Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Resmi
Berita tentang kehamilan Alice tidak butuh waktu lama untuk mengubah seluruh suasana di dalam mansion Salvatore.
Tempat yang semula dirancang sebagai benteng yang kaku dan dingin, kini mendadak dipenuhi oleh kesibukan para pelayan yang bergerak dengan standar kebersihan setingkat ruang operasi rumah sakit.
Di tengah aktivitas yang berlebihan itu, Elvano berada di ruang kerja pribadinya, duduk di balik meja mahoni besar sembari memandangi dokumen medis hasil tes kecocokan genetik dari Dokter Hendra.
Sebuah kepuasan yang teramat besar yang melambung tinggi memenuhi dada sang Bos.
Selama sepuluh tahun, ia dipandang sebelah mata oleh beberapa tetua klan dunia bawah karena dianggap tidak mampu meneruskan garis keturunan Salvatore.
Kini, takdir telah membalikkan keadaan dengan cara yang paling sempurna.
Elvano meraih telepon khusus di atas mejanya.
Ia menekan deretan nomor internasional, menghubungkannya langsung ke sebuah vila tua di pinggiran kota Sisilia, Italia.
Tempat di mana sang kakek, Matteo "The Iron" Salvatore mantan penguasa tertinggi klan sebelum menyerahkan takhta padanya, menghabiskan masa tuanya.
Sambungan telepon berderit pelan sebelum suara serak, berat, dan penuh wibawa tua terdengar di seberang sana.
"Elvano. Ada masalah apa di pelabuhan utara sampai kau menghubungiku menggunakan jalur darurat?"
Elvano menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, senyum miring yang penuh kemenangan terukir di wajah tampannya.
Nada suaranya saat berbicara terdengar begitu sombong, berbeda dengan sikap tunduk yang biasa ia tunjukkan di depan sang kakek.
"Pelabuhan utara sudah aman di tanganku, Kakek" ucap Elvano, sengaja menjeda kalimatnya.
"Aku menelepon untuk mengabarkan bahwa posisi Matteo dan para sepupuku yang tidak tahu diri itu sudah tamat. Aku baru saja mendapatkan penerus takhta klan Salvatore yang sah."
Hening seketika merayapi seberang saluran telepon selama beberapa detik.
Hanya terdengar deru napas tua yang mendadak memburu.
"Apa maksudmu, Elvano? Jangan bercanda dengan urusan keturunan. Kau tahu betul rekam medismu—"
"Rekam medisku yang salah, Kakek," potong Elvano dengan nada angkuh.
"Dokter Hendra baru saja melakukan tes DNA dan pemeriksaan laboratorium. Wanitaku, Alice, sedang mengandung anakku. Usianya empat minggu. Dia memiliki kecocokan genetik langka yang berhasil menghidupkan kembali benihku yang kalian kira sudah mati."
Suara tawa yang menggelegar dan penuh akan kebahagiaan yang luar biasa seketika pecah dari seberang telepon.
Domenico Salvatore, pria tua yang terkenal kejam dan jarang tersenyum itu, terdengar sangat gembira hingga suaranya bergetar hebat.
"Hahaha! Darah Salvatore tidak pernah mengkhianati pemiliknya! Bagus, Elvano! Ini adalah berita terbaik dalam satu tahun terakhir! Siapa gadis itu? Dari klan mana dia?"
"Dia bukan dari klan mana pun. Dia hanya Alice, wanitaku," jawab Elvano pendek.
"Aku tidak peduli dari mana asalnya! Jika dia bisa memberikan seorang putra mahkota untuk klan ini, maka dia adalah ratu bagi kita semua!"desak sang kakek dengan suara berapi-api.
"Dengar, Elvano, jangan menunda waktu lagi. Musuh-musuh kita di dunia bawah akan selalu mengincar kelemahan kita. Begitu berita ini bocor, posisi gadis itu akan sangat berbahaya. Aku mendesakmu untuk menggelar pernikahan secepatnya! Legalkan statusnya, ikat dia dengan nama Salvatore agar seluruh dunia tahu dia berada di bawah perlindungan klan kita!"
"Tanpa kau minta pun, aku akan melakukannya, Kakek," sahut Elvano, matanya menggelap penuh tekad.
"Malam ini, aku akan meresmikan segalanya."
***
Malam harinya, mansion Salvatore tenggelam dalam nuansa yang jauh lebih romantis.
Elvano sengaja mengosongkan seluruh area balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman mawar yang sedang mekar penuh.
Cahaya temaram dari puluhan lilin aromaterapi lavender aroma kesukaan Alice, terpajang rapi.
Sebuah meja kecil dengan hidangan makan malam organik terbaik telah disiapkan oleh koki pribadi.
Alice melangkah keluar ke balkon dengan ragu-ragu.
Ia mengenakan gaun sutra longgar berwarna putih gading yang lembut, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan terurai indah sebatas bahu.
Wajahnya tidak lagi sepucat kemarin, rona kemerahan alami mulai kembali ke pipinya berkat perawatan intensif dan suplemen vitamin yang dipaksakan Elvano.
Di ujung balkon, Elvano sudah menunggu.
Pria itu menanggalkan setelan jas kaku miliknya, hanya mengenakan kemeja putih kasual dengan beberapa kancing atas terbuka, memberikan kesan hangat yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
"Tuan Elvano... ada apa ini?" tanya Alice pelan, matanya menyapu dekorasi balkon yang tidak biasa.
Elvano tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia melangkah mendekati Alice, menangkap jemari wanita itu, lalu menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi berlengan yang nyaman.
Pria itu menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik hazel Alice, membiarkan keheningan malam dan semilir angin perbukitan menyampaikan ketulusan yang bergejolak di dalam dadanya.
Perlahan, Elvano merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam pekat.
Ketika kotak itu dibuka, sebuah cincin emas putih dengan mata berlian berukuran besar yang dikelilingi oleh safir biru langka berkilau indah di bawah cahaya lilin.
Itu adalah cincin warisan turun-temurun klan Salvatore, perhiasan yang hanya boleh dikenakan oleh istri sah dari sang penguasa klan.
Sebelum Alice sempat mencerna apa yang terjadi, Elvano menurunkan tubuh tegapnya.
Pria yang terbiasa membuat orang lain berlutut memohon nyawa di hadapannya itu, kini berlutut dengan satu kaki tepat di hadapan Alice.
"Alice," panggil Elvano, suara baritonnya terdengar begitu rendah dan dipenuhi oleh getaran hati yang menggebu.
"Aku tahu hubungan kita tidak berawal dengan cara yang indah. Aku membawamu ke tempat ini dengan paksa, mengurungmu, dan menuntutmu patuh sebagai jaminan. Bahkan semalam... aku membiarkan kecemburuan butaku menyakitimu."
Elvano mendongak, menatap langsung ke manik hazel Alice yang kini mulai berkaca-kaca.
"Tapi hari ini, di depan anak kita yang sedang tumbuh di dalam rahimmu, aku ingin membuang semua status tuan dan tawanan itu. Aku berdiri di sini bukan sebagai seorang Tuan yang memberikan perintah, melainkan sebagai seorang pria yang sepenuhnya bertekuk lutut di hadapanmu."
Elvano menggenggam tangan kanan Alice, mengangkatnya perlahan.
"Jadilah istriku, Alice. Jadilah wanita sah yang berdiri di sampingku, yang akan memegang nama Salvatore bersamaku seumur hidup kita. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku akan melindungi kalian berdua dari bahaya apa pun di dunia ini. Maukah kau menikah denganku?"
Mendengar bait demi bait kalimat lamaran tersebut, rasa resah di di dalam dada Alice seolah-olah menguap di gantikan oleh rasa dicintai yang begitu dalam.
Ia menatap cincin berlian kuno di tangan Elvano, lalu beralih pada wajah tampan pria itu yang kini dipenuhi oleh ketulusan dan binar kebahagiaan yang begitu nyata, sebuah pemandangan yang meruntuhkan sisa-sisa perasaan keraguan di hatinya.
Di tengah rasa takut dan cinta, Alice tidak bisa membohongi perasaannya lagi.
Elvano mungkin adalah seorang monster bagi dunia luar, namun bagi dirinya dan janin kecil di dalam perutnya, pria itu adalah pelindung mereka.
Kebahagiaan yang ditunjukkan Elvano sejak mengetahui kehamilannya telah menghapus semua trauma masa lalu yang di alaminya.
Air mata haru menetes di pipi Alice. Namun, kali ini, air mata itu tidak membawa kesedihan.
Perlahan, bibir tipis Alice tertarik ke atas.
Ia memberikan sebuah senyuman, bukan senyuman yang terpaksa atau penuh ketakutan seperti biasanya, melainkan senyuman termanis, tulus, dan paling hangat yang pernah ia miliki seumur hidupnya.
Binar di sepasang mata hazelnya kembali hidup, memancarkan penerimaan yang utuh atas takdir barunya.
"Iya, Tuan Elvano... aku mau," bisik Alice lembut, suaranya bergetar oleh rasa syukur yang membuncah.
"Aku mau menjadi istrimu."
Mendengar jawaban tersebut, Elvano seolah-olah baru saja diberikan seluruh isi dunia.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa lega yang luar biasa, ia menyematkan cincin warisan keluarga itu ke jari manis Alice, sebuah ikatan sempurna yang pas tanpa cela.
Elvano langsung bangkit, menarik Alice ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif di bawah saksi bisu gemerlap bintang malam itu.
Alice menyandarkan kepalanya di dada bidang Elvano, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdegup selaras dengan miliknya, menandakan bahwa sang tawanan telah sepenuhnya luluh, membuka hatinya, dan siap melangkah masuk ke dalam dunia sang mafia sebagai ratu yang sah.