"Dia cinta pertamaku, dan aku ingin berjuang untuk mendapatkannya"
Irena, gadis berkacamata yang sebelumnya bahkan tidak mempunya teman pria, namun tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria tampan bernama Andreas. Pertama kali merasakan jatuh cinta, membuat dia antusias untuk bisa mendapatkan hati pria itu. Meski tidak jarang perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh Andreas. Bahkan pria itu seolah tidak menganggap kehadirannya.
"Sebaiknya kau berhenti berjuang dengan perasaanmu itu, karena aku tidak akan pernah membalas perasaanmu, semuanya hanya sia-sia"
Berbagai macam penolakan Irena bisa pahami, dia tidak menyerah begitu saja. Namun, ketika Andreas sendiri yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mencintainya, karena ada perempuan lain yang dicintainya. Maka saat itu semua harapan runtuh tanpa jejak, semua perjuangan sia-sia. Dan Irena mulai mundur, mengasingkan diri dan mencoba melupakan cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya Jatuh Cinta
Cinta tidak pernah tahu kemana dia akan berlabuh. Hati mana yang dia pilih untuk menjadi pelabuhannya, namun terkadang pelabuhan itu tidak menerimanya menepi disana. Membuat dia harus terusir beberapa kali, tapi tetap bertahan demi cintanya.
Seorang mahasiswi berkacamata yang hampir tidak mempunyai teman, dia hanya punya satu orang sahabat yaitu Yumna. Selebihnya hanya kenalan biasa yang bahkan mereka tidak pernah menganggapnya ada. Mungkin karena penampilannya, atau karena status sosialnya juga.
Hari, ada sebuah seminar dari anak seorang pemilik rumah sakit ternama di Kota ini dan juga seorang pengusaha terkenal. Irena datang dengan kacamata bacanya, rambut yang di kuncir ekor kuda dan tas gendong yang sudah lusuh. Duduk di antara mahasiswa lain yang juga bersemangat untuk mengikuti seminar ini.
"Kak Andreas itu sangat tampan, ah aku datang ke seminar ini untuk melihat ketampanannya"
"Tapi dia sangat dingin dan mengerikan"
"Itulah yang membuatnya semakin menarik"
Irena mendengar obrolan dua mahasiswi di sampingnya. Dia sedikit membenarkan kacamatanya. Dia juga penasaran dengan sosok Andreas yang di bicarakan orang-orang sejak tadi.
Tap...tap..tap... Suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai terdengar cukup nyaring di tengah keheningan. Irena mendongak dan menatap pria tampan di depannya, tinggi tegap dengan wajah yang nyaris sempurna.
Deg...deg.. Tanpa di duga jantungnya berdetak begitu kencang. Pria itu benar-benar tampan dan Irena pun mengakui itu. Meski ekspresi wajahnya begitu dingin, tapi tidak menghilangkan ketampanannya.
"Itu dia ... lihatlah, dia begitu tampan"
Lagi pembicaraan dua orang di sampingnya terdengar oleh Irena. Dia segera menyadarkan diri ketika hampir terhanyut dengan ketampanan Andreas.
"Selamat pagi siang semuanya, tidak perlu banyak basa-basi. Kita akan langsung mulai saja"
Seminar dimulai dengan begitu tenang, Irena hanya fokus mencatat beberapa hal penting dengan mata yang fokus pada wajah tampan Andreas. Jantungnya selalu berdetak kencang setiap kali melihatnya.
"Dia tampan sekali" bergumam tanpa sadar.
"Hei, cupu kau jangan sampai bermimpi terlalu tinggi ya. Karena dia tidak mungkin suka dengan gadis cupu seperti kamu"
Seseorang di sampingnya yang tidak sengaja mendengar gumaman Irena langsung menegurnya. Irena tidak menjawab, dia hanya menunduk dengan membenarkan kacamatanya. Setelah acara seminar selesai, satu persatu mahasiswa pergi meninggalkan ruangan. Irena memasukan buku catatan miliknya ke dalam tas. Lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu"
Suara itu membuatnya berhenti melangkah, berbalik dan menatap pria tampan itu. Irena melirik ke sekelilingnya memang sudah tidak ada siapapun lagi selain dirinya dan pria itu di ruangan ini.
"Bisa kau tolong bawakan buku-buku ini ke mobilku?"
Irena mengerjap pelan, sebenarnya jantungnya sudah berdetak begitu kencang. Sadar Irena, ini kesempatan kamu untuk bisa lebih dekat dengannya. Setan dalam dirinya sedang mempengaruhi agar Irena berani mendekati pria tampan itu.
"Bi-bisa Kak, biar aku bantu" Irena langsung mengambil tumpukan buku di atas meja dan memeluknya. "Mobilnya di sebelah mana ya, Kak?"
"Disana, ayo kita berjalan bersama saja"
Irena mengangguk dengan wajah menunduk, namun ada senyum yang dia sembunyikan. Meski Andreas terlihat sangat dingin, tapi menurut Irena dia bisa bersikap baik dan sopan. Contohnya dengan cara dia meminta bantuan pada Irena saat ini.
Berjalan berdampingan membuat Irena benar-benar tidak bisa menahan debaran di dadanya. Dia hanya terus menunduk dengan sesekali memberanikan diri melirik pria disampingnya. Wajah Andreas begitu datar, satu tangannya membawa tas laptop dan satu lagi sibuk dengan ponselnya. Irena tidak berani berbicara apapun lagi, karena dia merasa malu dan tidak cukup berani juga.
Semua pasang mata menatap terkejut pada Irena yang berjalan di samping Andreas. Mahasiswi yang di kenal dengan sebutan si cupu karena penampilannya itu. Kini berjalan berdampingan dengan seorang Andreas Rusdiantoro.
Sampai di depan sebuah mobil mewah yang terpakir di parkiran kampus. Andreas membuka bagasi mobil dan mengambil buku dari pelukan Irena, tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan gadis itu. Andreas terdiam sejenak, lalu dia mengerjap pelan dan mengambil buku dari Irena, menyimpannya di dalam bagasi.
Sementara Irena menyentuh tangannya yang tadi terkena sentuhan tangan Andreas. Jantungnya berdetak kencang, senyuman tipis tidak bisa dia tutupi.
"Terima kasih"
"Em, i-iya Kak sama-sama"
Irena menatap Andreas yang menutup bagasi mobilnya. Pria itu berbalik dan seperti terheran karena melihat Irena yang masih diam disana. Alisnya berkerut bingung, lalu dia mengangguk pelan. Mengeluarkan dompetnya dan memberikan dua lembar uang pada Irena.
"Ini untuk kamu"
Irena tertegun melihat Andreas yang memberikan dua lembar uang berwarna merah padanya. Irena langsung menggeleng. "Tidak Kak, aku tidak mengharapkan bayaran"
"Lalu, kenapa kau masih disini?' tanya Andreas dengan mengangkat satu alisnya.
Kedua tangannya meremas celana panjang longgar yang dia pakai. Mengigit bibir bawanya sebelum berani berbicara. "Em, boleh aku tahu nomor ponsel Kakak? Nanti kalau Kakak ada butuh bantuan, aku bisa membantu"
Wajah Andreas benar-benar kaget mendengar ucapan Irena. Pertama kalinya ada seorang gadis yang berani meminta nomor ponselnya secara langsung. Andreas mengangkat satu alisnya, menatap Irena dari atas sampai bawah. BIbirnya tersenyum tipis penuh arti. Sepertinya menarik juga jika di bawa ke rumah kita.
"Baiklah, aku akan memberikan nomor ponselku. Nanti akan aku hubungi kalau aku butuh bantuan"
Andreas memberikan kartu namanya pada Irena. Membuat Irena mengambil kartu nama itu dengan cepat. "Terima kasih Kak, nanti akan aku hubungi Kakak"
Andreas hanya mengangguk saja, dia masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan Irena lagi. Pergi melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus.
*
Irena berjalan menuju kelas dengan terus menatap kartu nama di tangannya. Senyumnya tidak berhenti, dan wajahnya berseri bahagia. Namun, dia juga heran dengan dirinya sendiri yang begitu berani meminta nomor ponsel pria seperti Andreas. Entah datang darimana keberanian itu.
"Hey, senang sekali sepertinya. Ada apa?"
Irena menoleh pada seseorang yang sudah berjalan di sampingnya. Dia tertawa kecil lalu memeluk Yumna dengan erat. "Yumna, sepertinya aku jatuh cinta"
"Hah?" Yumna cukup terkejut, dia menatap Irena dengan tidak percaya. Sahabatnya yang dia kenal bahkan tidak pernah punya teman laki-laki, kini mengatakan jika dia sedang jatuh cinta. Ini benar-benar mengejutkan. "Siapa? Katakan siapa pria yang sudah membuatmu jatuh cinta itu, Ren?"
Irena menunjukan kartu nama di tangannya pada Yumna. "Kak Andreas yang tadi mengisi seminar"
Yumna merebut kartu nama itu dengan tidak percaya, membaca nama disana. "Andreas Rusdiantoro, Perusahaan Pramananta Group dan Rumah Sakit Pramananta. Gila Irena, kamu yakin jatuh cinta pada orang seperti dia?"
Irena tersenyum dengan malu-malu, mengusap tengkuk lehernya sendiri. "Aku jatuh cinta pada orangnya kok, bukan harta dan kekayaannya"
Yumna menoyor kening sahabatnya ini dengan kesal. "Aku tahu, kau bukan perempuan matre. Tapi Irena, orang seperti dia mana mungkin mau dengan suka rela memberikan kartu namanya, jika bukan berniat tertentu. Jangan sampai kamu sakit hati gara-gara dia ya"
Irena mengambil kembali kartu kembali dari tangan Yumna. "Setidaknya dia memberikan kartu namanya, jadi aku bisa menghubunginya. Sudahlah Yumna, doakan saja sahabat kamu ini bisa mendapatkan pria yang dia inginkan"
Yumna hanya menggeleng pelan, berharap jika sahabatnya ini tidak jadi mainan saja oleh pria seperti Andreas.
Bersambung
kan papa Andreas seorang diri pasti Irena
menerima dengan senang hati wanita tulus biasanya mau melakukan hal baik
tujuan nya baik pasti akan selalu di sayang
banyak orang,,,ga sabar papa Andreas gendong cucu menjaga nya dan teriak Irena anak mu nagis minta susu ,,, bagaimana bahagia nya papa Andreas ,,,ibu ayah di kelilingi banyak orang baik'
akan kelain hati ❤️🌹🌹😂😂sweet banget si bikin n baper unyu unyu
seolah mengakui bahwa Ak lah ibu nya ,,,
ibu yang seperti apa ,,, tidak seperti keluarga calon mertua putramu hidupnya sederhana tidak punya harta berlimpah hanya cukup buat makan dan hidup sehari-hari tetapi sangat menyayangi putra dan putrinya hingga putramu selalu merebes matanya ketika melihat calon mertuanya menasehati anak anak nya dengan lemah lembut ,,,
ak sudah mak 😂jadi ngalah deh buat yang masih jomblo 😁
untung ga pingsan,,, aduh itulah para tuan tua sultan kalau sudah BUCIN mana ad yang bisa menggangu nya bisa senyap sekejap
sare,,,Tuhan tidak tidur,,sudah kehilangan pekerjaan mana menanggung adek atau orang tua atau cicilan dan di tambah tidak bisa bekerja di kantor manapun di beklis
pada mimpi' apa semalam lihat Yumna istri Bos Gavin mantan suaminya kan jahat sekarang nasibnya di hotel prodeo,,,👍😁