"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 3 Kamu pembawa petaka.
Wanita paruh baya bergaun abu-abu elegan itu menganggukkan kepala pelan.
Senyum hangat menghiasi wajahnya.
"Saya setuju kalau pernikahannya diadakan tiga bulan lagi." Maika menoleh ke arah putranya yang duduk di samping Kiara.
"Lagian..." ujarnya sambil tersenyum menggoda. "Sepertinya Elio dan Kiara juga sudah nggak sabar."
Pipi Kiara langsung memerah mendengar godaan calon ibu mertuanya. "Mom..."
Elio hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala melihat ibunya mulai menggoda mereka.
Suasana ruang makan pun dipenuhi tawa ringan. Maika kemudian menyenggol pelan lengan suaminya. "Gimana, Dad? Setuju juga, kan?"
Yama, pria berkacamata itu mengangguk mantap. "Tentu." Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Fadlan.
"Kalau begitu kita sepakati tiga bulan lagi."
Fadlan menganggukkan kepala. "Saya juga setuju." Pria itu tersenyum tipis. "Semakin cepat semakin baik. Kita sudah seperti keluarga sendiri."
Pembicaraan mengenai gedung, dekorasi, hingga rangkaian acara pernikahan pun mengalir hangat.
Sesekali gelak tawa memenuhi ruang makan. Kiara dan Elio saling melempar pandang dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah masing-masing.
Melihat keduanya, Kaia ikut tersenyum. Dari tempat duduknya di samping sang nenek, ia lebih banyak memilih diam. Sesekali ia menjawab ketika diajak berbicara, lalu kembali menjadi pendengar.
Namun, di balik senyum tipis itu... Perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. Beberapa kali matanya diam-diam melirik ke arah Fadlan.
Ayahnya tampak santai. Bahkan beberapa kali ikut tertawa kecil saat berbincang dengan keluarga Elio.
Tetapi Kaia mengenal pria itu terlalu baik. Tatapan yang terlalu tenang itu justru membuat dadanya semakin sesak.
Ia tahu... Badai belum datang. Ayahnya hanya sedang menunggu tamu pulang.
Sekitar empat puluh menit kemudian, makan malam pun berakhir. Keluarga besar Hadinata mengantar keluarga Meganthara hingga ke halaman depan.
Kiara memeluk calon ibu mertuanya sebelum akhirnya mereka saling berpamitan. Mobil keluarga Elio perlahan meninggalkan halaman rumah.
Lampu belakang kendaraan itu semakin mengecil... Hingga akhirnya menghilang di balik gerbang besi hitam yang menutup perlahan.Saat suara gerbang otomatis menutup terdengar pelan.
Senyum di wajah Fadlan ikut menghilang.
Tanpa sepatah kata pun, ia membalikkan badan lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Langkahnya tenang.
Namun setiap hentakan sepatu kulitnya membuat dada Kaia ikut berdegup semakin cepat. Ia tahu langkah itu.
Langkah seseorang yang sedang menahan amarah.
Ruang keluarga yang beberapa menit lalu dipenuhi tawa kini berubah sunyi. Fadlan duduk di sofa utama. Ia menyilangkan kedua kaki. Tatapannya lurus mengarah kepada Kaia.
"Duduk." Hanya satu kata, namun cukup membuat tengkuk Kaia menegang.
Dengan langkah pelan, gadis itu menghampiri lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan ayahnya.
Jari-jarinya saling menggenggam di atas pangkuan.Berusaha menyembunyikan gemetar yang mulai terasa.
"Dari mana saja kamu?"
Suara Fadlan datar, tapi justru yang membuat Kaia semakin takut.
"Fadlan..." Farida hendak membuka suara. Ia duduk di samping Kaia.
Namun Fadlan cepat-cepat mengangkat telapak tangannya. "Jangan." Tatapannya tak lepas dari Kaia. "Jangan ada yang membelanya."
Ia menyandarkan tubuh. "Dia pergi seharian. Pulang menjelang malam. Lalu datang seolah tidak terjadi apa-apa."
Ruangan kembali hening.
Tak ada seorang pun yang berani menyela. Hardja memilih duduk di sisi lain Kaia. Tak berkata apa-apa. Namun kehadirannya sedikit mengurangi gemetar di tubuh sang cucu.
Kaia menundukkan kepala semakin dalam. "Dari... Ancol, Pa."
"Sama siapa?" Pertanyaan itu meluncur begitu cepat.
Kaia terdiam, bibirnya terbuka. Namun tak satu kata pun keluar. Keheningan itu justru membuat suasana semakin mencekam.
Kiara yang baru duduk ikut menatap adiknya cemas. Ia tahu Kaia tidak pandai berbohong.
"Kai..." bisiknya pelan. Namun Kaia tetap diam.
"Saya tanya sekali lagi." Nada suara Fadlan masih terdengar tenang. Tetapi rahangnya mulai mengeras. "Sama siapa kamu pergi?"
Kaia menggigit bibir bawahnya. Dadanya naik turun menahan gugup. Ia bisa saja berbohong. Mengatakan pergi bersama teman kuliah atau bersama sahabat.
Namun... Ia tidak pernah mampu berbohong di hadapan ayahnya. "...Sean." Jawabannya hampir tak terdengar.
Fadlan memicingkan mata."Apa?"
Kaia memejamkan mata sesaat. "Sama Sean, Pa."
Brak!
Telapak tangan Fadlan menghantam sandaran sofa.
"Kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?!"
Seluruh tubuh Kaia refleks bergetar. "Sean orang baik, Pa... ." Kalimat itu keluar begitu saja. Nyaris seperti bisikan. Ia tidak ingin ayahnya terlalu membenci kekasihnya. Tidak ada yang salah dengan Sean.
Namun cukup membuat wajah Fadlan berubah semakin gelap. "Baik?" Pria itu berdiri. "Tidak semua orang baik pantas menjadi pasanganmu!"
Tatapannya lurus pada putrinya yang hanya tertunduk. "Perbedaan kalian terlalu jauh. Agama! Budaya! Prinsip hidup! Apa kamu pikir itu bisa diselesaikan hanya dengan kata cinta?"
Kaia menunduk. Air matanya mulai menggenang.
Farida mengusap perlahan punggung cucunya, mencoba memberi kekuatan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Namun Fadlan kembali melangkah mendekat.
Tatapannya semakin menusuk lurus ke arah Kaia. "Bisa tidak..."Ia menggeleng pelan, suaranya berubah semakin keras. "...sekali saja kamu membuat Papa bangga?"
Keheningan menyelimuti ruang keluarga.
"Kehadiranmu di dunia ini...
" Fadlan menatap Kaia tanpa sedikit pun rasa iba. "...memang tidak pernah membawa apa pun selain petaka."
kalimat itu meluncur pelan... Namun terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan sebelumnya.
Tatapan Kaia perlahan terangkat. Dadanya seolah diremas. Air mata yang sejak tadi ditahan Kaia akhirnya runtuh.
Setetes demi setetes jatuh membasahi punggung tangannya yang masih mencengkeram kuat kain dress putih yang dikenakannya.
Ia menunduk semakin dalam. Berusaha menyembunyikan isak yang mulai lolos dari bibirnya. Namun percuma. Kata-kata itu... Selalu berhasil menghancurkannya.
Dan tepat ketika ia mengira luka itu sudah cukup dalam, Fadlan kembali membuka mulutnya...
"Kamu pembawa petaka.Bahkan Ibumu meninggal karena melahir kanmu."
Kalimat-kalimat itu bukan sekali dua kali ia dengar. Semakin lama, ia mengerti arti kehilangan...
Sejak mulai memahami mengapa ayahnya tak pernah memeluknya... Ucapan itu selalu menjadi hukuman setiap kali Fadlan marah.
Entah karena nilai sekolah.Entah karena pulang terlambat.Entah hanya karena keberadaannya.
"Cukup, Fadlan!" Suara Hardja menggelegar memenuhi ruang keluarga. Pria tua itu berdiri. Meski usia telah memutihkan rambutnya, sorot matanya tetap tajam ketika menatap putranya sendiri.
"Kamu keterlaluan."
Suasana mendadak membeku. Fadlan
mengembuskan napas kasar.Namun kali ini Hardja tidak memberinya kesempatan untuk menyela.
"Kiara." Hardja mengalihkan pandangan kepada cucu sulungnya. "Bawa adikmu ke atas."
Kiara yang sejak tadi menahan air mata segera bangkit. Tanpa berkata apa-ара, ia menghampiri Kaia.
Tangannya menggenggam jemari sang adik yang terasa begitu dingin. "Ayo, Kai."
Suara Kiara terdengar sangat pelan. Kaia tak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Dengan langkah yang terasa berat, ia mengikuti kakaknya menuju tangga.
Selama menaiki anak tangga... Isaknya semakin sulit dibendung. Kiara menggenggam tangannya semakin erat. Seolah ingin berkata bahwa Kaia tidak sendirian.
Begitu pintu kamar tertutup... Tangis Kaia akhirnya pecah.
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih 🙏 *
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁