Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Visual Danish 👆
Danish yang kalang kabut, berupaya mencari bantuan. Ambulance segera datang. Tempat yang cukup sepi itu akhirnya dihadiri beberapa orang. Mereka memperhatikan Danish yang terlihat babak belur. Mereka bisa menebak bahwa tadinya pasti terjadi perkelahian antara dua pria ini.
Evans berada di IGD saat ini. Pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga pasien. Orang tua Evans sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Danish terlihat sangat panik. Wajahnya tampak pucat karena takut. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Evans? Tentu dia akan masuk ke penjara. Keluarga Evans pasti akan menuntutnya.
Di tengah pikirannya yang berkecamuk seorang perawat menawarkan agar lukanya juga diobati. Danish mengangguk dan dia pergi ke ruang pengobatan.
***
Tuan dan Nyonya Ducan sudah sampai di rumah sakit. Mereka terburu-buru menuju ke lokasi IGD. Tampak Danish yang masih uring-uringan di sana sedang duduk menunggu. Danish langsung berdiri begitu melihat dua orang berusia sekitar empat puluh tahunan sedang terburu-buru berjalan cepat ke arahnya.
"Apa yang terjadi? Apa kamu yang membawanya ke rumah sakit?" Tuan Ducan bertanya. Danish hanya mengangguk.
"Bagaimana keadaan Evans? Kenapa tiba-tiba masuk rumah sakit?" Nyonya Ducan menangis. Tuan Ducan langsung memegang bahu Nonya Ducan.
"Evand masih di IGD , Tante, Om. Maafkan saya. Kami berkelahi dan terjadi seperti ini." Danish menunduk berupaya jujur. Seketika itu juga mata Tuan Ducan membulat sempurna, aura kemarahan langsung memenuhi dirinya.
"Jadi kau yang membuat putraku masuk rumah sakit?" Tuan Ducan menarik kerah baju Danish. Membuat suasana menegang.
"Sudah, Pah!" Nyonya Ducan menarik Tuan Ducan.
"Akan kutuntut kau supaya membusuk di penjara!" Danish menelan salivanya.
"Putra om sudah merusak adik saya, itu sebabnya kami berkelahi. Saya tidak menyangka akan seperti ini." Danish menjelaskan.
"Putraku kudidik dengan baik. Tidak mungkin dia seperti itu. Kalau pun begitu pasti adikmu yang menggoda putraku. Dan jangan harap kau bebas dari hukuman," ucap Tuan Ducan penuh penandasan.
Sebelum Danish menanggapi, dokter keluar dari IGD.
"Keluarga pasien?"
"Kami orang tuanya, Dokter," ucap Nyonya Ducan cepat.
"Bagaimana keadaan putra saya, tolong jelaskan secara detail, Dokter?" Tuan Ducan mendesak.
"Pasien sulit bernafas jadi kami akan memasang alat bantu pernafasan. Dia mengalami perdarahan masif di sekitar ulu hati akibat pukulan keras, untuk itu kami perlu melakukan kontrol perdarahan secara definitif. Walaupun tidak ada organ dalam yang pecah tetapi pasien masih koma. Dia juga mengalami cedera kepala ringan. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU," ucap dokter berupaya menjelaskan keadaan Evans yang rumit menjadi sesederhana mungkin agar keluarga pasien memahami maksudnya.
Jantung Danish berdebar mendengar penjelasan itu. Tangannya dingin seperti es. Sementara, seketika itu juga tubuh Nyonya Ducan lemas, hampir terjatuh. Untung Tuan Ducan cepat-cepat memegangnya.
"Apa putraku akan selamat, Dokter?" tanya Nyonya Ducan semakin panik dan mulai menangis.
"Ibu tenang dulu. Tim kami akan memantau terus keadaan pasien," jawab dokter dengan serius.
"Lakukan yang terbaik, Dokter. Selamatkan putra kami." Tuan Ducan sangat khawatir.
"Baik Pak, kami akan berupaya semaksimal mungkin."
"Terimakasih, Dokter," ucap Tuan Ducan.
"Sama-sama, Pak."
Lalu, Evans segera dipindahkan ke ruang ICU. Tuan Ducan menatap tajam wajah Danish. Danish hanya bisa menunduk. Di dalam hati dia merasa sangat bersalah.
"Maafkan saya Om, Tante," ucap Danish tulus.
"Kau akan mendekam di penjara. Dan kalau putraku tidak selamat, kupastikan kau akan membusuk di sana," ucap Tuan Ducan.
Seusai itu, Danish kembali ke rumah. Pikirannya kalut.
"Kakak pulang? Sudah makan siang belum?" sapa Erika ceria sambil menyimpan buku pelajarannya ke kamar.
"Erika, Erika. Bagaimana ini?" Danish berucap dengan suara rendah, kepanikan yang kental terasa jelas dari nada suaranya. Dia langsung menghempaskan badan di kursi ruang tengah.
"Kakak kenapa? Kakak sakit?" Erika datang mendekati, hendak memegang dahi Danish. "Ini wajah Kakak kenapa memar-memar begini?" tanyanya terkejut bukan main.
"Erika," tutur Danish masih dengan suara rendah.
"Kamu kenapa Danish?" Wilma baru saja membolak-balik pakaian di jemuran agar segera kering.
"Bu, Erika. Aku... Akhh!" Danish sangat gelisah bingung harus menjelaskan dari mana.
"Ada apa, Kak?" Wilma dan Erika mulai ikut cemas.
Benar saja, belum sempat Danish bercerita, tidak berapa lama polisi datang membawa surat perintah untuk menangkap Danish. Tetangga yang melihatnya pun langsung gempar dan mulai berkerumun di dekat rumah Wilma.
***
"Pak, saya juga luka-luka. Apa Bapak tidak lihat?" ucap Danish membela diri.
"Saudara bisa membuat pembelaan di kantor polisi. Mari ikut kami."
"Tunggu, kesalahan anak saya apa, Pak?" tanya Wilma menahan. Erika mulai panik.
"Anak Ibu terlibat perkelahian yang membuat seseorang sekarang terbaring koma," jelas polisi.
"Hah?" Erika dan Wilma sangat terkejut. Mereka saling menatap tak percaya.
"Kak, apa benar kata-kata Bapak ini?" tanya Erika dengan suara sedikit meninggi karena rasa terkejut. Danish terdiam tak mampu menjawab pertanyaan adiknya. Erika mengalihkan pandangan ke salah satu polisi.
"Tidak mungkin. Kak Danish tidak mungkin begitu, Pak!" Erika setengah berteriak.
"Korban bernama Saudara Evans Ducan. Sekarang berada di Rumah Sakit Eye Center," jelas polisi lagi.
Mendengar itu rasanya Erika bak di sambar petir. Erika menutup mulutnya yang spontan terbuka. Dia shock dan menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin."
"Kak Evans, Kak Evans koma?" tanyanya dengan nada tak percaya.
"Mari ikut kami." Kedua polisi hendak menggiring Danish.
"Tunggu, Pak." Erika meraih lengan Danish.
"Apa yang Kakak lakukan? Kenapa Kak Evans bisa koma?" Erika mulai terisak. Danish diam seribu bahasa.
"Tenangkan dirimu, Erika," ucap Wilma.
"Pak, anak saya juga luka-luka. Itu berarti anak saya juga dianiaya sama si Evans itu. Kalau begitu kami bisa tuntut baliklah, Pak." Wilma berbicara tegas.
"Untuk selanjutnya ini bisa dibahas di kantor polisi, Bu."
Danish pasrah digiring dua orang polisi tersebut. Semua tetangga yang berkerumun mulai berbisik-bisik.
"Erika, kamu tetaplah di rumah. Jangan lupa angkat jemuran nanti. Kalau Ibu lama kembali, setrika saja semua, soalnya besok harus diantar ke pelanggan." Erika diam saja.Tak satupun perkataan ibunya yang didengarnya. Pikirannya benar-benar kacau.
Selesai memberi amanat, Ibu Wilma cepat-cepat ke kamar mengambil dompetnya dan dengan cekatan mengikuti polisi masuk ke mobil menemani Danish.
Erika menutup pintu rumahnya, sama sekali tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan tetangga yang begitu banyak.
"Kak Evans..koma? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya?" Erika bertanya-tanya di dalam hati. Lalu tanpa pikir ini itu, dia langsung bersiap-siap, bergegas pergi ke rumah sakit. Pikirannya penuh dengan Evans. Dia ingin segera melihat keadaan Evans.
***
Visual Erika 👆
Bersambung.
Klik like nya donk. Episode yang belum di like coba di like dulu hehehe. Nanti biar author update lagi hari ini. Ya? 😉