Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA SOFA DAN BOLA PANAS DI TANGAN AISYAH
Sinar matahari pagi merambat naik menembus tirai tipis di lantai dua. Suasana rumah begitu tenang. Ammar telah pergi mengajar sejak pagi, sementara Aisyah juga belum kembali sejak pamit ke pasar.
Ibu duduk di tepi ranjang kamarnya di lantai bawah, mengelus dadanya yang kini terasa jauh lebih lapang. Pengobatan medis dan dokter pribadi yang disediakan keluarga Abah benar-benar bekerja bagai keajaiban. Rasa sesak yang bertahun-tahun menghantuinya kini menguap, menyisakan tubuh yang terasa bertenaga.
Namun, tubuh yang terlalu lama berbaring justru membuat Ibu merasa jenuh.
"Duh, kalau cuma diam saja begini malah pegal semua badan Ibu," gumamnya pelan.
Dengan langkah perlahan namun pasti, Ibu melangkah keluar kamar. Pandangannya menyapu sekeliling rumah mewah yang kini mereka tinggali. Semuanya bersih dan megah, namun insting seorang ibu yang sudah puluhan tahun mengurus rumah tangga tidak bisa diam begitu saja. Terutama jika mengingat putri sulungnya, Aisyah.
Ibu terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. "Aisyah itu... dari dulu paling malas kalau disuruh merapikan kamar. Kaleng bekas, baju menumpuk, pasti dibiarkan begitu saja kalau tidak Ibu yang turun tangan."
Didorong oleh rasa kasih sayang dan keinginan untuk meringankan beban sang anak yang kini telah menjadi istri orang, Ibu melangkah menaiki tangga kayu berukir menuju lantai dua. Ia hendak membantu merapikan kamar utama kamar yang ditempati Aisyah dan Ammar.
Ibu mendorong pintu kamar utama yang tidak terkunci rapat.
Ruangan itu sangat luas, beraroma wangi kayu cendana yang menenangkan. Sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei putih bersih mendominasi tengah ruangan. Semuanya tampak rapi, jauh dari bayangan kamar Aisyah yang biasanya berantakan.
Ibu tersenyum bangga. "Wah, rupanya semenjak menikah dengan Mas Ammar, Aisyah jadi rajin juga..."
Namun, saat mata Ibu menyapu sudut ruangan dekat jendela besar, senyumannya mendadak membeku.
Di atas sofa kulit berwarna cokelat tua yang sempit, tergeletak sebuah bantal tebal dan selimut lipat yang susunannya agak berantakan. Di atas meja kecil di samping sofa, terdapat sebuah jam tangan pria milik Ammar dan sebuah peci hitam yang diletakkan terburu-buru.
Ibu melangkah mendekati sofa tersebut dengan kening berkerut dalam. Ia menyentuh selimut tipis itu—terasa bekas lipatan tubuh seseorang yang tidur di sana semalaman. Mata tua Ibu lalu beralih menatap kasur besar di tengah ruangan. Kasur itu hanya menunjukkan bekas lekukan satu tubuh di satu sisinya.
Sebuah kenyataan menghantam dada Ibu bagaikan pukulan telak.
Ibu menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar. Air mata perlahan menggenang di sudut matanya yang keriput.
"Ya Allah... Masya Allah..." bisik Ibu dengan suara pecah. "Jadi selama ini... Aisyah sama Mas Ammar... pisah ranjang?"
Bayangan kebahagiaan yang dipamerkan anak dan menantunya di hadapannya selama beberapa hari terakhir seketika hancur berkeping-keping. Sandiwara tawa Aisyah, kecupan penuh hormat di tangan Ammar, serta rangkulan hangat Ammar di bahu Aisyah saat pamit mengajar... semuanya hanyalah topeng tebal untuk menutupi kenyataan dingin di atas sofa ini.
Ibu terduduk lemas di tepi sofa kulit tersebut, meremas selimut Ammar dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Sore harinya, Aisyah baru saja kembali dari rumah Ndalem. Setelah ketegangan yang hampir membuat jantungnya copot di depan Ammar, Ummi Khadijah, dan Nabila, Aisyah berhasil pulang dengan selamat menggunakan taksi yang dipesankan oleh Nabila.
"Awan! Lihat Mbak bawa apa!" seru Aisyah riang begitu melangkah masuk ke dalam rumah.
Awan yang sedang menyusun mobil-mobilannya di ruang tengah langsung melompat gembira. "Mbak Sya bawa susu kotak?!"
"Bawa dua dus! Sama kue bolu pandan kesukaan Awan!" Aisyah tertawa renyah, merangkul adik kecilnya dan mencium pipinya bertubi-tubi. Rasa lelah dan ketegangan akibat bertemu keluarga Ammar tadi pagi seolah sirnah saat melihat tawa polos adiknya.
Namun, kegembiraan itu terusik saat Ibu melangkah keluar dari dapur. Wajah Ibu tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum hangat atau tatapan berseri-seri. Wajah tua itu tampak pucat, serius, dan matanya sedikit sembab bekas menangis.
"Aisyah," panggil Ibu dengan suara datar yang teramat tenang sebuah ketenangan yang justru mengindikasikan badai besar.
Langkah Aisyah terhenti. Binar bahagia di matanya memudar. "I-Iya, Bu? Ibu kenapa? Koq mukanya pucat gitu? Dada Ibu sesak lagi?" tanya Aisyah panik seraya mendekati ibunya.
Ibu menggeleng pelan. Ia menatap Awan yang sedang memeluk dus susunya.
"Awan, sayang," panggil Ibu lembut pada anak bungsunya. "Awan main mobil-mobilan di kebun samping ya? Lihat itu bunga-bunga di taman lagi mekar. Jangan main di dalam dulu."
Awan yang belum mengerti apa-apa hanya mengangguk polos. "Siap, Bu! Awan mau jalankan mobil jeep di atas rumput!" Bocah kecil itu berlari riang menuju pintu samping menuju taman.
Setelah pintu samping tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua di ruang tengah yang sepi, atmosfer di antara Ibu dan Aisyah berubah menjadi sangat berat.
"Bu... ada apa sih? Ibu bikin Aisyah takut deh," kekeh Aisyah kaku, mencoba mencairkan suasana.
Ibu menatap putri sulungnya itu dalam-dalam. Pandangan matanya sarat akan rasa duka, kecewa, dan keharuan yang tak tertahankan. Ibu memegang kedua tangan Aisyah, menggenggamnya erat-erat dengan jemarinya yang dingin.
"Sya..." panggil Ibu dengan suara bergetar. "Jujur sama Ibu. Kamu sama Mas Ammar... ada masalah apa?"
Jgeerrr!
Kata-kata Ibu terasa bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Jantung Aisyah berdegup kencan secara mendadak. Ia mencoba mempertahankan raut wajah netralnya.
"Masalah apa sih, Bu? Nggak ada masalah kok. Mas Ammar baik banget sama Aisyah, Ibu kan lihat sendiri—"
"Tadi pagi Ibu naik ke lantai dua," potong Ibu cepat, air mata perlahan menetes membasahi pipinya yang kempis. "Ibu mau beres-beres kamar kamu, Sya... Ibu tahu kamu anak gadis yang kurang rajin kalau urusan merapikan kamar. Ibu cuma mau bantu..."
Darah di tubuh Aisyah serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika pucat pasi. Tangannya di dalam genggaman Ibu mendadak menjadi sangat dingin.
"I-Ibu... masuk ke kamar utama...?" bisik Aisyah dengan suara hampir tak terdengar.
Ibu mengangguk pelan seraya mengusap air matanya. "Ibu lihat bantal dan selimut Mas Ammar di atas sofa kulit sempit itu, Sya. Ada jam tangan dan pecinya di sana. Bekas tidur orang semalaman..."
Ibu meremas tangan Aisyah lebih erat, menatap mata anaknya dengan tatapan hancur.
"Kenapa, Nak? Kenapa kalian pisah ranjang? Apa Mas Ammar tidak menyukai kamu? Atau kamu yang membentengkan diri dari suamimu sendiri?!"
Aisyah membisu total. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah dipaku ke langit-langit mulutnya. Otaknya berputar gila-gilaan mencari alasan. Harus jawab apa?! Haruskah ia jujur bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara demi melunasi utang dan biaya pengobatan Ibu? Bahwa Ammar sebenarnya sangat membencinya dan menganggapnya cewek kelab malam yang hina?
Tidak! Jika Ibu tahu kenyataan pahit itu, penyakit jantung Ibu pasti akan kumat seketika, dan seluruh pengorbanannya selama ini akan sia-sia!
"Sya... jawab Ibu, Nak!" panggil Ibu terisak pelan. "Ibu ini memang orang tua miskin yang tidak berpendidikan tinggi. Tapi Ibu tahu hukum agama, Sya. Kamu itu sudah jadi istri sahnya Mas Ammar. Surga kamu ada di bawah telapak kakinya."
Ibu membawa tangan Aisyah ke dadanya.
"Seorang istri itu kewajibannya melayani suami dengan ikhlas. Bukan cuma melayani menyiapkan baju atau buatkan teh pagi hari... tapi juga melayani kebutuhan lahir dan batin suamimu."
Pipi Aisyah mendadak merona merah bercampur rasa malu dan panik yang luar biasa mendengar Ibunya bicara sejelas itu tentang 'kebutuhan batin'.
"Ibu tahu," lanjut Ibu dengan nada membimbing yang teramat lembut. "Mungkin kalian menikah cepat. Mungkin kamu merasa canggung atau takut karena Mas Ammar itu seorang Habib, orang berilmu tinggi, sedangkan kamu cuma anak jalanan. Tapi Mas Ammar itu suamimu, Aisyah! Dia pria yang sudah menanggung seluruh hidup kita, melunasi utang-utang kita, membawakan dokter terbaik buat Ibu!"
Ibu menatap mata Aisyah penuh penekanan. "Kalau kamu terus-terusan menolak dia, membiarkan suamimu tidur sendirian di atas sofa dingin setiap malam... kamu dosa besar, Nak! Malaikat bakal melaknat kamu sampai pagi! Ibu tidak mau punya anak yang durhaka sama suaminya!"
Air mata Aisyah akhirnya menetes juga. Bukan karena marah pada Ibu, melainkan karena rasa tertekan yang teramat sangat. Ia terjepit di antara kepolosan Ibunya yang tidak tahu apa-apa dan kenyataan pahit hubungannya dengan Ammar.
Aisyah menarik napas panjang, mencoba menetralkan getaran di dadanya. Otak cerdiknya yang biasa dipakai bertahan hidup di jalanan bekerja keras menyusun sebuah kebohongan yang masuk akal demi menyelamatkan situasi.
Aisyah memegang balik tangan Ibunya, mengulas senyuman tipis yang dipaksakan seraya mengusap air mata di pipi tua sang ibu.
"Ibu... dengerin Aisyah dulu ya," ucap Aisyah dengan nada selembut mungkin, mencoba terdengar sesantai dan seyakinkan mungkin.
"Ibu salah paham... Mas Ammar tidur di sofa itu bukan karena kami berantem atau Aisyah menolak melayani Mas Ammar," bohong Aisyah lancar.
Ibu menatap Aisyah ragu. "Lalu kenapa ada bantal dan selimut di sofa?"
Aisyah menelan ludah, memutar otaknya cepat. "Itu... itu karena Mas Ammar belakangan ini lagi ada tugas berat dari Abah, Bu. Mas Ammar lagi menghafal dan menyusun karangan kitab baru buat santri-santrinya di pesantren."
"Menyusun kitab...?" kening Ibu berkerut.
"Iya, Bu!" jawab Aisyah meyakinkan, matanya membelalak mantap. "Mas Ammar itu kalau tidur di kasur empuk sama Aisyah, katanya suka ketiduran nyenyak banget sampai kesiangan. Padahal dia harus bangun jam tiga pagi buat tahajud dan nulis kitab sampai subuh. Makanya... Mas Ammar sengaja tidur di sofa yang agak keras biar dia gak bablas tidurnya!"
Ibu terpaku menatap wajah anaknya. "Beneran gitu...?"
"Beneran, Bu! Masa Aisyah bohong sih?" tambah Aisyah seraya tertawa kaku. "Malahan Aisyah sudah ngelarang, Aisyah bilang 'Mas, tidur di kasur aja sama Aisyah', tapi Mas Ammar-nya yang kekeh. Katanya demi tugas dari Abah. Mas Ammar itu kan orangnya disiplin banget kalau urusan agama dan tugas pesantren, Ibu tahu sendiri kan?"
Ibu menghembuskan napas panjang. Kejenuhan di raut wajahnya perlahan-lahan mengendur. Kebohongan Aisyah yang membawa-bawa nama 'tugas agama dan pesantren' benar-benar menjadi senjata ampuh untuk meluluhkan hati ibunya yang sangat mengagumi sosok Ammar.
"Jadi... kalian tidak pisah ranjang karena berantem?" tanya Ibu memastikan sekali lagi.
"Enggaklah, Bu! Kami baik-baik aja kok," kekeh Aisyah, walau hatinya meringis menangis. "Ibu jangan pikiran yang aneh-aneh lagi ya? Ibu kan baru sembuh, nanti kalau pikiran Ibu stres, tekanan darah Ibu bisa naik lagi. Aisyah sayang banget sama Ibu, Aisyah gak mau Ibu sakit."
Ibu tersenyum haru, menarik tubuh Aisyah ke dalam pelukannya yang hangat. Ibu mengusap punggung putri sulungnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah... Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu cuma takut kamu tidak bahagia atau salah melangkah," bisik Ibu pelan di telinga Aisyah. "Tapi ingat pesan Ibu ya, Sya... Nanti malam, kalau Mas Ammar pulang, suruh dia tidur di kasur. Kamu harus bisa melayani suamimu dengan baik. Jangan biarkan dia ketakutan atau merasa sendirian lagi."
Di dalam pelukan Ibunya, mata Aisyah terbuka lebar menatap langit-langit rumah.
Nanti malam... suruh Ammar tidur di kasur?!
Bulu kuduk Aisyah berdiri seketika. Bayangan kejadian semalam saat Ammar memojokkannya ke dinding dan bibir pria itu hampir menyentuh bibirnya kembali berputar heboh di dalam ingatan Aisyah.
Bagaimana mungkin ia bisa menyuruh pria kaku yang penuh gejolak emosi itu untuk tidur di satu kasur dengannya nanti malam?! Itu sama saja menyerahkan dirinya ke dalam sangkar singa yang siap menerkam!
Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat, merutuhi kebohongan yang baru saja dirangkainya. Ia berhasil menenangkan Ibunya, namun di saat bersamaan... ia baru saja menggali lubang perangkap yang sangat besar untuk dirinya sendiri dan Ammar nanti malam.