NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. KEMENANGAN TANPA KEANGKUHAN

..."Dalam kemenangan sejati, bukan musuh yang dikalahkan, melainkan kebodohan yang diusir."...

...---•---...

"Astaga!"

"Bagaimana bisa?"

"Tidak ada mantra... tidak ada kemenyan... tapi kok sembuh?"

Suara-suara saling tumpang tindih. Mata berbinar. Tangan menunjuk. Beberapa orang berdiri, menjulurkan leher agar bisa melihat lebih jelas.

Doni mengangkat tangan. "Ini bukan ajaib." Suaranya memotong keributan. "Pak Sarto belum sepenuhnya sembuh. Masalah di tulang punggungnya butuh perawatan lama. Tapi rasa sakitnya bisa dikurangi dengan cara yang tepat."

Ia menatap Pak Sarto. "Saya akan ajarkan beberapa gerakan yang harus Bapak lakukan setiap hari. Untuk memperkuat otot punggung. Dan Bapak harus hindari mengangkat beban berat dulu sampai kondisi membaik."

Pak Sarto membungkuk. Tangan gemetar menyeka sudut matanya. Bibirnya bergerak seperti ingin bicara, tapi hanya anggukan berulang yang keluar. Akhirnya suara parau lolos. "Terima kasih, Nak. Ini pertama kali dalam tiga bulan aku bisa berdiri tanpa kesakitan luar biasa."

Ki Darmo berdiri kaku. Wajahnya merah padam. Urat di leher mencuat. "Ini hanya kebetulan!" Suaranya bergetar. "Atau mungkin efek dari ritual yang sudah kulakukan tadi! Rohnya sudah kuusir, makanya sekarang bisa sembuh!"

Tapi suaranya kurang meyakinkan. Bahkan pengikut setianya terlihat ragu. Pandangan mereka beralih antara Ki Darmo dan Pak Sarto yang masih berdiri tegak.

Pak Wiryo melangkah maju. "Ki Darmo." Suaranya hormat tapi tegas. "Kami semua menyaksikan. Setelah ritual Bapak, Pak Sarto masih kesakitan. Setelah Doni melakukan pemijatan, sakitnya berkurang." Ia menatap sekeliling. "Itu fakta yang kami lihat sendiri."

"Tapi ini bisa jadi pengaruh setan!" Ki Darmo bersikeras. Nada putus asa mulai merasuki suaranya. "Setan bisa memberikan kesembuhan palsu untuk menipu orang!"

Seorang perempuan tua dari kerumunan berteriak. "Kalau memang setan, kenapa Tari sembuh dan tetap sehat sampai sekarang? Kenapa Mbok Supi selamat dari luka busuk yang harusnya membunuhnya? Itu sudah seminggu, bukan kesembuhan sementara!"

Suara lain bergabung. Seperti bendungan yang jebol.

"Benar! Anakku yang kudis sudah sembuh total!"

"Ibuku yang batuk berdarah sudah jauh membaik!"

"Luka bakarku sembuh tanpa bekas parah!"

Satu suara menonjol dari yang lain, seorang lelaki paruh baya dengan wajah penuh luka parut. "Demamku yang tak kunjung reda, sembuh dalam dua hari setelah Doni kasih ramuan!"

Mbah Darmi, perempuan tua yang kemarin Doni temui di hutan, berdiri dengan bantuan tongkatnya. Punggung bungkuk tapi tatapannya tajam. Suaranya tua namun keras membelah kerumunan.

"Aku sudah hidup tujuh puluh tahun lebih." Semua mata beralih padanya. "Sudah melihat banyak dukun datang dan pergi. Ki Darmo." Ia menatap dukun tua itu. "Aku menghormati ilmumu. Sungguh. Tapi aku juga melihat banyak orang mati meskipun sudah kau obati dengan berbagai ritual." Jeda sejenak. "Sementara Doni, dalam waktu singkat, sudah menyelamatkan nyawa yang seharusnya hilang." Ia mengetuk tongkatnya ke tanah. "Mungkin sudah waktunya kita membuka pikiran untuk cara yang baru."

Keheningan mengikuti. Perkataan dari sesepuh kampung membawa bobot besar. Bahkan Ki Darmo tidak bisa membantah tanpa terlihat tidak menghormati.

Pak Lurah bangkit. Mengangkat tangan. "Saya rasa kita sudah melihat cukup." Suaranya penuh wibawa. "Doni telah membuktikan caranya berhasil. Itu tidak berarti cara lama sepenuhnya salah." Ia menatap Ki Darmo sejenak. "Tapi kita harus mengakui ada pengetahuan baru yang bisa membantu kita."

Ia berbalik pada kerumunan. "Saya, sebagai kepala kampung, menyatakan bahwa Doni boleh melanjutkan praktiknya tanpa gangguan."

Tepuk tangan meledak. Sorak-sorai. Beberapa orang melompat. Yang lain saling berpelukan.

Ki Darmo berdiri sendirian. Sesajen di sekelilingnya kini terlihat seperti perhiasan yang kehilangan kilau. Wajahnya keras seperti batu. Tapi matanya... ada kekalahan di sana. Dalam. Menyakitkan.

Ia menatap Doni. Pandangan campur aduk. Benci. Iri. Dan sesuatu lagi.

Rasa hormat?

"Kau menang malam ini, anak muda." Suaranya rendah ketika mereka berpapasan. Hanya Doni yang mendengar. "Tapi ingat, ilmu baru tidak selalu lebih baik dari ilmu lama. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika." Ia berhenti sejenak. "Dan suatu hari, kau akan mengerti itu."

Doni menatap mata tua itu. Melihat beban puluhan tahun di sana. Kebijaksanaan. Kebanggaan. Kehancuran. "Saya tidak ingin mengalahkan Bapak, Ki." Suaranya tulus. "Saya hanya ingin menolong orang. Kalau kita bisa bekerja sama..." Ia mengulurkan tangan. "Menggabungkan pengetahuan Bapak tentang tanaman lokal dan pengalaman dengan pengetahuan saya tentang bagaimana tubuh bekerja, kita bisa menolong lebih banyak orang."

Ki Darmo terdiam. Menatap tangan yang terulur. Wajahnya berubah-ubah. Terkejut. Bingung. Untuk sesaat ada kilatan sesuatu. Harapan? Lalu ia menggeleng. "Terlalu tua untuk belajar cara baru." Suaranya lelah. Sangat lelah. "Tapi... mungkin muridku suatu hari bisa belajar dari pengalamanmu."

Ia berbalik. Berjalan keluar dari lingkaran dengan langkah yang terasa lebih berat. Punggung membungkuk. Tongkat menyeret tanah. Sekelompok kecil pengikut setia mengikuti dengan wajah murung.

Kerumunan mulai bubar. Tapi banyak yang mendekati Doni. Mengucapkan selamat. Mengungkapkan dukungan. Meminta jadwal berobat. Pak Wiryo dan Pak Karso harus membantu mengatur agar tidak terlalu berkerumun.

Seorang lelaki muda dengan pakaian cukup rapi mendorong maju. Wajahnya tegas. Mata cerdas. "Namaku Sadiman. Aku guru di sekolah desa kampung sebelah." Ia mengulurkan tangan. "Aku sudah mendengar tentangmu, tapi malam ini aku melihat langsung. Luar biasa."

"Terima kasih." Doni menjabat tangannya.

"Aku ingin belajar darimu." Sadiman melanjutkan dengan serius. "Bukan untuk jadi tabib. Tapi agar aku bisa mengajarkan anak-anak tentang tubuh manusia. Tentang kebersihan. Cara mencegah penyakit." Matanya berbinar. "Pengetahuan seperti itu lebih berharga daripada hanya mengajari mereka membaca dan menulis."

Sesuatu mekar di dada Doni. Hangat. Ini yang ia butuhkan. Seseorang yang bisa menyebarkan pengetahuan. Mengajarkan generasi muda. Satu tabib tidak cukup untuk mengubah kampung. Apalagi daerah lebih luas. Tapi kalau pengetahuan bisa disebarkan, diajarkan, efeknya akan jauh lebih besar.

Seperti menanam benih.

"Aku akan dengan senang hati berbagi." Senyum Doni tulus. "Datang saja ke balai kampung kapan pun kau punya waktu."

Sadiman membungkuk hormat. "Terima kasih. Ini akan mengubah banyak hal."

Kerumunan akhirnya benar-benar bubar. Api unggun mulai meredup. Bara merah bersinar redup di antara abu. Bulan purnama bersinar terang di atas, memberikan cahaya cukup untuk melihat jalan pulang.

"Kau berhasil." Karyo berjalan di sampingnya dengan senyuman lebar. "Kau benar-benar berhasil!"

"Bukan mengalahkan." Doni mengoreksi. "Hanya membuktikan ada cara lain yang juga berhasil."

Pak Wiryo menepuk bahunya. Tepukan keras yang terasa seperti persetujuan ayah. "Tetap saja, ini kemenangan besar. Sekarang kau tidak perlu takut lagi. Kau punya dukungan kampung."

Tapi Doni tidak merasa sepenuhnya lega. Dadanya masih sesak.

Ini baru permulaan.

Dukungan kampung kecil ini bagus. Tapi ada kekuatan lebih besar di luar sana. Pemerintah kolonial. Sistem ekonomi yang menindas. Penyakit-penyakit yang tidak bisa ia sembuhkan tanpa peralatan modern.

"Ayo pulang." Pak Karso berkata bijaksana. "Besok akan sibuk lagi. Setelah malam ini, akan lebih banyak orang datang."

Mereka berjalan melalui jalan kampung sepi. Gubuk-gubuk gelap. Hanya pelita di beberapa rumah yang masih menyala. Anjing menggonggong di kejauhan. Angin malam membawa aroma bunga kamboja dan tanah basah.

Di gubuk Pak Karso, Mbok Wulan sudah menyiapkan makanan meski larut. Nasi. Sayur asem. Ikan asin. Tari tidur di tikar, napasnya teratur dan tenang. Bukti hidup dari kesembuhan nyata.

"Aku dengar kau menang." Mbok Wulan menyajikan makanan. Wajahnya lelah tapi tersenyum. "Seluruh kampung akan bicara tentang ini berhari-hari."

"Semoga membawa hal baik." Doni menjawab sambil duduk di lantai.

Mereka makan dalam diam yang nyaman. Kelelahan hari panjang mulai terasa di tulang-tulang. Tapi ada juga kepuasan. Kepuasan mengetahui hari ini ia membuat perbedaan.

Setelah makan, Doni berbaring di tikarnya. Melalui celah dinding bambu, ia bisa melihat bulan yang masih bersinar terang. Cahayanya menembus, membentuk pola garis-garis di lantai tanah.

Di kehidupan lama, aku mungkin di apartemen ber-AC. Menonton TV. Main ponsel.

Tapi di sini, dengan lantai tanah dan atap bambu, ia merasa lebih dekat dengan sesuatu yang fundamental.

Lebih dekat dengan tujuan hidup yang sebenarnya.

Matanya mulai tertutup. Kesadaran melayang antara terjaga dan tidur. Gambaran-gambaran dari hari ini berputar. Wajah lega Pak Sarto. Sorak-sorai kerumunan. Tatapan kalah Ki Darmo. Tawaran Sadiman untuk belajar.

Tiba-tiba, ada suara. Jauh. Seperti gema dari tempat yang tidak ia kenali.

Ia membuka mata sejenak. Menatap bayangan yang bergoyang di dinding. Bentuk-bentuk aneh yang terbentuk dari cahaya bulan dan celah bambu.

Masih banyak nyawa yang perlu diselamatkan. Masih banyak pengetahuan yang perlu disebarkan.

Tapi untuk malam ini, cukup.

Untuk malam ini, ia sudah melakukan yang terbaik.

Dan besok, pertarungan baru akan dimulai lagi.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
Chimpanzini Menolak Nepotisme
akhirnya tari berhasil juga melawan penyakitnya. good job Doni, good job thor/Determined//Determined/
Chimpanzini Menolak Nepotisme
vigil itu apa thor?
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!