Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Jodoh Titipan Bagian 13
Oleh Sept
Hari ini, dua hari sebelum menjelang bulan ramadhan, seorang bayi munggil telah lahir ke dunia. Di sebuah rumah sakit besar di pusat kota. Putri dari Salsabila Qotrunnada dan almarhum suaminya, Zain Malik. Ya, bayi munggil tanpa dosa itu sejak dalam kandungan sang ibu, sudah menjadi yatim.
***
"Masyallah ... lembut sekali kulitnya ya, Taqi? Rambutnya juga lebat, hitam ... cantiknya cucu Ummi."
Ummi memperhatikan pipi bayi munggil yang kini dalam gendongan Taqi tersebut. Ia mengusap lembut rambut cucunya yang hitam, baru lahir rambut bayi itu sudah banyak. Ada rasa syukur yang tidak hingga, saat Nada berhasil melahirkan dengan selamat cucu mereka.
"Sudah luwes begitu Taqi gendongnya?" ucap abah Yusuf yang sejak tadi juga memperhatikan cucunya yang mengemaskan itu.
Taqi seketika canggung, entah mengapa padahal ia belum pernah menggendong bayi. Tapi saat ummi memberikan bayi itu padanya, nalurinya bergerak begitu saja. Bayi itu ternyata juga sangat nyaman dalam gendongan Taqi. Seolah tempat itu adalah tempat terhangat dan ternyaman.
"Abah mau gendong?" tawar ummi pada abah Yusuf.
Abah langsung menggeleng pelan. Mana berani abah gendong bayi. Takut malah cucunya jatuh, sebab akhir-akhir ini tangan abah sering bergetar secara tiba-tiba. Mungkin juga karena faktor usia. Sebab abah Yusuf memang sudah tidak muda lagi.
Abah hanya berdiri sebentar, kemudian mengusap kepala cucunya dengan lembut. Setelah itu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Bersandar, kemudian pandangan abah menjadi kosong.
Abah membayangkan bagaimana ekspresi Zain saat menyambut buah hatinya. Abah Yusuf seolah-olah melihat Zain di ruangan itu. Menggendong putri kecilnya, sesekali mengusap pipinya manja.
"Astaghfirullahaladzim," gumam abah lirih sembari mengusap wajah.
Pria paruh baya itu malah melamun. Membayangkan yang tidak-tidak. Sudah delapan bulan Zain pergi, tapi abah merasa Zain masih ada. Rupanya abah sedang merindukan sosok putranya yang belum setahun meninggalkan dunia ini.
***
Beberapa waktu kemudian, Nada sudah dipindahkan dari ruang pemulihan. Kini, ibu muda tersebut sudah menempati ruang rawat inap yang cukup besar.
Ada sofa besar di dalamnya, dan juga ranjang untuk istirahat bagi keluarga yang ingin menginap saat membesuk.
"Mirip Zain ya, Nada?"
Ummi sponta mengatakan apa yang ia pikirkan ketika Nada pertama kali memangku bayinya.
Sedangkan Taqi, pria yang sekarang duduk bersama abah itu, memperhatikan ekspresi wajah Nada yang berubah. Nada yang semula tersenyum saat menatap putrinya, seketika berubah muram.
Ummi sendiri tidak menyadari hal itu, ia masih fokus pada bayi munggil yang mengeliat di pangkuan Nada.
"Coba di kasih ASI ya. Meskipun nanti Nada tinggal kuliah, setidaknya ia harus diberi ASI dengan cukup," saran ummi.
Tanpa sengaja, Taqi melirik ke arah Nada. Nada pun sama, ia juga kebetulan melihat ke arah Taqi dan abah. Canggung karena tatapan mereka bertemu, Taqi lantas basa-basi pamit untuk keluar sebentar. Biar Nada bisa bebas memberikan ASI untuk bayinya. Mungkin tadi Nada melihatnya sekilas karena merasa tidak nyaman ada Taqi di dalam sana.
Abah juga menyusul, keduanya pun keluar. Meninggalkan ummi, Nada dan bayinya di sana.
"Bisa sayang, kasih asinya?" tanya ummi yang melihat Nada kaku dan terlihat kegelian saat bayi yang masih kemerah-merahan itu mulai menyesap ibunya.
"Pelan-pelan, gak apa-apa ... nanti juga Nada terbiasa," ucap ummi yang melihat Nada masih belum luwes.
***
Beberapa saat kemudian, ummi mencari abah ke depan. Karena Nada sudah selesai memberikan ASI pada bayinya. Ummi juga mau minta tolong pada Taqi, untuk menebus beberapa obat serta peralatan untuk Nada serta cucunya.
"Taqi ...!" panggil ummi yang melihat Taqi sedang bicara dengan abah di luar ruangan.
"Iya, Ummi."
Taqi mendekat, kemudian bertanya apa yang bisa ia bantu.
"Ummi butuh apa?"
Ummi kemudian memberikan secarik kertas pada Taqi. Pria itu kemudian membacanya sekilas lalu mengangguk mengerti.
"Taqi carikan dulu, Mi."
Ummi juga ikut mengangguk.
Setelah kepergian Taqi, ummi duduk di sebelah abah. Mereka pun berbicara berdua saja.
"Bagaimana, Abah? Kapan kita beritahu Nada tentang Taqi?"
Abah menahan napas. Ia menatap punggung Taqi yang semakin menjauh. Rasanya abah juga risau. Jika Taqi sudah setuju, ia sekarang bingung cara mengatakan pada Nada. Tentang calon suami yang abah pilih. Mungkin abah takut Nada langsung menolak.
"Kita tunggu pas Nada pulang, rasanya tidak enak bila membicarakan hal ini di rumah sakit."
"Betul, Bah." Ummi juga setuju.
"Tapi, Bah ... sepertinya Taqi sudah sayang pada cucu Kita," tambah ummi yang merasa lega.
Abah terdiam. Entah mengapa, abah malah teringat Zain terus akhir-akhir ini. Abah juga sedikit merasa bersalah, apa ia egoist jika tidak ingin kehilangan cucunya, dengan cara membuat Nada terikat kembali dengan keluarga mereka melalui Taqi.
"Abah," panggil ummi. Ummi heran, abah malah melamun.
"Abah sakit?" tanya ummi perhatian.
Abah Yusuf hanya tersenyum kecil, kemudian beranjak dan mengajak istrinya masuk ke dalam ruangan Nada.
***
Malam harinya. Semua tidur di rumah sakit. Suasana malam itu sedikit ramai. Karena ibu kandung Nada datang bersama Sarah. Mereka menjenguk Nada dan bayinya.
"Sarah, kamu bukannya minggu depan ujian? Tunggu liburan saja baru datang jenguk Mbak."
Nada tidak ingin adiknya jadi terganggu ujiannya hanya karena datang jauh-jauh ke tempatnya.
"Nggak apa-apa, Mbak. Sarah juga pengen lihat ponakan Sarah. Ibu juga, kan?"
Sarah menoleh pada ibunya, ibu yang terlihat sedikit acuh. Mungkin karena selama kecil, keduanya tidak pernah bersama. Hanya ikatan darah, tapi tidak begitu kental.
Nada sendiri tidak mempermasalahkan akan hal itu. Sebab ia merasa sudah dapat ibu mertua rasa ibu kandung. Jadi, biarpun ibu kandungnya dingin, toh ummi sangat hangat padanya. Mungkin semua sudah jadi suratan yang di atas.
"Ibu sudah bilang, besok juga ia harus mempersiapkan untuk ujian masuk perguruan tinggi. Tapi Sarah maksa ke sini," ucap ibu Nada dan Sarah tersebut. Terlihat jelas, ia tidak ikhlas menjenguk cucu pertamanya.
"Buk ...!" pekik Sarah pelan sambil menarik ujung baju ibunya.
Sedangkan Nada, ia tertunduk sedih. Mungkin malu karena di ruangan itu ada ummi, abah, serta mas Taqi.
Padahal, di keluarga almarhum suaminya, ia dianggap seperti anak sendiri. Tapi ibunya malah terlihat tidak menyukai dan tidak respect pada Nada.
Ini semua karena mungkin ibunya Nada menyalakan Nada. Menyalakan Nada karena kehilangan suami. Menjanda di waktu muda. Persis seperti Nada saat ini. Dan itu membuat ibunya marah. Marah pada keadaan. Marah pada masa lalu, di mana hidup dalam keterbatasan.
Atau mungkin sebetulnya ibu membenci dirinya sendiri, hingga seolah ia terlihat membenci Nada. Harusnya bila ia berekonomi mapan, Nada pasti bisa ia rawat sama seperti Sarah. Tapi entahlah, ibu Nada memang begitu orangnya. Kadang gampang stress dan marah-marah kalau sedang banyak masalah. Mungkin beban hidup yang berat, membuat emosinya naik-turun dan kelihatan tidak ramah.
***
Setelah berbasa-basi, tidak terasa malam semakin larut. Dan Taqi menawarkan ummi dan abah untuk tidur di rumah saja, karena ada Sarah san ibunya.
Tapi ibu langsung menolak keras. Melihat sikap ibunya Nada, ummi tidak tega.
"Kamu saja yang tidur di rumah sama Abah, biar Ummi di sini malam ini. Kasian abah, dari tadi batuk terus," saran ummi.
Karena abah memang merasa kurang enak badan, mungkin masuk angin. Ia pun mau diantar pulang. Malam itu, abah tidur di rumah bersama Taqi.
Ketika tengah malam, bayi munggil itu menangis sepanjang malam. Membuat Nada tidak tidur semalaman. Untung ada ummi dan Sarah yang gantian gendong bayinya. Sementara itu, ibunya sendiri malah tidur dengan nyenyaknya.
Sarah menghela napas dalam-dalam melihat ibunya yang bisa tidur padahal cucunya rewel bukan main. Padahal ini cucu pertamanya loh. Tapi ibunya sepertinya acuh. Sama seperti sikapnya pada sang kakak, Nada.
***
Pagi hari
Wajah Nada terlihat begitu lelah, begitu pun dengan ummi dan Sarah. Semalaman mereka dibuat bergadang oleh bayi munggil yang cantik dan gembul tersebut.
Siang harinya bayi itu pun masih saja rewel, hingga dokter datang untuk memeriksanya. Tidak ada apa-apa, tapi bayi itu terus saja rewel. Membuat semua khawatir.
"Cucu saya kenapa, Dok?" Ummi yang penasaran, datang ke ruang dokter di temani Taqi.
Dokter pun menjelaskan, bahwa keadaan si bayi secara fisik sangat baik-baik saja. Dokter kemudian bertanya, apa ibu si bayi mengalami stress atau tertekan? Karena biasanya kalau ibunya banyak pikiran, pasti akan connect pada di bayi.
Ummi hanya bisa menduga-duga, mungkin karena kunjungan sang ibu kandung Nada. Sikap ibunya itu, pasti membuat Nada yang baru saja melahirkan menjadi kepikiran.
Beruntung bagi ummi, karena sore harinya ibu Nada dan Sarah akhirnya pulang. Bukannya tidak senang atas kunjungan keduanya, hanya saja ummi merasa ibu Nada tersebut memberikan efek buruk pada kondisi mental menantunya yang baru melahirkan tersebut.
Besoknya, Nada akhirnya bisa pulang dari rumah sakit. Mereka pulang ke rumah peninggalan Zain. Semua terlihat normal, dan biasa. Abah dan ummi juga berencana akan menginap di sana malam nanti.
Pukul tujuh malam.
Bayi munggil itu sudah tidur di box bayi, ummi mengintip sekilas. Kemudian menghampiri abah.
"Abah ... apa tidak sekarang kita katakan pada Nada?"
"Tunggu nanti, Ummi."
"Terus sampai kapan, Abah?" di sini Ummi malah terlihat paling semangat mencari ayah untuk cucunya.
"Entah mengapa, Abah khawatir ... Nada menolak."
Ummi melirik pintu kamar Nada.
"Tidak mungkin, Abah. Taqi itu pria baik, pasti Nada tidak akan menolak."
Nada mematung di balik pintu, ia haus. Tekonya kosong, mau ke dapur malah mendengar perbincangan abah dan ummi.
"Mas Taqi?" gumam Nada. Ia pun terdiam di tempat.
BERSAMBUNG
***
Info give away.
Sept tutup GA give away nya jam 6 sore nanti ya. Terima kasih.
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭