Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 ( Perasaan Bersalah )
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Icha segera menuruni anak tangga...
"Sayang, kamu menginap saja disini," seru Mommy Aqila.
"Tidak Mommy, Icha pulang saja."
"Ya sudah, biar aku antar," seru Raka.
"Tidak usah Raka, kan mobil aku ada disini. Kalau begitu Icha pulang dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Hati-hati sayang."
Icha pun segera meninggalkan rumah Mommy Aqila, selama dalam perjalanan Icha tak henti-hentinya menangis. Hatinya begitu sakit saat Edrik akan tetap menikahi Niken dan mencampakkan dirinya yang sudah bertahun-tahun menunggunya.
"Kamu jahat Bang, aku benci sama kamu," gumam Icha.
Icha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, suasana jalanan sangat sepi karena sudah pukul sepuluh malam. Pandangan Icha tidak jelas karena matanya terhalang oleh airmata.
Tiba-tiba saja seekor kucing melintas di depan mobil Icha membuat Icha panik dan membanting stir ke samping.
"Aaaaaaaaa...."
Bbbrrrruuuuuuukkkkkkk....
Mobil Icha menabrak sebuah pohon besar, mobil bagian depannya hancur, Icha langsung tak sadarkan diri dengan wajah penuh dengan darah.
Pranngggg...
Edrik menjatuhkan gelas hingga gelas itu pecah.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba merasa tidak enak," gumam Edrik.
Sementara itu karena posisi Icha malam dan jalanan sepi, baru satu jam itu polisi datang dan membawa Icha ke rumah sakit.
Polisi mengecek ponsel Icha dan kebetulan saat yang bersamaan Mommy Aqila menghubungi Icha.
"Hallo..."
Mommy Aqila melihat ponselnya dan benar itu nomor Icha kenapa yang angkat suara laki-laki.
"Hallo..."
"Hallo, maaf ini bukannya nomor Alisya ya," seru Mommy Aqila.
"Benar Nyonya, saya Polisi maaf saya baru saja mau menghubungi Nyonya."
"Oh iya, ada apa ya Pak?"
"Saudari Alisya baru saja mengalami kecelakaan tunggal, mobilnya hancur dan keadaan saudari Alisya saat ini sangat kritis, saya sudah membawanya ke rumah sakit xxx."
"Apa?"
Pluukkk...
Ponsel yang Mommy Aqila pegang terjatuh membuat Daddy Raffa yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa kaget.
"Mommy, Mommy kenapa kok nangis?" tanya Daddy Raffa panik.
"Icha Dad..."
"Icha? Icha kenapa?"
"Icha mengalami kecelakaan dan saat ini kondisi Icha sangat kritis."
"Apa?"
"Ayo Dad, kita harus segera ke rumah sakit."
"Ok..ok.."
Mommy Aqila dan Daddy Raffa pun segera ke rumah sakit.
"Raka...Raka..." teriak Mommy Aqila.
"Iya Mommy ada apa?" tanya Raka panik.
"Raka, Icha kecelakaan kita harus segera ke rumah sakit."
"Apa? ya sudah kita ke rumah sakit sekarang."
Mereka bertiga pun pergi ke rumah sakit tanpa memberi tahu kepada Edrik karena mereka tahu Edrik sedang istirahat. Dan benar saja, setelah Edrik meminum obat yang diberikan oleh Icha, Edrik langsung tertidur dengan pulasnya.
***
Sementara itu di rumah sakit sudah ada Rima yang menunggu dengan deraian airmata.
"Rima..."
"Raka..."
Rima langsung menghambur ke pelukkan Raka.
"Icha, Rak dia kecelakaan," seru Rima dengan deraian airmata.
"Iya..iya..kamu tenang dulu, sekarang bagaimana keadaan Icha?" tanya Raka.
"Icha masih diruangan operasi, Dr.Zaki sedang berusaha menolongnya."
Mereka berempat tampak duduk lemas menunggu Dr.Zaki keluar, hingga akhirnya satu jam berlalu Dr.Zaki pun keluar.
"Dr.Zaki bagaimana keadaan Icha?" tanya Mommy Aqila.
"Kecelakaan yang menimpa Icha sangat fatal apalagi Icha pun telat mendapatkan penanganan sehingga Icha membutuhkan banyak darah tapi Alhamdulillah stok darah disini banyak dan Icha bisa terselamatkan, tapi---"
"Tapi apa Dokter?" tanya Rima dan Raka bersamaan.
"Icha mengalami koma."
"Apa?" sahut mereka bersamaan.
"Benturan dikepalanya sangat kencang dan saat inipun kondisinya belum stabil masih kritis."
Mommy Aqila menangis sejadi-jadinya dipelukkan Daddy Raffa begitu pun dengan Rima yang sudah menangis sesegukkan dipelukkan Raka.
"Tolong lakukan yang terbaik Dokter, kalau bisa saya akan membawa Icha ke luar negeri," seru Daddy Raffa.
"Tidak perlu sampai ke luar negeri Tuan, disini pun sudah sangat lengkap fasilitasnya dan saya juga akan melakukan yang terbaik, kalian hanya bantu saja dengan do'a, kalau begitu saya permisi dulu, pasien akan dipindahkan keruangan rawat inap."
Tidak lama kemudian, Icha pun dipindahkan ke ruangan rawat inap. Tubuh Icha penuh dengan berbagai alat medis yang menunjang untuk membantu kesembuhan Icha bahkan leher Icha dipasang gip karena tulang lehernya ada yang patah.
Mommy Aqila dan Rima tidak kuasa melihat keadaan Icha yang sangat mengkhawatirkan itu. Kondisinya sangat memprihatinkan.
"Sial, andai saja tadi Raka memaksa Icha untuk mengantarkan Icha pulang, keadaannya tidak mungkin seperti ini," seru Raka dengan menjambak rambutnya sendiri.
"Sudahlah Raka, musibah mana ada yang tahu jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri," sahut Daddy Raffa.
"Tante dan Om lebih baik pulang saja, biar Rima yang menjaga Icha," seru Rima.
"Iya, Rima benar biar Rima dan Raka yang menjaga Icha, Mommy dan Daddy pulang saja."
"Tidak Raka, Mommy ingin disini menjaga Icha," seru Mommy Aqila.
"Mommy, lebih baik Mommy pulang ya kan besok Mommy bisa kesini lagi," bujuk Raka.
"Tapi Raka----"
"Yang dikatakan puteramu ada benarnya, kita pulang saja besok Mommy kesini lagi."
"Ya sudah, tapi kamu harus jagain Icha ya Raka kalau Icha sudah sadar cepat hubungi Mommy."
"Iya Mommy."
"Ya sudah kalau begitu kita pulang dulu," seru Daddy Raffa.
"Kalian hati-hati."
Mommy Aqila dan Daddy Raffa pun meninggalkan rumah sakit. Rima tampak terduduk lemas disamping Icha dengan memegang tangan Icha.
"Cha bangun Cha, jangan seperti ini," seru Rima dengan deraian airmata.
Raka menghampiri Rima dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Icha pasti akan sembuh karena Icha adalah wanita yang sangat kuat dan tangguh," seru Raka.
***
Keesokkan harinya...
Niken hanya sarapan sendirian, dia tidak tahu kalau Icha mengalami kecelakaan.
"Bi Ria, semua orang kemana kok sepi?" tanya Niken.
"Nyonya dan Tuan masih ada di kamarnya."
Tidak lama kemudian, Edrik pun turun dari kamarnya dengan menggunakan pakaian kantornya.
"Kenapa kamu sendiri? kemana orang-orang?" tanya Edrik.
"Kata Bi Ria, orangtua kamu masih di kamarnya kalau Raka aku ga tahu," sahut Niken.
Mommy Aqila dan Daddy Raffa pun keluar dari kamarnya, Mommy Aqila membawa sebuah paperbag.
"Bi Ria, apa makanan yang saya pesan sudah Bibi siapkan?" seru Mommy Aqila.
"Sudah Nyonya, ini."
Bi Ria pun membawa kotak bekal makanan dan menyerahkannya kepada Mommy Aqila.
"Mommy mau kemana kok bawa bekal segala?" tanya Edrik.
"Mommy mau ke rumah sakit."
"Ke rumah saki? siapa yang sakit?"
"Tadi malam sepulang dari sini Icha mengalami kecelakaan, saat ini Icha masih belum sadarkan diri kondisinya sangat kritis."
Praaanng...
Endrik menjatuhkan sendok yang ada di tangannya.
"Icha di rawat di rumah sakit mana, Mommy?" tanya Edrik panik.
Setelah Mommy Aqila memberikan alamat rumah sakitnya, tanpa menunggu lama Edrik langsung berlari menuju mobilnya dan melajukan mobilnya.
"Tante, apa Niken boleh ikut ke rumah sakit?" seru Niken.
Mommy Aqila tampak menganggukkan kepalanya, Mommy Aqila pergi dengan Niken serta sopir sedangkan Daddy Raffa tidak bisa ikut karena dia harus ke kantor.
Edrik mengemudikan mobilnya seperti orang gila, dia tidak peduli dengan orang-orang yang menekan klaksonnya karena sudah melajukan mobil dengan sangat ugal-ugalan.
"Maafkan aku Cha, maaf..." gumam Edrik dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
Tidak lama kemudian, Edrik sampai di rumah sakit. Setelah tahu di ruangan mana Icha di rawat, Edrik segera berlari. Di depan ruangan Icha, Edrik sempat terdiam dia ragu untuk masuk ke dalam.
Perlahan, Edrik membuka pintu membuat Raka dan Rima menoleh secara bersamaan.
"Bang Edrik," gumam Raka.
Edrik tidak memperdulikan Raka, tatapannya langsung tertuju kepada wanita cantik yang saat ini terbaring lemah dengan alat-alat medis menempel diseluruh tubuhnya.
Edrik terdiam mematung, dadanya begitu sesak, hatinya begitu sakit melihat keadaan wanita yang sangat dia cintai dalam kondisi tidak berdaya.
Perlahan Edrik mendekat ke arah ranjang Icha, airmatanya sudah menetes dan tubuhnya sedikit limbung sehingga Raka dengan sigap menahan tubuh Abangnya itu.
Luruh sudah airmata Edrik, tubuhnya kembali bergetar karena merasa tidak sanggup melihat keadaan Icha yang seperti itu. Raka memeluk tubuh Abangnya itu.
"Bang..."
"Ini semua salahku Raka, Icha kecelakaan gara-gara aku," sahut Edrik dengan deraian airmatanya.
Rima menutup mulutnya dan ikut menangis, dia yakin kalau itu adalah Abang Raka yang tidak lain seseorang yang selama ini Icha tunggu.
"Tidak Bang, jangan menyalahkan diri sendiri."
"Aku sudah terlalu menyakiti hatinya Raka, aku sudah membuat Icha terluka."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan terlihat Mommy Aqila serta Niken yang baru datang.
"Edrik."
"Mommy, Edrik sudah menyakiti Icha Mom, Edrik sudah membuat Icha terluka."
"Mommy tahu pasti kamu punya alasan kenapa kamu bersikap seperti ini, karena Mommy sangat mengenal seperti apa anak Mommy."
"Maafkan Edrik Mommy, maaf..."
Mommy Aqila memeluk tubuh Edrik yang tampak bergetar hebat itu. Niken keluar dari ruangan itu dan duduk dikursi yang berada diluar, tangisannya kembali pecah.
"Sayang, kamu tahu kita telah membuat pasangan yang saling mencintai saling menyakiti satu sama lain, aku tidak tega melihatnya, aku tidak apa-apa, aku masih sanggup membesarkan anak kita," gumam Niken dengan mengelus perutnya yang masih datar.
Riana, Juna, dan Fiko pun segera menuju ruangan Icha setelah tadi pagi Raka mengabarkan kalau Icha mengalami kecelakaan. Ketiganya sempat menoleh ke arah Niken yang sedang menundukkan kepalanya sembari menangis.
Ketiganya pun langsung masuk ke dalam ruangan rawat Icha. Riana langsung menutup mulutnya melihat keadaan Icha yang sangat memprihatinkan. Sedangkan Edrik sudah terduduk dilantai dengan menangis dipangkuan Mommy Aqila.
Ada perasaan sakit yang Edrik rasakan, dia harus mengorbankan cintanya bahkan sekarang Edrik harus melihat wanita yang dia cintai terluka. Edrik harus mengingkari janjinya kepada Icha demi menepati janji kepada orang lain.
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Yuk, masih ada waktu untuk mendapatkan pulsa lumayanlah nambah-nambahin pulsa kalian😁😁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU