Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG BAYANG DARI SELATAN
Jauh di wilayah Selatan benua, melampaui rentetan pegunungan beracun dan gurun tanah hitam yang tak pernah tersentuh cahaya mentari murni, berdiri tegak Kerajaan Iblis Obsidion. Berbeda dengan wilayah utara yang dipenuhi peradaban manusia, Obsidion adalah sebuah domain kegelapan yang diperintah oleh hukum kekuatan mutlak dan keberadaan energi mana purba yang pekat.
Di dalam Istana Kristal Hitam Obsidion, suasana di Aula Tahta Agung begitu hening dan mencekam. Cahaya api ungu membumbung dari pilar-pilar batu hitam, membiaskan bayangan tinggi para Jenderal Iblis yang berdiri berbaris rapi.
Di atas singgasana batu obsidian raksasa, duduk sosok Penguasa Tertinggi Kerajaan Iblis—Raja Iblis Vaelor. Mengenakan zirah besi hitam berukir mantra kuno dengan tanduk berkilau keemasan di dahinya, sepasang mata merah menyalanya menembus kegelapan hall istana.
Di hadapan Vaelor, seorang Komandan Mata-Mata Iblis berlutut dengan tubuh gemetar.
"Melaporkan, Baginda Raja Vaelor..." cicit Komandan Mata-Mata tersebut dengan suara parau bergetar. "Intelijen kita dari perbatasan Tengah telah kembali. Rencana invasi Kerajaan Granvalia ke Kerajaan Arcania... telah gagal total akibat campur tangan Kerajaan Solaria."
Mendengar nama Kerajaan Solaria, sepasang mata merah Raja Iblis Vaelor menyempit. Kerajaan baru yang berdiri tegak di tengah Hutan Monster itu sudah lama dalam radar pengawasan mereka.
"Gagal karena Solaria lagi?" gumam Vaelor dengan suara berat yang menggetarkan isi aula. "Ceritakan lebih rinci."
"B-Baik, Baginda!" sahut mata-mata itu cepat seraya membentangkan peta sihir keemasan. "Solaria mengerahkan pasukan elitnya untuk menolong Arcania. Dan yang lebih mengkhawatirkan... benteng perbatasan Solaria kini dijaga langsung oleh dua naga kuno legendaris—Naga Merah Kuno dan Naga Hijau Kuno—yang hidup berdampingan secara sangat jinak di sana."
Pernyataan itu membuat beberapa Jenderal Iblis di aula saling bertukar pandang dengan raut tegang. Tunduknya dua naga purba di Solaria bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata.
Tiba-tiba, seorang Jenderal Iblis Utama ber-Level 2.500 dengan zirah berduri dan aura kegelapan yang pekat melangkah maju ke tengah aula. Ia adalah Jenderal terkuat di barisan depan Obsidion yang terkenal sangat haus darah.
"Baginda Vaelor!" seru sang Jenderal Iblis ber-Level 2.500 itu dengan suara menggelegar. "Di Kerajaan Solaria itu... ada seorang pahlawan manusia yang sangat kuat! Dia adalah Pahlawan Kayy, salah satu manusia yang dulu pernah bertarung imbang melawanku di garis depan!"
Jenderal Iblis itu mengepalkan tangannya hingga berbunyi gemeretak, matanya membara penuh dendam dan rasa penasaran yang mendalam.
"Dia bisa mengimbangiku, Yang Mulia!" lanjutnya seraya menyunggingkan senyum buas. "Tapi bertambahnya kekuatan Solaria tidak akan membuatku gentar. Suatu saat nanti, aku sendiri yang akan melangkah ke Solaria dan memenggal kepalanya dengan tanganku sendiri!"
Para Jenderal Iblis lainnya bersorak mengiyakan semangat tempur sang Jenderal Level 2.500. Namun, Raja Iblis Vaelor tetap duduk tenang seraya bertopang dagu.
"Hasrat bertarungmu sangat bagus," tutur Vaelor tenang namun penuh wibawa. "Namun, kita tahu Kerajaan Solaria bukan hanya tentang Pahlawan Kayy. Sosok Penguasa bernama Alan yang sanggup membuat dua naga kuno tunduk... masih menyimpan kedalaman kekuatan yang belum terukur."
Vaelor mengibaskan tangannya, memberikan keputusan strategis. "Tahan dulu pergerakan pasukan utama di Selatan. Jangan lakukan invasi terbuka ke perbatasan Hutan Monster sebelum kita memetakan seluruh kekuatan Solaria secara utuh. Biarkan Kerajaan Granvalia terus menguras tenaga mereka melawan Solaria, sementara kita terus mengawasi dari balik bayang-bayang."
"Siap, Baginda Vaelor!" seru para Jenderal Iblis serempak seraya menundukkan kepala penuh kepatuhan.
Sementara itu, di dalam Ruang Kerja Istana Utama Kerajaan Solaria...
Sinar matahari sore menembus jendela kaca raksasa, menerangi Alan yang sedang meminum teh hangatnya seraya membolak-balik lembaran dokumen pembangunan wilayah.
WUSHHH.
Layar transparan keemasan mendadak mengembang di ruang penglihatan Alan, disertai suara halus namun amat presisi dari sistem pribadinya.
[Pemberitahuan Sistem: Deteksi Pergerakan Entitas Tingkat Tinggi,] suara Melodina bergema jernih di dalam benak Alan.
[Hasil Pemindaian Sensor Jarak Jauh Domain:] tutur Melodina memaparkan data. [Terdeteksi fluktuasi mana kegelapan pekat dari wilayah Selatan benua. Entitas diidentifikasi sebagai Kerajaan Iblis Obsidion di bawah pimpinan Raja Iblis Vaelor, serta Jenderal Iblis ber-Level 2.500.]
[Analisis Intelijen Melodina:] sambung sistem. [Pihak Kerajaan Iblis Obsidion memilih untuk menahan diri dari serangan terbuka akibat kewaspadaan mereka terhadap keberadaan Anda dan dua Naga Kuno. Namun, Jenderal Iblis Level 2.500 mencatat Pahlawan Kayy sebagai target utamanya. Tingkat ancaman saat ini: Terkendali Pasif.]
Alan terkekeh pelan seraya meletakkan cangkir tehnya ke atas piring porselen.
"Jenderal Iblis Level 2.500 yang berniat memenggal kepala Kayy, ya?" gumam Alan santai dengan sudut bibir terangkat tipis.
Alan membandingkan angka Level 2.500 milik Jenderal Iblis tersebut dengan angka status mutlak miliknya yang bertengger di Level 99.999—sebuah perbandingan skala yang bahkan terlampau jauh untuk disebut sebagai perbedaan kekuatan.
"Biarkan saja mereka bermimpi di Selatan, Melodina," tutur Alan tenang seraya menyandarkan tubuhnya di kursi kepemimpinan. "Selama mereka tidak melintasi garis perbatasan dan tidak mengusik kedamaian Sena di Solaria, aku akan membiarkan mereka tetap bernapas di kegelapan."
[Pesan Anda Ditindaklanjuti secara Otomatis,] jawab Melodina penuh kepatuhan.
Alan berdiri dari kursinya, melangkah menuju jendela dan memandang ke arah Kota Suaka yang terus bertumbuh makmur—sebuah kedamaian abadi yang terlindungi rapat dari ancaman manusia maupun iblis.