Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Breakfast with The Shinodas
Alethea masuk ke dalam kamar tamu yang akan menjadi tempatnya menginap malam ini. Dia melihat kamarnya yang sangat nyaman dan tahu bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
"Bagaimana kamarnya? Kamu suka?" tanya Satoru.
"Ini kamar yang nyaman Satoru," jawab Alethea apa adanya.
"Ah syukurlah kalau kamu suka," senyum Satoru.
Althea membalikkan dan menatap dingin ke Satoru. "Jadi ... Kamu membuat lukisan aku yang masih marah menjadi obyek?"
"Eh?" Satoru menatap panik. "Kukira kamu tidak mau membahasnya."
"Siapa bilang aku tidak mau membahasnya?" Mata biru Alethea tampak mendelik.
"Thea, sayang ... wajah kamu yang sedang marah itu sangat ... Artistik. Dan aku tidak bisa menghilangkan dari ingatan aku jadi ... Harus aku tuangkan ke atas canvas. Paham kan? Macam kamu sudah mendapatkan cerita dalam kepala kamu dan dituangkan di buku diary?" ujar Satoru berusaha tidak membuat wanitanya marah.
"Kamu menyebalkan!" desis Alethea.
"Tapi aku mencintaimu. Gimana coba?" senyum Satoru.
Alethea menyipitkan matanya dan dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya agak sedikit keras. Alethea masih ingat sopan santun, sebab kalau tidak, dia sudah membanting pintu kayu itu di depan wajah Satoru.
Pria itu hanya mengusap tengkuknya. "Banyak orang ingin jadi model lukisan aku tapi Thea yang selalu aku ingat, marah jadi modelku. Padahal dia cantik lho," gumam Satoru bingung.
Dia lalu berbalik dan menuju kamar tidurnya.
Di dalam kamar, Alethea menggelengkan kepalanya. Dia suka dengan Satoru beserta sifat dan sikap ajaibnya tapi Alethea tetap saja merasa dongkol dengan ekspresi judesnya.
"Hiiihh! Rasanya ingin aku cubit pipinya!" geram Alethea yang kemudian membuka kopernya. "Aku butuh mandi!"
Alethea menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan tidak menduga nuansanya sangat Jepang. Wanita itu suka dengan gaya rumah ini karena sangat unik.
Usai membersihkan diri dan berganti gaun tidur, Alethea naik ke atas tempat tidurnya. Kasur empuk itu langsung membuat tubuhnya nyaman. Tak lama, matanya pun terpejam.
***
Pagi itu, Alethea baru menyadari bahwa keluarga Shinoda memiliki definisi tersendiri tentang sarapan keluarga. Tidur nyenyak, membuat moodnya bagus pagi ini.
Dia duduk di meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni, mengenakan blus sederhana dengan rambut yang diikat longgar. Di hadapannya tersaji telur orak-arik, sosis panggang, bacon, jamur tumis, tomat panggang, roti panggang, selai jeruk, mentega, serta teko teh yang aromanya memenuhi ruangan.
Alethea memandangi hidangan itu beberapa saat sebelum melirik Satoru yang duduk santai di sebelahnya. “Ini sarapan?” bisiknya.
Satoru yang sedang mengoleskan mentega ke rotinya menoleh. “Sarapan.”
“Kalau begitu, kenapa sangat American Breakfast?" bisik Alethea.
Di seberang meja, Alaska mengangkat wajahnya dari cangkir teh. Perempuan itu tersenyum lebar, sementara Akito yang sedang membaca dari iPad hanya mengangkat sebelah alis.
“Kau akan terbiasa, Alethea,” kata Alaska ringan. “Di rumah ini, sarapan adalah urusan serius.”
“Benar,” sahut Akito tanpa mengalihkan pandangan dari Ipad-nya. “Terutama bagi Satoru. Dia membutuhkan banyak energi untuk mengeluh sepanjang hari.”
Satoru cemberut. "Otousan ...."
“Apa? Aku hanya menyampaikan fakta," jawab Akito cuek.
Alethea menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Namun, melihat ekspresi datar Satoru yang tampak sudah terlalu terbiasa menjadi sasaran komentar ayahnya, dia akhirnya tertawa juga.
“Jadi, selama ini aku salah paham,” katanya. “Aku mengira Satoru menjadi seniman karena jiwanya penuh keindahan. Ternyata dia hanya membutuhkan energi untuk mengeluh.”
“Terima kasih atas dukunganmu,” balas Satoru dingin.
“Sama-sama. Aku selalu mendukung fakta.”
Alaska tertawa kecil, lalu meminta pelayan menuangkan teh untuk Alethea. “Silakan makan sebanyak yang kau mau. Jangan sungkan. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri.”
Alethea mengangguk sopan. “Terima kasih, Tante Alaska. Sejujurnya, saya tidak menyangka akan sarapan ala Amerika."
Akito meletakkan iPad nya. “Kenapa? Apa yang kamu bayangkan sebelumnya?”
Alethea berpikir sejenak. “Mungkin sarapan ala Inggris.
"Karena kamu orang Amerika, wajar kan jika kami membuat sarapan ala Amerika," jawab Alaska.
Alethea membalas dengan senyum manis. “Begitu ya."
“Kalau begitu, karena kita semua sedang berkumpul, ada sesuatu yang ingin kami tanyakan.” Alaska menatap pasangan di depannya.
Satoru langsung berhenti mengunyah. Alethea menyesap tehnya.
Alaska meletakkan cangkir tehnya dengan senyum yang terlalu tenang untuk dianggap tidak mencurigakan.
Alethea merasakan firasat buruk. “Ya?” tanyanya hati-hati.
“Bagaimana rencana kalian ke depannya?” tanya Alaska.
Alethea berkedip. “Rencana?”
“Ya. Kamu dan Satoru.” Alaska menyandarkan punggungnya dengan santai. “Kalian sudah mengumumkan pertunangan kalian di London. Lalu kamu datang ke rumah ini, menginap, dan sekarang sarapan bersama kami. Tante rasa sudah waktunya membicarakan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya.”
Satoru meletakkan garpunya perlahan. “Mom, kami baru mulai sarapan.”
Akito kembali membuka iPad nya. “Aku tidak mau ikut campur. Aku hanya ingin tahu kapan harus menyiapkan jas untuk menghadiri pernikahan kalian.”
Alethea hampir menjatuhkan garpunya. Satoru menatap ayahnya dengan ekspresi tidak percaya. “Otousan bahkan belum selesai membaca berita pagi!”
"Wajar kan Boy. Otousan dan Mama ingin tahu rencana kalian ke depannya. Ingat, Thea pasti butuh kepastian!" timpal Akito.
Alethea buru-buru menyesap teh untuk menyembunyikan tawanya.
Alaska justru tampak semakin bersemangat. “Jadi, Alethea, apakah kalian sudah membicarakan tempat tinggal? Satoru memiliki studio sendiri, tetapi menurut Tante tempat itu tidak layak untuk ditinggali berdua.”
“Kenapa?” protes Satoru. “Studio itu sangat nyaman.”
“Kamar mandimu dipenuhi kuas.”
“Itu bagian dari proses kreatif.”
“Ada tiga cangkir kopi di samping tempat tidurmu.”
“Itu bagian dari ...."
“Dan minggu lalu Mommy menemukan kaus kaki di dalam kotak cat minyakmu," potong Alaska.
Satoru terdiam. Duh!
Alethea perlahan menoleh kepadanya. “Kaus kaki?”
“Jangan dengarkan mereka," cengir Satoru
“Di dalam kotak cat minyak?” tanya Alaska penasaran.
“Itu kecelakaan," elak Satoru.
“Bagaimana mungkin kaus kaki masuk ke dalam kotak cat minyak secara tidak sengaja?” Mata biru Alethea tampak ingin tahu.
Satoru menatapnya dengan serius. “Alethea, cinta seharusnya dibangun di atas kepercayaan.”
“Dan kebersihan!" tegas Alethea.
Akito tertawa begitu keras. “Wanita ini cocok untukmu, Satoru!”
“Aku mulai menyesali pertunangan ini,” gumam Satoru.
Alethea tersenyum manis. “Kamu boleh membatalkannya. Tetapi aku akan membawa kotak cat minyakmu sebagai barang bukti.”
“Tidak akan pernah kubiarkan.”
Percakapan itu membuat Alaska tertawa sampai harus menyeka sudut matanya. Setelah suasana sedikit tenang, dia kembali menatap Alethea dengan ekspresi yang lebih lembut.
“Tante sungguh-sungguh bertanya. Kalian berdua memiliki kehidupan dan pekerjaan masing-masing. Satoru sering bepergian untuk pameran, sementara kamu juga memiliki kesibukan sendiri. Bagaimana kalian akan mengatur semuanya?”
Alethea terdiam sejenak. Dia melirik Satoru. Lelaki itu tidak lagi bercanda. Dia menatap Alethea dengan tenang, seolah memberikan kesempatan kepadanya untuk menjawab tanpa merasa tertekan.
Alethea meletakkan cangkir tehnya. “Kami memang belum membicarakan semua detailnya,” jawabnya jujur. “Saya tidak ingin terburu-buru menentukan sesuatu hanya karena kami sudah bertunangan. Saya ingin kami memikirkan tempat tinggal, pekerjaan, dan bagaimana menjalani kehidupan bersama dengan baik.”
Alaska mengangguk penuh pengertian.
“Saya juga tidak ingin Satoru harus meninggalkan dunia seninya, atau saya harus meninggalkan semua hal yang saya sukai. Saya pikir kami perlu menemukan cara agar kami bisa tetap menjadi diri sendiri tanpa membuat satu sama lain merasa sendirian," lanjut Alethea.
Satoru memandangnya dengan sorot mata yang menghangat.
Alethea melanjutkan, kali ini dengan senyum kecil. “Dan saya juga berharap bisa membantunya menjadi sedikit lebih teratur.”
“Sedikit?” ulang Alaska.
“Baiklah. Jauh lebih teratur.”
“Bagus. Tante mendukungmu sepenuhnya.”
“Mom!”
“Jangan berteriak di meja makan, Satoru.”
“Aku bahkan belum melakukan apa-apa!” protes Satoru.
“Kalau begitu, kalian sudah memikirkan tempat tinggal?” tanya Akito.
Duh!
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Thea bukan tipe perempuan sat set sat set ,terlalu banyak pemikirannya
nantinya Thea bisa bekerja di museum yang sama dengan tante Elle kan😊😊
walaupun antimainstream tapi tetep asikk kan😅😅😅
Kuatkan mentalmu aja Thea kalau sudah kumpul keluarga Satoru mode bully 😄😄