Karena satu kesalahannya, Azam harus kehilangan semua yang ia miliki, istri dan keluarga besarnya.
Azam melakukan segala cara untuk kembali meraih apa yang sudah terlepas. Meski jalan yang ia lalui tidak mudah.
Bisakah Azam mendapat semuanya kembali? cinta sang istri dan keutuhan keluarga Malik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BBMW BAB 32 - Kerinduan Yang Terpendam
Hari berlalu.
Bella lebih dulu menyelesaikan semua pekerjaannya. Kini ia sudah sah menganggur dan hanya menghabiskan waktu bersama sang suami.
Fhia pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia lebih dulu, karena Bella masih menunggu suaminya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Ben, menawarkan diri untuk mengantar Fhia pulang.
"Aku akan pulang lebih dulu bersama Fhia," ucap Ben, kini mereka berempat sedang duduk bersama di ruang tengah apartemen Bella.
Setelah makan siang bersama mereka berbincang disini.
"Iya tidak apa-apa, kami mungkin seminggu lagi juga pulang," jawab Azam dan Bella pun menganggukkan kepalanya.
Fhia yang akan pulang berdua bersama Ben mencebik kecil, mendadak ada desiran aneh yang ia rasa di dalam hati. Namun belum tahu pasti apa maksudnya.
"Kapan kita pulang? kamu mau sore ini juga atau besok?" tawar Ben pada Fhia, gadis yang terlihat sedang banyak pikiran ini. Ben tidak tahu jika dialah yang sedang dipikirkan oleh Fhia.
"Sore ini saja, jadi besok pagi aku bisa langsung pulang ke rumah," putus Fhia.
"Lalu malamnya kamu dimana?"
"Di rumah kontrakan ku lah."
"Oh, ya sudah ayo bersiap-siap," tukas Ben, ia bahkan lebih dulu bangkit dan segera berlalu dari sana lalu diikuti oleh Fhia yang masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.
Azam dan Bella yang melihat interaksi keduanya pun saling pandang lalu terkekeh bersamaan.
"Ayo taruhan, doa tante Seline terkabul atau tidak?" tawar Bella dan kekehan Azam semakin kencang.
"Tidak usah taruhan, pasti jadi," jawab Azam yakin dan Bella pun meyakininya pula.
Tak beberapa lama kemudian, Azam pun mengajak sang istri untuk kembali ke apartemennya. Di sana Azam mengajak Bella untuk ikut duduk di atas pangkuannya saat Azam menerjemahkan buku di meja kerja, menghadap 2 komputer itu.
Akan repot jika dia harus kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan ini semua. Sebaiknya diselesaikan disini saja, jadi saat pulang ke Indonesia Azam bisa langsung kembali bekerja di MK.
"Ini bahasa inggris dan diubah ke bahasa melayu?"
"Iya sayang, buku terjemah."
Bella mengangguk, ia pun menatap lekat lekat salah satu layar komputer yang menyala, sementara Azam bekerja dengan menyandarkan kepalanya di pundak sang istri, bahkan sesekali mengecup sekilas pipi Bella.
Rasanya jika seperti ini bukannya semangat, Azam malah semakin lama ingin menunda pekerjaan.
"Berapa buku lagi yang harus Abang terjemahkan?" tanya Bella, saat ia menoleh untuk menatap sang suami, Azam segera mencuri sebuah ciuman dibibir ranum istrinya itu. Membuat Bella pun meremang.
"2 sayang, dengan yang ini 3," jelas Azam. Mereka berdua kembali menatap layar komputer sampai akhirnya terdengar pintu kamar yang diketuk, lalu terdengar suara Ben yang memanggil.
Ben dan Fhia berpamitan untuk pulang lebih dulu. Azam dan Bella pun mengantar keduanya hingga sampai di bandara Changi.
"Ben, maukah kamu mengantar Fhia untuk pulang ke rumah orang tuanya?" tanya Bella sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Fhia yang menjawab dengan cepat.
"Baiklah, besok pagi aku akan mengantar Fhia," sahut Ben, membuat Azam dan Bella tersenyum lebar sementara Fhia hanya bersungut kesal.
Pendapatnya tidak ada yang mendengarkan.
Akhirnya Ben dan Fhia pergi, duduk berdampingan dan terbang ke Indonesia.
Sedangkan Azam dan Bella segera kembali ke apartemen.
Azam mengemudikan sendiri mobilnya dan sang istri duduk di
samping.
"Abang, mama Sarah kemarin bilang mansion kita sudah dijual, jadi saat kita kembali ke Indonesia nanti, kita mau tinggal dimana?" tanya Bella.
Sebenarnya Azam pun sudah tahu tentang penjualan mansion mereka, dia tahu saat berbincang dengan ayah Adam, papa Agra dan amang Yuda waktu itu.
Azam pun sudah memikirkan dimana ia akan tinggal bersama sang istri.
Sebuah apartemen sebelum mereka memiliki rumah impian mereka sendiri. Rumah yang akan mereka huni hingga tua nanti. Memiliki banyak kamar untuk anak mereka yang banyak pula, membayangkan itu Azam mengulum senyumnya.
"Aku maunya kita buat rumah kita sendiri sayang, semua desain dan konsepnya seperti keinginan kita. Dan sebelum rumah itu jadi kita tinggal dulu di apartemen," jelas Azam.
Bella yang mendengar itu pun tersenyum lebar, setuju dengan ide sang suami. Bella bahkan sangat antusias untuk membangun istana mereka.
Saat berhenti di lampu merah, Azam merubah posisinya menghadap sang istri. Ingin menanyakan satu hal yang selalu ia pikirkan sejak dulu, tentang kedua orang tua kandung sang istri.
"Sayang, apa kamu tidak ingin mencari kedua orang tuamu?" tanya Azam, ia bicara sangat pelan, tak ingin membuat sang istri jadi tak nyaman.
Azam bisa meminta bantuan paman Mark andai Bella ingin mencari kedua orang tuanya.
"Mereka sudah membuang ku Bang, untuk apa aku harus mencari mereka?" jawab Bella seraya bertanya.
Meski dalam hatinya Bella sungguh ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, atau setidaknya saudara sedarah nya. Tapi entahlah, kadang ada benci yang membuatnya tak ingin bertemu dengan mereka semua.
Andai mama Sarah dan papa Agra tidak mengadopsinya waktu itu entah apa yang terjadi pada Bella hari ini. Atau mungkin dia sudah mati karena kelaparan dan rindu kasih sayang.
Azam pun terdiam, melihat wajah sang istri yang berubah sendu.
"Aku pernah merasakan berpisah dengan ayah, dan aku ingin sekali bertemu dengan ayah saat itu," jelas Azam lirih.
Sedikit banyak ia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh sang istri, kerinduan yang terpendam tak bisa diucapkan.
"Aku akan membantumu sayang, kita cari mereka bersama-sama, ya?" tanya Azam pula, masih dengan suaranya yang lirih. Sementara Bella hanya diam, ia meremat kedua tangannya erat di atas pangkuan.
Dan belum sempat Bella menjawab, lampu merah sudah berubah jadi hijau.
Mobil itu kembali melaju, hanya ada hening diantara mereka, namun Azam dengan segara menarik tangan sang istri dan digenggamnya erat.