"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengungkapan yang Halus
Suasana vila kembali tenang setelah Arsen meninggalkan balkon bersama Genta.
Senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya beberapa menit lalu lenyap tanpa bekas. Kini langkah Arsen kembali mantap, cepat, dan penuh wibawa. Dalam sekejap, pria yang tadi berbincang santai dengan Senja berubah lagi menjadi sosok dingin yang disegani semua anak buahnya.
Mereka memasuki sebuah ruangan di sisi timur vila.
Klik.
Pintu kayu jati tebal itu menutup rapat.
Di dalam, dua pria bersetelan hitam sudah menunggu sambil berdiri tegak di depan meja panjang yang dipenuhi beberapa monitor dan peta digital.
"Selamat siang, Tuan."
Arsen mengangguk singkat.
"Lapor."
Pria berusia sekitar empat puluh tahun yang berdiri paling depan segera melangkah maju.
"Rio, Kepala Keamanan perimeter."
Sementara pria yang lebih muda membuka sebuah tablet di tangannya.
"Damar, divisi intelijen."
Arsen menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Saya tidak suka menunggu."
Rio langsung mengangguk.
"Mobil yang mengikuti Tuan sejak keluar dari Jakarta berhasil kami lacak melalui CCTV tol hingga keluar gerbang Ciawi."
"Lalu?"
"Plat nomornya palsu."
Tatapan Arsen tetap datar.
"Itu sudah saya duga."
Damar mengganti tampilan di tablet. Sebuah foto buram dari kamera jalan muncul di layar monitor.
"Pengemudinya memakai topi dan masker. Wajahnya tidak tertangkap kamera."
"Tim kami sempat membuntuti mereka."
Rio melanjutkan.
"Namun kendaraan itu sengaja masuk ke jalur wisata yang padat. Mereka menghilang setelah berpindah kendaraan."
Ruangan mendadak sunyi.
Arsen memandang foto buram itu beberapa saat.
"Lalu kenapa kalian terlihat seperti masih menyembunyikan sesuatu?"
Rio dan Damar saling berpandangan.
Akhirnya Damar menarik napas pelan.
"Ada satu hal yang mengganjal, Tuan."
"Bicara."
"Kami menemukan lambang kecil di bagian belakang kendaraan itu."
"Lambang apa?"
"Bukan simbol Viper."
Arsen perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapan matanya berubah jauh lebih tajam.
"Bukan?"
Damar menggeleng.
"Kami sudah membandingkannya dengan seluruh data organisasi yang selama ini menjadi musuh keluarga Malik."
"Tidak ada yang cocok."
Rio menambahkan pelan.
"Artinya... ada pihak lain yang mulai ikut bermain."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Jari telunjuk Arsen mengetuk pelan permukaan meja kayu.
Tok.
Tok.
Tok.
Kebiasaan yang selalu muncul saat pikirannya sedang menyusun sesuatu.
"Genta."
"Iya, Tuan."
"Perketat penjagaan Bu Ratih dan Senja."
"Baik."
"Jangan sampai mereka berjalan sendiri, bahkan di dalam area vila."
"Siap."
Beberapa detik kemudian, Damar kembali membuka mulut.
"Tuan..."
"Hm?"
"Ada satu kemungkinan lagi."
Arsen menoleh perlahan.
Damar tampak ragu sesaat sebelum akhirnya berkata,
"Kalau pelaku bukan Viper... dan bukan organisasi lain yang kita kenal..."
"...kemungkinan orang itu berasal dari dalam."
Tatapan Arsen berubah dingin.
"Maksudmu?"
Damar mengembuskan napas pelan.
"Orang yang mengetahui rute perjalanan Tuan hari ini jumlahnya sangat sedikit."
Ruangan kembali sunyi.
Lalu...
Damar mengucapkan satu nama yang membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.
"...Devan Malik."
Tak ada satu orang pun yang berani bersuara setelah nama itu meluncur.
Arsen menatap kosong ke arah layar monitor.
Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Namun semua orang di ruangan itu tahu...
Semakin tenang Arsen terlihat, semakin berbahaya amarah yang sedang dia tahan.
Senja masih berdiri seorang diri di balkon vila.
Pintu kaca yang tadi dilewati Arsen dan Genta sudah kembali tertutup. Angin pegunungan berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya.
Tatapan Senja masih mengarah ke hamparan kebun teh di kejauhan.
Namun pikirannya sudah tidak lagi setenang beberapa menit yang lalu.
Ekspresi Arsen sebelum masuk ke dalam vila terus terbayang di kepalanya.
Begitu serius.
Begitu dingin.
Seolah pria itu baru saja kembali menjadi sosok yang pertama kali ia kenal di kantor.
"...Semoga nggak terjadi apa-apa lagi."
Senja mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berbalik memasuki vila.
Lorong utama tampak lengang.
Hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar di atas lantai marmer mengilap.
Sambil berjalan tanpa tujuan, matanya memperhatikan setiap sudut vila yang begitu elegan. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan klasik serta beberapa foto keluarga Malik yang dipasang rapi dalam bingkai kayu berwarna gelap.
Langkah Senja perlahan melambat ketika pandangannya berhenti pada sebuah foto berukuran cukup besar.
Di dalam foto itu tampak seorang pria paruh baya berdiri di tengah dengan aura yang begitu berwibawa.
Di sisi kirinya berdiri Arsen yang masih berusia belasan tahun.
Wajahnya tetap datar.
Tatapannya tetap tajam.
Hampir tidak ada bedanya dengan Arsen yang sekarang.
Sedangkan di sisi kanan...
Devan.
Senyumnya lebar, salah satu tangannya merangkul bahu Arsen dengan begitu akrab.
Senja mengernyit kecil.
"Dulu... akur ya."
Sulit dipercaya.
Karena setiap kali melihat keduanya sekarang, rasanya seperti dua orang yang bahkan enggan saling berbagi udara dalam satu ruangan.
Senja tersenyum tipis sendiri, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Namun saat melewati sebuah lorong di sisi timur vila...
Langkahnya kembali terhenti.
Di ujung lorong itu terdapat sebuah pintu kayu besar yang tertutup rapat.
Dari balik pintu tersebut terdengar samar beberapa suara pria yang sedang berdiskusi.
Awalnya Senja sama sekali tidak berniat mendengarkan.
Dia bahkan sudah kembali melangkah.
Sampai...
"...Devan..."
Satu nama itu membuat kakinya berhenti begitu saja.
Refleks.
Senja menoleh ke arah pintu.
Suara dari dalam memang tidak terdengar jelas karena ruangan itu kedap suara.
Namun beberapa potongan kalimat masih berhasil lolos.
"...bukan Viper..."
"...orang dalam..."
"...kemungkinan besar..."
Jantung Senja berdetak sedikit lebih cepat.
"Mereka sedang membahas Devan?"
Belum sempat rasa penasarannya terjawab...
Klik.
Gagang pintu bergerak.
Senja langsung mundur satu langkah.
Pintu terbuka perlahan.
Arsen keluar lebih dulu, disusul Genta, Rio, dan Damar.
Keempat pria itu hampir bersamaan menghentikan langkah ketika melihat Senja berdiri tidak jauh dari depan pintu.
Suasana mendadak sunyi.
Tatapan Arsen langsung bertemu dengan mata Senja.
Ekspresinya tetap tenang.
Namun sorot matanya begitu tajam hingga membuat Senja tanpa sadar menegakkan tubuhnya.
"Sudah berapa lama kamu di sini?"
Nada suaranya datar.
Tidak tinggi.
Justru terlalu tenang.
Senja buru-buru menggeleng.
"Baru lewat, Pak."
Arsen tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap Senja beberapa detik.
Seolah sedang memastikan apakah perempuan itu berkata jujur.
"Kamu mendengar sesuatu?"
Senja menggigit bibir bawahnya pelan.
"...Saya cuma dengar nama Devan."
Rio dan Damar saling melirik sekilas.
Sementara Genta memilih tetap diam seperti patung.
Arsen mengembuskan napas perlahan.
Lalu dia melangkah mendekati Senja hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka.
"Senja."
"Iya, Pak."
"Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui..."
Arsen menatap lurus ke matanya.
"...tanyakan langsung kepada saya."
Senja terdiam.
"Jangan mencari jawabannya sendiri."
"Karena di dunia saya..."
Arsen menggantung kalimatnya sejenak.
Sorot matanya berubah semakin dalam.
"...rasa penasaran sering kali dibayar dengan nyawa."
Tenggorokan Senja terasa tercekat.
Dia hanya mampu mengangguk pelan.
"Baik, Pak."
Arsen mempertahankan tatapannya beberapa detik lagi, lalu beralih kepada Genta.
"Antarkan Rio dan Damar."
"Siap, Tuan."
Ketiga pria itu segera berjalan menuju pintu keluar vila.
Kini lorong itu hanya menyisakan Arsen dan Senja.
Arsen sempat melirik ke arah foto lama dirinya dan Devan yang tadi diperhatikan Senja.
Tatapannya berubah sulit dibaca.
"Suatu hari nanti..."
ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu,
"...kalau waktunya sudah tepat, saya akan menceritakan semuanya."
Lalu Arsen berjalan melewati Senja begitu saja.
Meninggalkan Senja yang masih berdiri terpaku, dengan rasa penasaran yang justru semakin besar terhadap dunia gelap yang selama ini disembunyikan pria itu darinya.
Malam perlahan turun menyelimuti kawasan vila.
Udara pegunungan semakin dingin. Kabut tipis mulai turun di antara pepohonan pinus yang mengelilingi halaman belakang.
Setelah makan malam bersama Bu Ratih yang berlangsung hangat, Senja memilih keluar ke teras belakang vila sambil membawa secangkir teh hangat.
Suasana begitu tenang.
Hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin malam.
Beberapa menit kemudian, pintu teras terbuka pelan.
Arsen keluar dengan secangkir kopi hitam di tangannya.
Melihat Senja lebih dulu berada di sana, langkahnya sempat terhenti.
"Belum tidur?"
Senja menggeleng pelan.
"Belum ngantuk."
Arsen mengangguk singkat, lalu berdiri di samping pagar kayu teras. Keduanya sama-sama menatap hamparan kebun teh yang kini hanya terlihat samar diterpa cahaya bulan.
Tidak ada percakapan selama beberapa saat.
Keheningan itu justru terasa nyaman.
"Pak..."
"Hm?"
Senja menoleh pelan.
"Saya boleh nanya satu hal?"
"Boleh."
Senja tampak berpikir sejenak.
"Lagian kalau saya nggak tanya, Bapak pasti jawabnya nanti kalau waktunya sudah tepat."
Sudut bibir Arsen nyaris terangkat.
"Kamu mulai mengenal saya."
Senja ikut tersenyum kecil.
"Iya sih."
Dia menarik napas pelan sebelum akhirnya bertanya,
"Devan itu... sebenarnya orang seperti apa?"
Arsen tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.
"Dia tidak jahat."
Senja mendengarkan dengan saksama.
"Tapi..."
Arsen melanjutkan pelan,
"...dia juga bukan orang baik."
Senja mengernyit.
"Maksudnya?"
"Devan melakukan apa pun yang menurutnya menarik."
"Kalau hari ini dia membantu seseorang..."
"...belum tentu besok dia tidak menusuk orang yang sama."
Senja terdiam.
"Dia sulit ditebak."
"Termasuk oleh saya."
Kalimat terakhir itu justru membuat Senja semakin terkejut.
"Bahkan Bapak?"
Arsen mengangguk pelan.
"Dia adik saya."
"Tapi sejak lama..."
"...saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dia pikirkan."
Angin malam kembali berembus pelan.
Senja menunduk menatap cangkir tehnya.
"Berarti... Bapak tetap sayang sama dia?"
Pertanyaan itu membuat Arsen terdiam cukup lama.
Hingga akhirnya...
"Dia tetap keluarga saya."
Jawabannya singkat.
Namun entah kenapa, justru terasa paling jujur.
Senja tersenyum tipis.
"Dari tadi saya pikir Bapak benci sama dia."
"Benci."
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Kadang."
"Tapi kalau nyawanya terancam..."
"...orang pertama yang akan berdiri di depannya tetap saya."
Senja menatap Arsen beberapa detik.
Untuk pertama kalinya...
Dia melihat sisi lain dari pria itu.
Di balik semua sikap dingin dan kerasnya...
Arsen ternyata masih sangat menjaga keluarganya.
Suasana kembali hening.
Tiba-tiba Arsen menoleh ke arah Senja.
"Hm?"
"Kenapa melihat saya seperti itu?"
Senja refleks salah tingkah.
"Ngg-nggak kenapa."
"Kamu sedang menilai saya?"
"Bukan."
"Lalu?"
Senja terkekeh pelan.
"Saya cuma baru sadar..."
"Apa?"
"Bapak ternyata nggak sedingin yang saya kira."
Arsen mengangkat sebelah alisnya.
"Itu pujian?"
"Mungkin."
"Hm."
"Hm apanya?"
"Saya terima."
Senja tertawa kecil.
"Baru kali ini ada orang nerima pujian sesingkat itu."
Arsen ikut mengembuskan napas pelan.
Lalu, tanpa mengubah ekspresi datarnya, dia berkata,
"Besok pagi."
"Iya?"
"Kita pulang ke Jakarta."
"Oke."
"Dan setelah itu..."
Arsen menatap lurus ke arah Senja.
"...kamu akan kembali tinggal di penthouse saya."
Senja langsung membelalak.
"Hah?!"
"Kaget?"
"Ya jelas kaget, Pak!"
Arsen mengangguk santai.
"Saya kira calon mertua saya sudah memberi tahu."
"..."
Senja membeku selama beberapa detik.
"L-Loh... Ibu saya?"
"Iya."
"Beliau tadi sempat bilang..."
Arsen menyeruput kopinya dengan tenang.
"...kalau saya kelihatan seperti laki-laki yang bisa menjaga anaknya."
Wajah Senja langsung memerah sampai ke telinga.
"Pak Arsen!"
"Kenapa?"
"Jangan nyebut calon mertua sembarangan!"
Arsen menatap Senja beberapa detik.
Lalu...
Untuk kedua kalinya hari itu, sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
"Baik."
"Belum."
"Tapi saya optimistis."
Seketika Senja hanya bisa memegangi wajahnya sendiri yang sudah panas luar biasa, sementara Arsen berjalan masuk ke dalam vila dengan langkah tenang, meninggalkan Senja yang mulai bertanya-tanya...
Apa pria itu memang sedang menggodanya... atau justru serius?