Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
"Oh, jadi desainer murah yang dibawa dari luar negeri itu ternyata kamu?"
"Benar-benar tidak tahu malu ya, masih berani menginjakkan kaki di gedung Adhitama setelah apa yang kamu lakukan lima tahun yang lalu!"
Suara melengking berbaur dengan ketukan sepatu hak tinggi yang nyaring menggema di koridor mewah Lantai 45.
Alana, yang baru saja melangkah keluar dari ruang pertemuan utama dengan napas yang masih memburu akibat konfrontasinya dengan Devran, mendadak menghentikan langkahnya.
Di hadapannya, berdiri Siska Lorenza. Wanita itu tampil sangat glamor dengan gaun terusan merah menyala bermerek desainer Paris, rambutnya disanggul rapi, dan sepasang matanya menatap Alana dengan pandangan menghina yang teramat sangat.
Di belakang Siska, beberapa staf divisi humas dan asisten manajer tampak mengekor, menciptakan kerumunan kecil yang memancing perhatian karyawan lain.
Alana mencoba mengendalikan sisa-sisa emosinya. Ia menegakkan punggungnya, menatap Siska dengan dingin.
"Selamat pagi, Nona Siska. Saya di sini secara profesional sebagai arsitek interior pilihan tim kurator Adhitama Group. Tolong jaga bicara Anda."
"Profesional? Jangan membuatku tertawa, Alana Kirana!" Siska melangkah maju, memperpendek jarak mereka hingga aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidung Alana.
"Tim kurator pasti sudah buta atau mungkin kamu menggunakan cara-cara kotor yang sama seperti lima tahun lalu untuk merayu mereka, kan? Menggoda para direktur tua agar kamu bisa mendapatkan proyek ratusan miliar ini?"
"Nona Siska, tutup mulut Anda!" desis Alana, wajahnya mengeras menahan amarah yang mulai membakar dadanya.
"Rancangan saya murni dinilai berdasarkan kompetensi teknis dan estetika. Jangan menyamakan semua orang dengan tabiat rendah Anda."
"Heh, berani sekali kamu menjawab!" Siska menoleh ke arah salah seorang asisten manajer wanita di belakangnya yang bernama Maya.
"Maya, coba kamu lihat berkas portofolio wanita ini. Apakah sampah seperti ini yang pantas dipajang di gedung cagar budaya milik Adhitama?"
Maya, yang ingin menjilat posisi Siska sebagai calon tunangan yang sering digosipkan di media, segera merampas map dokumen cadangan yang dipegang Alana dengan kasar.
"Maaf ya, Ibu Alana. Tapi kalau saya lihat sekilas, konsep restorasi Anda ini sangat standar. Mirip sekali dengan desain ruko-ruko murah di pinggiran kota. Benar-benar tidak mencerminkan kelas Adhitama Group yang megah."
"Benar kan apa kataku?" Siska tersenyum puas, bersedekap dengan angkuh.
"Firma hukum asing di Swiss itu pasti hanya kedok untuk menutupi masa lalumu yang kelam sebagai wanita murahan yang diusir dari Bandung. Staf di lantai ini tidak boleh membiarkan desainer kelas rendah seperti dia merusak reputasi perusahaan kita!"
Beberapa staf humas di belakang Siska mulai berbisik-bisik, melayangkan tatapan sinis dan mencemooh ke arah Alana.
"Ternyata dia wanita yang punya skandal dulu itu, ya?"
"Kok bisa ya lolos sampai lantai direksi?"
"Pasti pakai jalur belakang, penampilannya saja sok polos begitu."
Mendengar kasak-kusuk tersebut, Alana mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Air mata frustrasinya yang sempat reda kini kembali mendesak ingin keluar, bukan karena ia lemah, melainkan karena rasa sakit akibat fitnah kejam yang kembali menghujani dirinya di tempat umum seperti ini.
"Cukup, Nona Siska! Anda boleh membenci saya, tetapi Anda tidak berhak menghina hasil kerja keras saya di depan umum tanpa dasar teknis yang jelas!" ujar Alana dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.
"Aku punya hak penuh di gedung ini, Alana! Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya di sini!" bentak Siska, suaranya meninggi hingga memicu beberapa karyawan dari divisi lain keluar dari ruangan mereka untuk menonton.
"Maya, panggil petugas keamanan sekarang juga! Seret wanita ini keluar dari gedung Adhitama, dan buang semua berkas sampahnya ke tempat pembuangan!"
"Baik, Ibu Siska. Segera saya panggil sekuriti," sahut Maya dengan senyum penuh kemenangan, mulai merogoh ponselnya.
"Siapa yang memberikanmu wewenang untuk mengusir tamu rahasia petinggi perusahaan di gedung ini, Maya?"
Sebuah suara bariton yang teramat berat, dingin, dan sarat akan ancaman mendadak memotong perdebatan panas itu dari arah belakang kerumunan.
Kesunyian yang mencekam seketika jatuh menyergap koridor Lantai 45. Para karyawan yang tadinya berbisik-bisik langsung memucat seutuhnya, buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam dan membuka jalan.
Devran Adhitama melangkah maju. Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku celana abu-abu gelapnya, namun tatapan mata elangnya begitu tajam menusuk, langsung mengunci sosok Siska dan Maya yang seketika membeku di tempat mereka.
"D..Devran..." Siska tergagap, wajah angkuhnya mendadak berubah drastis menjadi manis yang dipaksakan.
"Kamu... sejak kapan kamu di sana, Sayang? Aku... aku hanya sedang membantumu membersihkan perusahaan dari desainer gadungan yang mencoba menipumu."
Devran mengabaikan Siska sepenuhnya. Langkah kakinya bergerak mendekati Alana yang berdiri dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang menonton, Devran mengulurkan tangannya, mengambil kembali map dokumen milik Alana yang sempat dirampas oleh Maya, lalu menyerahkannya kembali ke tangan Alana dengan gerakan yang sangat lembut.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Devran, suaranya melembut secara drastis, sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh satu pun karyawan di gedung itu selama bertahun-tahun.
Alana mengerjapkan mata, tertegun sejenak melihat perubahan sikap pria itu, sebelum akhirnya membuang muka dengan ketus. "Saya baik-baik saja. Tidak perlu belas kasihan Anda."
Devran menarik napas pendek melihat penolakan Alana, namun ia tidak marah.
Pria itu membalikkan tubuh tegapnya secara perlahan, menghadap ke arah Siska dan Maya. Senyuman tipis di wajahnya telah lenyap, digantikan oleh ekspresi sedingin es yang mematikan.
"Siapa namamu?" tanya Devran, matanya tertuju lurus pada Maya yang kini sudah gemetar hebat hingga ponsel di tangannya hampir jatuh.
"M...Maya, Tuan Besar... Saya dari divisi asisten manajer pengembangan aset..." jawab Maya dengan suara sekecil mencicit, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Maya," Devran mengulangi nama itu dengan nada yang sangat datar namun menakutkan.
"Mulai detik ini, kamu dipecat dari Adhitama Group tanpa pesangon."
"T...Tuan?!" Maya memekik syok, matanya melebar tak percaya. "Tapi... tapi saya hanya mengikuti perintah Ibu Siska! Saya tidak tahu kalau..."
"Dan kamu telah menghina cetak biru rancangan yang baru saja kusaring sendiri di ruang pertemuan," potong Devran kejam, tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi Maya untuk membela diri.
"Menyebut karya terbaik yang memenangkan tender Eropa sebagai desain murah ruko pinggiran membuktikan bahwa kamu tidak memiliki kompetensi, tidak memiliki etika, dan mata analisismu tidak berguna bagi perusahaan ini.
Kemasi barang-barangmu dalam waktu lima menit, atau sekuriti yang akan menyeretmu keluar dengan tidak hormat."
"Tuan Besar, tolong saya! Saya mohon maaf, saya tidak bermaksud..." Maya mulai menangis histeris, beralih menatap Siska dengan pandangan meminta pertolongan.
"Ibu Siska, tolong bicara pada Tuan Devran... Saya melakukan ini demi Anda!"
Namun, Siska sendiri saat ini tengah pucat pasi. Tindakan Devran yang secara terang-terangan membela Alana di depan seluruh karyawan benar-benar menghantam harga dirinya dengan sangat keras.
"Devran, kamu tidak bisa melakukan ini!" protes Siska dengan suara yang bergetar menahan malu dan amarah.
"Maya hanya ingin menjaga standar perusahaan kita! Kenapa kamu justru membela wanita murahan ini di depan semua stafmu? Apakah kamu lupa apa yang dia lakukan lima tahun yang lalu?!"
"Jaga bicaramu, Siska Lorenza!" bentak Devran, suaranya menggelegar di sepanjang koridor, membuat beberapa staf humas di belakang Siska langsung tersentak mundur karena ketakutan.
"Satu kata hinaan lagi yang keluar dari mulutmu tentang Alana Kirana, maka aku pastikan seluruh kontrak pasokan material dari Lorenza Group ke Adhitama Mega Holding akan kubatalkan secara sepihak sore ini juga."
Siska terengah-engah, tangannya mencengkeram gaun merahnya dengan sangat erat karena rasa syok yang teramat sangat.
"Kamu... kamu mengancam bisnis keluargaku demi dia?! Devran, aku ini calon tunanganmu! Ayahmu dan ayahku sudah membicarakan pernikahan kita!"
"Pernikahan itu hanya ada di dalam kepala ayahmu dan kepalamu sendiri, Siska," sahut Devran dengan nada dingin yang teramat santai namun mematikan.
"Aku tidak pernah menyetujuinya, dan aku tidak akan pernah menikahi wanita yang hobi menyebarkan fitnah murahan di kantorku. Sekarang, pergi dari lantai ini sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku dan membatalkan seluruh hubungan bisnis kita."
Siska menatap Devran dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, lalu pandangannya beralih ke arah Alana yang berdiri dengan ekspresi tenang di samping Devran.
"Kamu akan membayar semua rasa malu ini, Alana! Ingat itu!" desis Siska keji, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat menuju lift dengan menghentakkan sepatunya keras-keras, meninggalkan Maya yang masih menangis tersedu-sedu di lantai.
Devran mengalihkan pandangannya ke arah para karyawan yang masih mematung menonton di koridor. "Kalian semua tidak punya pekerjaan lagi? Perlu kutambahkan surat pemecatan untuk divisi kalian juga?"
Dalam hitungan detik, koridor Lantai 45 langsung kosong melompong. Semua karyawan berlarian kembali ke meja kerja mereka masing-masing, tidak berani mencari masalah dengan sang predator korporat.
Setelah suasana kembali sepi, Alana menghela napas panjang, menatap Devran dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Tindakan Anda barusan sangat berlebihan, Tuan Devran. Anda memecat staf Anda dan mengancam Lorenza Group hanya untuk membuat pertunjukan pahlawan di depan saya?"
"Aku tidak sedang membuat pertunjukan, Alana," jawab Devran sambil melangkah mendekat, matanya menatap intens ke dalam manik mata Alana.
"Aku sedang membersihkan sampah yang berani mengusik ketenanganmu. Sudah kukatakan tadi, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakitimu lagi di kota ini. Dan itu termasuk Siska."
"Saya tidak butuh perlindungan yang penuh dengan motif tersembunyi seperti ini," sahut Alana dingin, berbalik dan melangkah menuju lift khusus dengan cepat.
"Permisi, saya harus kembali ke hotel. Anak saya sudah menunggu."
Devran tidak menahan langkah Alana kali ini. Ia hanya menatap punggung wanita itu yang bergerak menjauh hingga pintu lift tertutup rapat.
"Reno," panggil Devran tanpa menoleh ke belakang, menyadari asisten pribadinya itu sudah berdiri tak jauh di belakangnya sejak tadi.
"Ya, Tuan Besar. Saya di sini," sahut Reno dengan takzim.
"Bagaimana dengan hotel tempat Alana menginap? Sudah kamu temukan lokasinya?" tanya Devran, matanya menyipit penuh rencana.
"Sudah, Tuan Besar. Ibu Alana dan putranya, Leo, menginap di Hotel Grand Inna suite kamar 902," jawab Reno sigap.
"Namun, ada satu detail menarik yang kami
temukan dari data siber hotel tersebut."
"Apa itu?"
"Sistem keamanan digital seluruh lantai hotel tersebut mendadak diperbarui dan dikunci secara berlapis sejak subuh tadi dari dalam kamar 902. Teknisi hotel bahkan tidak bisa mengakses kamera pengawas koridor di lantai tersebut tanpa persetujuan dari jaringan lokal kamar mereka," jelas Reno dengan ekspresi takjub.
Mendengar hal itu, sebuah senyuman bangga yang teramat lebar terbit di wajah tampan Devran. "Anak pintar. Leo benar-benar tidak membiarkan siapa pun mendekati ibunya dengan mudah."
Devran merogoh saku jasnya, meraba permukaan pin dasi perak lambang elang milik Leo yang kini ia simpan dengan baik.
"Siapkan mobil untuk malam ini, Reno. Aku ingin membawakan mainan teknologi terbaik dan beberapa kotak susu cokelat paling mahal untuk putraku. Kita lihat, sejauh mana benteng siber anak genius itu bisa menahan ayahnya sendiri."