Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Telah Peduli
"Aaakh, Ayah... sakit.."
Bukan namaku yang Alya sebut, melainkan ayahnya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
Alya tersungkur di lantai, tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan memegang perut yang baru saja menghantam keras sudut nakas.
'Prakk!'
Pisau tajam itu seketika terjatuh, tepat menimpa sepatuku.
Aira terpaku di tempat melihat Alya merintih kesakitan. Begitu pun denganku. Rasanya kaki ini ikut terpaku pada lantai, berat untuk digerakkan saat melihat Alya perlahan tersungkur.
"Nak Revan, Alya kenapa? Tolong... bawa anak saya.." Suara serak Pak Darman menyadarkanku. Seketika aku berlari menuju Alya.
"Kak Revan..." rintih Alya.
Aku mulai menegakkan tubuhnya. Menatap wajahnya yang semakin terlihat pucat.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Aku memosisikan tubuh Alya dengan hati-hati, bersiap menggendongnya.
"Perutku terasa diperas dan ditusuk-tusuk."
Seketika aku melebarkan mata saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir di tanganku.
Darah segar mengalir deras, membasahi rok yang Alya kenakan serta kemeja yang kupakai.
Alya kenapa?
Sungguh bodoh. Aku terlambat menyadari apa yang sedang terjadi pada Alya. Ia sering mual, kepalanya pusing, dan nafsu makannya menurun. Ternyata itu bisa menjadi tanda kehamilan.
Kenapa aku begitu bodoh untuk menyadarinya? Aku terlalu abai.
Alya kembali menjadi korban keteledoranku. Kamu bodoh, Revan...
Aku terus merutuki diriku sendiri sampai pada akhirnya tangan Alya meremas kuat kerah kemejaku.
"Kak Revan... aku kenapa? Kenapa begitu banyak darah yang keluar?" Alya terisak sambil menahan rasa sakit.
"Alya... maafkan aku."
Aku mengangkat tubuh Alya, membawanya dengan sigap menuju ruang gawat darurat. Melangkah cepat dengan darah yang terus mengalir.
Terdengar derap langkah di belakangku. Aira juga mengikutiku.
"Pulanglah, Aira. Kondisinya sedang darurat. Aku akan menyelesaikan masalah kita nanti."
Aku berbicara tanpa menoleh ke arah Aira. Hingga akhirnya derap langkah itu tidak terdengar lagi.
"Tolong panggilkan dokter SpOG."
Beberapa perawat segera menangani Alya. Mereka memasang infus, memeriksa tanda-tanda vital, serta memastikan kesadarannya. Aku hanya bisa memandangi wajah yang kini terlihat begitu pucat sambil menggenggam jemarinya yang perlahan terasa dingin.
Dokter yang akan menangani Alya datang.
"Pak Revan, apa yang terjadi?"
"Istri saya mengalami pendarahan hebat, Dok. Tolong segera diperiksa. Saya khawatir terjadi sesuatu pada kehamilannya."
"Kak Revan... jadi aku hamil?"
Dengan wajah yang terlihat lemah, Alya menatapku.
"Maafkan aku, Alya. Kita terlambat menyadarinya..."
Dokter kandungan itu langsung mengambil tindakan. Ia memeriksa kondisi Alya dengan teliti dan melakukan pemeriksaan USG untuk melihat kondisi rahim serta kehamilan Alya.
Alya tergugu, berusaha kuat menahan perih dan rasa sakit. Aku semakin erat menggenggam jemarinya. Mengusap keningnya yang kini dibasahi keringat.
"Jangan bersedih. Kamu sering berbicara soal keikhlasan sebuah takdir padaku. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini juga salahku, Alya. Aku merasa gagal sebagai seorang dokter..."
"Jangan memikirkan apa-apa dulu. Fokuslah pada pemeriksaan dan kesembuhanmu."
"Dokter Revan..."
"Iya, Dok?"
Aku menegakkan tubuh, memperhatikan Dokter Rima yang sedang mengamati hasil pemeriksaan.
"Kandungan Bu Alya masih sangat muda, kemungkinan sekitar empat minggu. Pada usia kehamilan seperti ini, jaringan kehamilan masih sangat kecil. Dari pemeriksaan awal, kami perlu memastikan apakah kehamilannya masih berkembang atau sudah terjadi keguguran dan apakah masih ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim."
Aku mengangguk.
"Lakukan yang terbaik, Dok."
"Baik. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan memindahkan Bu Alya ke ruang obstetri untuk pemantauan."
🌸🌸🌸
Ruangan obstetri terasa semakin dingin. Aku tetap berada di samping Alya, memperhatikan kondisinya. Wanita itu terlihat berusaha kuat, walau matanya sangat lemah dan wajahnya semakin pucat.
Dokter Rima kembali memeriksa hasil USG.
"Jaringan kehamilan sudah keluar sebagian, tetapi masih ada kemungkinan jaringan yang tertinggal di dalam rahim. Kami perlu memastikan kembali dengan pemeriksaan USG, dan jika memang masih terdapat jaringan serta perdarahannya tidak berhenti, kami akan melakukan tindakan evakuasi jaringan rahim."
"Apa itu akan terasa sakit, Kak?" Sambil meringis, Alya menatap ke arahku.
"Akan ada rasa tidak nyaman dan kram, tetapi dokter akan memberikan obat untuk membantu mengurangi rasa sakit. Kamu kuat."
Dokter Rima kemudian menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan memberikan obat anestesi sesuai kebutuhan agar Alya tetap nyaman selama prosedur.
Setelah semuanya siap, tindakan dilakukan untuk mengeluarkan jaringan yang masih tertinggal di dalam rahim.
"Bu Alya, kalau terasa kram atau sakit, jangan takut, ya. Beri tahu kami."
Alya tampak tegar dan mengangguk.
Aku kembali membungkukkan badan, mengajaknya berbicara agar perhatiannya teralihkan dari rasa sakit. Tanganku terus menggenggam erat jemarinya.
Aku rasa apa yang kulakukan kini hanyalah sebuah tanggung jawab.
"Kak... aku merasa sangat mengantuk."
"Tenang saja. Pejamkan mata kalau kamu lelah. Aku tetap di sini."
Aku mengusap pelan puncak kepalanya, membetulkan anak rambutnya yang basah oleh keringat. Berusaha memberikan ketenangan untuk Alya.
Tidak lama kemudian, prosedur itu selesai. Dokter memastikan perdarahan Alya mulai terkendali dan kondisinya stabil.
"Gak ada yang harus disesali, Alya..."
"Tapi aku sedih, Kak..."
Aku merengkuh tubuh Alya. Mengusap puncak kepalanya.
Bukan hanya dia, aku pun merasa sedih.
Alya sudah tampak lebih tenang, sementara aku melangkah mendekati dokter Rima.
"Dok, bagaimana kondisinya?"
"Untuk sementara kondisinya stabil. Jaringan yang tertinggal sudah berhasil dikeluarkan. Kami akan terus memantau perdarahan dan kondisi Bu Alya."
Aku mengangguk, lalu kembali menatap Alya.
Dadaku terasa sesak.
Aku tidak paham apa yang kurasakan kini, tetapi hatiku terasa lebih perih daripada yang seharusnya.
Aku merasa gagal.
🌸🌸🌸
Alya sudah dipindahkan ke ruang privat VIP. Kondisinya mulai stabil. Aku tetap mendampinginya, mencoba menghibur Alya yang masih tampak melamun.
"Kak Revan... tadi bagaimana kondisi janinku?" tanya Alya. Suaranya masih terdengar lemah.
Aku terdiam sejenak.
Aku tidak ingin menjelaskan terlalu banyak kepadanya dalam kondisi seperti ini.
"Jaringannya sudah dikeluarkan, Alya. Sekarang kamu harus beristirahat dan memulihkan tubuhmu."
Alya menunduk. Air matanya kembali mengalir.
Aku segera menutup jarak dan merengkuh tubuhnya.
"Maafkan aku..."
Alya menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Kak Revan..."
"Hmm?"
"Kak Revan sempat sedih?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku mengangguk pelan.
"Iya."
Entah mengapa, mengakui hal itu terasa begitu berat.
Aku mengusap keningnya sambil memandangi wajah Alya yang putih pucat, tetapi tetap memancarkan ketenangan.
Aku mendaratkan satu kecupan pada keningnya.
"Apa kecupan ini juga sebuah perlakuan dokter pada pasiennya?"
Aku menggeleng pelan. Masih menatap lekat wajah Alya.
"Setahuku, hanya seorang suami yang mencintai istrinya yang akan mendaratkan kecupan pada kening istrinya."
Aku terpaku dan membisu. Lidah ini terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari Alya.
Jemari lentik dan telapak tangannya yang lembut itu kini mengusap pelan wajahku.
"Kak Revan, baru saja tadi aku mendengar jika kamu masih memanggil Aira, 'sayang'. Dan apa yang kamu lakukan barusan padaku bisa menanamkan harapan lebih untuk diriku. Perlu diingat lagi, Kak... aku yang mencintaimu dan kamu mencintai wanita itu."
Hatiku seperti teriris pisau.
Perih.
Teringat bagaimana tadi Aira mendorong tubuh Alya hingga tubuhnya terbentur keras.
Namun Alya sama sekali tidak menyalahkan Aira.
"Memangnya seorang suami tidak boleh mencium kening istrinya?"
"Kak Revan..."
Jemari Alya mulai membenahi rambutku. Tangannya bergerak pelan dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih sudah sangat peduli denganku..."
Aku mengangguk.
Entah mengapa, melihat Alya yang berusaha tegar membuat dadaku kembali terasa sesak.
Walau kondisi tubuhnya tidak dapat dibohongi. Ia terkulai lemah di atas ranjang, dan hal itu semakin membuat hatiku terasa sakit.
Ya Tuhan, perasaan apa ini?
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen, ya...