RCR S1 ~ Bercerita dimana seorang gadis SMA berkepribadian ceria, humoris dan juga ceroboh yang sering mengalami mimpi yang sangat aneh. Yaitu, menjadi seorang Putri Kerajaan Eropa Abad Pertengahan dengan gaun mewah serta permata indah yang terbalut di tubuhnya. Tidak hanya sampai disitu, terdapat seorang lelaki bernama Ken yang tidak lain adalah teman sekelasnya yang memiliki paras sangat serupa dengan Pangeran yang ada dalam mimpinya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada rahasia di balik itu semua?
RCR S2 ~ Bercerita dimana terbukanya rahasia kepingan puzzle dalam mimpi yang selama ini dialami oleh Ruby. Gadis itu secara ajaib terlempar di kehidupan masa lalunya. Yaitu, Kerajaan Eropa Abad Pertengahan. Disinilah ia harus terjebak dalam dunia kerajaan yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan rahasia, intrik, dan pengkhianatan. Hingga akhirnya, kepingan puzzle itu akan terbuka seutuhnya. Gadis itu menemukan Reinkarnasi Cintanya. Reinkarnasi Cinta Ruby.
RCR S3 ~ Kembalinya Ruby di kehidupan asalnya. Namun, takdir baru telah siap menyambutnya. Sebuah dunia dimana ia merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Sebuah profesi yang membuat gadis itu lebih menghargai setiap detak jantung karena ia bisa berhenti tiba-tiba, kapan saja. Profesi yang menuntut pengorbanan besar, demi menyelamatkan nyawa manusia.
(First novel yang acakadulnya akan dibuat sebagai kenang-kenangan 😂)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diar Rochma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
It's Time to Change
🌻
Cuaca pagi hari cukup cerah secerah suasana hatiku saat ini. Dengan mentari yang merekah dan embun pagi yang menempel di dedaunan, aku pun mengawali hari dengan penuh semangat. Setelah belajar bersama Timus di rumah Ken kemarin, aku menjadi lebih percaya diri untuk menghadapi ujian Matematika hari ini. Timus juga memberikan kami catatan kecil dari prediksi soal-soal yang akan keluar di ujian Matematika nanti. Memang jika sudah rejeki tak akan kemana.
Aku mengayuh sepeda pink kesayanganku dengan cepat sehingga angin dapat menerpaku dan menyejukkan hatiku. Kulewati jalan demi jalan dengan hati yang riang seperti burung yang terbang dengan senangnya. Hingga tak terasa aku sudah mengayuh sepeda hampir sampai di depan pintu gerbang sekolah. Namun sebelum aku memasuki pintu gerbang, aku melihat banyak murid perempuan yang memakai seragam sama denganku sedang berdiri seolah mereka sudah lama menunggu kedatangan seseorang.
Mereka bergerombol dan jumlahnya kurang lebih ada enam anak perempuan. Saat aku ingin melewati mereka, tiba-tiba mereka menghadangku dengan tatapan penuh amarah dan wajah yang penuh kekesalan. Entah apa yang kulakukan hingga membuat mereka begitu marah. Mereka mendorongku hingga aku terjatuh dan tertimpa sepeda pink kesayanganku.
Bruaaaakkh!
"Ahh sakitttttt ... siapa kalian? Kenapa kalian dorong aku? Kalian gila ya?" tanyaku yang tengah terjatuh dan tertimpa sepeda di jalanan yang sepi.
"Hahaha oh jadi ini si udik yang godain Ken, punya kaca nggak sih di rumah?" sahut salah satu murid perempuan dengan paras wajah yang biasa-biasa saja namun sok kecantikan.
"Oh, jadi mereka para fansgirlsnya Ken yang Bar-bar itu," gumamku dalam hati.
"Berani ya kamu ngajak Ken belajar bareng, di rumahnya lagi, pake pelet apa kamu? Kita yang cantik-cantik gini aja belum pernah menginjakkan kaki ke rumah Ken," timpa murid perempuan itu lagi.
"Hah? Pelet apa'an? Pelet ikan lele? Ken sendiri kok yang ngajak belajar di rumahnya bukan aku, kita belajarnya juga bareng sama anak banyak, nggak berduaan doang. Kalian nggak perlu terlalu khawatir kali," ucapku.
"Alah, alesan aja, yuk guys kita kasih dia pelajaran," perintah salah satu murid perempuan yang berparas lumayan cantik yang nampaknya itu adalah bos dari mereka.
Mereka pun mulai melakukan perundangan terhadapku, menjambak rambutku, menendang tubuhku, dan sengaja menusuk ban sepedaku hingga kempis. Tidak hanya sampai disitu mereka juga mengguyurku menggunakan air got yang ada di jalanan hingga sekujur tubuhku berbau busuk dan menyengat. Setelah itu mereka pergi begitu saja meninggalkanku. Entah apa yang kulakukan hingga mereka bisa melakukan ini semua. Hanya karena Ken, lebih tepatnya karena mereka menganggap aku jelek dan tidak pantas untuk Ken bahkan hanya untuk menjadi temannya.
Namun setiap orang yang sudah terlanjur membenci kita, akan melakukan apapun untuk menyakiti tanpa alasan bukan? Aku mulai membangkitkan tubuhku yang tengah basah dan bau, kurasa sudah tidak mungkin lagi untuk kembali ke rumah karena sekarang adalah hari penting ujian, dan jarak kembali ke rumah sudah terlampau jauh.
Aku pun menuntun sepedaku sambil terus berjalan menuju ke sekolah yang sedikit lagi sampai. Sesampainya di parkiran, jelas semua mata tertuju padaku, tidak hanya murid perempuan namun murid laki-laki juga melihat ke arahku sambil berlomba menutupi hidung mereka masing-masing. Mereka semua menatapku dengan penuh hinaan.
"Heh lihat tuh, kenapa tuh anak?"
"Abis kecebur got kali, tolongin gih sana!"
"Gak mau ah, jelek anaknya hahahaha,"
"Ah dasar kalau cantik aja mah cepet!"
"Kasihan ya udah jelek, miskin, bau, hidup lagi hahahahaha,"
Mereka berbisik-bisik, namun suara mereka terdengar sangat nyaring sehingga sampai di telingaku. Mereka justru sengaja menjadikanku tontonan seolah keledai bodoh yang usai terjatuh dalam lubang air kotor. Tak ada satupun yang menolong ataupun menghampiri. Walaupun begitu aku juga tidak mengharapkan pertolongan dari siapapun. Hingga akhirnya ada seseorang yang berjalan menghampiriku. Dia adalah Anton.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hoy, Ruby jelek ngapain kamu disitu?" Dia berjalan menghampiriku yang tengah menjadi tontonan dalam kerumunan.
Aku hanya bergidik dan bergeming, seolah sedang berpura-pura tegar namun nyatanya aku sendiri amat sangat malu dengan keadaanku saat ini.
"Hei kalian semua ngapain ngunpul disini? Kurang kerjaan ya? Pergi sana!" ucap Anton yang mencoba membubarkan kerumunan.
Aku mengerti bahwa kini Anton sedang berniat baik untuk menolongku, namun entah mengapa aku justru merasa sangat malu. Seolah ini adalah hari terburukku dan aku sudah tidak mempunyai muka lagi untuk melihat wajahnya. Aku pun akhirnya berjalan menuju ke kelas dan meninggalkan mereka semua. Aku mempercepat langkahku kemudian berlari. Tak terasa air mata yang sengaja kutahan supaya tidak keluar sedari tadi, akhirnya memaksa untuk keluar begitu saja dan tersapu angin yang mengiringiku saat berlari.
"Hoy Ruby jelek tungguin." Terdengar suara Anton dari belakang yang mencoba mengejarku.
Namun aku tetap terus berlari hingga langkahku akhirnya terhenti di depan kelas. Lagi-lagi semua mata tertuju padaku. Dengan keadaan tubuh yang basah dan bau, aku terus berjalan masuk menuju ke tempat dudukku, sepertinya Anggita, Nina, dan Sabina belum ada yang datang. Aku pun duduk di tempat dudukku seorang diri. Disisi lain teman-teman yang lainnya masih terus menatapku sinis dengan gunjingannya. Bukan hanya perkataan mereka yang membuatku begitu suram, namun juga perlakuan mereka.
Mengapa dengan mudahnya mereka melakukan perundungan, mengapa dengan mudahnya mereka membuat tatapan-tatapan hinaan seolah untuk merendahkan. Jika fisik memang sangatlah berperan penting untuk mendapatkan perlakuan khusus, kurasa aku sudah tidak dapat menahannya lagi. Kini aku menunduk entah karena malu atau kesal, mataku tak tertuju menatap entah ke titik apa, yang jelas sudut mataku fokus ke satu arah, pikiranku melayang dalam lamunan.
Akhirnya kuputuskan untuk menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin lagi melakukan penyamaran yang justru membuat mereka memperlakukanku dengan seenaknya. Aku akan menunjukan kepada mereka bahwa aku bukanlah Ruby yang dengan mudahnya mereka hina lagi. Aku akan menghentikan penyamaranku, aku ingin membeli kembali mulut-mulut mereka yang menghinaku dan menyakitiku seperti tadi.
***
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
cinta yg sangat menyentuh hati
tetap semangat berkarya
TRUE BEAUTY
lah klo pantasi itu nama MC di sebut tanpa ada kata AKU ,