NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minyak Angin dan Candaan Kecil

Aku duduk di sisi ranjang, dengan sorot mata tertuju pada beberapa hadiah pernikahan yang diberikan oleh pasien kak Revan. Hadiahnya bervariasi, hasil kerajinan tangan mereka sendiri, dan yang paling aku sukai salah satu hadiah lukisan wajahku dan kak Revan.

Dengan nama pemberi yang tercantum disana. Kaluna.

Lukisan wajah yang sangat indah.

Aku mulai mengedarkan pandangan, suasana ruang kamar terasa sepi dan hening. Satu jam yang lalu kak Revan telah berangkat untuk menunaikan kewajibannya, memberi semangat hidup untuk orang diluar sana yang sedang melawan penyakitnya.

Aku salut sekali, dalam keadaan tubuh yang kurang vit. Kak Revan tetap memaksakan diri untuk berangkat, karena ada pasien yang sedang membutuhkannya.

Thing.

Suara notifikasi pesan masuk, mampu membuyarkan lamunanku.

Aku melirik layar ponsel, nama kak Revan tertera disana. Pria itu mengirimiku sebuah pesan.

Desiran hangat dalam dada kembali hadir, namun aku segera menepisnya.

Kak Revan : Tolong bantu ibu untuk minum obat, pukul 21.00. Saya tidak pulang malam ini.

Kak Revan tidak pulang, berati keadaan pasiennya sedang genting.

Aku : Baik kak.

Lalu tidak lama kemudian, sebuah pesan kembali masuk pada ponselku. Dari kak Revan lagi, tapi ini dengan pesan yang berbeda. Pria itu memberiku sebuah video.

Aku menekan video itu, rasa penasaran semakin bergumul di dalam dada ini.

"Selamat malam ibu guru Alya, terimakasih atas hadiahnya. Kami senang sekali."

Senyum terukir, serta desiran panas di pipi mulia terasa. Mereka tampak berwajah pucat, tapi senyum manis mereka tampak sangat indah.

"Halo..ibu guru Alya, aku Kaluna. Pasien leukimia stadium lanjut. Aku bercita-cita ingin menjadi seperti ibu guru Alya, menjadi wanita yang baik dan cantik serta menjadi ibu guru yang cerdas."

Deg.

Kaluna, ia yang memberiku lukisan wajah yang sangat indah. Senang sekali aku bisa melihat wajahnya, gadis kecil itu tampak cantik dengan balutan upluk yang menutupi bagian kepalanya.

Aku : Kak terimakasih sudah mengambil video mereka. Aku senang bisa melihatnya. Jika tidak keberatan, tolong sampaikan salamku pada mereka.

Terutama pada Kaluna,

Pesan yang aku kirim hanya di baca saja oleh kak Revan.

Aku memutuskan untuk pergi ke kamar Bu Rahayu, sesuai dengan pesan yang kak Revan berikan. Aku akan membantunya untuk meminum obat.

"Alya...masuk saja nak."

Bu Rahayu sedang bersandar pada ranjang kasur, guratan wajahnya terlihat teduh dibawah temaram cahaya lampu.

"Duduk sini Al..." Bu Rahayu menepuk sebelah tempat tidurnya, menempati sisi ranjang duduk berhadapan dengan ibu mertua.

"Kak Revan tidak pulang malam ini Bu. Ia titip pesan pada Alya untuk membantu ibu minum obat..."

Bu Rahayu tersenyum hangat, ia tampak menarik nafas pelan seraya tangan kanannya menangkup pada wajahku.

"Kamu sudah tau Revan punya hubungan dengan Aira?"

Aku mengangguk pelan, seraya menampakkan senyum lebar pada wajah.

"Revan memiliki kekasih, tapi hubungan rumah tangga kamu dan Revan terlihat baik-baik saja." Bu Rahayu mengelus pelan wajahku. Sorot matanya menatap sendu.

"Hati ibu selalu hangat jika Revan memberikan perhatian pada Al, ibu bahagia sekali saat Revan yang selalu memperhatikan kondisimu, mulai dari mengobati luka, berusaha membuat kamu siuman."

Aku mengangguk singkat, dengan senyum yang perlahan memudar "Kak Revan sangat baik Bu, tapi....bukan Alya yang ia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Maapkan Alya Bu, jika suatu saat nanti pernikahan ini berakhir."

"Maapkan ibu juga Alya.. ibu percaya sampai kamu nak....tapi jika ini membuatmu sakit hati, ibu tidak ingin memaksakan. Jika memang Revan akan melepasmu, kamu masih tetap menjadi putri ibu, menantu ibu. Sekali maapkan ibu Alya..."

Air mata turun perlahan, membasahi wajah yang mulai di penuhi dengan kerutan.

"Ibu, tidak usah minta maap. Semuanya sudah terjadi dan sudah menjadi ketetapan. Pernikahan aku dan kak Revan itu sudah di takdirkan, tapi jika kami di takdirkan kembali berpisah. Alya ikhlas Bu.."

Bu Rahayu kembali menatap lembut padaku, tangannya tidak berhenti untuk mengeluarkan pelan wajahku.

"Pernikahan kalian baru seumur jagung, ibu masih berdoa dan berusaha agar Tuhan memberi jalan yang lurus pada rumah tangga kalian."

"Lihat..!"

Bu Rahayu menunjukkan sebuah foto di atas nakasnya. Foto sebuah foto pernikahan aku dan kak Revan.

"Kalian sangat serasi sekali. Cocok, ibu sangat menyayangi kalian berdua."

Sudah pukul dua satu, dan Bu Rahayu harus segera meminum obatnya. Aku membantunya dengan kak Revan yang melakukan panggilan telpon untuk membimbingku menyiapkan obat untuk Bu Rahayu.

Disamping Bu Rahayu tersenyum hangat, memperhatikan aku yang sedang menyusun obat satu persatu atas bimbingan dari kak Revan.

"Minum nya lagi Bu?"

"Sudah cukup Al.."

🌸🌸🌸

"Kak Revan, sudah pulang?" Aku melihat kak Revan yang sedang merebahkan tubuhnya, wajahnya terlihat lelah dan kemerahan di pipinya.

Apa seorang dokter juga bisa sakit?

Sebelum menghampiri kak Revan, aku melanjutkan kegiatanku sejenak. Memakai hijab, berwarna krem yang dipadukan dengan baju kurung berwarna coklat tua.

Jas putih masih terpasang pada tubuhnya. Bahkan kak Revan tidak sempat melepas sepatunya.

"Kak ganti dulu bajunya, baru istirahat."

Kak Revan tidak bergeming, pria itu terus saja memejamkan matanya. Aku mendekat dan menekan keningnya, tubuhnya terasa panas.

"Kamu demam kak..."

Pada akhirnya aku membantu kak Revan untuk mengganti bajunya dengan pakaian bersih. Melepaskan sepatunya, memberinya bye-bye fever, kemudian membantunya meminum obat. Setelah itu kak Revan bisa tidur nyenyak.

"Ternyata dokter bisa sakit juga, aku kira tidak..." gumamku pelan. Sambil membereskan alat kerja dan beberapa berkas medis yang kak Revan bawa dari rumah sakit. Menyimpannya teratur.

"Dokter manusia, bukan malaikat..." aku mendengar sahutan suara serak di balik selimut. Ternyata Kaka Revan tidak benar-benar tertidur.

Kenapa jawabannya terdengar lucu sekali, aku tidak menyangka ternyata kak Revan bisa senyeplos itu.

"Apa dokter bisa di rawat oleh pasiennya?"

Kak Revan membuka selimut yang menutupi wajahnya, sorot matanya menatapku tajam dengan alis yang berkerut.

"Tolong ambilkan minum saya haus. Badan saya terasa remuk."

"Baik dokter, pasien yang bernama Alya akan segera mengabulkan."

Aku menyerahkan segelas air pada kak Revan, pria itu menyandarkan tubuhnya pada ranjang.

"Tolong ambilkan minyak angin.." lirihnya, seraya aku mengangguk. Ternyata minyak angin milik kak Revan sudah habis, akhirnya kau memberikan minyak angin milikku. Minyak angin dengan aroma yang soft. Lebih cocok untuk bayi.

"Biar aku bantu kak, pasienmu ini juga bisa menuangkan minyak angin ini dengan baik pada tengkukmu."

Tanpa banyak kata dan protes kak Revan menegakkan tubuhnya dan posisi tubuhnya membelakangi ku yang sedang berdiri di sisi ranjang.

Aku mulai menuangkan minyak angin itu pada pundaknya, membalurnya dan memberinya sedikit pijatan pada bahu, tengkuk serta pundak.

"Saya bukan balita Alya..kenapa bau minyak anginnya seperti ini.."

Kenapa aku ingin tertawa saat melihat kak Revan protes tapi masih menikmati pijatan di bahunya.

"Minyak angin punya kamu habis kak, yaudah pake minyak angin milikku. Khasiatnya juga sama kok, hanya aja wanginya bikin kamu nostalgia tiga puluh tahun yang lalu."

"Saya tidak setua itu.."

Bersambung..

1
Lembayung Bercerita
ok kak author semangat buat up nih...
Ria Leilyhani
lanjutkan thor
sunaryati jarum
Lebih baik segera berpisah Alya , walau Revan baik tapi hatinya bukan untukmu.Kamu hanya akan tersakiti
Lembayung Bercerita: sakit banget ya kak..😭
total 1 replies
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!