Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi Sang Putri
BAB 15
Suara bising knalpot motor tua melintas kencang di depan gang kos, memecah keheningan malam Desa Kertajaya yang mulai dibalut udara lembap selepas senja. Di kejauhan, dari surau dusun sebelah, suara azan Isya baru saja selesai berkumandang, berpadu dengan derik jangkrik di balik rumpun pisang dan suara radio compang-camping milik warung ujung gang yang memutarkan lagu dangdut koplo lawas.
Raka mendorong pintu kayu kamar nomor empat dengan sebelah tangan, sementara tangan kanannya mengangkat kantong plastik putih berisi nasi bungkus dan gorengan yang aromanya langsung menyeruak memenuhi ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu.
"Wih, bau minyak gorengnya harum banget! Datang juga penyelamat lambung umat akhir bulan!" seru Bayu bersemangat, langsung bangkit dari posisinya di atas kasur busa tipis dan menyambut Raka di dekat pintu.
Dimas ikut bergeser duduk mendekati meja plastik reyot, matanya berbinar menatap bungkusan nasi bungkus dan kantong kertas cokelat kecil berisi lima gorengan hangat yang baru saja diletakkan Raka.
Suasana di dalam kamar mendadak berubah ceria, jauh berbeda dari ketegangan sore tadi saat Bu Ratna datang membawa daster hijau lumutnya.
Raka membuka bungkusan tersebut di atas meja, mengeluarkan tiga bungkus nasi dan kantong kertas berisi lima gorengan yang masih hangat.
"Nih, pas ya masing-masing satu bungkus nasi, terus gorengannya gue bagi rata. Bay, jangan luhab ya, bagian lo udah dihitung."
"Siap, komandan!" cengir Bayu lebar-lebar, langsung mengambil satu buah tahu isi panas dan meniup-niupnya pelan sebelum melahapnya dengan penuh kenikmatan.
"Hmm... renyah di luar, lembut di dalam. Gorengan emang nggak pernah bohong soal kebahagiaan."
Di sudut ruangan, Zahmira berdiri dengan anggun di dekat jendela. Perempuan bergaun ungu itu melipat kedua tangannya di dada, menatap tiga pemuda yang sedang melahap makanan sederhana itu dengan sorot mata penuh jijik yang dipamerkan secara terang-terangan. Aroma gurih minyak goreng dan bumbu rempah nasi bungkus yang pekat membuat Zahmira refleks sedikit mengernyitkan hidungnya.
"Bagaimana bisa kalian memasukkan benda-benda berminyak dan penuh asap itu ke dalam tubuh kalian?" cibir Zahmira dingin, memalingkan wajahnya ke arah luar jendela seolah-olah pemandangan malam di gang sempit lebih menarik untuk dilihat.
Bayu berhenti mengunyah sejenak, melirik ke arah Zahmira sambil nyengir. "Ih, jangan salah, Mbak Zahmira. Ini namanya kuliner kearifan lokal Desa Kertajaya. Sekali gigit, rasanya langsung nendang ke surga dunia. Kalau Mbak nggak coba, nyesel lho."
Zahmira mendengus sinis, mendongakkan dagunya tinggi-tinggi. "Di tempatku, makanan tidak seperti ini."
"Memangnya di tempat Mbak makannya apa?" tanya Bayu penasaran.
"Buah-buahan spiritual. Bunga-bungaan surgawi. Kadang sari madu murni," jawab Zahmira dengan nada bangga.
Bayu melongo, lalu tergelak pelan. "Hah? Makan bunga? Emangnya Mbak kambing peliharaan tetangga yang suka ngunyah tanaman hias?"
"Jangan tertawa!" tukas Zahmira tajam, wajahnya merengut kesal karena merasa diremehkan.
Tanpa disadari Zahmira, matanya beberapa kali melirik ke arah kantong kertas cokelat di atas meja. Aroma gurih tahu isi dan pisang goreng itu menguar begitu pekat, menarik perhatiannya secara perlahan.
Tangannya yang terlipat di dada sempat mengendur sejenak ketika melihat pisang goreng terakhir yang masih utuh di dalam kantong kertas.
Raka dan Dimas tampak menikmati makanan mereka tanpa peduli pada tatapan sang putri jin, sementara Bayu sedang sibuk menghitung sisa gorengan di kantong kertas cokelat.
"Eh, gorengan sisa satu nih," gumam Bayu pelan, mengambil satu buah pisang goreng terakhir yang masih hangat.
"Buat penutup mulut pas banget."
Baru saja Bayu hendak mengangkat pisang goreng itu ke mulutnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar sebelah dari luar, suara salah satu tetangga kos yang sedang meminjam korek api kepada penghuni lain. Bayu refleks menoleh ke arah pintu dan menyahut, "Sebentar!"
Hanya dalam waktu kurang dari dua detik Bayu memalingkan wajahnya, ia kembali menoleh ke arah meja untuk mengambil pisang gorengnya.
Tetapi, pisang goreng itu sudah lenyap.
Bayu mengedipkan matanya berkali-kali, mengira ia salah lihat. Ia meraba-raba meja plastik kosong di depannya. "Lho? Perasaan tadi pisang gorengnya ada di sini. Kok mendadak hilang? Dim, lo ngambil bagian gue ya?"
Dimas yang sedang meneguk air putih dari gelas mengangkat kedua tangannya tanpa bersalah. "Gue dari tadi megang gelas, bukan pisang."
Bayu menoleh ke arah Raka. "Ka? Lo ngambil?"
Raka menggeleng pelan sambil mengunyah suapan terakhir nasinya.
"Nggak, gue masih pegang bungkusan gue sendiri."
Bayu mengerjap-ngerjapkan matanya karena bingung, merasa ada hal gaib yang sedang terjadi di kamarnya meskipun anehnya, pelaku gaib itu berdiri tidak jauh darinya.
Bayu perlahan mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan.
Zahmira berdiri tegak membelakangi mereka, menatap lurus ke arah kaca jendela yang gelap di malam hari.
Namun, jika dilihat lebih teliti dari pantulan kaca jendela kecil tersebut, bibir mungil sang putri jin tampak bergerak pelan, sedang mengunyah sesuatu dengan ekspresi kaku yang berusaha disembunyikan rapat-rapat.
Bayu menunjuk ke arah punggung Zahmira dengan tangan bergetar pelan.
"Heh... Mbak Zahmira..."
Zahmira langsung berhenti mengunyah. Ia membalikkan badannya dengan gerakan cepat, menatap Bayu dengan sorot mata paling dingin dan angkuh yang bisa ia kerahkan.
"Ada apa, manusia berisik?" tanya Zahmira ketus, berusaha menjaga suaranya tetap datar.
"Itu... di bibir Mbak ada sisa remahan tepung gorengan," tunjuk Bayu blak-blakan tanpa rasa takut.
Zahmira refleks menyeka sudut bibirnya dengan cepat menggunakan punggung tangan kanannya.
Wajah putih mulusnya tampak sedikit merona merah, bukan karena malu, melainkan karena gengsinya yang seketika runtuh akibat sepotong pisang goreng pinggir jalan.
"Aku cuma sedang memastikan benda itu aman! Aku mencium aromanya untuk mendeteksi racun!" bela Zahmira dengan suara tinggi, berusaha mengelak dari tuduhan.
Bayu mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Oh... memastikan tidak beracun ya, Mbak? Tapi kok rasanya sampai habis tak bersisa begitu? Kalau mau nambah, bilang aja kali, nanti Raka bisa beliin lagi."
Zahmira membuang muka dengan kesal, merapatkan bibirnya rapat-rapat sambil melipat tangan di dada.
"Jangan membuat kesimpulan sembarangan!"
Raka dan Dimas yang melihat perdebatan kecil itu hanya bisa saling berpandangan sejenak, lalu kompak menahan tawa agar tidak meledak. Di balik semua keangkuhan dan gelar bangsawan gaibnya, sang putri jin ternyata baru saja kalah telak oleh kelezatan pisang goreng seharga seribu rupiah di sudut Desa Kertajaya.