Mahira Amalia Hamarung, tak menyangka Teddy akan meninggalkan dia saat Mahira justru telah menyerahkan kesuciannya pada pria itu. Dalam ketakutannya perbuatan mereka itu akan membuat Mahira hamil, Putri sahabat baiknya menghubungi Edmond Moreno. Pria yang dulu sangat mencintai Mahira. Edmond akhirnya bersedia menikahi Mahira sekalipun Mahira nantinya hamil. Pernikahan itu pun terjadi. Saat telah resmi menjadi istri Edmond, Mahira pun tahu masa lalu Edmond yang membuatnya terguncang. Ketika Mahira hampir menyerah, Teddy justru hadir kembali untuk mendapatkan kembali cinta Mahira. Bagaimana pernikahan itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya?
Ini sebuah cerita sederhana tentang memahami cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan
Para senior di kampus mulai membicarakan tentang para mahasiswa baru yang masuk. Ada beberapa yang katanya cantik dan manis. Beberapa nama disebut. Dan salah satu adalah Mahira Amalia Hamarung.
"Si Mahira anak apa?" tanya Edmond kepada Edo, sang ketua senat.
"Anak ekonomi. Gadis yang cantik. Perpaduan Dayak dan Manado. Rambutnya panjang dan kulitnya putih pucat seperti gadis Korea. Dan yang aku suka darinya adalah dia lulusan terbaik di tingkat SMA se-kota Manado."
"Sudah cantik. Pintar pula. Paket yang komplit."
"Gadis pintar pasti enak diajak ngobrol."
Edmond mengangguk setuju. "Sayang ya, bukan anak tehnik kayak kita."
"Dasar play boy! Kamu mau mendekati Mahira juga? Terus mau dikemanakan si Rita, Yuna, Marsya?"
"Sejak kapan aku ada hubungan dengan mereka? Mereka saja yang terlalu kegeeran saat aku ajak jalan, nonton, atau sekedar makan. Mana pernah aku menyatakan cinta kepada mereka?"
Edo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu. Wajarlah kalau gadis-gadis banyak yang mengejar Edmond. Perpaduan darah Manado dan Spanyol dalam dirinya telah menciptakan wajah tampan. Belum lagi dengan kekayaan orang tua Edmond yang membuat ia menjadi salah satu cowok tajir. Untungnya Edmond tak sombong. Ia bahkan terlihat sederhana. Lebih banyak menggunakan motor dari pada mobil. Walaupun motor sport yang digunakannya harganya juga tak beda-beda jauh dengan harga sebuah mobil. Dan satu lagi yang membuat Edmond terkenal. Ia pintar dan ramah pada siapa saja.
"Punya daftar mahasiswa baru?" tanya Edmond.
"Tuh, di kantor senat. Semua file mahasiswa baru dari semua fakultas sudah masuk.
Edmond bergegas ke kantor senat. Ia membuka tumpukan file fakultas Ekonomi. Ada hampir 200 mahasiswa yang masuk ke fakultas ini. Dan Edmond langsung tersenyum saat membuka File dengan nama Mahira Amalia Hamarung. Saat ia melihat foto profilnya, Edmond langsung tersenyum. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya.
"Dia cantik. Aku suka." guman Edmond. Ia menghafal tanggal lahir, kesukaan dan semua yang Mahira tulis tentang dirinya.
Dan ternyata, Dewi Fortuna pun berpihak pada Edmond. Di keesokan harinya ia melihat Mahira yang datang terlambat.
"Terlambat?" tanya Edmond sambil memasang tampang dingin. Walaupun sesungguhnya hati Edmond bergetar melihat Mahira yang ternyata lebih cantik dari fotonya.
Edmond berhasil menjebak Mahira saat itu. Gadis itu pasrah saat diminta pura-pura bohong sakit dari pada harus lari keliling lapangan.
Berada sangat dekat dengan Mahira, membuat Edmond merasa sangat senang. Jujur harus Edmond akui, sepanjang hidupnya baru kali ini ia merasa begitu tertarik dengan seorang gadis bahkan sampai meminta nomornya segala.
Makanya, selama masa bimbingan mahasiswa baru, Edmond lebih banyak menghabiskan waktunya di fakultas ekonomi.
"Kau memiliki saingan, Ed." ujar Edo beberapa hari kemudian.
"Saingan?"
"Aku tahu kalau kau rajin berkunjung ke fakultas tetangga karena Mahira kan? Teddy juga sepertinya mengejar gadis itu."
"Teddy Kandow maksudmu?"
"Ya. Ketua panitia di fakultas ekonomi. Kemarin ia ke sini dan meminta data Mahira. Ia juga bertanya padaku, ada apa sampai kamu sering datang ke sana. Apakah ada gadis yang kau naksir?"
"Memangnya kenapa kalau aku suka sama Mahira? Apakah dia pacarnya Mahira?"
"Nggak tahu juga."
Edmond merasa kesal. Baru kali ini ia ingin mengejar seorang gadis secara serius namun sudah ada saingannya.
************
Masa bimbingan mahasiswa baru pun selesai. Edmond semakin gencar mengejar Mahira, demikian juga dengan Teddy. Sampai akhirnya di suatu sore, ia dan Teddy bertemu di depan gerbang kampus.
"Jauhi Mahira!" ujar Teddy.
"Memangnya kenapa?"
"Dia adalah milikku. Dia tak mungkin akan menyukai play boy sepertimu."
"Play boy katamu? Tahu apa kamu tentang diriku?"
"Aku akan membuat Mahira jatuh cinta padaku."
"Mari kita bersaing secara sehat, Ted. Memangnya kamu pikir, aku tak bisa membuat Mahira jatuh cinta padaku?"'
"Dia akan menjadi milikku. Lihat saja nanti." kata Edmond tak mau kalah.
"Mahira tak suka cowok kaya seperti mu"
"Siapa bilang?"
"Mari kita buktikan, siapa yang akan menikahi Mahira. Aku atau kamu!" tantang Teddy
"Ok. Ku terima tantangan mu!"
Teddy hanya tersenyum tipis lalu segera meninggalkan Edmond.
***********
Dua lelaki yang dalam mode cemburu buta itu kini berdiri sambil mengingat masa lalu yang pernah tercipta diantara mereka. Wajah keduanya menjadi merah.
"Sayang, ayo kita pergi!" ajak Mahira.
Edmond menahan lengan Mahurabynag sudah melangkah lebih dulu.
"Mahira dan aku sudah menikah. Kau tak ingin memberikan selamat bagi kami?" Tanya Edmond dengan senyum penuh kemenangan.
"Kalian bukan lagi pengantin baru, untuk apa memberikan ucapan selamat?" Teddy pun ikut tersenyum. Walaupun sangat jelas terlihat rasa cemburu yang sangat besar ada dalam tatapan matanya.
"Tapi kami selalu merasa seperti pengantin baru, iya kan sayang?" Lalu tanpa di duga Edmond mengecup bibir Mahira.
"Jangan sok merasa menang karena aku lebih dulu menikmati apa yang kini kau nikmati. Karena akulah pemilik pertama dari tubuh Mahira." kata Teddy dengan seringai licik di wajahnya.
Mahira mulai merasa emosi. Apalagi dirinya dijadikan objek dari dua pria yang terlihat sedang menahan emosi itu.
"Bukan tetang siapa yang lebih dulu memilikinya. Namun siapa yang akhirnya menjadi pemenang." ujar Edmond lalu mengambil baby Wina dari pelukan Mahira. "Ayo sayang, kita ke kamar."' Sambil tangannya yang bebas memegang tangan Mahira dan menautkan jari mereka.
Teddy menekan bara api di dadanya yang terasa kian sakit. Ia kemudian mengambil menatap kepergian pasangan itu sambil bertanya dalam hatinya. Berapa usia anak itu?
Saat Teddy akan melangkah, ia secara tak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan cantik dengan lipstick merah menyala. Perempuan itu tersenyum saat Teddy menahan tangannya. Kena kau! Guman perempuan itu dalam hati.
***********
Ketika mereka memasuki lift, Mahira dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Edmond.
"Kenapa?"' tanya Edmond terkejut.
Mahira tak bicara. Ia dan Edmond pernah berjanji untuk tak akan pernah bertengkar di hadapan baby Wina. Makanya ia menahan semua emosinya yang sudah akan meledak.
Edmond nampaknya mengerti sehingga ia tak bertanya lagi.
Begitu sampai di kamar, Mahira mencuci tangannya dan menyiapkan makan siang bagi putrinya itu.
Ia kemudian menyuapi Edewina tanpa bersuara apapun. Edmond membuka jas dan dasi yang ada di tubuhnya. Ia kemudian membuka dua kancing kemeja teratasnya dan menggulung lengan kemejanya. Ia merasa panas baik tubuh maupun hatinya.
Keduanya sabar menunggu sampai akhirnya Edewina terlelap dalam tidur siangnya.
"Kenapa kamu bisa bersamanya?" tanya Edmond membuka percakapan diantara mereka. Keduanya sedang duduk saling berhadapan di sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya di lobby. Aku tak tahu kalau dia ada di sini."
"Kamu pasti senang bertemu dengannya kan? Kalau tak ingat tadi kami ada di lobby hotel, aku sudah menghajarnya habis-habisan."
"Jangan bilang kalau kamu cemburu, Ed. Aku tak percaya!" Mahira tersenyum sinis.
"Aku cemburu, Mahira! Aku bahkan ingin membunuh laki-laki brengsek itu!" Suara Edmond masih pelan namun penuh tekanan.
"Maling teriak maling!"
"Apa maksud kamu?" Edmond tak mengerti. Ia berdiri dan menjadi Mahira.
"Petugas kebersihan yang membersihkan kamar ini tadi pagi mengatakan kalau kemarin pagi penghuni kamar ini adalah pria bule dan dan seorang wanita setengah bule juga. Dan ia menemukan barang-barang yang sudah di buang ke tempat sampah yaitu sekotak Kon***dom, lipstick dan cat kuku berwarna merah menyala. Punya siapa itu? Aku sendiri tak suka dengan warna merah menyala."
"Apa?" Edmond terkejut. "Kenapa barang-barang itu ada di dalam tempat sampah?"
"Berhentilah berpura-pura, Ed. Kali ini aku tak akan percaya padamu. Kau berlagak marah saat melihat aku bertemu dengan Teddy pada hal itu tak disengaja. Sementara kamu masih asyik memadu kasih dengan mantan terindah mu yang mungkin saja tak pernah menjadi mantan. Aku merasa jijik membayangkan kau menyentuh aku semalam di ranjang yang sama yang kau pakai untuk bercumbu dengan Monalisa."
"Mahira!"
"Apa?" tanya Mahira dengan tatapan tajam ke arah Edmond.
"Jangan menuduhku melakukan sesuatu yang tak pernah aku lakukan! Aku tak tahu mengapa sampai barang-barang itu ada di tempat sampah. Soal apa yang dikatakan oleh petugas kebersihan itu memang benar kemarin pagi Monalisa ada di kamar ini. Namun ia datang untuk meminta file kontrak kerja yang aku bawa. Tak ada yang terjadi diantara kamj. Bagaimana aku bisa meyakinkanmu?" Edmond terlihat putus asa. Ia mengacak rambutnya dengan kasar lalu mengusap wajahnya yang mulai berkeringat dingin karena emosi yang masih ditahannya.
"Tak perlu meyakinkan aku, Ed. Karena aku tak mau percaya padamu lagi. Aku ingin pulang sekarang juga!" Mahira mulai meledak. Suaranya bahkan hampir tak terkontrol.
"Tunggu sampai besok. Karena besok aku masih akan menandatangi kontrak kerja sama. Kita akan sama-sama pulang ke Samarinda. Aku tak mau kamu pulang sendiri dengan Edewina."
"Kamu saja yang pulang ke Samarinda. Aku akan pulang ke Manado!" kata Mahira tegas tanpa ada keraguan di suaranya.
Edmond terkejut. Ia menatap Mahira dengan tajam. Melangkah mendekati Mahira dan membuat istrinya itu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Namun Edmond dengan cepat menahan tangan Mahira, lalu menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Mahira meronta namun Edmond semakin kuat memeluk istrinya.
"Lepaskan aku! Aku tak mau hidup dalam kebohongan mu!"
"Aku tak akan pernah membiarkan mu pergi sendiri ke Manado. Kau tak boleh kembali ke sana tanpa ijinku!"
"Lepaskan!" Mahira kembali meronta namun tubuh mungilnya itu tak berarti apa-apa dalam dekapan tubuh kekar Edmond.
"Kau akan bebas dariku kecuali aku sudah mati." kata Edmond pelan di telinga Mahira namun penuh penekanan.
Mahira terkejut mendengar perkataan Edmond. Dan sebelum ia sempat berpikir apa yang akan dilakukan atau dikatakannya, Edmond sudah mencium bibirnya dengan keras.
**************
Selamat pagi....
jangan lupa dukung emak terus ya guys
emang ratu setan si muna.....😤👻
good Ed 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
1*istri tidak percaya suami, suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
*suami tidak percaya istri, suami tetap salah karena hubungan harus dilandasi kepercayaan
2*PEBINOR, lelaki lain yang menyukai istri, cintanya tulus, tidak boleh dihukum apapun kesalahannya, harus berakhir bahagia
*PELAKOR, wanita lain yang menyukai suami, cinta obsesi, jalang, harus dibinasakan
3*istri buat salah, jangan dibesarkan, harus langsung dimaafkan
*suami buat salah, tidak boleh langsung dimaafkan, suami harus dibuat mengemis dan berjuang dulu
4*intraksi istri dengan lelaki lain, tidak masalah, itu hanya intraksi biasa
*intraksi suami dengan wanita lain, menjijikan, laknat
5*istri tidak Terima masa lalu suami, itu wajar, suami harus membuktikan diri
*suami tidak Terima masa lalu istri, kesalahan besar, hubungan harus saling menerima keadaan masing2
6*istri berbohong pada suami, biasa saja jangan terlalu dimasalahkan
*suami berbohong pada istri, kesalahan besar, hubungan harus saling jujur
dan ini semua ada dinovel ini dan mirisnya author selalu membela mahira dan selalu membiarkan kesalahan mahira dan selalu membiarkan kesalahan teddy (PEBINOR) tapi author membesar2kan kesalahan edmond dan edmond selalu salah dan dibuat menebus kesalahannya, mengemis cinta dan berjuang, dan pelakor dilalnat dan dibinasakan
dimana keadilan kalau sudah begini????? miris