Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam itu.
Di ruang kerja, Dylan duduk tenang menatap layar komputer yang menampilkan struktur kepemilikan saham Jiang Group.
Tak lama kemudian, Jay masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Tuan, Tuan Jiang telah menyetujui penjualan seluruh saham miliknya," lapor Jay.
Dylan mengangguk tipis.
"Bagaimana dengan para investor lainnya?"
"Seperti yang Anda perkirakan, skandal keluarga Jiang membuat mereka kehilangan kepercayaan. Banyak investor diam-diam ingin menjual saham mereka sebelum nilainya terus merosot."
"Bagus."
Jay melanjutkan, "Kami sudah menghubungi beberapa investor melalui perusahaan investasi yang kita gunakan. Mereka tidak mengetahui bahwa pembeli sebenarnya adalah Anda."
"Teruskan."
"Baik, Tuan."
"Beli semua saham yang mereka lepaskan. Berapa pun jumlahnya."
"Baik, Tuan."
"Pastikan identitasku tetap dirahasiakan sampai rapat pemegang saham dimulai."
"Saya mengerti."
Jay terdiam sejenak sebelum bertanya, "Apakah setelah menjadi pemegang saham mayoritas, Anda akan langsung mengambil alih Jiang Group?"
Dylan tersenyum tipis.
"Tentu. Sudah terlalu lama Jiang Group berada di tangan orang yang salah."
Jay menganggukkan kepala.
"Saya akan memastikan seluruh transaksi selesai secepat mungkin. Pada rapat pemegang saham nanti... Tuan Jiang akan mengetahui siapa pemilik baru Jiang Group."
Tatapan Dylan berubah tajam.
"Kali ini, aku akan merebut kembali semua yang seharusnya menjadi milik ibuku."
Jay menutup map di tangannya, lalu berkata,
"Rencana kita berjalan dengan lancar, Tuan. Saat ini Tuan Jiang pasti berada di bawah tekanan besar. Selain terlilit utang perusahaan, beliau juga harus memikirkan kondisi Nona Jiang yang membutuhkan donor hati secepatnya."
"Mereka akan datang menemuiku."
"Anda yakin, Tuan?"
Dylan mengangguk pelan.
"Demi putri kesayangan mereka, mereka pasti akan datang memohon kepadaku."
Jay terdiam sejenak sebelum bertanya, "Kalau begitu... apakah Anda akan melepaskan mereka?"
Tatapan Dylan langsung berubah dingin.
"Tidak akan."
Ia mengepalkan tangannya perlahan.
"Selama bertahun-tahun mereka menghancurkan hidup ibuku dan Viona. Sekarang baru permulaannya."
Keesokan paginya.
Delvin dan Moly memasuki mansion Dylan setelah dipersilakan oleh Jay.
"Silakan tunggu sebentar, Tuan, Nyonya," ujar Jay.
Namun, saat melewati ruang makan, langkah keduanya terhenti.
Di sana, Dylan sedang duduk dengan tenang menikmati sarapan.
Di sampingnya, Viona juga duduk sambil menyantap sarapannya.
Suasana di meja makan tampak begitu hangat.
Viona sesekali menyajikan roti panggang dan menuangkan kopi ke cangkir Dylan.
Moly langsung mengerutkan kening.
"Viona?" gumamnya tidak percaya."dia bahkan makan bersama dengan Dylan."
Viona yang mendengar namanya dipanggil perlahan menoleh.
Begitu melihat Delvin dan Moly berdiri di depan ruang makan, wajahnya langsung berubah kaku.
Ia spontan berdiri dari kursinya.
"Tuan... Nyonya..."
Delvin menatap Viona dengan sorot mata tajam.
Ia sama sekali tidak menyangka gadis yang dulu dianggap sebagai pembantu kini duduk semeja sarapan bersama Dylan.
Dylan meletakkan cangkir kopinya dengan tenang, lalu menoleh ke arah mereka.
"Untuk apa kalian datang?"
Nada suaranya datar, seolah kedatangan Delvin dan Moly bukanlah sesuatu yang penting.
Delvin menarik napas panjang.
"Dylan, papa ingin berbicara denganmu."
Dylan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Katakan saja!"
Ia mengambil sepotong roti, lalu berkata dengan tenang,
"Aku belum selesai sarapan."
Delvin mengepalkan kedua tangannya, tetapi berusaha menahan emosinya.
Moly menatap Viona yang masih duduk di meja makan bersama Dylan dengan tatapan tidak percaya.
"Viona, kau hanya seorang pembantu. Kenapa kau malah duduk semeja dengan majikanmu?" tanyanya dengan nada merendahkan.
Viona terdiam dan menundukkan kepala.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Dylan sudah lebih dulu berbicara.
"Urusan orangku tidak perlu kau ikut campur."
Nada suara Dylan dingin.
Ia meraih tangan Viona dan menariknya perlahan agar gadis itu kembali duduk.
"Lanjutkan sarapanmu."
Viona menatap Dylan sejenak, lalu perlahan kembali duduk.
Melihat sikap Dylan yang melindungi Viona, wajah Moly semakin tidak nyaman.
Delvin mengabaikan hal itu dan langsung menatap putranya.
"Dylan, mengenai pengobatan adikmu, harus segera dilanjutkan. Kenapa kau membuat semua rumah sakit menolak menerima Sanny?"
Dylan tetap tenang menikmati sarapannya.
"Kalau kalian ingin menyelamatkan putri kalian, pergi saja ke luar negeri."
Delvin langsung mengerutkan kening.
"Dalam kondisi perusahaan seperti sekarang, bagaimana mungkin? Dylan, itu adalah perusahaan keluarga Jiang. Kenapa kau harus menghancurkannya?"
Dylan akhirnya meletakkan alat makannya dan menatap Delvin.
"Siapa yang menyuruh kalian berani menyinggungku?"
Tatapannya berubah dingin.
"Seharusnya kau sudah bisa menebak apa yang akan kulakukan setelah kalian menyentuh orang yang tidak seharusnya."
Delvin terdiam.
"Lalu apa yang harus kami lakukan agar kau membiarkan Sanny menerima perawatan?" tanyanya dengan suara tertahan.
Dylan tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di matanya.
"Jadi sekarang kau takut putrimu akan kehilangan nyawanya?"
Delvin mengepalkan tangannya.
"Jangan lupa..." lanjut Dylan.
"Kenapa ibuku harus meninggal saat itu. Aku hanya mengembalikan apa yang telah kalian lakukan kepada ibuku."
Wajah Delvin berubah.
"Dylan..."
"Jangan berpura-pura menjadi ayah yang peduli sekarang."
"Dylan, kau jangan keterlaluan!" bentak Delvin.
Dylan menatapnya tanpa ekspresi.
"Keterlaluan? Ketika kalian menghancurkan hidup ibuku, apakah kalian pernah berpikir bahwa itu keterlaluan? Ingin aku memberikan izin rumah sakit merawat putrimu? Bisa saja, kecuali kalian berani mengaku semua yang kalian lakukan di depan media? Biar semua orang tahu alasan ibuku meninggal dan Moly adalah selingkuhanmu!"