Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Pengantin
El mengerjapkan mata saat mendengar suara yang sedikit berisik. Saat membuka mata ternyata sudah ada Bu Asih dan dokter visite dengan beberapa perawat yang sedang mengecek kondisi papanya. Tidak terasa dia tertidur hampir dua jam, karna sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
El duduk tegak sambil mengucek kedua matanya. Setelah kesadarannya sudah mulai terkumpul, dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
El keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah terlihat segar. Di ruangan Aditya dirawat juga sudah terlihat sepi, sepertinya dokter dan para perawat sudah selesai memeriksa papanya.
El berjalan mendekati Bu Asih yang sedang menyuapi papanya dengan semangkuk bubur.
"Biar El aja yang nyuapin papa Bu," ucap El saat sudah berdiri di sisi ranjang pasien.
"Tidak usah. Papa ingin makan denga Bu Asih saja," ucap Aditya dengan wajah datarnya.
El meraih mangkuk di tangan Bu Asih. Dan memberi kode agar asisten rumah tangganya keluar dan memberikannya waktu untuk El berbicara dengan papanya.
Setelah melihat Bu Asih menutup pintu, El menduduk tubuhnya di kursi yang berada di sisi ranjang. Dia menyendok bubur dari mangkuk dan mengarahkan ke mulut papanya. Namun bukannya menerima suapan putrinya, Aditya justru memalingkan wajahnya.
El menghela nafas panjang. Dia tau papanya pasti masih marah karna kemarin dia menolak perjodohannya dengan Kennan.
"Papa makan dulu, El janji akan menerima perjodohan ini dan hari ini juga El akan menikah dengan Kennan," ucap El. Dan benar saja, Aditya langsung menatapnya dengan wajah tak percaya.
"Benarkah kamu mau menikah dengan putra uncle Michael?" tanya Aditya. Dia masih tak percaya jika pada akhirnya El menerima perjodohan ini.
El menganggukan kepala dengan senyum menghiasi wajahnya. "Papa makan buburnya, kalau tidak El akan kembali menolak perjodohan ini."
Dengan penuh semangat Aditya meraih bubur dari tangan putrinya. Dia menyuap sendiri bubur itu ke mulutnya dengan penuh semangat. Hingga membuat El hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah papanya.
Tokk.. tokk.. tokk..
Terdengar suara pintu rawat papanya yang di ketuk dari luar. El berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju ke pintu.
Ceklek...
Saat pintu terbuka terlihat seorang wanita paruh baya yang berdiri dengan sebuah senyum menghiasi wajahnya.
"Cari siapa ya?" tanya El. Pasalnya dia tidak mengenal bahkan dia belum pernah bertemu dengan wanita paruh baya di depannya. Mungkin salah kamar pikir El.
"Maaf nona, saya Susi asisten pribadi nyonya Mira. Saya kesini untuk mengantarkan ini untuk nona Edelweiss." Susi mengulurkan dua buah paper bag berwarna coklat dengan ukuran cukup besar ke arah El.
"Ohh iya terimakasih mbak," ucap El lalu meraih paper bag dari tangan Susi saat tau aunty Mira sang calon mertua yang mengirimnya.
"Kalau begitu saya permisi nona. Karna tugas saya sudah selesai," ucap Susi dengan membungkukan kepalanya.
"Ehh iya,, sekali lagi terimakasih mbak Susi," ucap El dengan tersenyum.
El menutup kembali pintu saat sudah melihat Susi hilang di ujung lorong. Kemudian dia berjalan menuju sofa, dia meletakan kedua paper bag di atas meja kaca lalu mendudukan tubuhnya ke sofa.
"Apa itu sayang?" tanya Aditya saat melihat El kembali dengan dua buah paper bag.
"Aku gak tau pa, ini dari aunty Mira," ucap El lalu membuka satu persatu paper bag yang dia taruh di atas kedua pahanya.
Saat paper bag di buka terdapat dua buah kotak hitam berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang berbeda di dalamnya. El mengeluarkan satu per satu kotak tersebut dan mulai membukanya. El membelalakan matanya saat melihat sepasang sepatu high heel berwarna putih bermodel ankle strap heels yang sedang hits digunakan para pengantin saat ini berada di dalam kotak tersebut. Dengan penuh semangat El mencoba sepasang sepatu high heels itu di kedua kakinya. Wajahnya terlihat berbinar saat melihat high heel tersebut ternyata sangat pas dan terlihat cantik saat melekat di kedua kakinya.
Masih dengan wajah berbinar setelah melihat high heel cantik, El kembali membuka kotak yang lebih kecil dari sebelumnya. Saat di buka ternyata sebuah flower crown dengan kelopak kecil berwarna putih dan daun keci berwarna hijau.
El meraih paper bag terakhir yang di berikan Susi asisten pribadi Mira. Saat dibuka ternyata di dalamnya lagi-lagi terdapat sebuah kotak persegi berwarna hitam. El meraih kotak persegi tersebut dan mulai membukanya. Belum hilang keterkejutannya dari paper bag sebelumnya, kini El kembali membelalakan matanya saat membuka paper bag terakhir yang berisi sebuah gaun pengantin berwarna putih. El berdiri dan mengangkat gaun itu untuk melihat lebih jelas. Gaun ini berlengan panjang dan memiliki ekor mermaid. Terlihat simple namun elegan. Benar-benar gaun impiannya saat menikah.
Dulu saat mengobrol dengan aunty Mira dia hanya menceritakan model gaun pernikahan yang ingin dia pakai saat menikah. El tidak menyangka jika aunty Mira akan mewujudkan impian gaun pernikahannya.
Aditya yang sejak tadi melihat putrinya hanya bisa tersenyum bahagia. Dia sangat bersyukur karna El akan memiliki ibu mertua yang sangat baik dan menyayanginya.
El terlihat menempelkan gaun pengantin itu di tubuhnya dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Pintu kamar rawat terbuka membuat El mengalihkan pandangan matanya ke dua sosok yang sedang berjalan masuk.
"Itu apa bu?" tanya El saat melihat Bu Asih dan suaminya membawa paper bag dan sebuah kotak make up.
"Kamu bersiap-siaplah dengan Bu Asih untuk pernikahanmu sayang," sahut Aditya.
"Sekarang pa?" tanya El yang melihat jam menunjukan pukul delapan lebih lima belas menit.
"Iya sayang. Karna kita harus sampai ke gedung pernikahan dua jam lagi. Karna kamu akan menikah pukul sebelas siang," ucap Aditya. Sebenarnya tadi pagi sebelum El bangun dia sudah di telepon Michael memberi tahu waktu dan tempat acara pernikahan kedua anak mereka. Aditya memang berkata pada sahabatnya untuk sabar menunggunya membujuk El. Namun siapa sangka tanpa membujuk, putrinya sudah dengan suka rela menyetujui pernikahan ini.
Bahkan saat El sibuk membuka paper bag dari Mira, dia diam-diam mengirim pesan pada Michael untuk mengabari pernikahan kedua anak mereka benar-benar akan berlangsung siang ini.
"Apa tidak bisa diundur sampai malam pa? Atau minimal sore. Ini benar-benar terlalu cepat pa," ucap El memelas.
"Tidak bisa sayang, papa takut kamu akan berubah pikiran," sahut Aditya.
"Tidak pa, El tidak akan berubah pikiran," jawab El.
"Tidak akan ada yang tau kapan tuhan membolak balikan hati hambanya. Buktinya saja semalam kamu menolak mentah-mentah perjodohan ini. Namun pagi ini kamu tiba-tiba menerima perjodohan ini dengan suka rela," ucap Aditya. El hanya bisa menghela nafas panjang. Pasalnya yang di katakan papanya memang benar adanya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya para reader kesayangan author😘😘
gimn Megan thort