Menjalin hubungan dengan orang yang sangat dicintai selama beberapa tahun, tidak menjamin bahwa namamu yang akan dia sebut dalam janji suci dan bersanding bersamanya di pelaminan.
Seperti yang dirasakan oleh Laura Clarissa, gadis yang awalnya berharap segera dilamar oleh sang kekasih, malah yang terjadi adalah sebaliknya, kekasihnya itu memberi sebuah cincin, bukan sebagai lamaran akan tetapi hanya karena ingin dikenang, sebab kekasihnya itu akan menikahi orang lain.
Namun ditengah rasa sakit hati yang ia pikul seorang diri, ada sahabat yang diam-diam menyukainya, akan tetapi Laura sama sekali tak pernah menyadari perasaan sahabatnya itu
Di lain sisi, dia juga bertemu orang yang mengaku teman masa kecilnya, orang yang mengaku ingin mempersunting dirinya.
Kisah asmara seperti apa selanjutnya? dimanakah Laura akan memantapkan hatinya? tidak bisa move on dari mantan? menyadari perasaan sahabatnya? atau jatuh cinta kepada teman masa kecilnya?
Penasaran? ikuti kisahnya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertarung Lewat Tatapan
Akh...
"Vanno! Sakit...." keluhnya.
Ia mengerucutkan bibirnya, sementara Vanno menghela nafas menatap Laura, "Kamu benar-benar bodoh Ra!" ejeknya lagi.
"Kenapa aku yang bodoh? Justru kamu yang bodoh karena ikut-ikutan jadi bucin!"
"Sudahlah Ra! soal kalung ini aku akan membelikanmu yang baru!" ucap Vanno namun di sanggah keras olehnya.
"Tidak usah! Aku tidak mau, lagian mungkin aku memang tidak cocok memakai barang mahal dan bermerek!"
"Tidak apa-apa, aku ikhlas dan juga siapa bilang kamu tidak cocok memakainya? Jujur dari pandanganku pribadi, Ini sangat pas ketika kamu memakainya!"
"Tetap saja aku tidak mau!" Tegasnya menolak.
"Kamu harus mau Ra! Ini kan spesial untuk kamu lagian aku membelinya dengan uangku sendiri bukan hasil dari minta ke orangtua, kalau kamu menolaknya aku akan kecewa berat!" Balasnya cemberut.
"Kalau dia sudah bilang tidak! Kenapa kamu harus memaksanya?" tiba-tiba suara yang begitu tak asing menyela ucapan Vanno, mereka berdua sontak menoleh ke arah sumber suara.
Yah... Itu Reyhan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka dan menguping semua percapakan antara Laura dan Vanno.
Sungguh Laura seketika merasa malas menatap sosok Reyhan melangkah mendekatinya, begitu pula Vanno yang memutar bola mata sekilas melirik laki-laki yang menurutnya hanya akan menambah masalah.
"Sepertinya dunia memang sempit untuk kita berdua, Ohh iya kenapa kamu memaksa calon istriku untuk menerima kalungmu? Padahal dia dari tadi sudah menolak, Seharusnya kamu sebagai seorang lelaki tidak boleh melakukan itu karena perempuan berhak menolak apa yang memang ia tidak suka bukankah begitu Ra?" timpal Reyhan malah tak digubris oleh Laura.
"Ohh jadi seperti itu? Tapi lebih tidak sopan lagi, jika seorang lelaki yang tidak tau malu mengakui dirinya sebagai calon suami padahal nyatanya pihak perempuan belum menerima bukankah aku benar?" sama halnya dengan Reyhan, Vanno ikut menyindir satu sama lain, seolah mereka berdua meminta pendapat Laura yang sejak tadi hanya linglung berdiri ditengah-tengah pria tampan.
Wajahnya berubah datar, tatapannya pun begitu tajam, "Tenang saja, ucapanmu bukanlah opini, tapi sebentar lagi akan menjadi fakta, dan kamu adalah orang pertama yang akan menerima undangan pernikahanku dengan Laura!" tantangnya.
"Cih... kata itu lagi? apa dia adalah tipe laki-laki yang terbiasa mengatakan sesuatu yang sama tanpa ada pembuktian? dasar pecund*ng!" cibir Vanno dalam hati
"Sudah cukup! Apa kalian tidak malu? Disini ada banyak orang, kalian itu sudah sama-sama dewasa, dan kak Rey... Aku setuju dengan Vanno! Aku benar-benar tidak mau mendengar omong kosong kakak soal calon istri atau apalah itu! Jadi aku mohon yang tadi adalah terakhir kalinya!" omel Laura.
"Baiklah, aku akan menjaga mulutku dengan baik, tapi tergantung situasi oke...." jawab Reyhan kembali tersenyum lebar.
"Terserah!" sahutnya buang muka.
"Aku tidak menyangka, seorang CEO sepertimu bisa hadir di acara seperti ini!" tukas Vanno.
"Mungkin aku memang berjodoh dengan Laura, lihat saja sekarang aku masih bertemu dengannya berkat kamu yang mengajaknya datang kesini, dan soal kalung murahan itu! Aku yang merusaknya karena itu tidak cocok dileher Laura, kalau kamu minta ganti rugi, kamu bisa katakan berapa gantinya biar aku mentransfernya sekarang juga!" jujur Reyhan mengungkap kebohongan Laura.
"Jadi...." Vanno mengalihkan pandangannya kearah Wanita yang semula ia ragukan dan benar saja dengan feeling itu dia akhirnya tau kebenarannya.
"Kak Reyhan?" panggil Selena datang dengan menggandeng tangan ibunya, "Halo tante..." Reyhan menjabat tangan ibunya selena sembari tersenyum ramah.
"Terimakasih sudah datang di ulangtahunnya Selena, ohh kamu juga Vanno... Terimakasih ya sudah datang!" sapaan itu hanya untuk Reyhan dan Vanno sementara Laura sendiri merasa asing dimata ibunya Selena.
"Selamat ulang tahun Sel....!" lanjutnya memberi selamat, "kak Rey sudah lama datangnya?" balas Selena, "Aku baru sampai!" jawabnya singkat.
"Baru sampai? Terus pasangan kamu dimana?"
Pertanyaan itu tertuju kepada Reyhan dari ibunya Selena, Dia sontak menoleh sekilas ke arah Laura, namun perempuan itu lagi-lagi tak membalas lirikannya, "Maaf tante... Hari ini pasanganku tidak bisa hadir!" ungkapnya.
"Ohh begitu yah? Kalau Kamu Van! Bagaimana kabar ibumu?" Timpalnya bertanya ke Vanno.
"Maaf tante... Ibuku sudah lama meninggal!" jawabnya datar, "E-ehh... Maksud tante, ibu tirimu!" Ibunya Selena terbata langsung merasa canggung sendiri.
"Maaf tante... Aku tidak tau kabarnya!" Vanno begitu acuh dalam menjawab, begitu jelas jika dirinya sangat malas untuk berbincang dengan ibunya Selena.
"Ehh... Mama! Ayah ada dimana?" menyadari itu Selena angkat bicara dan memberi kode agar ibunya segera pergi dari suasana yang tidak enak itu.
"Ahh iya... Ayahmu sepertinya memanggil mama, kalau begitu mama pergi dulu ya Sel... Kalian bisa menikmati hidangan yang disajikan!" Pamit ibunya menatap mereka bertiga saling bergantian dan lupa berkenalan dengan Laura.
"Iya tante!" sahut Reyhan dan Vanno secara bersamaan dan saat itu pula mereka saling memandang seakan ingin menerkam satu sama lain.
"Eh... Kak Rey! Vanno, Laura, maaf ya mamaku memang orang yang seperti itu!" Kata Selena dengan kaku.
"Tunggu dulu, kalian saling kenal?" Seka Vanno.
"Maksud kamu kak Rey? Tentu saja, dia itu sepupu aku! Lalu bagaimana dengan kalian?" Balas Selena bertanya balik.
"Aku mengenalnya karena Laura, dan Laura adalah teman masa kecilku, aku bahkan pernah bertetangga dengan Laura! Tapi hanya sehari karena dia tiba-tiba pindah!" Jelas Reyhan.
"Ohh ya? Kalau begitu kak Rey berarti lebih dulu mengenal Laura daripada Vanno?" Selidiknya bermaksud ingin melihat Vanno cemburu.
"Bisa jadi!" Balas Reyhan dengan anggukan sedang.
"Terus kak Rey... Tidak ada niat gitu mau mengejar Laura?" Lanjutnya ingin memanas-manasi.
"Sel... Apa maksud kamu!" Seka Vanno menyela.
"Vanno! Jangan seperti itu dengan calon istrimu! Dia itu akan menjadi pendamping hidupmu di masa depan dan otomatis kita menjadi keluarga!" kata Reyhan.
"Menjadi keluarga? Jangan mimpi karena itu tidak akan terjadi!" balasnya dingin.
Seketika suasana seakan mencekam, keduanya saling berperang lewat tatapan mata, Laura serta Selana hanya bisa mengehla nafas melirik keduanya.
"Sudah cukup! Sudahlah.... Ini hanya sebuah persoalan yang kita belum tau kedepannya, jadi lebih baik biarkan semuanya mengalir saja!" Laura mencoba menengahi.
"Nah... Aku setuju dengan Laura! Kalau begitu sekarang kita kesana saja, karena sebentar lagi aku akan memotong kue ulangtahunku!" Selena begitu gembira dan mengajak keduanya yang masih seperti patung.
"Ayo... Ayo...!" ajaknya lagi namun kedua lelaki itu tak bergerak, "Ada apa dengan kalian berdua? Jangan kelamaan saling bertatapan mata nanti akan ada benih-benih cinta yang tumbuh bagaimana?" sambungnya lagi seketika menyadarkan keduanya.
Hoek...
"Siapa yang akan jatuh cinta dengan orang seperti dia, lagian aku ini pria normal yang hanya akan berdebar-debar kalau dekat dengan wanita misalnya saja Laura!" Cetus Vanno menyeringai kearah Laura.
"Aku juga pria normal, jadi jangan katakan omong kosong seperti itu!" Ucap Reyhan sepemikiran dengannya.
sukses
semangat
mksh
sukses
semangat
mksh
keren