Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon.
Ani sedang mencuci piring di dapur, dari ruang makan terdengar suara dering telepon seluler. Telepon seluler Ani berada di atas meja makan. Cepat-cepat Ani mencuci tangan dan menjawab panggilan tersebut. Ia takut kalau yang menelepon adalah suaminya. Ia tidak ingin suaminya menunggu terlalu lama. Ani sangat rindu kepada suaminya. Sudah beberapa hari suaminya berada di luar kota.
Namun, ketika ia melihat layar telepon seluler bukan nama suaminya yang tertera di layar telepon seluler. Ia tidak mengenal nomor tersebut. ‘Nomor telepon siapa ini?’ tanya Ani di dalam hati.
Di layar telepon terlihat foto seorang laki-laki memakai kaca mata hitam. Ia tidak mengenal wajah laki-laki itu. Ani tidak berani menjawab panggilan. Ia takut telepon dari penipu. Apalagi sekarang sedang marak penipuan melalui aplikasi chatting hijau.
Dering telepon pun berhenti, Ani meletakkan kembali telepon seluler di atas meja. Ia melanjutkan mencuci piring. Dua menit berselang terdengar suara pesan masuk di telepon seluler. Ani terpaksa berhenti mencuci piring. Ia mengelap tangan lalu mendekati meja makan. Ia melihat pesan masuk di layar telepon seluler. Ani membuka pesan tersebut. Rupanya pesan dari nomor tak dikenal.
081xxxxxxxxx :
[Selamat siang, Bu. Saya dari kepolisian. Apakah ini dengan nomor telepon Ibu Ani Almira? Istri dari Bapak Ahmad Fardan?]
Ani hanya membaca pesan, tetapi ia tidak berani menjawab pesan. Sekarang sedang marak rumor orang yang melakukan penipuan dengan mengaku sebagai polisi.
Tidak lama kemudian ada beberapa pesan masuk. Pesan itu berupa foto. Ani melihat foto-foto yang dikirim oleh orang itu. Ternyata orang itu mengirim foto KTP, STNK mobil, SIM mobil dan plat nomor mobil milik suaminya. Ani terkejut melihat foto-foto tersebut. Apalagi plat nomor mobil Fardan terlihat ringsek.
Seketika tangan Ani gemetaran melihat foto-foto itu. Keringat dingin keluar dari telapak tangan, pelipis dan dan tungkuknya. Ia cemas terjadi sesuatu dengan suaminya. Ani pun langsung menelepon orang itu. Tanpa menunggu lebih lama orang itu langsung menjawab panggilan Ani.
“Apa yang terjadi dengan suami saya?” tanya Ani langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Selamat siang, Ibu. Apakah betul ini Ibu Ani Almira?” Terdengar suara laki-laki yang menjawab telepon Ani. Orang itu tidak menjawab pertanyaan Ani tetapi malah balik bertanya untuk memastikan apakah yang menelepon adalah benar-benar Ani yang ia maksud.
“Saya Ani Almira, Istri dari Ahmad Fardan,” jawab Ani.
“Begini, Bu. Pada pukul 10 lewat 23 menit waktu Indonesia Bagian Barat mobil yang dikendarai oleh suami ibu mengalami kecelakaan di tol Cisendawu,” ujar orang itu.
Ani shock mendengar apa yang dikatakan laki-laki tersebut. Seketika tubuhnya merasa lemas, ia langsung terduduk di lantai. “Mas Fardan.” Air mata Ani mengalir di pipi. Ani menangis tanpa mengeluarkan suara tangisannya.
“Halo, Bu? Ibu masih di sana?” Laki-laki itu memanggil Ani.
Ani pun tersadar kalau teleponnya masih terhubung dengan laki-laki yang mengaku polisi. “Bagaimana dengan kondisi suami saya?” Suara Ani terdengar lemah.
“Suami Ibu dalam keadaan kritis. Kami akan membawa Pak Fardan ke rumah sakit di Bandung. Di sekitar sini tidak ada rumah sakit yang bisa menampung pasien dengan kondisi kritis seperti yang sedang dialami Pak Fardan,” jawab laki-laki itu.
“Di perkirakan Pak Fardan akan sampai di rumah sakit sekitar 30 menit lagi,” lanjut laki-laki itu.
’Tiga puluh menit? Itu waktu yang tidak lama. Aku harus bersiap-siap,’ kata Ani di dalam hati.
“Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana. Terima kasih atas pemberitahuannya,” ucap Ani.
“Dengan senang hati, Bu,” jawab laki-laki itu. Ani mengakhiri pembicaraannya, ia bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian.
Tiga puluh menit kemudian Ani sampai di depan rumah sakit terbesar se Jawa Barat. Ia berangkat menggunakan taksi online. Taksi online berhenti tepat di depan pintu gerbang menuju ke Instalasi Gawat Darurat. Setelah membayar jasa taksi online, Ani bergegas menuju ke Instalasi Gawat Darurat.
Ani berhenti di depan loket pendaftaran IGD. Dadanya bergemuruh dan nafasnya tersengal-sengal. Perasaannya tidak karuan. Di dalam loket pendaftaran terlihat karyawan wanita sedang mengetik di depan komputer. Ani memanggil karyawan wanita tersebut. “Teh.”
Karyawan itu menoleh ke arah Ani. “Ya, Bu,” jawab karyawan itu.
“Apa ada pasien bernama Ahmad Fardan korban kecelakaan yang dirawat di ruang IGD?” tanya Ani.
“Sebentar saya periksa dulu.” Pandangan karyawan itu kembali ke layar komputer. Ia mencari nama Fardan di komputer.
Tanpa menunggu lama karyawan itu kembali menoleh Ani. “Bu, dari pagi belum ada pasien yang bernama Ahmad Fardan,” jawab karyawan.
Ani menghela napas panjang. “Terima kasih, Teh.” Ani berlalu dari loket pendaftaran.
‘Mas Fardan dimana?’Ani memperhatikan ke sekeliling ruang tunggu IGD dengan kebingungan.
Tiba-tiba terdengar suara sirine ambulan dari kejauhan. Semakin lama suara sirine semakin kuat. ‘Apa itu ambulan yang membawa Mas Fardan?’ tanya Ani di dalam hati.
Ani bergegas menuju ke depan rumah sakit. Di depan rumah sakit ia melihat sebuah mobil patroli jalan raya berjalan memasuki halaman rumah sakit. Di belakang mobil patroli ada dua buah mobil ambulan yang masuk ke halaman rumah sakit dan dua buah mobil dinas kepolisian mengikuti dari belakang.
Kedua ambulans berhenti di depan pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat. Para perawat laki-laki dan suster keluar dari ruang IGD dan menghampiri mobil ambulan. Mereka membawa dua buah brangkar untuk pasien. Pintu belakang salah satu ambulan terbuka. Seorang suster dan dokter keluar dari mobil. Cepat-cepat Ani mendekati mobil ambulan tersebut. Ia ingin memastikan apakah pasien yang berada di dalam mobil ambulan adalah suaminya atau bukan?
Tiba-tiba ada tangan kekar yang menyentuh bahunya, Ani pun terkejut. “Astagfirullahaladzim,” ucap Ani.