Echa dan teman-temannya harus kembali terlibat dengan pembantaian ilmu hitam yang merajalela dan semakin memiliki kekuatan besar.
Takdir selalu saja menuntun Echa dan teman-temannya untuk memusnahkan ilmu hitam, namun bagi mereka ilmu hitam itu sudah seperti akar pohon, meskipun pohonnya di tebang tapi akarnya masih tertanam didalam tanah.
Semakin hari teror semakin mengintai mereka. Datang dari seorang wanita misterius yang kembali bangkit dari masalalunya, dia ingin membalaskan dendam atas perbuatan Echa dan teman-temannya di masalalu.
"Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Terutama rasa sakit."
Dendam, kecewa, sakit hati, amarah yang ada di dalam hati wanita misterius itu tidak pernah padam. Bahkan, tujuannya hanyalah satu.
"Aku hanya ingin melihat mereka.. Mati."
Akankah Echa dan teman-temannya berhasil mengungkap siapa akar dari teror yang mengintainya selama ini atau bahkan mereka yang akan mati penasaran?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|31| GUGUP
Pagi hari telah tiba, Echa mengerjapkan matanya, matanya masih sedikit berat untuk di buka karena kemarin malam dia terus berlatih bersama dengan Shiren, Gavin dan Bara.
Selama Echa berlatih dia sama sekali tidak melihat keberadaan Algi, namun Echa sangat bersyukur Bara tidak bertemu dengan Algi.
"Susah banget ini mata di buka." ucap Echa bangun dari tidurnya tanpa membuka matanya.
"Jam berapa?" Tanya Echa menyipitkan matanya melihat kearah jam di ponsel miliknya.
"Jam 05. 20!" ucap Echa kaget yang langsung membuka mata sepenuhnya, dia sudah telat.
Meskipun acaranya berlangsung jam 8, tetap saja Echa harus membantu persiapan yang lain.
Echa bergegas untuk mandi dan bersiap-siap memakai gaun yang telah disiapkan sejak malam.
20 menit telah berlalu, kini Echa sudah selesai bersiap-siap hanya tinggal memoleskan make up yang tidak terlalu mencolok di wajahnya.
"Akhirnya." ucap Echa yang sedang menatap dirinya di pantulan cermin dengan dress pilihannya.
Tiba-tiba saja Echa teringat tentang Bara yang harus segera pergi ke rumah Alvero, dia harus segera membangunkannya.
Eche bergegas menuju kamar Bara, namun langkahnya terhenti ketika ada tangan yang mencekal tangannya.
"Apa lagi si gi?" Tanya Echa yang melihat orang tersebut adalah Algi.
Baru saja semalam dia merasakan namanya tenang, kini Algi sudah menghancurkan ketenangannya lagi.
"Mau kemana?" Tanya Algi.
"Kepo banget jadi orang, udah ah lepasin. Caca lagi buru-buru." Jawab Echa sambil melepaskan tangan Algi dari genggaman tangannya.
Echa jalan terburu-buru menuju kamar Bara, meninggalkan Algi sendirian menatap kepergian Echa.
"Gue gak yakin Lo bahagian sama dia Ca." Ucap Algi menatap sedih kearah Echa.
Sedangkan disisi lain, Echa membangunkan Bara yang masih memejamkan matanya
"Kakak!" Teriak Echa sambil membuka gorden kamar. Namun bara tak mengindahkan teriakan Echa.
"Kak! Udah siang! Bangun." Ucap Echa sambil menarik selimut Bara.
"Hm.. masih pagi Ca, ngantuk." gumam Bara tanpa membuka matanya.
"Kakak. Bangun, bukanya harus kerumah kak Vero?" Tanya Echa.
Bara tidak menjawab perkataan Echa namun dia langsung membuka matanya menatap kearah Echa.
"Kenapa gak bilang daritadi ca." Jawab Bara yang sudah bangun dari tidurnya.
"Yang lain udah bangun?" Tanya Bara yang kini sedang mengumpulkan kesadarannya.
"Gak tau, mungkin udah soalnya tadi pas lewat ke kamar Kak Nathan, Caca denger suara." Jawab Echa.
"Hm.." gumam Bara yang kini sedang mengambil handuk dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Namun saat Bara melewati Echa untuk melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia menatap kearah Echa.
"Cantik banget pacarku." ucap Bara sambil tersenyum tipis tepat dihadapan Echa, dia langsung berlari ke kamar mandi menghindari teriakan dari Echa.
"Kakak!" Teriak Echa saat Bara sudah berada di dalam kamar mandi.
Namun saat Echa ingin melontarkan perkataannya lagi, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya.
"Ca." Panggil orang tersebut dari ambang pintu.
"Eh, Tante Mala. Maaf teriakan Caca ganggu ya?" Tanya Echa cengengesan yang melihat orang tersebut adalah Nurmala.
"Engga kok, sarapan dulu yuk." Ajak Nurmala sambil tersenyum kearah Echa.
"Yang lain udah bangun Tan?" Tanya Echa.
"Udah, mereka udah dibawah semuanya." Jawab Nurmala.
"Iya Tante. Ayo." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Nurmala. Sedangkan Nurmala menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tante cantik banget pake gaun kayak gini." Ujar Echa yang kini sudah menggenggam tangan Nurmala.
"Ah kamu bisa aja." Ucap Nurmala malu-malu.
"Om Ferdi pasti terpesona liat Tante." Ujar Echa yang memang jujur dengan ucapannya itu, Nurmala sangat cantik hari ini.
"Udah ah, kamu gak bakalan beres muji Tante, nanti kalau muka Tante merah gimana?" Tanya Nurmala.
"Ya maaf Tante, tapi serius gak bohong Tante cantik hari ini. Pangling banget." Jawab Echa.
"Iya Tante juga gak ngenalin muka Tante sendiri pas di cermin." Ucap Nurmala.
Mereka sedang menuruni anak tangga, Echa melihat kearah meja makan yang sudah di tunggu oleh teman-temannya. Dia juga melihat Algi di meja makan tersebut.
"Lama banget Ca. Ngapain dulu?" Tanya Azka yang melihat Echa turun dari tangga bersama Nurmala.
"Tadi Caca bangunin dulu Kak Bara." Jawab Echa.
"Kebiasaan." Ucap Gavin.
"Udah, kalian makan duluan. Bara bisa nyusul nanti." Ujar Nurmala yang menyuruh Echa untuk duduk di kursi kosong.
"Om Ferdi sama Kak Tiara mana Tan?" Tanya Echa yang kini sudah duduk di kursi meja makan tersebut.
"Masih siap-siap, Tante juga harus bantu Tiara, kalian makan duluan ya." Jawab Nurmala.
"Tapi Tante.." ucap Hanin yang langsung di sanggah oleh Nurmala.
"Nanti kalau kalian udah selesai sarapan panggil Tante biar gantian buat bantuin siap-siapnya." ujar Nurmala.
"Tante pergi dulu ya." Sambung Nurmala sambil melangkahkan kakinya pergi dari meja makan.
"Udah, kita makan duluan, Tante Mala sama Om Ferdi pasti lagi butuh bantuan." Ucap Azka.
Mereka semua mengambil makanannya masing-masing. Menikmatinya dengan tenang, hanya terdengar suara dentingan sendok.
10 menit telah berlalu, mereka semua sudah selesai sarapan.
"Ca, Bara kenapa masih belum turun?" Tanya Nathan.
"Gak tau, Caca coba panggil dulu." Jawab Echa sambil membawa sepiring nasi untuk Bara.
"Ren, panggil om Ferdi sama Tante Mala gih." Ucap Gavin kepada Shiren.
"Iya." Ujar Shiren sambil melangkahkan kakinya menuju keruang make up.
"Caca keatas dulu, kalau lama panggil aja ya." Ucap Echa sambil tersenyum manis. Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sedangkan Algi menatap kepergian Echa dengan tatapan penuh penyesalan.
Tak lama kemudian Echa sampai didepan pintu kamar Bara yang tertutup.
"Kak." Panggil Echa. Namun tidak ada sahutan dari Bara.
"Caca buka pintunya ya." ucap Echa sambil membuka pintu kamar yang di tempati Bara.
"Kenapa?" Tanya Bara yang sedang memakai kemeja berwarna putih. Tampan.
"Sarapan dulu." Jawab Echa.
"Kenapa dibawa kesini? Biar kakak aja yang turun." Ucap Bara.
"Biar cepet." Ujar Echa sambil menyuapkan nasi ke mulut Bara yang langsung di terima oleh mulut Bara.
Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Bara, sedangkan Bara sedang memakai jas dan merapikan rambut nya.
Echa terpesona melihat bara berpakaian formal seperti itu, ketampanannya seolah berkali-kali lipat.
"Udah." Ucap Bara yang perutnya sudah kenyang. Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung memberi Bara air minum yang di minum hingga habis tak tersisa.
"Ayo." Ucap Bara sambil mengambil kunci mobil dan handphone yang berada di laci.
Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil membawa piring dan gelas kotor.
Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari kamar, jika di lihat mereka seperti pasangan serasi.
"Lama banget bar, ngapain aja?" Tanya Azka yang sedang melihat kearah Bara sambil memainkan ponselnya.
"Kesiangan." Jawab Bara.
"Udah siap kan?" Tanya Gavin.
"Udah, ayo." Ajak Nathan yang berdiri dari duduknya.
"Yang lain kemana kak?" Tanya Echa yang tidak melihat keberadaan Hanin, Ivy dan Shiren.
"Katanya mau ke Tiara." Jawab Azka.
"Kakak berangkat dulu." Pamit Bara sambil menatap kearah Echa.
"Iya." Ucap Echa sambil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka semua melangkahkan kakinya keluar dari rumah mutiara untuk pergi kerumah Alvero yang mungkin saja akan memarahi mereka karena telat.
Sedangkan Echa melangkahkan kakinya menuju ruang make up, tapi sebelum itu dia menyimpan piring dan gelas kotor ke dapur.
"Kak Tiara, cantik banget." ucap Echa yang melihat Tiara sedang duduk dengan wajah gugup.
"Ca, jangan gitu, lagi gugup nih." ujar Mutiara.
"Iya maaf, beruntung banget Kak Vero milikin Kak Tiara." ucap Echa yang melihat Mutiara sangat cantik.
"Bunda An sama Tante Ros udah kesini?" tanya Mutiara sambil menatap kearah Echa.
"Belum kak, mungkin bentar lagi." jawab Echa sambil duduk di sebelah Mutiara.
"Grogi banget, deg-degan." ucap Mutiara sambil menggenggam tangan Echa.
"Tenang, kalau kakak grogi nanti pas di pakein cincin gemetar tangannya." ujar Echa menenangkan Mutiara.
"Gak bisa." ucap Mutiara.
aku udah nungguin loh, mau up kpn? udah mau 2 tahun loh kamu gk up lagi
udh satu thun thor aku nunggu....aku bulak balik pengen tau thorrrr
aku cari" di tik tok tkut ada novel kamu
download aplikadi lain cuma pengen tau tkut ada ketmu sih thorrrr
tpi sma aja berhnti disisni
q tetp menunggu thorrr