Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Deva Ngeselin!
...[Beri like dan vote]...
Disisi lain di waktu yang sama di luar Negeri. Terlihat Papa Hendra dan Mama Dina disertai Deva masuk ke dalam mansion. Ketiganya baru saja dari rumah sakit dan sudah selesai memeriksa Deva hari ini.
Deva berlari menghampiri Bu Ellen yang menunggu cucunya itu pulang.
"Nenek ...." panggil Deva. Bocah itu mulai terlihat membaik dan mulai seperti dulu.
"Wah, cucuku dah pulang." ucap Bu Ellen membelai rambut Deva. Deva cuma mengangguk sambil tersenyum. Bu Ellen pun melihat Mama Dina lalu menunduk menghargai kebaikannya. Mama Dina cuma tersenyum manis.
Bu Ellen pun meraih tangan Deva lalu berjalan bersama dengan cucunya menaiki tangga untuk mengantar Deva ke kamarnya.
Terlihat Deva berjalan kegirangan sambil senyum-senyum setelah dari rumah sakit. Bu Ellen yang melihat tingkah lucunya hanya tertawa kecil dalam hati.
Sesampainya di kamar Deva. Bu Ellen pun mengelus rambut Deva lalu melihatnya sambil berkata,
"Nenek ke bawah dulu ya, mau bantu siapkan makan malam. Kalau ada sesuatu, Deva panggil Nenek saja ya."
"Hm, baik Nek." Deva tersenyum manis. Bu Ellen pun pergi dari kamar Deva.
Sekarang cuma bocah itu yang ada di dalam kamarnya. Ia terlihat menaiki ranjangnya untuk istirahat dan tiba-tiba saja suara panggilan masuk terdengar dari laci meja di sampingnya.
"Eh, siapa yang menghubungiku Sore ini?"
Deva pun turun dari ranjangnya lalu mengambil ponselnya.
"Eh, Dean?"
"Tumben dia menghubungiku sekarang, biasanya dia telepon kalau sudah malam." lanjut Deva bergumam merasa heran.
Deva kemudian mengangkat panggilan 'video call' itu lalu terdengar suara kecil dari sebrang panggilan.
"Sore, Kak Deva." sapa Dean tersenyum manis.Terlihat gadis kecil itu duduk di atas ranjangnya sambil menyandarkan punggungnya ke bantal yang bertumpukan.
"Sore juga, ada apa?" tanya Deva yang juga duduk di atas ranjangnya.
"Ano ... itu," Dean agak bingung mau menjelaskan kondisi Ibunya yang mulai aneh.
"Ada apa?" tanya Deva sekali lagi.
"Huft ...." Dean menghela nafas sebentar lalu memberitahukan jika Ibunya tadi membentak dirinya dan mulai kasar. Dari penjelasan Dean, tentu Deva agak terkejut.
"Masa sih, Mami itu orangnya kan baik dari dulu. Mana mungkin kasar." Deva terlihat tak percaya. Memang Deva tahu sifat Ibunya yang lembut. Karena selama lima tahun ini, ia selalu diperhatikan oleh Ibunya dan tak pernah kasar sama sekali.
"Duuh ... Kak Deva. Kakak percaya saja napa!"
"Mami itu tadi bertengkar juga sama Papi." lanjut Dean agak kesal mendengar respon Deva. Sontak Deva terkejut setelah mendengarnya.
"Bertengkar?" tanya Deva memastikan sekali lagi.
"Ya, Kak." jawab Dean.
"Hm, apa yang sekarang terjadi di sana?" gumam Deva memikirkan masalah yang terjadi di rumah Ayahnya itu.
"Oh ya, Kak Deva. Tadi itu juga mata Mami beda." ucap Dean ingat dengan perubahan Ibunya.
"Beda apanya?"
"Itu, Kak. Mata Mami berwarna merah." jawab Dean dan itu membuat Deva terkejut.
"Mata merah?" batin Deva. Ia mulai ingat pernah melihat mata Ibunya juga berwarna merah dan hampir melihat Ibunya bunuh diri. [Ada di part 102 musim 1, kalian bisa cek dipart itu]
"Kak Deva, apa Mami kesurupan?" tanya Dean mulai menebak-nebak.
"Hm, waktu itu Mami tak ada yang merasukinya. Tapi, kalau memang Mami kesurupan. Papi tentunya bisa menyembuhkan Mami." gumam Deva dalam hati memikirkan Ibunya yang dikatakan oleh Dean.
"Kak Deva!" panggil Dean dengan nada tinggi.
"Astaga! Suaramu berisik tau!" cetus Deva mencolek telinganya yang mulai sakit.
"Iih, itu juga karena Kak Deva diam saja. Kak Deva jawab dong!" Dean tak kalah cetusnya dengan Deva.
"Iya, ini juga aku lagi mikir tau! Jangan suka bentak-bentak! Nanti cepat tua!" tegas Deva pada panggilan itu.
"Tau ah! Kak Deva ngeselin!" Dean cemberut di depan ponselnya.
"Pfft dasar bodoh." ejek Deva ingin tertawa melihat ekspresi imut adiknya itu.
"Hmp! Ngeselin!" Dean berpaling muka lalu ia teringat dengan Gio.
"Oh ya, Kak Deva. Tadi itu aku juga ketemu teman baru lho."
"Teman baru? Siapa?" tanya Deva mulai penasaran.
"Hihi ... ada deh. Kak Deva kepo." jawab Dean tertawa kecil. Deva yang melihatnya cuma bisa memutar bola mata jengah.
"Bari tahu aku juga, siapa temanmu!" pinta Deva masih penasaran.
"Dia perempuan atau laki-laki?"
"Anak kecil atau orang besar?"
"Orangnya baik, kan?"
"Kamu dapat teman dari mana?"
"Ayo jawab pertanyaanku!"
Itulah yang dikatakan Deva membuat Dean tercengang terdiam di kasurnya.
"Kak Deva ini seperti mengintrogasiku saja." ucap Dean.
"Eh, itu kan sudah kewajibanku. Kata Papi, aku disuruh buat ngawasin kamu." ucap Deva dengan tampang coolnya.
"Dih," risih Dean melihatnya begitu percaya diri.
"Kalau Kak Deva mau tahu. Kak Deva pulang saja sekarang, hehe ...." tawa kecil Dean tak mau mengatakannya.
"Baiklah, tinggal sebulan lagi aku akan pulang." ucap Deva membuat Dean terkejut. Gadis kecil itu langsung tersenyum lebar merasa senang kakaknya akan pulang walau pun begitu itu masih lama bagi Deva.
"Yes, bagus dong." ucap Dean. Deva cuma mengangguk saja.
"Ya sudah, aku tutup panggilannya. Kak Deva nanti malam kita telponan lagi ya." ucap Dean tersenyum manis.
"Hm, baiklah." Deva ikut tersenyum lalu mematikan panggilan itu. Bocah tampan itu mulai sedang memikirkan Ibunya lagi.
"Hm, moga saja Mami dan yang lainnya baik-baik saja di sana. Entah kenapa sekarang perasaanku tak baik setelah mendengar perkataan adikku." gumam Deva turun dari kasurnya lalu berjalan ke arah jendela.
Bocah kecil itu pun membuka sedikit horden jendela lalu melihat ke arah luar jendela. Pandangan Deva tertuju pada sebagian arwah yang bergentayangan. Terlihat ia sibuk memperhatikan mata arwah tersebut. Dari luar sangat jelas hari mulai gelap menandakan malam akan segera tiba.
"Jika dilihat-lihat. Mata mereka tak merah, tapi seperti warna awan gelap di langit dengan tatapan kosong."
Deva ternyata membandingkan mata arwah yang ia lihat dengan Ibunya.
"Sudahlah, lagian juga ada Papi di sana. Kalau ada yang iseng, Papi pasti bisa mengatasinya sendiri." gumam Deva berbalik lalu seketika ia langsung terkejut melihat Neneknya berdiri di depannya sambil tersenyum.
"Nenek, bikin terkejut Deva." ucap Deva mengelus dadanya.
"Hm, maaf ya." ucap Mama Dina mengelus kepala Deva.
"Tidak apa-apa, Nek." Deva tersenyum manis.
"Oh ya, tadi Deva lihat apa di luar?" tanya Mama Dina melihat ke arah jendela.
"Itu ...." Deva memainkan dua jari telunjuknya. Mama Dina yang melihatnya cucunya itu gugup, ia pun berjongkok di depan Deva.
"Deva tau tidak, kalau Deva itu sebenarnya mirip seseorang." ucap Mama Dina mencubit lembut pipi Deva.
"Eh, Nenek tau kalau Deva ...."
"Ya, ganteng. Deva pasti bisa melihat mereka yang tak kasat mata, kan?" tanya Mama Dina menunjuk ke arah jendela. Deva pun segera mengangguk.
"Ahaha ... ternyata sudah ada generasi baru yang memilikinya dikeluargaku." ucap Mama Dina berdiri lalu meraih tangan Deva.
"Hehe ... Deva mirip Papi kan, Nek?" tanya Deva mendongak melihat Neneknya. Mami Dina cuma mengangguk lalu tersenyum. Namun senyuman itu seketika berubah menjadi murung.
"Nenek, kenapa?" tanya Deva. Bocah itu mencoba ingin mendengar isi hati Neneknya. Namun nampaknya Mama Dina tak berkata apa-apa dalam hatinya. Tentu Mama Dina memiliki rahasia dan ia tahu jika berada di dekat Deva. Ia tak boleh bergumam dalam hatinya, takut rahasianya akan terbongkar.
"Tidak apa-apa kok. Oh ya, sekarang kita turun, makan malam pasti sudah selesai." ucap Mama Dina melihat Deva.
"Baiklah, Nek." Deva tersenyum manis lalu berjalan bersama Mama Dina keluar dari kamar itu lalu menuruni tangga.
"Sepertinya Nenek tadi sedih, tapi apa yang dia sedihkan?" gumam Deva memikirkan ekspresi wajah Neneknya tadi yang terlihat murung. Keduanya kini sampai di ruang dapur.
_____
Bersambung ....
Wah apa yang dirahasiakan Mama Dina?
Yuk kita tebak bareng-bareng ><
Terima kasih sudah membaca.
...[Like dan komen]...