Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : JADWAL PADAT
Minggu ketiga Jingga bekerja, sama sekali tidak ada tanda-tanda mencurigakan antara Angkasa dan Jingga. Keduanya hampir tak pernah berhubungan secara langsung kecuali telepon kantor terkait pengingat jadwal meeting atau pertemuan dengan klien. Sebab Bintang memang mempercayakan jadwal Angkasa pada Jingga agar terbiasa.
Sementara Bintang cukup sibuk dengan urusan lain, terutama proyeknya dengan Devan. Karena dalam pesanan 40 kitchen set itu, Bintang mau modelnya berbeda, menyesuaikan idenya dan kesanggupan Devan sendiri. Sehingga konsul dan progres selalu menjadi urusan Bintang dan Devan sekarang.
Dalam kesibukan itu, Bintang mulai merasakan ada yang aneh. Bukan aneh yang mencurigakan, tapi aneh yang bikin kangen.
Angkasa, suaminya, tiga minggu ini pulang selalu di atas jam sembilan malam. Alasannya selalu sama: jadwal padat, ketemu klien, survei lahan rusun PT. Rahayu. Padahal dulu, Angkasa adalah tipe yang paling anti makan malam di luar. Katanya, masakan Bi Inah selalu juara, juga jaga body.
"Mbak Jingga, jadwal Pak Angkasa minggu ini gimana sih? Kok kayaknya padat banget?" tanya Bintang siang itu di pantry, sambil menuang teh.Jingga yang lagi cuci gelas, tangannya berhenti sepersekian detik.
"Ehh... iya Bu. Padat. Minggu ini ada tiga klien besar. Yang PT. Rahayu itu maunya ketemu sore terus," jawab Jingga, menatap kalender di HP-nya.
Jantungnya berdebar.
Itu bohong.
Jadwal Angkasa sore ini kosong. Ia sendiri yang mengosongkannya atas perintah Angkasa.
"Oh, gitu. Pantesan jarang makan malam di rumah sekarang. Aku sampai bingung, sop iga kemarin gak disentuh sama sekali," keluh Bintang, bukan curiga, lebih ke ngambek manja.
Jingga hanya tersenyum kaku.
"Mungkin kecapekan atau sudah diajak makan oleh klien, Bu." Hanya kalimat itu yang bisa Jingga ungkapkan untuk menghibur Bintang dan menutup rasa bingungnya sendiri.
Sore harinya, jam 17.00.
Rumah Graha Famili kedatangan tamu. Bu Ratna, mertua Bintang.
"Assalamu'alaikum, Bintang!" sapa Bu Ratna yang datang dengan dress batiknya.
"Ibu habis dari arisan di blok C, mampir sini sekalian. Kan deket."
Bintang menyambut ramah. "Wa'alaikumsalam, Bu Ratna. Masuk, Bu. Kebetulan Bi Inah bikin klepon tadi."
Tapi mereka hanya duduk di teras.
Sempat hening kaku, Bintang tidak tau harus bicara tentang apa pada mertuanya. Terakhir ketemu di rumah sakit bulan lalu, juga terjadi insiden sop yang tumpah.
"Hmmm... sepi sekali rumah tanpa kehadiran anak ini ya, Bintang." Bu Ratna tiba-tiba nyeletuk sambil nyomot klepon.
Wajah Bu Ratna biasa saja, tetapi tidak dengan perasaan Bintang yang mulai terserang sindiran begini.
"Ya... mau gimana lagi Bu. Memang belum dikasih. Kami sudah usaha kok. Bahkan awal bulan kemarin kami sempat berbulan madu, di masa suburku." Bintang tentu bela diri. Merasa tidak boleh mengalah pada mertuanya.
"Bulan madu kok pergi-pergi. Saat masa subur lagi. Ya kan getaran di jalan bikin itu gagal." Kapan Bu Ratna bisa bicara baik-baik, selalu saja dengan nada tinggi.
"Setidaknya pikiranku tenang dan bahagia saat diajak Angkasa berlibur." Jawab Bintang datar sambil melipat dua tangannya di depan dada.
"Gimana kalo kalian adopsi Damar saja?" Ide Bu Ratna tiba-tiba muncul.
"Adopsi Damar? Bu, Damar kan masih punya ibu. Dia juga udah tiga tahun, sudah sangat kenal dengan ibunya. Mana mungkin dia bisa lengket denganku."Tentu saja Bintang menolak.
"Gimana Damar bisa dekat denganmu kalo kamu gak pernah usaha melakukan pendekatan dengan dia. Gak seperti Angkasa sering ajak Damar main. Makanya suka manggilnya juga Ayah. Kasihan anak ibu itu. Mungkin udah mau banget punya anak." Hah... orang tua ini bicara apa? Dia tidak sedang bercanda kan?
"Sering main dengan Damar?" Ulang Bintang.
"Kamu gak tau? Sekarang Mbak Bumi mu itu sudah mandiri. Dia jualan Bakmi Jawa di teras rumahnya. Awalnya sepi, tapi setelah banyak yang tau masakannya enak, huh. Dia kadang kewalahan. Angkasa hampir tiap hari ke sana. Bantu jaga Damar, karena Bumi sibuk melayani pelanggan."Terjawab sudah perasaan aneh Bintang beberapa minggu ini.
Bukan jadwal meetingnya yang padat. Tapi karena Damar dan Bumi itu yang lebih penting.
"Kok diam? Coba sekali-kali ikut Angkasa main sama Damar juga. Hitung-hitung belajar jadi ibu. Kali aja bisa memancing jiwa keibuanmu." Lanjut Bu Ratna tidak peduli dengan hati Bintang yang retak lagi.
Bersambung...
Readers marah lagi nih.
Marah sama siapa?
Angkasa atau Bumi nih? yang mau di tabok duluan?
Tabok Nyak pake vote aja besok yaaa
Mkaasih