NovelToon NovelToon
Jadi Simpanan Ceo

Jadi Simpanan Ceo

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Selingkuh / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .

‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Nadia tidak langsung masuk ke mobil Julian. Amarah yang membakar dadanya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Ia meminta Julian menunggu di gerbang belakang, sementara ia melangkah kembali ke dalam rumah—menembus lorong-lorong dingin yang kini terasa seperti kuburan.

Nadia naik ke lantai atas, langsung menuju kamar utama tempat Bramantyo dan Larasati berada.

BRAK!

Nadia menendang pintu kamar hingga terbuka. Bramantyo, yang sedang duduk di tepi ranjang memijat tangan Larasati, tersentak kaget.

"Nadia? Apa-apaan kau—"

"Tutup mulutmu, Bramantyo!" teriak Nadia. Suaranya tidak lagi bergetar; suaranya tajam seperti belati. "Aku ke sini bukan untuk meminta maaf, juga bukan untuk meminta hartamu. Aku ke sini hanya untuk melihat seberapa jauh seorang pria cerdas bisa menjadi sebodoh ini."

Bramantyo mengerutkan kening, wajahnya kembali mengeras. "Kau tidak sopan, Nadia. Lihat, Larasati sampai ketakutan karena ulahmu!"

"Ketakutan?" Nadia tertawa getir. "Wanita yang kau lindungi ini baru saja meracuni anakmu sendiri, Bram! Hasil lab Arka menunjukkan dia diberi zat penenang dosis kecil. Dan hanya Larasati yang sering memberinya 'susu sehat' setiap sore!"

Bramantyo terdiam sejenak, namun Larasati langsung menangis tersedu-sedu, memegang lengan Bramantyo. "Bram... demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan itu... dia hanya ingin menyingkirkanku, Bram..."

"Kau dengar itu?" Bramantyo menatap Nadia dengan jijik. "Kau memfitnah orang yang bahkan tidak bisa berjalan sendiri. Kau sudah gila karena cemburu, Nadia."

Nadia menatap Bramantyo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan yang biasanya penuh cinta, kini berubah menjadi rasa muak yang luar biasa. "Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari semua ini, Bram? Bukan Larasati. Tapi kau. Kau yang membiarkan monster masuk dan membiarkan anak kandungmu menderita."

Nadia melemparkan map berisi dokumen hak waris dan aset perusahaan ke atas ranjang. "Ambil semua ini. Saham, gedung, harta... aku tidak butuh satu rupiah pun dari uang yang berlumuran darah dan kebodohanmu. Aku merasa jijik pernah mencintai pria selemah kau."

Di tengah ketegangan itu, Larasati mencoba meraih lengan Bramantyo untuk menarik perhatiannya kembali. Namun, tangannya yang sengaja dibuat gemetar menyenggol sebuah bingkai foto besar di meja samping tempat tidur.

PRANG!

Foto pernikahan Nadia dan Bramantyo jatuh ke lantai. Kaca pelindungnya hancur berkeping-keping, tepat merobek bagian wajah Bramantyo di dalam foto tersebut.

Suasana seketika sunyi. Bramantyo menatap pecahan kaca itu, seolah ada sesuatu yang bergetar di dalam ingatannya.

"Lihat itu," ucap Nadia sambil menunjuk pecahan foto itu. "Bahkan takdir pun tahu bahwa pernikahan kita sudah hancur sejak kau membawa iblis ini ke sini."

Nadia berbalik tanpa menoleh lagi. "Jangan pernah cari aku. Jangan pernah cari Arka. Bagiku, Bramantyo yang menyelamatkanku di ruang gas saraf sudah mati. Yang tersisa di sini hanyalah mayat hidup yang dikendalikan oleh mantan istrinya."

Nadia berlari menuruni tangga. Ia tidak menoleh saat mendengar Bramantyo meneriakkan namanya—suara yang kini terdengar penuh keraguan, bukan lagi kemarahan.

Nadia masuk ke mobil Julian. "Jalan, Julian. Sekarang."

Mobil itu melesat meninggalkan gerbang Dirgantara. Nadia memeluk Arka yang tertidur lelap dalam pengaruh obat penenang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, meskipun ia keluar tanpa sepeser pun uang Dirgantara, Nadia merasa paru-parunya bisa bernapas dengan lega.

Di dalam kamar, Bramantyo menatap pecahan foto itu. Ia mencoba memungut sobekan wajah Nadia, namun jarinya teriris kaca hingga berdarah. Larasati mencoba mendekatinya, namun Bramantyo tiba-tiba menepis tangannya.

"Diamlah dulu, Laras..." bisik Bramantyo. Matanya terpaku pada botol susu Arka yang tertinggal di atas meja. Sebuah keraguan mulai tumbuh seperti benalu di pikirannya.

1
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Thecel Put
karya menarik
membuat saya ingin terus membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!