"Aku ingetin, jangan sampek kamu jatuh cinta! Aku nikahin kamu karena terpaksa!"
"Sorry, pria seperti kamu bukan tipeku!" cetus Dea pada pria yang berdiri di depannya dengan sombong dan angkuh.
"Kamu yang bukan tipeku!" Daniel tidak mau kalah. Sebab Dea benar-benar gadis di bawah standard. Untuk nilai, bagai pria sesukses dirinya, Dea memiliki nilai F.
Yuk kenalan sama penulis, Instagram :
Sept_September2020
Baca juga karya Sept yang sudah Tamat
Rahim Bayaran
Istri Gelap Presdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Yang Tidak Merasa Salah
Dea I Love You
Bagian 32
Oleh Sept
Rate 18 +
Ketika Metty masih terkesima pada pemandangan yang memanjakan mata di depannya, tiba-tiba saja Daniel menerobos masuk. Tidak peduli padahal ia adalah tamu, pria itu langsung masuk rumah seperti rumahnya sendiri.
Melihat pria asing masuk tanpa permisi, meskipun seganteng apapun, jelas Metty waspada. Ia lantas berbalik hendak menyusul tamu dadakan itu. Tapi, tangan sekretaris Kim langsung mencegah langkah Metty. Pria itu mencengkram pergelangan tangan sahabat Dea tersebut.
"Berikan mereka waktu," ucap Kim dengan tegas.
Otak Metty langsung connect, yang masuk barusan berarti suaminya Dea.
"Apa pria tadi suaminya Dea?" tanya Metty kemudian untuk memastikan.
Kim mengangguk pelan, sementara mata Metty tidak lepas dari wajah sekretaris Kim yang macho dan tampan. Meskipun terkesan dingin, tapi membuat greget, ingin nyubit.
Karena ingin memberikan ruang dan waktu pada Daniel dan Dea, terpaksa Metty menunggu di depan. Enggak terpaksa sih, karena Metty sangat menikmati. Pemandangan cogan gratis. Mimpi apa ia semalam? Ah, tahu begini dari kemarin-kemarin ia deketin Dea.
Tapi tunggu, sejenak kemudian Metty tersadar. Suami Dea adalah pria yang pantas dihajar. Hanya karena wajahnya tampan, semua kesalahan jadi bisa dimaafkan. Metty pun beranjak.
"Tunggu di sini dulu!" cegah Kim yang melihat Metty akan masuk ke dalam rumah.
"Stop terpesona pada ketampanan, sadar Mitiiii. Dea dalam bahaya!" batin Metty. Tidak peduli pada larangan sekretaris Kim, Metty memilih menerobos masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Eh ... turunkan gue! Ya ampun apa-apa ini?" jerit Metty. Tapi, dalam hati ia bersorak. Ketiban durian runtuh, malam-malam digendong pria tampan. Bahkan ia bisa merasakan otot lengan pria itu yang sangat kokoh. Bila boleh meminta, digendong lama juga tidak apa-apa. Dasar Metty, ngarep.
Tidak mau mendapat kemarahan dari atasannya, Kim mencoba mencegah Metty. Pria itu langsung membopong tubuh Metty, kemudian mendudukkan kembali di kursi teras rumah.
"Saya bilang tunggu, berikan mereka berdua waktu!" Kali ini Kim menatap tajam, sebuah tatapan yang membuat Metty makin terpana.
Ketika sekretaris Kim menahan Metty agar tidak menganggu Daniel yang menemui Dea, di dalam kamar serba ungu itu, Daniel terlihat berdiri sambil berkacak pinggang.
"Bisa-bisanya ia tidur di sini?" gumam Daniel sembari menatap Dea, masih wanita muda yang sama. Selalu mendengkur, ish. Untung sudah ada rasa. Bila tidak, mungkin Daniel akan jadi ilfeel.
Sembari mengamati Dea yang tidur pulas, Daniel masih memikirkan alasan Dea kabur. Ia masih belum tahu, bahwa istrinya itu sudah mengendus perselingkuhannya dan Dara. Apa bisa dikatakan selingkuh? Bagi Daniel ia hanya merasa bertanggung jawab pada Dara, ia masih hutang penjelasan. Ia masih hutang kata putus yang belum berani ia ucapkan. Ah dasar pria.
Melihat Dara tidak berdaya, melihat kekasihnya tidak terima. Daniel jadi bingung, harus bagaimana menjelaskan semuanya. Kini ditambah lagi si Dea, ngapain juga pakai acara hilang dari hotel? Labil banget, pikir Daniel.
Daniel belum merasa bersalah, ketika menggantung dua hati wanita sekaligus. Mungkin kalau udah ditinju Mike Tyson baru nyadar. Pria itu masih merasa benar sendiri.
***
"Mereka kok lama? Ngapain aja?" Kata itu spontan keluar dari mulut Metty.
Sekretaris Kim terlihat ragu untuk menjawab. "Kita tunggu saja."
"Mereka nggak mungkin anu kan di kamar due?"
Kim langsung memalingkan wajah, ucapan Metty membuatnya tidak nyaman.
"Nggak, kan?" Metty terus saja menuntut.
"Itu terserah mereka!" jawab Kim dingin.
Melihat sikap dingin Kim, Metty langsung menyandarkan pungungnya ke kursi. "Ish ... ganteng, jutek. Gak papa sih," batin Metty.
Lima belas menit sudah berlalu, baik Metty dan Kim sudah sama-sama merasa gelisah. Bila Metty memperlihatkan wajah kecemasannya, beda dengan Kim. Ia berusaha bersikap santai dan biasa. Tapi, pria itu lama-lama ketulara Metty. Ia juga sempat berpikir, jangan-jangan bosnya lagi anu sama Nona Dea di dalam sana. OMG!
"Ini dah lama banget loh, gue masuk ya? Gue mau cek kondisi teman gue."
"Jangan!" cegah Kim.
"Ntar kalau temen gue gimana-gimana bagaimana?"
"Mereka suami istri, Tuan Daniel tidak akan melukai Nona Dea."
"Tapi ...!"
"Tolong, tunggu sebentar lagi."
Ketika keduanya berdebat kecil, dari dalam rumah keluar sosok yang dibicarakan. Daniel keluar sambil mengendong Dea. Gadis itu kalau tidur emang ngebo. Biarpun disentuh Daniel dan digendong, Dea tak kunjung bangun juga.
"Eh ... Dea mau dibawa ke mana?" Metty panik. Ia meras temannya sedang diculik.
Daniel hanya melirik sekilas pada Metty, kemudian menatap Kim. Seakan menyuruh sekretarisnya untuk membereskan Metty. Sedangkan dirinya sendiri, akan memasukkan Dea ke dalam mobil.
Entah apa saja yang diucapkan Kim pada Metty, setelah mendengar penuturan sekretaris Kim. Metty pun membiarkan saja Dea diambil dari rumahnya. Mau bagaimana lagi, pria berbadan tegap dan atletis serta pemilik paras yang tampan itu adalah suami Dea di mata hukum.
Jadi terserah Daniel mau bawa Dea ke mana, mau marah tapi telat. Mobil merah itu sudah menghilang dari pandangan.
"Baik-baik ya Dea!" gumam Metty.
***
Sekretaris Kim melirik pada spion dalam, dilihatnya Dea masih tidur. Bahkan kepalanya bersandar di pundak sang atasan. Sebagai orang yang paling tahu tentang Daniel, karena mengurus semua kepentingan Daniel selama ini. Kim jadi yakin, sepertinya bosnya sudah betul-betul move on dari Nona Dara. Bos yang dingin itu malah mencair oleh gadis biasa.
Tidak terasa mereka akhirnya sampai juga di apartment. Ketika Daniel turun terlebih dulu, tiba-tiba mata Dea mengerjap. Detik berikutnya, mata itu terbuka sempurna. Dea nampak bingung berada di dalam sebuah mobil, bukannya ia tidur di kamar Metty? Sadar ornamen mobil yang ditumpangi tidak asing, Dea bergegas keluar. Saat turun, di depannya sudah ada Daniel yang menatapnya penuh selidik. Seolah mengatakan, mau lari ke mana lagi?
"Kamu menculikku!" tuduh Dea menutupi rasa gugupnya. Ia tidak menyangka bisa ketahuan Daniel.
"Mau jalan sendiri apa aku gendong seperti tadi?"
Dea menatap sebal, wanita itu langsung ngibrit, meninggalkan Daniel menuju apartemen mereka.
"Terima kasih untuk kerjamu hari ini, Kim!"
Sekretaris Kim mengangguk pelan, kemudian pergi meninggalkan Daniel yang berjalan menyusul Dea.
Dea sudah sampai di depan apartment, ia tidak bisa membuka pintu dan hanya bisa menunggu Daniel. Padahal ia masih mau ngambek dan mengunci diri di kamar, sebisa mungkin menghindar kontak dengan pria menyebalkan tersebut.
Dari ujung lorong, Dea bisa melihat. Daniel berjalan semakin dekat dengan menenteng tas miliknya.
"Ini tasmu," Daniel mengulurkan tas milik istrinya. Dengan wajah masam, Dea meraih tas itu.
KLEK
Pintu pun terbuka, dengan langkah seribu Dea masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Daniel tersenyum kecut melihat Dea yang berusaha menghindar darinya. "Apa salahku? Mengapa dia seperti membenciku?" tanya Daniel pada rumput yang bergoyang. Bersambung.
happy ending, senang bacanya 😍😍