Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Paksaan
Sudut bibir Bian tertarik ke atas menyadari kedatangan Bunga yang sedari tadi hanya berdiam diri dengan memandangi wajahnya. Bian tidak benar-benar tertidur tadi.
Posisinya berubah menjadi duduk di kursi yang tadi ia gunakan untuk berbaring.
"Sini!" lagi, Bian menyuruh Bunga untuk duduk di sebelahnya sebelum gadis itu menjawab panggilannya tadi.
Bunga terdiam. Antara dia ingin berbalik dan duduk di sebelah Bian, atau Bunga abaikan saja.
Tangannya terkepal menyadari jika niatnya untuk pergi sia-sia saja. Karena kini kaki Bunga sudah menuntunnya dengan langkah mendekat ke arah dimana Bian.
"Duduk," suruh Bian yang hanya dijawab Bunga dengan tatapan datarnya.
Tetapi ia menurut. Bunga duduk di sebelah Bian dengan perasaan tidak menentu. Apa yang ia rasa membuat ia bingung sendiri.
Bian menoleh ke arah Bunga. Menatap wajah cantik Bunga yang sedang menatap lurus ke depan.
Bibirnya kembali tertarik ke atas. Senyum tipis yang sangat menawan jika seseorang melihatnya. "Lo nyariin gue?" tanya Bian membuat Bunga menoleh.
"Enggak," elaknya.
Bian terkekeh. Tangannya terangkat untuk mengacak puncuk kepala Bunga. Menurut Bian Bunga lucu jika sedang seperti ini, menolak kenyataan.
"Jangan pegang-pegang deh!" Bunga menghindar dari usapan tangan Bian di kepalanya.
"Kenapa? kita udah pernah ciuman dan tidur bar-"
"Iya..tapi itu paksaan," potong Bunga.
"Sekarang juga paksaan?" tanya Bian membuat Bunga mengernyit.
"Gue nggak minta lo datang ke sini kan?" tanya Bian membuat Bunga kalah talak.
Bunga mengalihkan pandangan matanya. Datang ke atas atap sekolah untuk menemui Bian memang keinginannya sendiri. Tidak ada paksaan apa lagi permintaan dari Bian.
Seketika tawa Bian pecah melihat wajah merah Bunga. Ini untuk yang pertama kalinya Bian melihat seorang Bunga salah tingkah. Dan itu karena dirinya, atau mungkin memang Bunga yang sudah merasa lain dari biasanya terhadap Bian.
"Gila!" cibir Bunga berniat beranjak dari duduknya. Tetapi dengan cepat Bian segera mencekal tangan Bunga untuk membuat gadis itu jembali duduk di tempatnya.
"Ini lo yang minta," ucap Bunga dan diangguki oleh Bian. "Iya."
Bian melepaskan tangannya saat melihat Bunga yang kembali duduk seperti semula.
"Gue butuh lo sekarang," ucap Bian membuat Bunga menoleh.
"Tuhan itu adil ya?" tanya Bian dengan senyum tipis.
Bunga tetap bungkam. Dia ingin mendengar apa yang akan Bian katakan lagi.
Bian menghela napas dalam. Entah kenapa dekat dengan Bunga membuatnya nyaman. Bahkan ada rasa keinginan untuk memberitahu gadis itu tentang masalah hidupnya. Bian tidak tahu mengapa demikian, tetapi untuk sekarang dekat dengan Bunga jauh lebih nyaman dibanding dengan Seyna yang notabene nya sebagai sahabat sejak kecil. Posisi Seyna mulai tergantikan oleh sosok Bunga.
"Gue punya segalanya dalam hal materi, tetapi tidak dengan kasih sayang orang tua, bokap sama nyokap gue udah cerai," ucap Bian membuat Bunga terkejut. Tetapi ia tetap diam.
Jika masalah orang tua, Bunga paling tidak bisa berkomentar, ia sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana mempunyai masalah dengan kedua orang tuanya apa lagi sampai mendapat perhatian.
"Dan itu karena wanita diluar sana," lanjut Bian seraya menundukan kepalanya.
Tawa kecil dari Bian begitu terdengar sangat menyakitkan, Bunga sendiri tidak menyangka jika ternyata Bian mempunyai masalah yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Meski Bian masih mempunyai kedua orang tua yang lengkap, tetapi Bunga cukup yakin jika kasih sayang dari kedua orang tuanya mungkin saja tidak lagi Bian dapatkan. Seperti saat itu, saat keluarganya masih utuh.
"Lo beruntung, setidaknya lo masih punya mereka, meski keadaan tidak membuat kedua orang tua lo harus bersama," ucap Bunga membuat Bian menoleh ke arah Bunga.
Begitu pun sebaliknya. Bunga menatap Bian dengan begitu dalam. "Lo masih beruntung Ian," lanjut Bunga membuat Bian semakin mendekatkan wajahnya.
Mengikis jarak di antara keduanya. Tangan Bian mulai mengusap lembut disekitar dagu Bunga. Dapat mereka rasakan hembusan napas yang saling bersautan.
Bunga merasakan sentuhan dari Bian, entah kenapa saat ini tidak ada lagi keinginan untuk menolak. Bukan hanya bagian tubuhnya saja yang menerima. Tetapi hati dan pikiran Bunga tidak lagi menyuruh untuk menghentikan tindakan Bian saat ini.
"Iya gue beruntung karena bisa bertemu lo," lirih Bian seraya mendaratkan ciumannya di bibir Bunga.
Keduanya saling menikmati sentuhan dari bibir masing-masing. Bahkan ciuman itu begitu dalam dan berlangsung cukup lama. Tidak ada paksaan lagi seperti saat itu, Bian benar-benar bermain dengan begitu lembut, sampai Bunga tersadar jika sudah cukup lama mereka berada di atas sana.
Bunga menghentikan ciuman di antara mereka. Menatap Bian dengan senyum. Lalu beranjak dari duduknya. Bunga pergi meninggalkan Bian tanpa sepatah katapun juga dengan sejuta rasa. Tetapi rasa bahagia lebih Bunga rasakan saat ini.
Sementara Bian tersenyum seraya menatap kepergian Bunga. "Makasih Bunga, rasa ini berbeda," lirihnya kembali tersenyum.
Bunga memang obat penenang untuknya, disaat tadi Bian merasa berada di dasar jurang, Bunga datang dengan membawa sejuta bahagia. Hal sederhana yang mereka lakukan, tetapi mampu membuat keduanya sama-sama merasa berbeda.
Setelah bel pulang berbunyi, Bunga langsung menuju ke parkiran. Hari ini Rasel dan Deni membawa mobil sendiri. Mereka akan langsung pulang sebelum malamnya kembali bekerja seperti malam-malam sebelumnya.
Baru saja Bunga akan masuk ke dalam mobilnya, Jian dan teman-temannya keburu datang ke parkiran. Dan sialnya hari ini Bunga memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Jian.
"Hallo Bunga, enak ya hari ini nggak denger suara merdu dari gue," ucap Jian sengaja memancing Bunga.
Tetapi Bunga? Gadis itu jelas saja malas meladeni Jian yang tidak ada pentingnya. Bunga berniat masuk ke dalam mobil.
"Bunga! Lo budek huh? Gue lagi ngomong sama lo!" kesal Jian merasa tidak ditanggapi oleh Bunga.
"Mending suara lo yang katanya merdu itu disimpen aja buat teman ranjang lo," jawab Bunga dengan senyum miring, lalu masuk ke dalam mobil sebelum mendengar amukan dari Jian.
"Hah? Apa dia bilang?" tanya Nida tidak maksud apa yang Bunga katakan.
"Si*lan lo! Dasar ja**ng!" teriak Jian tidak terima.
"Maksud tuh putri tidur apaan sih Ji?" tanya Sani penasaran.
"Apa? Ngaco aja tuh cewek, awas aja gue akan beri perhitungan besok," ancam Jian penuh tekad.
"Harus Ji, tuh cewek biar nggak ngelunjak." Nida ikut menimpali.
Lihat aja bi**h gue punya kejutan buat lo. Batin Jian menyeringai.
Bunga sedang tertidur di apartemennya. Sebelum berkerja nanti malam gadis itu memang selalu meluangkan waktu untuk istirahat terlebih dahulu. Apa lagi tadi di sekolah Bunga sama sekali tidak tidur.
Bel apartemennya berbunyi. Awalnya Bunga tidak begitu peduli, tetapi karena tidak ada henti membuat gadis itu akhirnya beranjak untuk membuka pintu.
"Ganggu banget," komentar Bunga dengan langkah menuju ke depan.
Ceklek.
Bunga terdiam beberapa saat menyadari seseorang yang datang. Dia adalah Bian, cowok tampan dan aneh yang kini mulai akrab dengan Bunga.
"Ganggu nggak?" tanya Bian yang dijawab Bunga dengan gelengan kepala.
Padahal kedatangan Bian jelas mengganggu waktu istirahat Bunga. Tetapi jawaban Bunga ternyata tidak sesuai kenyataan. Ia mulai berbohong demi kebaikan.
"Boleh masuk kan?" tanya Bian lagi. Kali ini Bunga mengangguk seraya mempersilahkan Bian untuk masuk ke apartemennya. "Silahkan."
Bian masuk ke dalam diikuti Bunga yang masih sedikit terkejut dengan kedatangan Bian yang tiba-tiba. Bunga tidak lupa kalau mereka tetanggaan di apartemen itu, tetapi Bian datang dengan peralatan lukisnya yang dibawa.
"Lo mau lukis?" tanya Bunga yang dijawab Bian dengan anggukan kepala.
"Di sini?" tanya Bunga lagi.
Bian kembali mengangguk sebagai jawaban. Cowok itu tersenyum begitu manis. Mempersiapkan peralatan melukisanya. "Lo sebagai objeknya."
Duerrr....
Jawaban Bian mampu membuat Bunga merasa dejavu saat ini.
____
hallo..yang bilang risih sama Bunga, atau ini lah itu lah.. pahami dulu ya gaes sinopsis dan judulnya.