Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak
Setelah mengantarkan kepergian Davin hingga kedepan pintu, Aliqa kembali masuk kedalam rumah, terdapat Mila yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Aliqa tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Mila, namun suara Mila menghentikan langkahnya.
"Al," ucap Mila membuat Aliqa menghentikan langkahnya.
Aliqa membalikan tubuhnya, menatap ke arah Mila, tanpa mengucapkan satu patah kata apapun.
"Bukan kah kita sebagai istri Davin harus rukun, sampe kapan mau musuhan, kita kan bisa jadi teman dan berbagi cerita,"
Aliqa akhirnya berfikir, bahwa yang dikatakan Mila adalah benar, mereka harus hidup rukun sebagai istri Davin, tak baik jika terus memelihara rasa kesal. Akhirnya Aliqa pun menghampiri Mila dan menghenyakan tubuhnya di atas sofa.
"Aku cukup kaget dengan keputusan Davin untuk melakukan poligami, gak nyangka sih hubungan aku dan Davin bakalan kaya gini," ucap Mila mengawali pembicaraan.
"Maksudnya?" tanya Aliqa heran.
"Aku tak pernah menyangka, aku satu-satunya wanita yang Davin cintai harus rela untuk berbagi suami dan tinggal satu rumah bersama dengan mu."
Aliqa cukup merasa panas, ada sesuatu yang berdenyut nyeri di dalam hatinya mendengar penjelasan yang di berikan oleh Mila.
"Mungkin ini sudah jalan takdir kita, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus mencoba untuk menerima."
"Omong kosong, takdir macam apa yang di maksud bocah sialan ini. Takdir ku adalah Davin hanya milik ku." gumam Mila dalam hati.
"Al liat deh, cincin yang aku pakai." Mila memperlihatkan jemari lentiknya yang mengenakan cincin bermata berlian. "Davin loh yang ngasih buat aku, cantik kan!" Mila dengan sengaja memainkan jarinya yang bertujuan untuk memamerkannya kepada Aliqa.
Aliqa menarik nafas dalam untuk meredakan rasa sesak di dalam hatinya, cincin yang di kenakan Mila adalah cincin yang pernah Davin berikan untuk Aliqa di Puncak Caringin Tilu.
"Bagaimana bisa Mas Davin melakukan semua itu, setelah memberikannya kepada ku, meski telah ku kembalikan, tak sepantasnya Mas Davin memberikannya kepada Mila." gumam Aliqa dalam hati.
"Iya bagus, kau sangat pantas mengenakannya," ucap Aliqa seraya menahan sesak di dalam dadanya.
"Davin memberikannya sebagai hadiah karena aku sedang mengandung anaknya." Mila mengelus lembut perutnya yang masih belum begitu terlihat menonjol.
Mila dengan sengaja memanas-manasi Aliqa, sementara Aliqa tak mengetahui tujuan Mila adalah hanya untuk membuatnya cemburu. Cincin yang Mila kenakan adalah cincin yang dia temukan di dalam laci meja rias yang berada di kamar Mila dan Davin.
Cincin tersebut bukanlah pemberian Davin, namun Mila sengaja memberi tahu kepada Aliqa bahwa itu adalah cincin pemberian dari Davin.
Aliqa telah terjebak dalam permainan Mila, wanita itu kini benar-benah telah di buat cemburu oleh Mila, Aliqa merasa telah salah memasuki hubungan seseorang yang saling mencintai.
"Adahal yang harus aku kerjakan." Aliqa beralasan untuk segera pergi menjauhi Mila, tak baik untuk hatinya mendengarkan keromantisan sepasang insan yang saling mencintai.
Aliqa beralalu menuju kamarnya, hatinya benar-benar dibuat kacau oleh ucapan yang di keluarkan Mila. Aliqa merasa dirinya tak begitu berarti bagi Davin.
Aliqa bersiap-siap di dalam kamarnya, dia ingin keluar dan sedikit merefresh otaknya. Aliqa menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapih.
"Mau pergi kemana Al?" tanya Mila, karena melihat Aliqa telah sangat rapih.
"Ada sedikit urusan." Hanya itu jawaban Aliqa dan segera pergi berlalu meninggalkan rumah dengan menggunakan mobilnya.
***
Aliqa mengendarai mobilnya membelah jalanan Kota Bandung, wanita itu belum mengetahui kemana dia akan pergi. Aliqa hanya berputar-putar tanpa tahu arah dan tujuan.
Mobil terus saja menyusuri jalanan, hingga akhirnya Aliqa sadar bahwa jalan yang dia lewati dekat dengan rumah kedua orang tuanya. Aliqa akhirnya membelokan mobil untuk mengunjungi rumah orang tuanya.
Dihadapannya terdapat rumah yang besar dengan halaman yang luas, mobil yang dia kendarai terhenti di depan gerbang rumah mewah tersebut.
Jendela mobil tersebut turun secara perlahan, dari dalam mobil Aliqa menyapa satpam rumahnya. Satpam tersebut akhirnya membuka gerbang untuk memasuki pekarangan.
Terakhir mengunjungi orang tuanya adalah setelah kepulangannya dari rumah Papa mertua, Aliqa sangat merindukan setiap sudut tempat tinggal orang tuanya itu, orang tua Aliqa adalah seorang pengusaha sukses maka dari itu orang tuanya memiliki hunian semewah dan semegah ini.
Setelah memarkirkan mobil, Aliqa melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah. Setelah memencet bel, seorang pelayan yang sangat Aliqa kenal membukakan pintu.
"Siang Bi Lastri, Ayah dan Bunda mana Bi?"
"Lagi di ruang keluarga non, eh Bibi salah nyonya muda," ucap Bi Lastri mengkoreksi ucapannya.
"Yaudah Al mau langsung nemuin mereka aja Bi."
"Silahkan masuk non, eh nyonya."
"Gak apa-apa Bi, terserah Bibi aja enaknya manggil apa," ucap Aliqa dan memberikan senyumnya kepada Bibi.
Aliqa melangkahkan kakinya memasuki rumah, langsung menuju ruang tamu hendak menemui Ayah dan Bunda yang sangat dia rindukan. Terlihat mereka sedang menonton acara televisi.
"Ayah.. Bunda.."
Kedua orang tua Aliqa secara bersamaan membalikan tubuhnya menatap ke arah sumber suara.
"Aliqaa," ucap keduanya secara bersamaan.
Ayah dan Bunda beranjak dari duduknya, menghampiri Aliqa yang masih berdiri di tempatnya dan memeluk Aliqa erat untuk menyalurkan rasa sayangnya.
"Kamu sendiri? Mana suami mu nak?" tanya Ayah.
"Mas Davin gak ikut yah, Al kesini sendiri."
"Ajak duduk dulu dong Yah, masa baru juga dateng langsung di tanya-tanya," ucap Bunda, kemudian menggandeng tangan Aliqa untuk duduk bersama di sofa.
"Kamu berantem Al? Ko Davin gak di ajak?" tanya Ayah menyelidik.
"Bukannya gak mau ngajak tapi Mas Davin kerja, sedangkan Al merindukan kalian, yaudah Al kesini sendiri aja," ucap Aliqa, yang sebetulnya tak ada rencana sama sekali untuk mendatangi rumah orang tuanya.
"Udah bilang sama suami mu?"
"Belum, Al kesini mendadak. Gak lama dari Mas Davin pergi bekerja, Al pergi untuk mengunjungi Ayah dan Bunda."
"Dibiasakan untuk bicara dulu sama suami mu sayang, meski hanya untuk mengunjungi kami, kamu harus ijin kepada suami mu," ucap Bunda menjelaskan.
"Bener tuh kata Bunda, kalo suami mu pulang dan kau tak berada di rumah nanti suami mu khawatir," timpal Ayah.
"Lagian sebentar aja ko, Al kan kangen sama kalian."
"Iya sayang meski sebentar, kalo mau pergi kamu wajib minta ijin suami mu ya," ucap Bunda.
"Siaappp Bund, Aliqa mau ke kamar dulu ya Bund, rindu sama ranjangnya pengen rebahan."
"Iya sayang."
Aliqa berlalu menuju kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada di ruang tamu.
Direbahkannya tubuhnya di atas ranjang menatap langit-langit berwarna putih yang seperti akan menghimpitnya, sesak. Aliqa merasa sesak terus menyembunyikan keadaan rumah tangganya dari kedua orang tuanya. Akan sangat menyakitkan untuk mereka jika mengetahui kenyataan terlebih Davin jodoh pilihan mereka.