Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
King and Queen
Setelah insiden konyol yang disponsori oleh pasangan sensasional Julian Vane dan Andin Wijaya, udara di Grand Ballroom Steel Plaza segera tereset otomatis, seperti ada filter pembersih debu-debu kotor yang bekerja di balik layar. Susana ruangan megah itu kini jauh lebih cerah.
Beberapa wanita sosialita cantik masih asyik mengomentari momen saat Andin tersandung dan jatuh, sambil tertawa-tawa pelan. Begitu juga dengan Sesilia dan Uni yang masih belum bisa menghentikan tawa puasnya.
"Kejadian tadi akan kuceritakan sampai anak cucuku nanti, Si. It's so funny." Uni masih terus mengungkit, kembali membangkitkan tawa sahabatnya yang sudah surut.
Axel berdiri di agak jauh dari Sesilia dan Uni, di depannya ada Edward dengan segelas wine di tangan.
"So, you're the winner, bro" Edward bersuara, mencairkan suasana.
Axel menatapnya tajam. "I always win." balasnya acuh.
Dari kejauhan, terlihat pasangan orang tua Edward dan Uni memasuki ruangan. Keduanya segera menjadi pusat perhatian lain.
"Love bird baru saja muncul," tunjuk Axel pada Edward.
"They are," Edward menjawab acuh kemudian segera undur diri untuk menemui kedua orangtuanya.
Sesilia datang setelahnya, langsung menggandeng mesra tangan tunangan tampannya. Axel tidak mau kalah, lelaki itu segera menciumi kepala hingga kedua pipi sang gadis. Membuatnya tertawa kegelian.
"Stop it, X. You ruined my makeup," Sesilia berbicara ketus, mencoba menahan wajah Axel dengan kedua tangannya.
"And you ruined my life, baby girl." Lelaki itu membalas, tangannya kini memegang erat dua tangan gadisnya. Mata mereka bertatapan intens.
"I.. ruined what?"
"You drive me crazy, all the time my head just full of your face, Mine. What have you done to me?" Suara Axel makin pelan, hampir seperti bisikan serak yang membangkitkan sesuatu dalam dada Sesilia. Sekarang hanya ada mereka berdua disana.
"Can I kiss you, baby girl?" Axel bertanya dengan suaranya yang merdu.
"Y..yes?" Gadis itu menjawab kikuk. Ia selalu berubah seperti robot dalam situasi seperti itu. Axel maju, semakin memperpendek jarak. Tangannya menyentuh pinggang ramping itu sensual. Memberikan sentuhan lembut, namun berefek seperti sengatan listrik halus yang membangkitkan seluruh indera tubuh Sesilia. Saat kedua bibir itu hampir bersentuhan, lampu ballroom mendadak meredup. Menyisakan sorotan lampu spotlight berwarna emas yang berpusat di tengah lantai dansa marmer hitam.
Axel menggunakan kesempatan itu untuk menyesap rasa bibir wanita pujaannya. Pelan tapi pasti, bibir keduanya bertemu. Napas Sesilia tertahan di tenggorokan. Sedangkan Axel mulai bergerak pelan. Menyesap bibir manis itu atas dan bawah, bergantian. Saat bibir Sesilia terbuka perlahan, lelaki itu segera membenamkan lidahnya disana. Menyesap lebih dalam. Hidung keduanya bersentuhan. Aroma tubuh gadis itu menguar pekat. Menghabisi sisa kewarasan Axel yang hampir musnah.
Sesilia Kira dan pesonanya.
Ciuman itu semakin intens, lidah keduanya saling membelit. Bertukar saliva. Axel bergerak buas, mengabsen seluruh isi mulut gadis itu. Rasanya manis dan memabukkan. Axel tidak bisa berhenti, ia kecanduan rasa itu.
Sesilia yang hampir kehabisan napas mendorong Axel menjauh. Dalam beberapa kali dorongan, Axel tidak bergerak, tenaga gadis itu kalah oleh kewarasan Axel yang sudah menguap entah kemana. Didorong oleh adrenalin yang meningkat karena butuh oksigen, Sesilia menggigit bibir bawah Axel sekuat tenaga, melukai bibir kekasihnya. Sepersekian detik, rasa sakit akibat luka itu akhirnya menarik kembali kewarasan Axel. Lelaki itu segera melepas tautan bibir keduanya, walau terlihat ogah-ogahan.
"You....you trying to kill me?" Sesilia hampir berteriak, suaranya patah-patah karena harus meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"So...sorry baby."
Di latar belakang, orkestra filharmonik yang berada di balkon atas mulai memainkan komposisi waltz yang megah namun memiliki melodi yang dalam dan sedikit gelap. Mengalun lembut dan indah.
Tanpa aba-aba, Axel membimbing tunangannya ke tengah lantai dansa, dan tentu saja mereka kembali menjadi tokoh utama pesta. Ratusan pasang mata tertuju pada keduanya. Axel meletakkan tangan kanannya di punggung bawah Sesilia, jari-jarinya yang kuat menekan lembut kain gaun yang dikenakan gadisnya. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Sesilia, mengunci jemari keduanya dalam sebuah jalinan indah.
Dansa itu dimulai.
Setiap langkah Axel sangat terukur. Ia memutar Sesilia pelan dan anggun. Di bawah sorotan lampu, gadis itu tampak seperti bayangan rembulan yang menari gemulai.
"Perfect couple," Bisik Uni pada kakaknya. Mata gadis itu tidak lepas dari wajah sahabatnya. Mencari eskpresi ketidakbahagiaan, namun nihil. Wajah Sesilia menampilkan binar bahagia yang belum pernah terlihat. Gadis itu benar-benar telah menemukan kebahagiaan yang selama ini dicari.
"I hope she's really happy. Awas saja kalau si gila Axel berbuat jahat pada Sesi-ku." Uni kembali bersuara, menyampaikan isi hatinya pada sang kakak yang hanya diam bagai patung porselen.
"I hope you find a prince, just like your bestfriend did." Edward menanggapi pelan.
"I hope you find a princess, too, Jomblo akut!" balas Uni sewot.
Kedua kakak adik itu lalu terlibat cekcok serius. Isinya sekedar saling mengejek kejombloan masing-masing.
"Ed. Promise me, if you ever find someone you love, don't treat her the way dad and Axel treated their partners. It's kind of.....scary."
"It depends on how pretty the girl is." Edward menjawab jenaka
"Ed, I'm serious."
"I'm serious too, little sister."
Sedangkan di tengah lantai dansa. Raja dan Ratu masih terus berdansa, terjebak dalam simfoni indah yang tak ingin mereka akhiri. Senyum keduanya adalah bukti bahwa cinta bisa menghapus keberadaan orang lain. Di bawah pendar cahaya lampu, mereka tidak peduli lagi pada dunia yang menonton. Sebab malam ini, semesta adalah milik mereka, dan kita semua hanyalah penyewa yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah.
bau bau bucin😍😄