Anezaki Mamori, seorang gadis yang memiliki nasib buruk dan dianggap sebagai pembawa sial.
Karena dia yang memiliki luka bakar pada bagian wajah dan hampir seluruh tubuhnya, membuatnya selalu dijadikan orang-orang untuk menghinanya.
Dia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari semua orang, hingga akhirnya sebuah kecelakaan maut terjadi disaat Tokyo sedang diguyur hujan saat itu.
Namun disaat dia terbangun, sebuah sistem Beauty
And Candy System sudah bersatu dengan tubuhnya.
Kini dia akan berubah dan akan menampar semua yang selama ini selalu menghinanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Sang Bos ?
"Nona, silakan masuk. Bosku sedang menunggu nona di dalam."
Pria berpakaian necis dan super rapi itu kini berhenti di depan salah satu kamar apartemen, Apartemen Azabu. Apartemen elit dan tempat berkumpulnya para pengusaha, aktor, aktris dan orang-orang yang cukup berpengaruh lainnya.
Anezaki menatap pria itu untuk memastikan jika ucapannya adalah jujur.
Jujur. Dia berkata apa adanya. Dan seseorang benar-benar sedang menungguku di dalam. Tapi siapa sebenarnya dia? Hhmm ... sebaiknya aku segera menemuinya. Lagipula dengan beberapa skill yang aku miliki, seharusnya aku masih bisa mengatasi bahaya apapun.
Batin Anezaki mulai mengetuk pintu itu beberapa kali.
"Nona masuk saja. Bos sudah menunggu nona di dalam kok." ucap pria itu dengan ramah.
"Oh ... oke deh, Paman." sahut Anezaki meraih handle pintu itu dan segera memasuki apartemen bernuansa putih itu.
Hiks ... lagi-lagi dia memanggilku paman. Sepertinya aku harus merubah penampilanku agar terlihat sedikit lebih muda.
Batin pria itu kembali memperlihatkan ekspresi memelas.
Sementara itu, Anezaki sudah mulai memasuki apartemen yang terlihat sangat rapi dan wangi itu. Anezaki mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya, namun dia tidak melihat siapapun di dalam apartemen itu.
Hingga akhirnya dia melihat sebuah figura kecil. Terlihat seorang pemuda berambut silver kebiruan sedang duduk dan melakukan sesuatu dengan sketch book miliknya. Pemuda itu mengenakan sebuah T-shirt hitam dan membalutnya dengan kemeja berwarna putih. Dan tentu saja sosok itu sangatlah tidak asing untuknya.
Di samping figura itu juga ada sebuah foto dari pemuda yang sama dengan style yang berbeda. Dia mewarnai rambutnya menjadi merah. Sebuah topi hitam juga dikenakan olehnya. Penampilannya semakin terlihat cool dan sempurna dengan sebuah hodie warna kuning komninasi hitam. Kerudung hodie itu juga dia kenakan bersamaan sekaligus dengan topi hitamnya.
Jadi bos dari paman itu adalah Mitzuru? Tapi ... untuk apa dia ingin bertemu denganku? Apakah dia sudah baik-baik saja?
Batin Anezaki masih menatap figura itu dan mengusapnya pelan.
Belum sempat terjawab pertanyaan hati Anezaki, kini terdengar seseorang berdehem di belakangnya. Anezaki segera meletakkan kembali figura tersebut di atas meja dan berbalik.
Terlihat seorang pemuda yang sudah berdiri dengan tegap di hadapannya. Penampilannya hari ini terlihat sedikit lebih natural. Tanpa make up, dan berpakaian kasual seadanya. Namun biarpun seperti itu, hal tersebut tetap saja tidak mengurangi tingkat ketampanannya. Dia masih terlihat tampan dan bersinar secara alami.
"So-sorry. Aku melihat-lihat apartemenmu karena paman itu menyuruhku masuk begitu saja." ucap Anezaki merasa segan karena sudah melihat-lihat apartemen ini tanpa seijin sang pemilik.
"Paman?" tanya Mitzuru merajut sepasang alis tegasnya. "Maksudmu adalah Takeuchi? Dia adalah salah satu pengawalku. Dia masih cukup muda. Mengapa kamu memanggilnya paman? Usianya bahkan hanya 3 tahun lebih tua dariku."
"Sama saja dia lebih tua dariku. Apa kamu juga mau aku panggil paman juga?" celutuk Anezaki membuat sepasang Mitzuru seketika membulat seakan tidak terima.
"Aku bahkan masih berusia 20 tahun. Sedangkan kamu seharusnya masih berusia 17 tahun. Panggilan paman sangat tidak cocok untukku!" tandas Mitzuru.
Mendengar penolakan dari Mitzuru membuat Anezaki tertawa renyah.
"Mengapa kamu tertawa? Apa kamu pikir aku sedang melawak?!"
"Melihatmu yang seperti ini, itu artinya kamu sudah baik-baik saja. Syukurlah ... jujur saja aku merasa sedikit lega. Karena itu artinya aku sudah bisa memberikan tugas untuk pesuruhku kembali." celutuk Anezaki dengan sengaja memancing Mitzuru.
"Kamu sungguh tidak berperasaan!"
Lagi-lagi Anezaki tertawa renyah, "Oh iya. Ada apa memanggilku untuk menemuimu?"
Mitzuru segera merubah raut wajahnya sedikit lebih serius.
"Aku ingin berterima kasih padamu. Mungkin saja jika saat itu kamu tidak menemani dan mengantarkan aku pada kak Akaza, entah apa yang terjadi denganku. Dan terima kasih karena sudah menjadi pendengarku saat itu ... maaf jika malam itu aku menyusahkanmu. Maaf jika tingkahku saat itu juga sangat konyol dan kekanak-kanakan ... aku ..."
Ucapan Mitzuru tiba-tiba saja terhenti dan wajahnya mendadak merona seperti kepiting rebus disaat dia mengingat posisinya ketika berada di dalam taxi. Berbaring di atas pangkuan Anezaki dan meringkuk menghadap perut gadis itu. Terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang merengek karena kehabisan es krim. Hal itu tentu saja sangat konyol dan memalukan untuk pamor seorang Mitzuru
"Aku harap kamu tidak membocorkannya kepada siapapun!"
Tandas Mitzuru dengan cepat, dan kali ini nada bicaranya sudah berubah dan penuh dengan penekanan. Dan sebenarnya dia hanya sedang berusaha untuk menutupi rasa malunya.
"Oh ya? Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya? Lagipula ... saat ini status kamu adalah pesuruhku." tantang Anezaki menahan tawa, karena dia hanya sedang berusaha menghibur Mitzuru yang pastinya masih merasa sedih.
"Kau ... apakah kamu benar-benar tidak berhati?!"
"Hhm? Baiklah-baiklah ... aku akan menyimpannya rapat-rapat, tapi setelah kamu membuatkan sesuatu untukku. Aku haus dan lapar ..."
"Tunggu! Aku akan pesankan sesuatu!" sahut Mitzuru berniat untuk membeli sesuatu secara online atau memerintahkan anak buahnya.
"Aku sudah bilang jika aku ingin kamu yang buatin ..." ucap Anezaki dengan tanpa beban.
Mendengar kalimat tersebut, tentu saja membuat Mitzuru merasa kesal. Namun mau tak mau dia harus menuruti Anezaki dan segera bergegas ke dapur.
.
.
.
"Jadi ... sebenarnya mamamu sudah mengetahui perselingkuhan papamu sejak awal? Dan mamamu malah dengan sengaja menutupi semua itu di depan kamu dan kakakmu karena tak ingin membuat kalian kecewa?"
Tanya Anezaki setelah mendengar sedikit cerita Mitzuru disaat mereka menikmati ramen instan buatan Mitzuru.
Mitzuru mengangguk dengan raut wajah muram dan sangat tidak bersemangat.
"Mama bahkan jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan. Aku harap mama akan mendapatkan kebahagiaannya setelah berpisah dengan tua bangka cabbul itu ... aku harap hidup si tua bangka cabbul itu tidak akan pernah bahagia setelah ini! Dia bukan hanya akan kehilangan mama! Tapi dia juga akan kehilangan aku dan kak Akaza! Aku tidak akan pernah menganggap dia ada! DIA ... SUDAH MATI ..."
GREEPP ...
Merasa kurang sependapat dengan Mitzuru, Anezaki segera meraih tangan pemuda itu dan seketika Mitzuru menghentikan ucapannya.
"Mitzuru, andai kamu tau bagaimana rasanya merindukan seseorang yang tidak bisa kita gapai karena sebuah kematian. Itu ... benar-benar sangat menyakitkan. Tapi jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku harap kamu bisa membahagiakan mamamu setelah ini. Namun ... jangan pernah mendoakan sesuatu untuk keburukan orang lain. Karena segala doa akan kembali untuk kita ..."
Sebuah nasehat yang terdengar begitu sederhana, namun sangat berarti untuk Anezaki. Karena sebuah kerinduan kepada sosok ibunya yang sudah tiada, memang cukup menyiksa dirinya. Karena sampai kapanpun rasa rindu itu tak akan pernah bisa terobati lagi.
...🍁🍁🍁...
padahal orang lain bilangnya cantik tuh kue
SMA malah pada bilang gigi gingsul itu yang mereka pengen 🤣
Bisa bikin dehidrasi padahal kalau pasien yang butuh minum malah dikasih teh, jadi bukannya menghilangkan haus tapi malah menyerap cairan dalam tubuh yang bikin tubuh makin lemes
Dia pelaku tapi merasa menjadi korban dan bertingkah seolah-olah paling tersakiti
Perasaan itu muncul tiba-tiba dan sulit dihilangkan