaak...”

Hermawan mengarahkan garpu kecil ke mulut Dean, wanita itu hanya menurut ia melahap kue keju pemberian Mimi, Dean tahu Mimi tidak pernah mengecewakanya, karena rasa kue ini sangat enak.

Sesaat kemudian seperti ada yang aneh, ia melihat suaminya melahap kue coklat itu seperti orang kesurupan.

“Kenapa kamu bersikap aneh malam ini? Dan kenapa kamu memasukan semua kue coklat itu kedalam mulutmu?” Dean menyelidik.

Seketika laki-laki itu terbatuk, ia tersedak kemudian memukul dadanya, Dean segera mengambilkan air.

“Kamu tidak apa-apa?” Dean menatap laki-laki di hadapanya, Hermawan mengangguk cepat, masih berusaha menelan semua kue coklat dalam mulutnya. Dia tidak ingin Dean memakan kue pemberian Max, Dean hanya boleh memakan masakanya.

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!