Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heboh
Sejenak Zain tak berkedip melihat istrinya, namun ia langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah karena Tiyas menoleh kepadanya. Ummi dan abi dapat melihatnya. Ummi dan abi hanya saling lirik dan tersenyum. Ummi juga sempat menyenggol lengan abi untuk memberi kode.
Setelah Zean muncul, mereka pun berangkat. Zain dan Tiyas naik mobil terpisah dari abi, ummi dan Zean. Ummi yang meminta agar mereka berdua lebih leluasa dan terbiasa. Zain sendiri yang menyetir mobilnya, dan Tiyas duduk di kursi depan.
"Pasang sabuk pengamannya." Ujar Zain.
Tiyas pun mencoba untuk memasangnya meski baru kali ini ia melakukannya. Dalam hatinya ia berharap langsung berhasil, namun ternyata tidak. Ia masih kesulitan karena salah menarik sabuknya. Melihat Tiyas kesulitan, Zain menawarkan bantuan dan Tiyas mengiyakan.
"Maaf ya."
Tiyas pun memundurkan badannya. Tubuh mereka berdekatan hampir tidak ada jarak. Jantung mereka berdebar cukup kencang. Tiyas dapat menghirup wangi maskulin dari tubuh Zain. Namun keduanya sama-sama mencoba untuk tenang.
"Sudah."
Tidak sengaja kepala Zain terbentur ke dahulu istinya.
"Eh maaf maaf." Ujar Tiyas dan reflek tangannya mengusap kepala Zain.
"Tidak apa-apa. Aku yang kurang hati-hati.
"Te-rima kasih."
"Sama-sama."
Akhirnya Zain tancap gas. Mobil abi sudah jalan terlebih dahulu dari mobilnya.
"Lelaki sebaik dia sepertinya sudah langka di dunia ini. Atau mungkin karena memang aku kurang pergaulan?"
Dalam perjalan menuju restoran mereka berdua diam tanpa kata. Akhirnya Zain menyetel musik agar tidak sepi.
"Kamu suka lagu apa?"
"Em.. apa saja."
Zain pun menyetel lagu India. Tiyas tidak menyangka jika Zain suka lagu India. Konon katanya laki-laki yang suka lagu India orangnya romantis. Namun Tiyas belum melihat tanda-tanda itu dalam diri suaminya.
Mobil Zain ketinggalan cukup jauh dari mobil abi karena keburu lampu merah.
Tidak lama kemudian, mobil abi sampai di restoran. Mobil anak-anaknya yang lain sudah terparkir di parkiran depan restoran. Mereka pun turun dari mobil.
"Kita masuk saja dulu. Nanti biar abang dan istrinya menyusul."
"Iya, bi."
Mereka langsung masuk ke dalam restoran. Ummi memang sengaja memesan ruang VIP. Di sana anak menanti dan cucu-cucunya sudah menunggu. Hanya Arya yang tidak membawa istri dan anaknya karena mereka di Jakarta. Dan Arya memang kebetulan masih menginap di rumah opa. Meski begitu opa dan oma masih merahasiakan pernikahan Zain.
"Lho, Dek Zain mana mi?" Tanya Alya.
"Ada nanti menyusul."
Mereka duduk kembali di kursi masing-masing.
5 menit kemudian, Zain dan Tiyas sampai di restoran.
"Bisa buka?"
Tiyas mengangguk.
Setelah itu, Zain turun dari mobil. Ia membukakan pintu untuk Tiyas.
"Terima kasih, mas."
"Sama-sama."
Mereka melangkah bersama masuk ke dalam restoran dan menuju ruang VIP.
"Mana sih dek Zain? Tumben dia telat." Ujar Arya.
pintu VIP pun terbuka. Semua mata tertuju ke arah pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Ayo masuk. " Zain menggandeng tangan istrinya.
Hal itu membuat saudara-saudara dan iparnya melongo melihatnya.
"Dek.... "
"Hai, maaf telat tadi ketinggalan di lampu merah."
Tangannya masih belum lepas.
"Abi, ummi, lihatlah adek bawa cewek. Keajaiban dunia apa lagi ini?" Ujar Arya.
Zean tertawa mendengarnya. Sedangkan Zain masih memasang wajah datar.
"Astaghfirullah... digandeng lagi." Sahut Alya.
Abi, ummi, dan Zean hanya bisa menahan tawa.
"Ayo sini nak, ummi kenalkan sama saudaranya Zain."
Mereka semakin terkejut saat ummi mengajak Tiyas.
"Bang, kamu mau ngomong sendiri sama mereka, Apa ummi?"
"Ummi saja."
Ummi pun beranjak dari kursinya.
" Harap perhatiannya anak-anakku. Perkenalkan ini Tiyas. "
"Jadi ummi sudah kenal sama pacarnya adek?" Sahut Ayla.
"Sejak kapan adekmu ini pacaran? Tiyas ini istrinya Zain."
"Apa....?"
Tentu saja yang lain terkejut. Ini benar-benar berita yang sangat mengejutkan bagi mereka. Adik laki-laki yang terkenal introvert dalam keluarganya itu tiba-tiba sudah menikah. Mereka akhirnya berkenalan. Keponakan Zain juga. Suasana pun menjadi heboh. Mereka sangat penasaran pada sosok Tiyas. Meski begitu mereka bahagia karena akhirnya Zain melepas masa lajangnya.
Tidak ingin mengulur waktu, abi pun meminta anak-anaknya agar bersabar untuk mendengar cerita Zain dan Tiyas.
"Lanjut nanti lagi ya, kita makan dulu."
"Iya, abi."
Makan malam berjalan dengan penuh kehangatan. Lagi-lagi Tiyas menemukan fakta baru dalam keluarga suaminya. Ia baru tahu jika kakak iparnya kembar tiga. Ia juga semakin takjub melihat keluarga itu.
Setelah selesai makan malam, mereka lanjut ngobrol. Ummi meminta izin kepada Tiyas untuk menceritakan kronologi pernikahan Zain dan Tiyas agar saudaranya Zain tidak penasaran lagi. Mereka mendengarkan cerita ummi dengan seksama. Bahkan mereka sampai ikut sedih dan terharu mendengarnya.
"Dek Tiyas, maafkan saudara kami ya. Tapi kamu tenang saja, adek kami ini pasti akan menjadi suami yang baik. Kami jamin itu." Ujar Alya.
"Iya, dek. Betul sekali." Sahut Ayla.
"Iya dek. Kalau dia nakal, tinggal lapor ummi saja." Sahut Arya.
"Iya, biar abi pites." Sahut abi.
Yang lain pun tertawa.
Zain hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Selanjutnya mereka membicarakan soal resepsi pernikahan. Sebenarnya Tiyas tidak mau. Namun mereka berhasil membujuknya.
"Dek, kamu adalah menantu sah dalam keluarga ini. Semua orang harus tahu itu. Jadi alangkah baiknya diadakan resepsi."
"Tapi saya tidak punya keluarga."
"Kita adalah keluargamu. " Ujar Alya.
"Betul itu, nak. Bukankah masih ada Indri dan orang tuanya juga?" Sahut ummi.
Tiyas pun mengangguk seraya mengulum senyum.
Ia memang sudah kehilangan keluarganya, namun ia mendapatkan keluarga baru yang lebih lengkap.
Abi dan ummi akan konsultasikan untuk tanggal acaranya kepada opa. Mungkin acaranya setelah mereka pulang umroh satu bulan lagi.
Sekitar jam 21.30 mereka pulang dari restoran.
Kali ini Tiyas sudah bisa memasang sabuk pengaman sendiri. Zain pun melajukan mobilnya menuju arah pulang dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan, Tiyas masih berbalas chat dengan Indri. Ia menceritakan makan malamnya bersama saudara Zain. Indri senang karena Tiyas saat diterima dengan baik oleh keluarga Zain.
Di tengah fokusnya menyetir, Zain masih sempat melirik Tiyas yang saat ini melihat handphone nya sambil tersenyum.
"Ehem... kamu mau beli sesuatu?"
"Beli apa, mas?"
"Ya, nggak tahu. Kalau nggak ada ya sudah kita langsung pulang saja."
"Iya, mas."
"Iya apa?"
"Langsung pulang."
"oke."
"Nggak ada romantisnya." Batin Tiyas.
Tidak lama kemudian, mereka sampai. Ummi dan abi sampai terlebih dahulu. Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing.
Zain berganti baju lalu berwudhu' untuk shalat Isya'. Disusul kemudian Tiyas masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan mengganti pembalutnya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe