NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 29

BAB 29

Ketua Tim Penguji menghentikan ketukan palunya di udara, menatap Rendra yang berdiri tanpa keraguan sedikit pun di tengah ruangan.

"Kalian mengagungkan pendaftaran kertas paten dan kemiripan garis visual dua dimensi," ucap Rendra pelan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya menuntut perhatian penuh seluruh ruangan. "Tapi kalian buta terhadap hakikat material yang berada tepat di depan mata kalian."

"Apa maksudmu?!" desis Clarissa gusar, jemarinya mencengkeram kuat lembaran berkas paten hingga kertas mahal itu melengkung kusut.

"Kalau begitu, mari kita uji kedua sampel fisik ini di bawah mikroskop material," potong Rendra dingin, membiarkan tatapannya beradu lurus dengan mata pengacara Victor.

Ia mengisyaratkan Tim Verifikasi untuk mendekatkan mikroskop digital ke ornamen logam milik Clarissa, sebelum menggesernya ke pelat kuningan buatannya sendiri. "Silakan Tim Penguji dan seluruh hadirin periksa di layar monitor utama."

Rendra menyetel fokus lensa mikroskop dengan presisi tingkat tinggi, gerakan tangannya tenang layaknya seorang maestro seni. "Di bawah pembesaran seratus kali, ornamen logam pada gaun Clarissa—yang diklaim dibuat dari sketsa master itu—menunjukkan pinggiran simetris yang mati dan rongga-rongga udara (micro-voids) akibat teknik cetak tuang pabrikan massal. Garis lekuk di sketsanya hanyalah eksekusi mesin cetak yang steril."

Layar monitor utama yang menghadap ke arah kerumunan kontan memancarkan struktur molekul ornamen logam milik Clarissa. Pori-pori udara yang kecil dan jejak cetakan pabrik yang kaku terlihat begitu mencolok tanpa bisa disembunyikan.

Rendra lantas menggeser lensa pembesar digital berdaya tinggi ke atas kerangka kuningan buatannya. "Sekarang lihat kuningan ini. Tempaan manual dari sanggar tempa memiliki garis mikroskopis asimetris organis—mikro-tekstur melingkar yang terbentuk dari pergeseran molekul logam akibat hantaman palu dan variabel temperatur bara pembakaran seratus delapan puluh derajat Celsius. Kepadatan strukturnya dua kali lipat lebih solid dibanding logam cetak milik Clarissa."

Layar monitor berganti menampilkan gurat-gurat serat logam kuningan Rendra yang memadat secara alami, saling mengunci erat bagaikan serat kayu tua yang kokoh. Perbedaan kualitas yang kontras itu terpampang telanjang di hadapan publik.

Ketua Tim Penguji Independen mendongak, matanya berbinar takjub. "Luar biasa... Ini bukan penjiplakan. Prototipe Arum House adalah hasil produksi cetak tuang (molding), sedangkan karya Saudara Rendra adalah seni tempa presisi tinggi (micro-chasing). Secara sifat fisis material dan rekayasa struktur, karya Saudara Rendra tidak mungkin dihasilkan dari meniru sketsa atau prototipe milik Arum House!"

Gemuruh bisik-bisik seketika memecah keheningan di balik garis pembatas.

"Lihat sendiri bedanya di layar! Logam milik Clarissa ternyata cuma produk pabrikan biasa!" seru salah seorang wartawan mode dengan nada takjub.

"Iya! Malah hasil tempaan Rendra yang kelihatan jauh lebih berkelas dan bernilai seni tinggi!" sahut yang lain.

"Tapi, bagaimana dengan kemiripan ornamen dasarnya?" celetuk seorang desainer muda di barisan depan, masih menyisakan keraguan.

Sebelum kasak-kusuk itu melebar, Rendra memutar tubuhnya perlahan, menghadap langsung ke arah kerumunan penonton. Tatapannya teduh namun berwibawa.

"Kemiripan itu bukan karena penjiplakan, melainkan karena kebodohan dalam mengenali akar budaya," tegas Rendra tenang, memotong segala keraguan di udara. Ia menunjuk kerangka kuningan buatannya, lalu beralih pada draf milik Clarissa.

"Lengkung geometris ini adalah ragam hias sulur pilin—motif klasik Nusantara yang banyak terukir pada relief candi-candi abad kesembilan seperti Borobudur, maupun reruntuhan Candi Sewu Jati di pinggiran kota ini," lanjut Rendra dingin. "Setiap mahasiswa desain yang mau berlelah-lelah melakukan riset sejarah dan mengamati batu-batu candi, pasti mengenal bentuk dasar kehidupan ini. Kebetulan Arum House mengambil motif publik tersebut dari dokumen digital, memotongnya secara instan dengan perangkat lunak komputer, lalu mendaftarkannya sebagai paten komersial massal."

Rendra menatap Clarissa yang mulai gemetar di tempat ia berdiri. .

"Sementara Bengkel kami Pencagai," sambung Rendra dengan sorot mata yang menghunjam, "mengolah motif yang sama dari riset langsung di Candi Sewu Jati, menggunakan teknik tempa manual yang diwariskan secara turun-temurun. Garis lengkung di gaun Maya lahir dari perenungan mendalam atas ritme pahatan batu kuno di relief itu—bukan dari mencuri berkas digital orang lain. Kemiripan garis dasarnya terjadi karena kami berpijak pada sumber sejarah terbuka yang sama, bukan karena ada draf rahasia yang bocor. Menuduh ragam hias relief candi warisan leluhur sebagai ciptaan privat Arum House sama konyolnya dengan mematenkan bentuk lingkaran lalu melarang seluruh dunia menggambar roda!"

Penjelasan logis yang berakar kuat pada literatur sejarah itu serta-merta membungkam seisi ruangan. Para kurator senior tampak mengangguk takzim; argumen Rendra bukan sekadar mematahkan tuduhan plagiarisme, melainkan menelanjangi kedangkalan riset tim Arum House di hadapan publik.

Wajah Clarissa kontan pias seketika. Ia melangkah mundur dengan lutut lemas, menatap layar monitor seolah benda itu adalah hantu. Seluruh keangkuhan tentang 'paten' yang dibanggakannya runtuh lebur dalam sekejap.

Maya melangkah tegar ke sisi Rendra, mengambil alih panggung dengan keanggunan yang memukau. Ia meletakkan bundel dokumen riset fisik garmen miliknya tepat di atas meja baja.

"Foto konspirasi yang disebarkan media Victor Group adalah hasil rekayasa dan pemotongan narasi dari pertemuan tak sengaja di ruang publik galeri," cetus Maya lantang, suaranya bergetar penuh harga diri. "Dan ini adalah riset orisinal Studio Nilakandi mengenai penggabungan sutra organza dan ukiran logam, lengkap dengan stempel pendaftaran resmi dua tahun lalu—jauh sebelum Clarissa menyentuh sketsa itu!"

Maya menatap lurus manik mata rivalnya. "Jika Arum House merasa dirugikan, silakan bawa klaim Anda ke pengadilan formal. Jangan bersembunyi di balik rumor murahan untuk menutupi kepanikan Anda!"

Ketua Tim Penguji dengan raut muka penuh wibawa, membubuhkan stempel resminya di atas dokumen berita acara dengan ketukan mantap.

"Tim Verifikasi Independen menyatakan tuduhan plagiarisme pada karya Saudara Rendra tidak terbukti dan gugur demi hukum. Lisensi pendaftaran Studio Nilakandi dinyatakan sah, valid, dan berhak melaju ke panggung final!"

Sorak-sorai kekaguman orang-orang yang hadir, sontak meledak ke segala penjuru ruangan di mana uji materi tengah berlangsung, sementara kubu Arum House dengan wajah tidak puas, memilih undur diri dalam keheningan yang memalukan.

Kilatan cahaya blitz dari kamera wartawan terus bersahut-sahutan, mengabadikan momen kejatuhan moral kubu Victor dan Clarissa.

Di tengah riuh rendah euforia kemenangan tersebut, Rendra justru hamper tidak berkedip menatap gerak-gerik Baskoro di ujung ruangan.

Kepala operasional Victor itu tidak tampak panik ataupun terpukul, justru sebaliknya, ia menyunggingkan senyum dingin penuh tipu muslihat sambil merogoh saku jasnya—menyiratkan bahwa kekalahan di meja uji petik ini bukanlah akhir, melainkan babak baru dari skenario busuk yang jauh lebih berbahaya yang telah ia siapkan bersama Victor selaku yang mempekerjakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!