NovelToon NovelToon
Orang Ketiga

Orang Ketiga

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Balas Dendam / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 5
Nama Author: violla

Bukan novel Plagiat! Kalau ditemukan isi(Alur, nama tokoh, seting tempat, waktu, sudut pandang) cerita sama dengan yang lain, silahkan report karya ini, namun kalau tuduhan itu tidak terbukti, saya yang akan balik mereport anda, seperti itu😊

Berdasarkan kisah seorang teman ditambah dengan bumbu-bumbu halu. Nama dan profesi disamarkan. Sebut saja namanya Lia, dia datang ke kota untuk mencari kerja, sampailah dia bertemu dengan Sera, yang menawarkannya untuk bekerja menjadi pengasuh anaknya, dan inilah kisahnya.

Awalnya kupikir rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Haris selama tiga tahun ini baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, saat itu aku tidak sengaja membuka pesan mesra yang dikirimkan suamiku untuk wanita lain, aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Mungkinkah Mas Haris cuma bercanda dengan rekan kerjanya?

Tapi ternyata orang ketiga itu adalah orang terdekatku, orang yang tinggal satu atap denganku, orang yang aku perlakukan dengan baik, ternyata dia orang ketiga di dalam rumah tanggaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Hari Bahagia

Sore itu langit tampak diselimuti awan gelap, beberapa burung liar juga sudah kembali ke sangkarnya, rintik hujan juga sudah mulai turun diselingi suara petir yang menggelegar. Diam-diam Hakim mengulas senyum, ia bersyukur karena hujan ini membuatnya tertahan di rumah pak Dayo.

Dua puluh menit yang lalu Pak Dayo meminta Sera untuk menyiapkan kamar tamu yang akan ditempati Hakim, ternyata pak Dayo masih punya perasaan dengan tidak membiarkan tamu anaknya pergi menembus hujan di luar sana, apa lagi biasanya jika hujan seperti ini jalanan akan rusak parah, Pak Dayo khawatir mobil Hakim tidak bisa melintasinya.

"Bapak sudah bicara sama Pak RT kalau di sini ada tamu, seorang laki-laki dewasa yang akan menginap di rumah," dengan membawa papan catur, Pak Dayo meninggalkan Sera yang saat itu sedang masak di dapur, langkahnya terhenti saat Sera bicara.

"Terima kasih, karena Bapak sudah mengijinkan Mas Hakim menginap di sini."

"Kalau bukan karena hujan, sudah dari tadi Bapak suruh dia pergi," ketus Pak Dayo, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Pak Dayo menuju ruang tamu, dari jauh ia melihat Hakim bermain bersama Bima di lantai yang beralaskan karpet primadani, gelak suara Tawa Hakim dan ocehan dari Bima juga terdengar jelas di telinga, ntah apa yang dipikirkan Pak Dayo, yang jelas ia tersenyum melihat dua laki-laki yang beda generasi itu.

"Bisa main catur?" Pak Dayo meletakkan papan catur di atas meja, lalu diambilnya Bima dan di dudukan di atas pangkuanya.

Hakim menggaruk rambutnya yang tidak gatal, catur ntah kapan terakhir kali Hakim main catur, tapi jika ia menolak ajakan calon mertua akan dipastikan jika hari ini ia akan terusir dari rumah.

"Sekedarnya saja, Pak," Hakim duduk didepan Pak Dayo, di mana meja kecil di depan mereka menjadi penghalangnya, dengan santai Hakim membuka dan menyusun catur tersebut. Bahkan menyusunnya saja ia tidak tahu.

"Raja di sini, nah ini tempat mentri," Pak Dayo membenarkan letak anak catur diatas kotak hitam putih itu , "ini tempat gajah dan kuda," Pak Dayo menggelengkan kepala, "menyusunnya saja kamu gak tahu, apa lagi menjalankannya?" ejek Pak Dayo.

"Jujur kalau menjalankan anak-anak catur ini, saya kurang ngerti, Pak. Tapi kalau menjalankan hubungan saya dengan anak Bapak ke jenjang pernikahan saya sudah yakin, Pak," kelakar Hakim dan disaat yang bersamaan Sera meletakkan dua teh hangat berserta pisang goreng di atas meja, ia tersenyum simpul saat mendengar ucapan Hakim.

"Itu sih, maunya kamu," Pak Dayo memberikan Bima kepada Sera, lalu Sera kembali ke dapur bersama dengan imam keponakannya.

"Itu siapa, Bulek?" tanya pemuda tampan tersebut.

"Masih kecil gak boleh ikut campur urusan orang tua."

"20 tahun udah bukan anak kecil lagi, itu calon suami Bulek yang baru, ya?"

"Sudah kamu jaga aja Bima. Bulek mau nyiapin makan malam," Sera kembali berkutat di dapur.

*****

"Kamu belum pernah menikah, lalu kenapa sekarang kamu memilih Sera untuk kamu nikahi? Sera itu seorang janda beranak satu, apa kamu gak akan menyesal kalau menikah sama Sera?"

Pak Dayo mencoba untuk tidak bersikap egois, sekeras apapun ia berusaha menghalangi niat Hakim, jika itu sudah suratan takdir, ia tidak mungkin bisa mengelak.

"Saya tidak punya alasan apapun untuk mencintai anak Bapak, sebelumnya saya sudah menyebut nama Sera dalam setiap do'a saya, dan saya sudah yakin kalau Sera adalah jodoh yang sudah disiapkan Allah untuk saya, Pak."

Mendengar itu Pak Dayo mengangguk kecil, sepertinya ia terkesan dengan jawaban Hakim, Pak Dayo menelisik Hakim lebih jauh, dari raut wajahnya Hakim terlihat laki-laki yang bertanggung jawab.

"Saya janji, saya tidak akan menyakiti anak Bapak. Saya akan memprioritaskan kebahagiaan Sera dan Bima. Saya mohon ijinkan saya menikahi anak Bapak," pinta Hakim dengan sungguh-sungguh.

"Bapak akan berusaha percaya sama kamu, tolong jangan sakiti anak dan cucu saya, jika nanti kamu sudah tidak mencintai Sera lagi. Bapak harap kamu mau mengembalikan dia ke rumah ini lagi, jangan sampai dia menanggung sakitnya sendirian," ucap Pak Dayo.

Hakim sudah mendapatkan angin segar, ia bangkit dan berlutut di hadapan Pak Dayo, memegang erat tangan yang sudah keriput itu.

"Terima kasih, karena Bapak sudah merestui hubungan kami, saya janji untuk terus mencintai Sera."

Pak Dayo tidak mampu berkata lagi, kedua sudut matanya sudah tergenang karena akan melepaskan Sera untuk yang kedua kali, dipeluknya Hakim dengan sangat erat.

"Kamu sudah menjadi harapanku," bisiknya di telinga Hakim, seraya menepuk punggung Hakim.

Alhamdulillah

Sera tidak berhenti mengucap syukur, tangan dan kakinya bergetar saat melihat Hakim tersenyum kepadanya, seolah mengatakan semua baik-baik saja.

...*****...

Makan malam ini terasa hangat, Pak Dayo benar-benar sudah membuka hatinya, sesekali ia tertawa saat bercengkrama dengan Hakim. Setelah makan malam, Sera menunjukan kamar yang akan ditempati Hakim, kamar yang tidak terlalu luas, hanya ada tempat tidur kecil dan satu lemari yang terbuat dari kayu, kamar milik Sera yang sudah lama kosong.

"Kalau aku tidur di sini, terus kamu dan Bima tidur di mana?" tanya Hakim, ia sudah duduk di tepi tempat tidur.

"Di samping kamar ini," ntah kenapa Sera menjadi gugup saat Hakim terus melihatnya.

Hakim menarik tangan Sera untuk duduk di sampingnya.

"Calon istriku," bisik Hakim di telinga Sera membuat Sera mencubit kecil lengan Hakim, "aku kan sudah bilang, kalau aku akan berusaha mendapatkan restu Bapak, dan sekarang hari bahagia kita sudah di depan mata." ucap Hakim.

"Aku harap semua berjalan lancar ya, Mas. orang tua kita udah sama-sama setuju, semoga niat baik ini akan segera terwujud," harap Sera.

Hakim merapikan suir rambut Sera di balik telinga Sera, berada di jarak sedekat ini membuatnya serba salah, pipi putih berseri milik Sera menjadi pusat perhatiannya, bodoh sekali suami Sera yang sudah menyakiti dan kehilangan istri seperti Sera.

"Mas ... jangan seperti ini, nanti ada yang salah paham," Sera meraih dan menggenggam tangan Hakim.

"Biarkan saja, biar kita cepat-cepat dinikahkan," Hakim tergelak saat Sera membulatkan matanya, "aku gak mungkin macam-macam, aku menghargai kamu dan juga Bapak. Lagi pula aku lebih cinta halalmu yang sebentar lagi akan menjadi milikku." Hakim mengedipkan matanya, lagi-lagi Sera tersipu malu dibuatnya.

Tanpa bicara dan masih dengan rona wajah yang memerah, Sera keluar dari kamar tamu yang akan ditempati Hakim. Samar-samar Sera mendengar getaran ponsel dari ruang tamu. Itu ponsel milik Hakim yang tertinggal di atas meja. Sudah tetera nama dan foto seorang wanita di sana, membuat Sera bertanya-tanya siapakah dia???

****

Sabar ya gais, ending sudah dekat. Tapi terkadang waktu untuk ngetik yang gak ada;-)

1
echa purin
/Drool//Drool//Drool/keren dah
Saras Aussie
Luar biasa
kimiatie
Haris sama Hana di isteri ketiga
kimiatie
betul juga apa kata Thor...biar aja eko yang meninggal...walau bagaimana pun kejahatan Haris di masa lalu yang penting ada niat di hati untuk berubah...pasti dia jodoh Hana👏👏
kimiatie
Haris kah pendonor nya?
kimiatie
semangat thor...semoga perjalanan Thor di bidang penulisan dipermudahkan...aamennn²🤲🤲
Vera Anzani
selalu suka dengan novel author yang satu ini,,love sebanyak2 nya buat author Violla❤️❤️❤️
Adinda
Mampus kau haris
Nur Hayati
Alur cerita nya bagus aku suka 👍👍
altanum
terus semangat berkarya thor.sangat suka dengan kemasan cerita sehari hari author yang ada di RT,tapi tidak membosankan membacanya.
scarlet
bgs
Rini Haryati
ceritanya keren
sukses
semangat
mksh
Arif Hidayatullah
..
Adelia ZahrotusShifa
ok
Jur fans ccg
lanjut terus
Syauqi Perkasa
Haris yg harusnya donorin jantung, biar dia tetap memiliki Sera dan jg anaknya.
Gamers Alay
aku udah pernah baca ini blom sihh.. prasaan udh loh tp lupa.. haaha
momOf3AdorableKiddos
dah ga apa²...bikin haris pingsan jga ga pa² kok ...kejang² atau apalah😃😃😃
Nani Hasan
jgn mau memaafkan Haris ya Sera Krn klo sdh ular tdk akan pernah bisa menjadi kelinci....lbh baik hdp menjadi janda tp bahagia drpd punya suami tp makan hati & sll di sakiti 😡😡
Tiara Tari
visual nya dong 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!